ATIKA RAHMA RINDU_DOKTERKU MALAIKATKU_SMPN 3 Subang

atika.jpeg

DOKTERKU MALAIKATKU

Sebut saja namanya Pak Amir, dia seorang penjual sayur di salah satu pasar tradisional kota Subang. Seperti biasa Pak Amir menghabiskan waktunya di pasar dari jam 2 dini hari sampai siang hari, di saat para konsumen sudah mulai berkurang Pak Amir dan rekan-rekan pedagang lainnya kerap kali berkumpul untuk sekedar minum kopi dan merokok bersama. Anjuran pemerintah untuk menggunakan masker dan melakukan social distancing seringkali diabaikannya  padahal penyebaran Covid-19 di daerah tersebut cukup tinggi dibandingkan daerah lain disekitarnya.

Pada suatu hari setelah pulang dari pasar, Pak Amir merasa kurang enak badan dan demam, sambil duduk di kursi ruang tamu Pak Amir menyuruh salah satu anaknya untuk membeli obat di warung, sampai adzan magrib berkumandang kondisi badannya belum juga pulih bahkan rasa sesak di dadanya pun mulai terasa. Terlihat Bu Amir  mondar-mandir masuk ke kamar untuk melihat kondisi suaminya, tak lama terdengar suara Bu Amir membangunkan suaminya untuk meminum obat kembali “Pak bangun pak, diminum lagi obatnya, biar besok badannya lebih enakkan”, beberapa kali Bu Amir membangunkannya akan tetapi Pak Amir tak juga bangun, kemudian Bu Amir meminta tolong  kepada anak sulungnya untuk menjemput tetangganya yang kebetulan seorang tenaga kesehatan disalah satu rumah sakit swasta untuk memeriksa keadaan Pak Amir. Setelah dilakukan pemeriksaan, tetangganya menyarankan untuk membawa Pak Amir ke rumah sakit agar mendapatkan pemeriksaan yang lebih lanjut.

Terdengar suara cator dihidupkan di belakang rumah Pak Amir, ternyata anak sulungnya yang menghidupkan dan siap untuk membawa Pak Amir, dengan tergesa Bu Amir dan anak sulungnya membawa Pak Amir ke rumah sakit. Sesampainnya di rumah sakit Pak Amir dibawa ke Unit Gawat Darurat, di sana Pak Amir mulai dilakukan pemeriksaan lebih serius. Tak lama kemudian seorang perawat memanggil Bu Amir untuk memberikan penjelasan  terkait diagnosa awal dari dokter, alangkah terkejutnya Bu Amir ketika sang dokter menyampaikan hasil diagnosa awal tersebut “Kami telah memeriksa kondisi suami ibu, dengan melihat gejala serta napas yang begitu berat kami khawatir bapak terkena Covid-19, besok pagi akan dilaksanakan pemeriksaan lebih lanjut dengan melakukan swab PCR”, tak kuasa menahan air mata dengan wajah penuh kebingungan Bu Amir pun bertanya kepada dokter “Dok swab PCR itu seperti apa? Sakit kah?” belum juga dokter sempat menjawab, Bu Amir melontarkan pertanyaan berikutnya “Apakah suami saya dapat diselamatkan?” dokter menjawab satu per satu pertanyaan Bu Amir tersebut.

Malam itu juga Pak Amir dipindahkan ke ruang isolasi perawatan Covid-19 untuk menghindari penularan yang lebih meluas. Salah satu perawat menyarankan Bu Amir untuk pulang karena selama di ruang isolasi Pak Amir tidak bisa ditemani atau dijenguk oleh siapapun kecuali petugas yang memang sudah dipersiapkan oleh rumah sakit untuk merawat pasien Covid-19. “Sebaiknya ibu pulang saja, perbanyak doa semoga Pak Amir pulih kembali, ibu istirahat yang tenang di rumah jangan banyak pikiran, kami akan merawat dan menjaganya dengan baik di sini, toh Pak Amir juga ga bisa ibu temani selama masa isolasi” dengan suara pelan perawat tersebut menenangkan Bu Amir, dengan berat hati akhirnya Bu Amir dan anak sulungnya bergesas pulang kerumah.

Sesampai di halaman rumah Bu Amir melihat beberapa tetangganya duduk depan teras rumah dengan begitu setia menjaga kedua anak Bu Amir yang tertidur pulas di depan televisi. Melihat kondisi Bu Amir yang kelelahan para tetanggapun tidak banyak bertanya dan mereka berpamitan untuk pulang. Matahari mulai bersinar, menerangi salah satu kaca jendela ruang isolasi di mana Pak Amir dirawat, kilauan cahaya matahari yang tembus dari kaca jendela memaksa Pak Amir untuk membuka mata. Tak lama seorang dokter dengan memakai alat pelindung diri yang lengkap bagai seorang astronot menyapa Pak Amir. “Selamat pagi Pak Amir perkenalkan saya dr. Riyan, saya yang akan merawat bapak selama bapak di ruang isolasi, gimana kondisinya pagi ini? Apa yang bapak rasakan sekarang?” lalu Pak Amir menjawab pertanyaan dokter tersebut “Badan saya terasa sakit semua dok, nafas juga masih sesak di tambah lagi tenggorokan mulai perih, sebetulnya saya kenapa dok? dan di mana istri saya kenapa tak ada di ruangan ini?” sang dokter pun menjelaskan kondisi Pak Amir.

Tak lama setelah dokter keluar dari ruangan, tampak sosok petugas rumah sakit dengan pakain pelindung diri lengkap seperti yang dikenakan sang dokter, ternyata dia petugas yang akan melakukan pemeriksaan swab PCR terhadap Pak Amir. Keesokan harinya hasil pemeriksaan swab PCR pun keluar dan Pak Amir dinyatakan Positif Covid-19, sontak mendengar kabar tersebut membuat Pak Amir merasa sedih, bagaimana tidak beliau sadar bahwa selama ini dirinya menganggap sepele akan adanya virus yang saat ini sedang menjajah di seluruh dunia. Pak Amir menyesal karena sudah mengabaikan protokoler kesehatan, kini Pak Amir hanya seorang diri tanpa ditemani orang-orang tersayang menjalani isolasi di rumah sakit tersebut.

Berbeda dengan suasana di lingkungan rumah Pak Amir, pagi itu begitu ramai para warga menyaksikan istri dan ke tiga anak Pak Amir dibawa oleh petugas kesehatan dengan Ambulance untuk pemeriksaan Swab PCR di Puskesmas terdekat. Suasana ramai itu pun hanya sesaat, keesokan harinya setelah hasil swab keluar dan dinyatakan ke empat keluarga Pak Amir Positif Covid-19 dan disarankan untuk isolasi mandiri di rumah. Sontak berita tersebut membuat para tetangga ketakutan dan berusaha menjauh dari rumah Pak Amir, bahkan jika terpaksa melewati rumah Pak Amir mereka berlarian layaknya melewati tempat yang begitu angker. Kurangnya informasi terkait penularan Covid-19 kepada para warga mencipkatan stigma sosial dan diskriminasi terhadap seseorang yang dianggap mempunyai hubungan dengan virus ini dan jika dibiarkan berlarut-larut maka akan memperburuk keadaan.

Empat belas hari berlalu, Pak Amir diperbolehkan untuk pulang kerumah dan melanjutkan isolasi mandiri di rumah. Perasaannya sangat bahagia karena dapat berkumpul kembali dengan keluarga tercinta, rasa rindu yang hampir tak terbendung membuatnya lupa untuk berpamitan dengan dokter yang selama ini telah menjadi teman terbaiknya selama di rumah sakit. Rasa bahagia itu seketika berubah menjadi rasa sedih ketika sesampai dirumah, Pak Amir melihat kondisi keluarganya yang nyaris kelaparan karena kurangnya stok persediaan makanan dan inilah gambaran sebagian besar yang dirasakan oleh seseorang atau keluarga yang terdampak Covid-19 pada awal virus ini menyerang tanah air tercinta, mereka hanya mendapatkan bantuan dari pemerintah itu pun tidak dapat memenuhi kebutuhan selama masa isolasi, karena saat ada salah satu bahan pokok yang habis mereka tidak bisa dengan bebas keluar rumah.

Satu jam berlalu, saat Pak Amir dan keluarganya masih berbincang-bincang menceritakan pengalamananya selama dirawat di rumah sakit, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumah Pak Amir “tok tok tok”, dari kaca jendela. Pak Amir melihat sesosok tubuh tinggi besar dengan alat pelindung diri lengkap sama seperti yang dikenakan petugas rumah sakit, orang tersebut menyimpan beberapa dus makanan dan minuman serta bahan pokok lainnya di depan teras Pak Amir, dengan menjaga jarak orang tersebut menyampaikan bahwa ini bantuan dari dokter untuk Pak Amir dan keluarga. Dari balik jendela  Pak Amir menyampaikan rasa terima kasih kepada orang tersebut dan terutana untuk dokter.

Masa isolasi mandiri pun akhirnya berlalu, Pak Amir dan kelurga dapat menjalankan aktivitas seperti biasa dengan mematuhi protokoler kesehatan. Sebagai rasa terima kasih Pak Amir dan istrinya berniat untuk mengunjungi rumah dokter sekaligus untuk bersilaturahmi dan meminta maaf karena saat keluar rumah sakit tidak sempat berpamitan. Sesampai di alamat rumah dokter yang ditulis di atas secarik kertas resep dan disimpan Pak Amir dengan baik,  Pak Amir melihat bendera kuning tertancap di gerbang pintu masuk dan beberapa rangkaian bunga belasungkawa terpampang di halaman rumah dokter. Salah satu rangkaian bunga itu dari rumah sakit tempat dokter bekerja  dengan  bertuliskan “Innalilahi wainaillahi rojiun, Keluarga Besar Rumah Sakit mengucapkan turut berduka cita atas wafatnya dr. Riyan Sastra Diningrat”. tak kuasa membendung air mata Pak Amir menjatuhkan badannya tepat di depan salah satu ucapan belasungkawa yang memampang foto dokter ketika masih hidup. Rasa sedih yang mendalam membuat Pak Amir tak henti-hentinya menangis sambil mengenang kebaikan serta support yang selalu diberikannya selama menjalani perawatan. Kemudian dari kejauhan Pak Amir melihat sesosok tubuh tinggi besar yang waktu itu mengirim sumbangan bantuan makanan dari dokter Riyan dan ternyata dia adalah seorang supir kepercayaan dokter Riyan yang telah bertahun-tahun bekerja dengannya. Dari situlah Pak Amir mengetahui bahwa dokter Riyan meninggal karena terpapar Covid-19 dan setelah 3 hari di Ruang ICU nyawanya tidak tertolong.

Sejak peristiwa tersebut Pak Amir sangat menjaga protokoler kesehatan dan seringkali megingatkan keluarga, sanak saudara dan tetangganya  tentang pentingnya hidup sehat di masa pandemi ini, nama dokter Riyan selalu ada dalam hatinya bagaikan malaikat yang dikirimkan Tuhan ketika Pak Amir terpuruk “Selamat jalan malaikatku, tenanglah disana, surga layak untukmu”.

(Visited 13 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan