Shella Qurrotusyaripah_Teman Lama_MTs N 2 Subang

IMG-20210410-WA0056.jpg

Teman Lama

Karya : Shella Qurrotusyaripah

 

‘Jam sembilan pagi udah ditempat ya!’ tulis Rega di grup WhatsApp yang berisikan tema lamanya, yaitu Stella, Dhea, dan Raka. Hari ini mereka merencanakan untuk berkumpul bersama setelah tiga tahun tidak bertemu karena virus Covid-19. Ya setelah tiga tahun berlalu akhirnya virus itu hilang dari permukaan bumi. 

Dua tahun lalu saat virus Covid-19 muncul itulah saat terakhir kali mereka bertemu, karena sekolah diliburkan. Dan hari ini akhirnya mereka bertemu kembali setelah tiga tahun berlalu. Stella duduk di salah satu kursi di sebuah kafe, dan memesan sebuah minuman favoritnya.

Sambil menunggu teman-temannya datang Stella mulai mengenang masa-masa di mana ia baru mengenal mereka, dan waktu yang ia habiskan bersama mereka. Saat itu Stella baru pindah ke kota Subang, karena tuntutan pekerjaan ayahnya. Stella pindah pada saat ia duduk dibangku delapan dan ia bertemu dengan teman-temannya saat ia pindah ke sekolah yang baru.

‘Waktu menunjukkan pukul delapan tepat, para siswa segera memasuki kelas. Terlihat seorang siswi berjalan di samping guru tengah berjalan menuju sebuah kelas. Tertulis 8F di pintu kelas, siswa itu masuk ke dalam kelas.

“Selamat pagi anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru, dia baru pindah dari Bandung. Silahkan, perkenalkan diri kamu,” tutur sang guru.

“Hallo semua, kenalin aku Stella Carissa aku dari Bandung, dan baru pindah ke sini tiga hari yang lalu,” ucap Stella membuat seisi kelas terpaku padanya.

“Oke Stella kamu boleh duduk di samping Dhea,” perintah gurunya.

“Baik Bu,” jawab Stella sambil berjalan ke arah meja yang ditunjuk.

Pembelajaran pun dimulai, semua siswa memperhatikan materi yang dijelaskan guru. Waktu istirahat pun tiba.

“Hai kenalin Dhea,” ucap Dhea memperkenalkan diri.

“Hallo, Stella,” balas Stella sambil menjabat tangan Dhea.

Tiba-tiba datang dua orang siswa datang menghampiri mereka.

“Eh Dhe kantin bareng yuk!” ajak Rega.

“Oh iya kenalin ini Rega, di sebelahnya Raka,” terang Dhea.

Stella hanya menganggukkan kepala tanda mengerti. Mereka memutuskan untuk pergi ke kantin bersama, di sana Rega dan Dhea asyik menjelaskan denah sekolah kepada Stella sementara itu Aldo hanya menyimak percakapan teman-temannya.

Sudah hampir seminggu Stella berada di sekolah barunya, ia mulai kerasan apalagi dengan ia memiliki teman seperti Dhea, Rega, dan Raka. Stella mulai memahami sedikit demi sedikit sifat dan sikap teman-teman barunya. 

Bel tanda istirahat pertama sudah berbunyi dari lima menit yang lalu, terlihat Stella, Dhea, Rega, dan Raka sedang duduk disalah satu bangku. Mereka tengah asyik mengobrol satu sama lain, hingga Raka pergi meninggalkan mereka menuju toilet.

“Eh Raka itu emang dingin ya?” tanya Stella.

“Engga kok dia gak sedingin itu dulu, cuma ada satu kejadian yang bikin dia sedingin itu,” jelas Dhea.

“Oohh gitu,” sahut Stella sambil menyeruput minumannya.

“Dulu dia pernah naksir satu cewek lho,” ungkap Rega.

“Iyap, cuma gitu deh sad ending,” sambung Dhea.

“Kalian temenan sejak kapan?” tanya Stella.

“Dari SD,” jawab Dhea dan Rega bersamaan.

“Pantesan deket banget,” tutur Stella.

Raka berjalan ke arah mereka, dan percakapan pun berakhir. Sepulang sekolah  Stella dan Dhea memutuskan untuk pulang bersama, dalam perjalanan Dhea mulai bercerita.

“Dulu kita berempat, aku, Raka, Rega, dan Bella. Semuanya baik-baik aja sebelum Bella memutuskan mengakhiri hidupnya, kita tahu kalo Bella punya penyakit mental dan kita berusaha buat dukung Bella, hibur Bella, dan nyemangatin Bella, tapi takdir berkata lain. Semenjak kematian Bella, Raka sama Rega sering berantem, semuanya ngerasa bersalah atas kepergian Bella. Tapi, mereka berdua jadi lebih akur setelah kamu dateng, makasih ya udah bikin mereka berdua berhenti berantem,” ucap Dhea panjang lebar sambil tersenyum ke arah Stella.

“Tapi aku gak ngap..” ucapan Stella terpotong.

“Kamu emang gak ngapa-ngapain tapi berkat kamu hadir ditengah-tengah kita, seenggaknya bikin mereka berdua gak berantem lagi,” jelas Dhea.

Stella terdiam mendengar jawaban itu. Keesokan paginya, Stella tiba di kelas lebih awal, dikelas tak ada seorang pun selain dirinya sendiri. Tak lama Rega datang menghampiri Stella.

“Tumben banget berangkat pagi,” ledek Stella.

“Dateng pagi diledekin, dateng siang dihukum,” ungkap Rega dengan nada sedikit kesal.

“Hahaha, bercanda Rega,” kata Stella sambil merangkul pundak temannya.

‘Kring … kringg!’ suara gawai berbunyi, Rega mengangkat telepon itu dan mulai berbicara dengan orang yang berada di seberang telepon. Hanya butuh waktu tiga menit untuk mengakhiri obrolan telepon itu, Rega menyimpan kembali gawainya di dalam tas.

“Ada yang nelpon langsung diangkat, siapa tuh?” tanya Stella.

“Papa, kenapa? Kamu kira ini dari cewek?” tutur Rega

“Kalo iya emang kenapa? Lagian ada yang nelpon langsung diangkat gitu,” jawab Stella.

“Aku angkat telepon cepet itu karena takut orang yang nelpon aku lagi benar-benar butuh aku, aku gak mau nyesel lagi cuma gara-gara gak angkat telepon,” terang Rega.

Lagi-lagi Stella hanya terdiam mendengar jawaban temannya. Saat istirahat kedua tiba, terlihat Stella tengah asyik  memakan bekal makannya sambil membaca novel favoritnya. Tiba-tiba tiga orang siswi menghampirinya.

“Heh, lu yang namanya Stella?” sentak salah satu dari mereka.

“Iya, emang kenapa?” tanya Stella

“Jauh-jauh lu dari Raka, gua tuh calon pacarnya,” kata siswi itu.

“Lah kirain pacarnya,” ucap Stella sambil memasukan buah mangga ke mulutnya.

“Lu gua peringatin ya, sekali lagi lu deket-deket sama Raka gua tampar,”ancamnya.

“Iya,” jawab Stella dengan muka yang datar.

Raka berjalan ke kelasnya, melihat itu siswi tadi mengambil tangan Stella dan menamparkannya ke wajahnya sendiri. Mengetahui Raka melihat itu, siswi itu pun mendekatinya.

“Aldo gua gak tau gua salah apa, tapi Stella nampar gua padahal gua ke sini mau temenan sama dia,” cetus siswi itu.

“iya tuh bener, gak ada hati ya lu Stella kita ke sini baik-baik lho,” ucap dua temannya yang lain.

Melihat itu Stella menghampiri si siswi, dan ‘plak’ satu tamparan mendarat di pipi si siswi.

“Kenapa lu nampar gua!” teriaknya.

“Lho kok marah? Harusnya kamu tuh berterima kasih sama aku, karena aku udah buktiin ke Raka kalo kamu tuh gak bohong,” jawab Stella dengan senyum sinisnya. Raka yang melihat itu menarik tangan Stella ke sampingnya.

“Lu pergi, kita gak ada urusan,” perintah Raka pada tiga siswi itu. 

“Kamu gak papa?” sambung Raka bertanya pada Stella. Stella hanya menggelengkan kepalanya.

Setelah tiga orang siswi itu pergi, Kini tinggal Stella dan Raka yang berada di kelas.

“Kalo mereka ganggu kamu lagi, bilang aja sama aku,” pesan Raka.

“Aku takut gak bisa jaga temenku untuk kedua kalinya, karena aku gak tau keadaan dia,” lanjutnya lalu pergi meninggalkan Stella sendirian.

Stella hanya tertegun mendengar ucapan Raka. Ia mulai mengerti, teman-temannya masih memiliki luka lama yang belum sembuh atau mungkin lebih tepatnya tak pernah terobati.

Dua minggu setlah kejadian itu, Stella mendapat pesan teks dari Dhea. Ia diperintahkan untuk pergi ke sebuah tempat, tanpa pikir panjang ia pergi ke tempat itu. Sesampainya di sana Stella melihat Raka dan Rega tengah bertengkar, berteriak, dan menghajar satu sama lain. Disana juga terlihat Dhea tengah mencoba memisahkan mereka, Raka mendorong Dhea hingga terjatuh.

Stella membantu Dhea berdiri, namun beberapa saat setelah Dhea berdiri muncul sebuah mobil melaju dengan kencang ke arah Rega dan Raka. Dhea berlari ke arah mereka dan mendorong mereka berdua hingga terjatuh, ‘bruk’ mobil itu menabrak tubuh Dhea. Untuk beberapa saat tubuh Dhea berada di udara, hingga akhirnya terjatuh ke tanah. Darah segar mengalir dari tubuh Dhea.

“Dheaa,” teriak Stella panik. 

Raka dan Rega yang melihat itu cepat-cepat menggotong tubuh Dhea ke dalam mobil dan membawanya ke Rumah sakit. Sesampainya di Rumah sakit Dhea segera mendapat perawatan dari dokter. 

Sementara itu, Raka dan Raga melanjutkan perkelahian mereka di luar Rumah sakit. Melihat itu Stella memisahkan mereka.

“Udah!” teriaknya.

“Kalian berdua tuh kaya anak kecil,” lanjutnya.

“Minggir ini gak ada hubungannya sama kamu Stella,” bentak Raka.

“Kalian pikir kalian kaya gini, Bella seneng?” tutur Stella. Ucapan Stella mampu membuat kedua lelaki itu terdiam.

“Kamu tahu Bella?” tanya Rega.

“Kalo aku tahu emangnya kenapa? Kalian peduli? Hah? Apa pun hal yang bikin kalian berantem pasti ada hubungannya sama Bella kan. Apa pun itu, kalian pernah mikir gak sih sesayang apa Dhea sama kalian? Seperhatian apa Dhea sama kalian? Kalian pernah nanya ke Dhea gimana keadaannya setelah kehilangan Bella, gak cuma kalian yang punya perasaan gak cuma kalian yang merasa kehilangan, tapi Dhea juga sama. Jaga Dhea, itu pesan Bella di buku diarinya sebelum dia mengakhiri hidupnya, tapi apa? Kalian gak pernah jagain dia! Justru malah sebaliknya. Kalian tahu apa yang sering dipikirkan Dhea? Dia sering mikirin kalian, mikirin gimna caranya biar kalian akur, mikirin kalian saat kalian sakit, berantem, dan saat kalian gak bisa dihubungin. Rega kamu hilang kamu bakal angkat telepon dari siapa pun karena kamu takut nyesel karena gak angkat telepon itu, tapi kenapa kamu gak angkat telepon Dhea. Raka kamu bilang kamu bakal jagain temen kamu tapi kamu gak pernah jagain Dhea. Kalian egois, kalian cuma mikirin diri kalian sendiri, mikirin kesedihan kalian sendiri tanpa mau tahu kesedihan temen kalian!” cecar Stella panjang lebar membuat kedua lelaki itu terdiam.

“Jangan pernah temui aku atau Dhea sebelum kalian sadar apa kesalahan kalian!” sambungnya lalu pergi meninggalkan dua temannya itu.

Tiga hari setelah Dhea masuk rumah sakit kondisinya masih sama, belum sadarkan diri. Terlihat Raka dan Rega datang membawa seikat bunga mawar biru kesukaan Dhea, disana terdapat pula secarik kertas permintaan maaf mereka pada Dhea. 

Raka, Rega, dan Stella mulai memasuki ruangan tempat Dhea di rawat. Disana Raka dan Rega mulai meminta maaf ada Dhea.

“Maaf ya, kita terlalu egois sampai lupa kamu juga punya luka yang sama kaya kita,” tutur Rega.

“Maaf selalu buat kamu kepikiran tentang kita, cepet sembuh,” ucap Raka.

Beberapa hari kemudian, Raka dan Raga kembali ke Rumah Sakit, namun kini mereka membawa gitar. Entah siapa yang memiliki ide itu, katanya mereka ingin menyanyikan lagu kesukaan Dhea di iringi gitar sama seperti dulu, mungkin itu akan membuatnya sadar.

Raka mulai memainkan gitarnya dan Rega mulai menyanyikan lagunya. Sampai lagu itu selesai, Dhea mulai membuka matanya, sebuah keajaiban. Mungkin benar Dhea hanya ingin mendengar sebuah lagu yang dinyanyikan. sahabatnya’

“Stella!” teriak Dhea membuyarkan lamunanya.

“Ngelamun aja,” lanjutnya.

“Iya lah, soalnya nunggu kalian lama jadi aku ngelamun deh,” balas Stella.

“Noh Rega tuh dia yang nyuruh cepet-cepet dia yang lama,” terang Raka.

“Dih kamu yang bawa mobilnya lama,” bela Rega.

“Udah gak usah berantem,” sahut Dhea.

Mereka pun mulai membicarakan hal-hal yang mereka lalui bersama. Tawa mereka terdengar di antara denting piring dan sendok para pengunjung yang lain. ‘Halo teman lama’ ucap batin Stella, sembari mulai menceritakan hal konyol yang pernah mereka lakukan bersama.

 

TAMAT

 

(Visited 12 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan