Siti Nur Holisoh_Bersyukur_MTs N 2 Subang

IMG-20210409-WA0005.jpg

Bersyukur

“Caca …!” terdengar seseorang berteriak memanggil Caca.
Seseorang itu ternyata ibu Caca yang bernama Bu Marni. Caca adalah seorang gadis miskin dan anak satu-satunya di keluarga itu. Caca sekarang kelas 3 dan dia sekolah di SMP Maha Buana Bandung.
“Caca bangun waktunya sekolah!” ucap Bu Marni yang berusaha membangunkan Caca.
Caca lalu bangun dan melihat kearah jam, terlihat jam menunjukkan pukul 06.00.
“Iya Bu ini udah bangun, Caca mandi dulu,” ucap Caca kepada ibunya.
Caca pun mandi, saat Caca mandi Bu Marni menyiapkan baju seragam sekolahnya. Setelah Caca selesai mandi, Caca lalu memakai seragam sekolah yang disiapkan ibunya. Terlihat seragam sekolah yang dipakainya sudah kusam.
“Caca sebelum berangkat makan dulu!” perintah Bu Marni.
“Iya Bu,” jawab Caca. Setelah Caca selesai memakai baju dan menyiapkan bukunya, Caca pergi ke dapur untuk sarapan.
Terlihat Bu Marni telah menyiapkan makanan berupa nasi goreng dan kerupuk.
“Yahhh kok nasi goreng dan kerupuk lagi Bu, gimana Caca gak kurus tiap harinya makan nasi goreng sama kerupuk saja,” ucap Caca dengan cemberut.
“Makan seadanya saja, kamu harus bersyukur karena sekarang bisa makan,” kata Bu Marni.
Caca lalu memakan nasi goreng dan kerupuk yang disiapkan Bu Marni dengan cemberut.
“Bapak mana Bu?,” tanya Caca.
“Bapak lagi jual tv dulu, soalnya beras sudah habis, dan ibu gak punya uang untuk membeli beras” jawab Bu Marni.
“Andai aja aku jadi anak orang kaya mungkin beli beras gak perlu jual tv,” pikir Caca.
Setelah Caca menghabiskan nasi goreng dan kerupuk yang disiapkan ibunya. Caca lalu berpamitan untuk pergi ke sekolah. Di perjalanan saat menuju ke sekolah, Caca melihat teman-teman sekelasnya berangkat sekolah menggunakan motor dan mobil. Tetapi berbeda dengan Caca, dia hanya berangkat ke sekolah menggunakan sepeda ontel milik bapaknya.
Saat Caca melihat teman-temannya berangkat menggunakan motor dan mobil, Caca merasa iri dengan mereka dia ingin seperti teman-temannya berangkat ke sekolah menggunakan motor atau pun mobil. Setelah Caca sampai di sekolah, Caca menyimpan sepeda ontelnya di tempat parkir. Caca lalu masuk ke kelasnya dan duduk di bangku miliknya.
“Caca di rumah kamu gak di kasih makan apa gimana sihh?” ejek Ati teman sekelas Caca. Ati memang selalu mengejek Caca, Caca tidak melawan ejekan Ati karena dia takut dengan Ati.
“Ibu aku selalu membuat makanan untuk aku,” jawab Caca sambil menundukkan kepalanya.
“Masa selalu di kasih makan masih kurus gini sih, hahaha ….” Ati kembali mengejek Caca. Caca hanya bisa menunduk, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Ati cukup …!” teriak seorang perempuan yang berusaha menyudahi ejekan Ati.
Ternyata itu adalah Salsa, Salsa memang terkenal baik di kelasnya. Dia tidak takut sama sekali dengan Ati.
“Cukuplah, kasian Caca setiap hari di ejek,” ucap Salsa membela Ati.
“Ihh apasih jadi gak seru ahh,” ucap Ati sambil meninggalkan Caca dan Salsa.
Caca sangat senang karena telah dibela oleh Salsa, Caca lalu berterimakasih kepada Salsa karena telah membantunya. Salsa hanya mengangguk dan duduk di bangkunya. Sekolah pun mulai, sekarang pelajaran Matematika dan guru matematika Pak Dadang masuk kelas. Pak Dadang memulai pelajarannya, dia menulis di bor tentang pecahan. Setelah Pak Dadang selesai menjelaskan dia pun membuat soal di bor.
“Baik sekarang bapak akan tunjuk seseorang untuk mengerjakan soal yang ada di depan,” ucap Pak Dadang memberitahukan seisi kelas.
“Semoga gak pilih aku,” ucap Caca dalam hati.
Dia takut akan di tunjuk oleh Pak Dadang untuk mengerjakan soal yang ada di depan, karena Caca dia memang tidak paling tidak bisa dengan matematika. Tetapi ketakutannya menjadi kenyataan, Pak Bondan memanggil Caca untuk mengerjakan soal itu ke depan.
Caca sangat gugup dia tidak tahu harus berbuat apa atau menulis apa di bor itu.
“Saya tidak tahu pak,” ucap Caca.
Ati memprovokasi satu kelas agar menertawakan Caca.
“Udah kumel, kurus, bodo lagi,” ucap Ati sambil tertawa.
Pak Bondan memarahi Ati, dan menyuruh Ati supaya belajar terus menerus.
“Makanya kamu harus belajar lebih giat lagi, Salsa kamu maju ke depan,” ucap Pak Bondan meminta agar Salsa mengerjakan soal yang ada di depan.
Salsa lalu maju ke depan dan mengerjakan soal yang diberikan Pak Dadang dengan benar. Semua murid memberikan tepuk tangan. Lalu Salsa kembali duduk ke bangkunya, sedangkan Caca dia masih berada di depan kelas.
“Caca kamu liat Salsa, dia bisa mengerjakan soal itu, tapi kamu? sudahlah sekarang kamu duduk,” ucap Pak Dadang.
Caca kembali duduk ke bangkunya, dia merasa malu karena tidak bisa mengerjakan soal yang ada di depan.
“Andai aku pinter seperti Salsa, mungkin aku akan diberikan tepuk tangan dan bukan ejekan,” ucap Caca.
Sekolah telah selesai, Caca pulang ke rumahnya menggunakan sepeda ontel. Sesampainya di rumah Caca langsung masuk ke kamarnya dan membaringkan diri di kasurnya. Caca berandai jika dia kaya, cantik, dan pinter pasti hidupnya bahagia. Tak terasa Caca pun terlelap tidur.
Caca pun bangun dari tidurnya, terlihat kamar yang waktu itu kecil ini menjadi sangat besar. Terlihat di kamar ada sebuah lemari besar yang penuh pakaian mewah. Di kasur Caca terdapat boneka yang sangat banyak. Melihat semua itu Caca sangat senang karena kamarnya telah berubah. Caca pergi keluar kamarnya ingin memastikan bahwa seluruh rumahnya telah berubah. Dan benar, rumah yang dulu sangat kecil kini menjadi besar dan mewah.
“Ibu …!” panggil Caca.
“Ibu ada di dapur,” ucap Bu Marni.
Caca lalu bergegas menuju suara ibunya. Terlihat dapur Caca yang begitu sangat mewah, di dapur itu terlihat ibu dan bapaknya sedang duduk di meja makan.
“Wahhh banyak banget makanannya,” ucap Caca senang melihat makanan yang begitu banyak dan enak.
Di meja makan itu terdapat makanan yang enak-enak, sayur, fried chicken, telur, dan buah buahan.
Caca pun duduk, dan makan bersama keluarganya.
“Caca kalau selesai makan, langsung mandi dan berangkat sekolah,” ucap Bu Marni.
“Iya Bu,” jawab Caca.
Setelah selesai makan Caca pun mandi dan memakai seragam sekolah. Terlihat seragam sekolahnya baru dan sangat bersih. Caca lalu melihat dirinya di cermin, terlihat wajahnya berubah sangat cantik dari biasanya. Melihat semua itu Caca gembira, lalu dia ingin segera berangkat sekolah ingin melihat reaksi teman temannya. Caca pun berangkat ke sekolah, sekarang Caca ke sekolah menggunakan mobil miliknya yang berwarna merah.
Sesampainya di sekolah, semua siswa dan siswi melihat ke arah Caca. Semua orang heran melihat Caca berubah drastis. Sesampainya di kelas Ati yang dulunya suka mengganggu Caca sekarang dia malah mendekati Caca dan berteman.
“Temen-temen sekarang kan aku sudah kaya jadi aku akan traktir kalian semua di kantin,” ucap Caca.
Caca mentraktir teman-temannya di kantin. Jam pelajaran pun mulai, Pak Dadang guru matematika masuk ke kelasnya. Seperti biasa Pak Dadang memberi contoh soal dan meminta muridnya untuk mengerjakan soal itu. Pak Dadang meminta Caca untuk mengerjakan soal yang di tulisnya di bor. Dengan sangat gugup Caca ke depan dan mengerjakan soal yang diberikan Pak Dadang. Ternyata Caca bisa mengerjakan soal yang diberikan Pak Dadang, semua murid dan Pak Dadang memberi pujian kepada Caca. Sekarang Caca tidak lagi di ejek di sekolahnya, malahan sekarang dia selalu dipuji atas kepintaran dan kekayaannya.
Sekolah pun telah selesai, Caca pun pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah Caca mengajak teman-temannya untuk berbelanja. Caca mengganti baju seragamnya dengan baju biasa. Setelah Caca mengganti bajunya Caca pun pergi ke mal untuk berbelanja dan mentraktir teman-temannya. Setiap hari Caca selalu berbelanja dan berpoya-poya. Akibat hal itu kekayaan yang dimilikinya pun habis, Caca pun sedih. Pada saat Caca sedih tiba tiba seorang nenek datang kepada Caca.
“Kamu telah diberikan kekayaan dan kemewahan tetapi kamu memakainya dengan tidak benar. Kamu tidak memberikan sebagian harta kamu kepada anak yatim, kamu malah berpoya-poya bersama teman-temanmu. Lihat sekarang kekayaan dan kemewahan yang kamu miliki telah hilang,” ucap nenek itu lalu pergi.
Caca menyeselai perbuatannya, dia ingin kembali seperti dulu. Dia ingin menjadi Caca yang dulu, sekarang dia berjanji akan mensyukuri apa yang dimilikinya. Dan jika dia mendapatkan harta maka akan menyedekahkan kepada anak yatim. Caca pun nangis dengan kencangnya, dia ingin kembali seperti dulu. Tiba-tiba seorang wanita memanggilnya, ternyata itu adalah Bu Marni yang membangunkan Caca supaya mengganti bajunya. Caca pun bangun dari tidurnya dia lega ternyata semua itu adalah mimpi. Dari mimpi itu dia belajar jika ia harus mensyukuri apa yang diberikan Tuhan, dan jika kaya kita harus menyedekahkan sebagian harta kita kepada orang yang membutuhkan.

Tamat

(Visited 19 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan