Siti Nur Holisoh_Teman yang Sesungguhnya_MTs N 2 Subang

WhatsApp-Image-2021-04-24-at-11.21.40.jpeg

Teman yang Sesungguhnya

 

“Dreng … dreng …,” jam beker pink berdering pada pukul lima subuh. Menandakan bahwa Renata Puspita, Siswa SMA Mahardika Jakarta, harus bangun untuk mandi, salat, dan siap-siap untuk ke sekolah.

Renata Puspita merupakan gadis tunggal dari keluarga yang kaya raya, ayahnya pemilik perusahaan besar di Jakarta dan ibunya memiliki restoran yang banyak cabangnya di Jakarta dan Yogyakarta. Renata sebenarnya anak yang pintar, tapi karena hidupnya selalu dimanja dan semua yang dia inginkan selalu terpenuhi. Ayah dan ibunya pun tidak pernah melarang Renata untuk melakukan apapun yang ia sukai, karena mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Renata menjadi anak yang pemalas, dia sering keluyuran main sana-sini tanpa tahu waktu, karena ayah dan ibunya jarang pulang ke rumah.

Di rumah Renata hanya berdua dengan Bi Marni, pembantu setianya dan sekaligus yang mengurus Renata sejak kecil. Kadang Kakek dari ibunya Renata main ke rumahnya, meskipun itu jarang sekali, karena kakeknya tinggal di Yogyakarta, dan neneknya sudah meninggal saat Renata masih kelas empat sekolah dasar, terserang penyakit jantung.

“Non Nata, ayo bangun salat subuh dulu,” panggil Bi Marni kepada Renata yang masih nyenyak tidur, karena semalam Renata pulang jam sebelas malam dari rumah temannya.

“Heem susah sekali Non Nata kalo dibangunin,” kata Bi Marni sambil membuka pintu kamar Renata.

“Non bangun, Non bangun!” ucap Bi Marni yang berusaha membangunkan Renata

“Iya, Bi, bentar sepuluh menit lagi,” jawab Renata sembari setengah tidur.

“Salat dulu Non, nanti keburu habis waktu subuhnya,” ucap Bi Marni meminta Renata untuk salat.

Tetapi Renata hanya marah-marah, dia tidak ingin jika tidurnya diganggu.

“Inget kata kakek Non, salatnya tidak boleh bolong-bolong,” ucap Bi Marni mengingatkan kembali untuk salat.

“Iya iya, nanti besok salat, sana keluar dulu dari kamar gue … berisik,” ucap Renata sambil membanting bantal ke arah Bi Marni.

Renata tidak pernah nurut kalo disuruh salat, itulah akibat kurang perhatian dari orang tuanya.

Renata memiliki tubuh semampai, dan paras yang menawan. Renata cantik dan banyak uang membuat dia sering bergaul dengan orang-orang yang kelas atas yang sederajat dengannya. Renata juga ketua dari geng “Beautiful Girl” yang terdiri dari Renata, Sinta, Tiara, dan Gisel. Mereka berempat tergolong geng yang populer di SMA Mahardika. Dengan paras yang cantik tidak sedikit cowok yang ingin menjadi pacarnya.

Tapi Renata sudah mempunyai pacar namanya Ronal Perwira, dia juga tergolong anak yang popular, nakal, dan sering bolos. Tidak ada yang berani melawan gengnya Ronal. Ronal adalah anak pemilik klub malam terkenal di Jakarta. Tidak jarang beautiful girl pergi ke tempat itu, untuk minum-minum dan menghabiskan waktu sampai tengah malam.

“Renata, sebaiknya kamu jangan memakai lipstik yang mencolok karena itu mencontohkan hal  yang tidak baik kepada adik-adik kelas” tegur Jenal Hapidin, ketua osis SMA Mahardika.

“Heh lo, jangan sok-sokan jadi ketua osis di sini, bisa-bisanya ngatur hidup gue, gue bilangin Ronal, Lo pasti mampus, ya kan Gens?” ucap Renata merasa tidak senang jika dirinya diatur oleh seseorang.

“Iya dong my Quin .., heh Lo jangan so alim deh, ngatur ngatur Quin kita, Lo bisa aja diberhentiin jadi ketua osis,” kata Gisel.

“Bukan hanya diberhentiin dari ketua OSIS tapi di keluarin dari sekolah ini, dan bisa mati Lo ditangan Ronal, haha …,” sambung Sinta.

Jenal hanya tersenyum dan tidak membalas perkataan gengnya Renata. Kemudian geng itu pergi sambil mendorong Jenal.

Suatu pagi.

“Waah udah jam setengah tujuh nih, gue pasti kesiangan” kata Renata sambil melihat jam bekernya, dia langsung mandi dan bersiap-siap. Saat di lampu merah Renata melihat Ronal dengan motor ninjanya yang merah.

“Eh kok dia gak sekolah, kenapa ga ngasih tau gue yah, heem mungkin lagi ada kepentingan mendadak, biar ajalah,” kata Renata dalam hati.

Bremm, Renata menancap gas mobilnya dengan kecepatan tinggi. Renata telat lima belas menit tapi Pak Satpam membukakan gerbangnya dengan sanksi harus membersihkan halaman sekolah.

“Gengs liat, itu kan Nata, dia kena sanksi karena kesiangan,” kata Gisel.

“Heem kenapa yah si Quin bisa kesiangan,” tanya Tiara.

“Ah palingan dia tidurnya udah larut malam, biasa lah,” kata Sinta.

“Renata, saya bantu yah,” tawar Jenal.

“Ya udah sekalian aja lo yang bersihin semuanya,” ucap Renata dengan raut wajahnya yang sangat licik.

“Tapi Natt …,” ucap Jenal terhenti.

“Kalo bantu itu jangan setengah setengah Nal, lumayan pahala di pagi hari, haha …,” kata Renata sambil menepuk pundak Jenal.

“Nata lo udah selesai beresin halamannya?” tanya Tiara.

“Udah dong, dibantu sama Jenal tuh, jadi biar dia aja yang bersihinnya, dia kan gampang dimanfaatin, haha …” kata Renata sambil tertawa.

“Heem bener tuh, mau aja Jenal dimanfatin sama lo Nat” kata Tiara.

“Ah udah lah yang penting gue gak susah-susah lagi, yu ah cabut ke kelas Gengs,” ucap Renata.

” Go …,” jawab Beautiful Girl serentak.

“Lah kok Ronal belum ngabarin gue sih,” gerutu Renata dalam hati saat di kantin.

“Kenapa Nat ko kayanya bete banget sih?” tanya Sinta.

“Emm … enggak Sin, ayo ah pesen dulu siomaynya, lapar nih gue, tadi ga sempet sarapan nih,”

“Iya iya bentar, Gengs kalian mau pesen apa nih?”

Jenal  tiba-tiba menghampiri Renata yang sedang makan siomay.

“Nata aku mau ngomong sama kamu,” kata Jenal.

“Mau minta upah ya lo, mau pesen apa? pesen aja nanti Nata bayar, dia kan banyak uang,” celetuk Gisel.

“Iya lo mau pesen apa? gue yang bayar deh,” kata Renata.

“Bukan itu Nat, gue mau ngomong tentang …” ucap Jenal terhenti.

“Ah udah lah Nat banyak basa-basi ayo lanjut makan, sana lo pergi,  ganggu kita aja.”

Belum juga selesai Jenal bicara, Sinta malah memotongnya.

“Iya udah yah, nanti gue kasih uang buat bensin Lo, haha …,” ejek Renata

“Haha ….” geng Beautiful Girls tertawa bersama.

Jenal berlalu pergi

Setelah pulang sekolah Renata langsung ke rumah Ronal dan menanyakan kenapa dia tadi Alfa disekolah tanpa memberi tahunya.

“Bi, Ronalnya ada?” tanya Renata kepada asisten rumahnya Ronal.

“Maaf non, Den Ronalnya belum pulang udah dua hari.”

“Hah yang bener Bi? Kok dia gak ngasih tau gue sih?”

“Bibi juga ga tau, Non.”

“Kemana sih si Ronal kok dia bohong sama gue, katanya kemarin lagi di rumah, awas aja kalo dia gak ngabarin gue sampe besok,” gerutu Renata dalam hati sambil membuka pintu mobil mewahnya.

Suatu hari. Renata sedang di kafe untuk makan, tiba-tiaba  Jenal datang menemuinya.

” Renata aku serius mau ngomong sama kamu,” kata Jenal.

” Ngomong apasih lo, ganggu gue terus,” ucap Renata.

” Soal Ronal Nat.”

” Ada apa ? Lo sok tau banget deh.”

“Aku kesian sama kamu, Nat,” ucap Jenal pelan.

“Jadi Ronal itu … sebenernya ….”

“Apa sih cepet deh.”

“Gay!”

“Apa sih lo bercandanya ga lucu.”

” Bener Nat gue ga bohong, gue bisa buktiin, dia sekarang lagi ada di hotel, dia udah dua hari gak pulang,” jelas Jenal.

“Hah kok kamu tau sih dia ga pulang dua hari?” Renata mulai pensaran.

“Iya jadi dua hari yang lalu, pas aku pulang sekolah, aku liat dia sama cowok keluar dari mobil dan masuk ke hotel, aku selidikin aja dan ternyata benar bahwa Ronal itu cek in hotel dengan cowok itu.”

“Gak, gak mungkin Ronal begitu, gak mungkin” teriak Nata sambil menangis, pengunjung di kafe melihat ke arah mereka.

“Bener Nat, ayo kalo gak percaya, kita susul aja ke sana,” ajak Jenal.

Kemudian mereka pergi ke hotel itu, di lantai tujuh kamar 106, Renata dibantu Jenal langsung mendobrak pintu kamar hotel, ternyata benar Ronal sedang berduaan dengan cowok yang gak tau siapa.

“Gue gak nyangka Lo gitu” kata Renata kecewa.

“Gue bisa jelasin, Nat, itu gak benar, Nat,” bela Ronal.

“Gak bener gimana sih Beb, kita emang punya hubungan kan,” kata cowok yang berdua dengan Ronal.

“Kita putus, gue gak mau ketemu sama lo lagi, dan jangan pernah hubungi gue lagi, plakkk …” Renata menampar Ronal.

“Nat gue minta maaf Nat, ini gue yang sebenarnya, maaf gue gak maksud bohongin lo,”

“Lo udah mainin hati gue, dengan hal konyol seperti ini.”

“Hik hik hik,,,,,” Renata menangis saat di parkiran

“Sabar Nat, ini memang kenyataannya.”

“Makasih Nal gue suka jahat sama lo, tapi lo selalu bantu gue.”

” Iya Nat kita kan teman jadi harus saling membantu.”

” Heem makasih sekali lagi.”

“Iya Nat jadi kamu harus menjadi lebih baik lagi, dan jangan gampang percaya kepada orang lain, jangan dilihat dari popularitas, dan harta kekayaannya.”

“Iya Nal gue sadar, gue emang bego, gue selalu bangga banggain Ronal, gue berusaha akan lebih baik lagi Nal, lo emang Teman yang Sesungguhnya, makasih ya,”

“Iya Nat,  sama-sama,ayo kita pulang, udah jangan nangis lagi.”

Renata pun pulang dengan mobilnya dan Jenal pulang dengan motor tuanya.

Setelah kejadian itu, Renata menjadi berubah dan giat belajar, karena dia sadar bahwa yang ia lakukan selama ini hanya membuang waktu untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna. Renata mulai berteman dengan semua orang dan dari kalangan manapun, tidak lagi membeda-bedakan teman. Renata fokus dengan sekolahnya dan tidak lagi memikirkan pacar.

-Tamat-

(Visited 6 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan