Siti Nur Holisoh_Pushi_MTs N 2 Subang

IMG_20210418_231639.jpg

Pushi

“Bukkk,” seekor kucing dipukul dengan kerasnya. Kucing yang dipukuli itu bernama Pushi, Pushi mempunyai bulu putih dan cantik. Terlihat seseorang sedang membawa tongkat dan menatap Pushi dengan tatapan tidak suka.Ternyata dia adalah Bu Tini, alasan Pushi dipukul karena Bu Tini tidak mau kalau Pushi mencuri atau membuang kotoran di rumahnya. Setelah melihat Pushi kesakitan Bu Tini pun pulang ke rumahnya dan meninggalkan Pushi. Setelah dipukuli Bu Tini terlihat Pushi tergeletak kesakitan di halaman.

“Setidaknya jika tidak suka dengan kucing diamkan dan jangan memukulnya, karena kucing juga berhak bahagia,” gumam Pushi. 

Pushi pergi meninggalkan halaman itu, dengan kaki yang pincang dan kepala yang berdarah Pushi berjalan. Saat di perjalanan tidak ada satu pun orang yang mengobati Pushi atau ataupun menghiraukan Pushi, semua orang mengacuhkannya.

Sampailah Pushi di pasar, ia berdiri di depan pedagang ikan dan berharap pedagang itu memberikan ikan kepadanya. Tetapi harapan itu hanya sebuah harapan yang tidak akan menjadi kenyataan. Pushi malah mendapatkan hal yang tidak mengenakkan.

“Byurr!” Seorang pembeli menyiram Pushi.

“Pergi sekarang, menghalangi orang mau beli!” ucap pembeli itu dengan suara keras.

Dengan badan yang basah kuyup Pushi pergi meninggalkan pedagang itu. Hari mulai gelap dan Pushi belum makan sedikit pun. Pushi Melihat kardus kecil berada di ujung pasar lalu bergegas menuju kardus tersebut, di dalam kardus kecil Pushi memilih untuk tidur.

Keesokan harinya Pushi terbangun, dia terkejut melihat dirinya berada di tempat sampah. Dia tidak sadar pada saat Pushi tidur tadi malam, ada orang yang sengaja membuangnya ke tempat sampah agar Pushi tidak lagi berada  di pasar tersebut. Tetapi Pushi tidak menghiraukannya, Pushi keluar dari kardus dan  membersihkan dirinya sendiri.

“Krukkk,” terdengar suara perut Pushi berbunyi.

“Ehh lapar…. aku harus mencari makan,” ucap Pushi.

      Saat Pushi berjalan dia merasa kakinya sangat sakit ternyata kaki Pushi belum juga sembuh. Tetapi Pushi terus berjalan tanpa memperdulikan kakinya. Ia berjalan untuk mencari makan di sekitar tempat itu karena Pushi sangat lapar. 

“Tidak ada sedikit pun makanan di sini hanya ada sekumpulan sampah,aku harus mencari makanan ke tempat lain,” ucap Pushi.

Pushi berjalan ke sana kemari untuk mencari makan tapi dia belum juga menemukan makanan sedikit pun. Terlihat ada genangan air di sisi jalan, Pushi menghampiri genangan air tersebut dan meminumnya. Setelah selesai minum Pushi melanjutkan perjalanannya untuk mencari makan.

         Sampailah Pushi di Sekolah Dasar. Pada saat Pushi akan masuk ke sekolah ada seorang anak melempar batu kepada Pushi. Pushi berlari untuk menghindari lemparan batu itu, tetapi anak itu juga mengikuti Pushi dan terus-menerus melempari Pushi dengan batu.

“Rangga … jangan lempari kucing itu lagi,” ucap seorang siswi.

 “Emang kenapa? suka-suka aku dong mau ngapain sama kucing ini,” ucap Rangga.

Tanpa mendengar ucapan Rangga siswi itu membawa Pushi ke kelasnya. Jam pelajaran pun mulai dan guru matematika masuk ke kelas.

“Diana … kenapa kamu bawa kucing jalanan itu masuk ke kelas?” tanya guru itu.

“Tadi saya melihat kucing ini sedang dilempari batu oleh Rangga, jadi saya membawa kucing ini ke dalam kelas agar kucing ini tidak dilempari batu oleh Rangga lagi,” ucap Diana.

“Bohong Bu saya tidak melempari kucing itu dengan batu, Diana bohong Bu,” ucap Rangga mengeles.

“Gak Bu saya melihat …,” ucapan Diana terpotong oleh gurunya.

“Sudah sudah jangan bertengkar! Diana sebaik nya kamu keluarkan kucing itu dari dalam kelas!” perintah guru itu.

Diana lalu mengeluarkan Pushi dari dalam kelasnya dan menaruh Pushi di gerbang sekolah. Diana pergi ke kelasnya, sementara Pushi menunggu Diana Pulang.

“Tengnong,” bel pulang telah berbunyi. Diana telah keluar dari kelasnya dan beranjak pulang. Pada saat Diana akan pulang, Diana melihat Pushi sedang tidur di depan gerbang sekolah. Diana menghampiri Pushi, tapi tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil Diana.

“Diana … ayo kita pulang,” ucap seorang ibu,

Ternyata dia adalah ibunya Diana yang menjemput.

“Iya Bu,” jawab Diana sambil berlari kecil untuk menghampiri ibunya. 

Diana pun pulang bersama ibunya tanpa melihat Pushi terlebih dahulu. Pada saat Pushi terbangun dia melihat tidak ada seorang pun di sekolah itu, sekolah itu terlihat hening dan sepi.

“Apakah Diana sudah pulang? kenapa sekolah ini sepi sekali?” tanya Pushi kepada dirinya sendiri. 

Pushi masih berdiri di depan gerbang sekolah dan berharap Diana belum pulang. Hari mulai menjelang sore  Pushi masih tetap menunggu Diana. Setelah lama menunggu akhirnya Pushi berencana untuk mencari Diana.

Pushi pergi dari gerbang sekolah untuk mencari Diana. Pushi berjalan ke sana kemari berharap dia menemukan Diana. Hari mulai gelap tetapi Pushi belum juga menemukan Diana, lalu Pushi memutuskan untuk tidur karena dia merasa sangat lelah.

Keesokan harinya saat Pushi tidur, Pushi mendengar suara seorang anak perempuan yang menyapanya.

“Apakah itu Diana?,” tanya Pushi.

Lalu Pushi membuka matanya, tetapi perempuan itu bukanlah Diana melainkan seorang anak perempuan yang kebetulan lewat dan menghampiri Pushi. Anak perempuan itu lalu menggendong Pushi dan membawa Pushi kerumahnya.

“Indah pulang,” ucap anak perempuan itu yang bernama Indah.

Seorang Ibu menghampiri indah dan memeluk Indah, ternyata itu adalah ibunya Indah.

“Ehh ini kucing siapa?” tanya Ibu Indah.

“Tadi Indah nemu kucing ini, kasian dia penuh luka dan Indah bawa pulang karena Indah mau ngobatin lukanya, tapi indah juga mau minta ijin ke ibu supaya indah bisa merawat kucing ini, bolehkan Bu?” tanya Indah kepada ibunya.

“Boleh asalkan Indah janji Indah bisa merawat kucing ini dengan baik, oke?” balas ibunya indah.

“Iya Bu indah janji Indah akan merawat kucing ini dengan baik,” ucap Indah.

Lalu Indah membuat makanan untuk Pushi dan memberinya makan. Karena Pushi sangat lapar dia memakan makanan itu dengan lahapnya. Setelah selesai makan Indah memandikan Pushi, terlihat sangat cantik saat Pushi selesai mandi. Bulu yang begitu lebat dengan warna putih bersih membuat Pushi sangat cantik setelah dimandikan.

     Indah membawa sekotak tempat obat untuk mengobati kepala Pushi yang sakit. Setelah mengobati Pushi, Indah lalu membuatkan  tempat  untuk Pushi tidur bersama ibunya.

“Terima kasih ya Allah atas semua yang engkau berikan kepadaku, aku bersyukur ternyata kesabaranku membuahkan hasil yang sangat Indah,” ucap Pushi

Hari demi hari telah dilewati Pushi dan Indah, sebulan pun berlalu, luka yang ada di kepala Pushi telah sembuh, sekarang Pushi sangat bersih dan cantik karena Indah selalu merawat Pushi. Kini mereka semakin dekat, di mana ada Indah di sana pasti ada Pushi.

 

Tamat

(Visited 12 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan