Siti Nur Holisoh_Payung Hitam_MTs N 2 Subang

WhatsApp-Image-2021-04-24-at-11.21.40.jpeg

Payung Hitam

 

“Don liat gue bawa apa?” ucap Wildan sambil menunjukan payung yang dibawanya.

“Payung, dari mana Lo, beli? Buat apa beli payung warna hitam?” ucap Dini heran.

Lalu Wildan menceritakan jika sebelum dia bertemu dengan Doni. Wildan pergi melihat-lihat ke toko antik, tetapi tidak tau kenapa dia tertarik membeli payung hitam yang ada di toko antik itu. Wildan pun langsung mengambil payung itu tanpa menanyakan asal usul payung yang dibelinya dari toko antik itu.

“Astaga… kenapa Lo langsung beli payung itu sihh, gue denger-denger di toko antik itu barang-barangnya biasanya terkutuk, Lo harus ngembaliin payung itu,” kata Doni.

Tapi Wildan tidak mau mengembalikan payung itu.

“Ya janganlah, lumayan kan gue gak punya payung,” Wildan mengeles dan tidak mau mengembalikan payung itu.

“Ahh yaudahlah,” ucap Doni yang sudah cape menasehati Wildan.

Lalu mereka memeriksa payung tersebut, terlihat di payung itu terdapat gantungan wajah seorang wanita yang berambut panjang. Melihat gambar itu Doni merasa sangat merinding, karena gantungan berwajah perempuan itu sangat seram dengan rambut panjangnya.

“Ehh liat dehh, mata perempuannya kenapa merah ya?,” kata Doni keheranan.

“Ihh udahlah, bikin gue takut aja,” ucap Wildan.

Lalu Wildan meletakkan payung itu dekat lemari bajunya.

Hari sudah berganti malam, dan mereka kemudian tertidur di ranjang yang sama. Karena mereka ngekost jadi mereka tinggal dan tidur di satu ranjang. Pada tengah malam hujan turun dengan derasnya, pada jam dua dini hari terdengar suara seseorang sedang bermain air hujan di luar. Wildan terbangun karena suara itu, tetapi Wildan tidak mempedulikan dan melanjutkan tidurnya. Pada pukul tiga, terdengar suara benda yang jantung sangat keras sehingga keduanya terbangun. Kemudian suara benda yang jatuh itu terdengar lagi, dan terdengar seseorang memukul sambil terdengar  seorang wanita berteriak. Wildan sangat ketakutan.

“Serem banget woyy, kenapa benda bisa jatuh sendiri?,” ucap Wildan yang ketakutan.

“Udahlah mendingan kita tidur, soalnya kan besok kita mau ujian,” sahut Doni. Kemudian mereka melanjutkan kembali tidurnya.

Hari berganti, esok harinya kedua anak muda itu telah bangun dari tidurnya.

“Kayaknya gua harus cari tahu tentang payung ini dan gantungan ini,” kata Wildan.

“Benar tuhh, kita harus mencari tahu tentang payung ini, jangan sampe kejadian tadi malam kejadian lagi,” ucap Doni membenarkan ucapan Wildan.

Mereka pun memutuskan untuk mencari tahu tentang payung itu nanti setelah mereka pulang dari kampus. Lalu mereka berangkat ke kampus, sesampainya di kampus mereka pun mengerjakan ujian dan belajar. Sehabis kuliah, mereka langsung pergi ke toko antik untuk mencari tahu tentang payung itu.

Sesampainya di toko antik,

“Permisi…,” kata Doni.

“Gua pemasaran dengan payung hitam ini. Pemilik toko ini pasti dapet barang antik ini dari orang lain kan? Barang kali pemilik toko ini tau tentang pemilik sebelum payung hitam ini,” jelas Doni.

“Iya…, tapi mana pemilik tokonya?” tanya Wildan.

“Gua juga ga tau. Eh itu dia!” kata Doni setengah teriak.

Kemudian, datanglah seorang kakek tua menuju mereka berdua.

“Ada yang bisa saya bantu, mas?,” kata kakek tua tersebut.

“Ehh iya, pak. Ini teman saya pernah beli payung hitam dari toko ini. Bapak tahu tidak pemilik sebelumnya siapa?” kata Doni.

“Ohh, tunggu yaa,” kata kakek tersebut sembari mengecek nama-nama penjual dan pembeli yang pernah datang ke tokonya di buku besar.

“Gila besar dan tebal banget bukunya. Lo liat buku itu saat membeli payung hitam  itu?,” bisik Doni.

“Iya… Kakek itu daya ingatnya mulai lemah. Maka itu, setiap orang yang datang ke tokonya, selalu dicatatnya supaya dia tetep ingat nama penjual dan pembeli yang pernah mampir di tokonya,” jelas Wildan.

“Ohh…,” kata Doni

Lalu kakek itu menanyakan nama yang membeli di tokonya itu. Doni menjawab jika yang membeli di tokonya adalah Wildan. Kakek itu meminta Doni dan Wildan menunggu.

“Hmm, tunggu yaa… nah ketemu!!! Kamu beli apa, Mas?,” kata kakek tua tersebut kepada Doni.

“Hmm, saya membeli payung hitam, Kek. Kakek  tau tidak pemilik sebelumnya siapa?,” kata Dino.

“Ohh payung hitam…? Hah …?” kakek itu berkata seperti terkejut akan sesuatu.

“Emang kenapa, Kek?” tanya Wildan.

Kakek itu hanya menggeleng, lalu Doni menanyakan siapa pemilik sebelumnya payung hitam ini. Kakek itu menjawab sambil menangis, jika pemilik payung itu adalah Lisa anak kakek pemilik toko antik itu.

“Ohh. Itu sebelumnya kepunyaan anak kakek. Anak kakek  meningga?,” tanya Doni.

“Hah??? Bagaimana kamu tahu? Saya menyembunyikan kematiannya dari orang-orang karena dia sangat baik kepada orang-orang. Jika dia mati, orang orang pun akan sedih. Tapi bagaimana kalian tahu?” tanya kakek tua.

Kemudian diceritakannya semua apa yang dialami Wildan dan Doni kepada kakek tua tersebut. Mereka curiga itu arwah Lisa

“Hmm, payung hitam itu kepunyaan anak saya, katanya dapat dari teman kampusnya bernama Dina yang sudah meninggal terbunuh. Dia sangat menyayangi payung hitam itu seperti menyayangi Dina, mungkin anak saya marah ketika kalian mendapat payung itu. Saya terpaksa menjualnya buat bayar sewa kontrakan toko ini,” lanjut kakek tua.

“Kami turut berduka cita, Kek atas semuanya,” ucap Doni.

Lalu mereka pamit kepada kakek itu dan meninggalkan toko antik itu, kemudian kembali ke kampus.

Setelah selesai kuliah, mereka ke perpustakaan mencari perihal tentang kematian Dina teman Lisa si pemilik payung. Mereka curiga kematian Lisa ada kaitannya dengan Kematian Dina. Mereka mendapat suatu berita tentang kematian Dina di internet.

“Eh Don, liat yang gua dapet. Gua udah baca, katanya perempuan tersebut merupakan mahasiswa kampus ini saat tahun 2003. Berarti, angkatan pertama dong.”, kata Wildan membaca situs tersebut.

“Nah iya. Berarti dia senior kita dong. Eh yang ini membahas tentang TKP-nya. Katanya perempuan tersebut ditemukan di hutan. Dalam kondisi mengenaskan. Organ di tubuhnya hilang semua dan kepalanya terbelah menjadi dua, payung ini ditemukan di samping mayat itu. IHHH!!!”, lanjut Dino dengan rasa jijik ketika melihat foto TKP-nya.

“Ohh. Di bawah ini katanya saat di TKP ditemukan catatan yang bersimbah darah. Diduga itu adalah tulisan korban sebelum dia meninggal. Dia menulis dengan bahasa isyarat. Tidak ada yang tahu artinya apa. Sebelum korban telah menghilang selama dua minggu, korban berada di rumah pacarnya. Pacarnya bernama Budi, perempuan tersebut memiliki seorang ayah saja, ibunya meninggal ketika dia masih kecil, ayahnya bernama pak Wawan, ayahnya berkata putrinya akan pulang diantar pacarnya, kata pacar perempuan tersebut bahwa dia bersama pacarnya singgah di rumahnya buat istirahat, ketika istirahat, perempuan tersebut pergi sebentar ke belakang rumah, dan sejak itu perempuan tersebut menghilang dan ditemukan meninggal dua minggu setelahnya,” lanjut Doni sambal terus membaca.

Kemudian, terdengar suara bel tanda pulang berbunyi. Lalu mereka memutuskan untuk menyelidikinya kembali di indekosnya.

Sesampainya di rumah, mereka segera bersih-bersih. Wildan yang selesai duluan kemudian keluar untuk mencari makan, sedangkan Wildan tetap di kos karena dia belum selesai mandi.

“Gua  udah selesai nih. Tapi gua makan apa yaa? Makan bareng Doni aja deh. Hmm, gua mau ngecek payung itu ah,” kata Wildan.

Kemudian, dia menghampiri payung hitam itu dan mengamatinya.

Tiba tiba keluar sosok perempuan menyeramkan dari kalender itu.

“Ahh …!” teriak Wildan.

Perempuan itu sangat menyeramkan. Kepalanya terbelah, mata dan otaknya keluar, dan tubuhnya seperti dicabik cabik. Wildan yang ketakutan langsung lari keluar, tetapi hantu itu menariknya,  dan ingin membunuhnya. Tetapi Wildan langsung terbangun di lantai. Ternyata semua itu adalah mimpi.

“Oh syukurlah itu cuma mimpi. Eh …,” ucap Wildan tertahan melihat payung itu.

Payung hitam itu tiba-tiba berubah menjadi abu dan gantungan wanita itu menghilang. Wildan merasa heran tentang itu, tiba tiba dia mendapatkan sebuah wa dari Dini jika Budi, dia telah di tangkap oleh Polisi.

“Mungkin Dina telah tenang di alam sana karena Budi telah ditemukan dan akan diberi hukuman yang setimpal,” ucap Wildan.

Merka pun merasa tenang akhirnya mereka bisa terbebas dari payung hitam itu.

TAMAT

(Visited 6 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan