Shella Qurrotusyaripah_Penyesalan_MTs N 2 Subang

IMG-20210410-WA0056.jpg

Penyesalan

“Dan juara pertama jatuh pada … Naraya Collins,” ucap pembawa acara. Hari ini aku mengikuti lomba menulis cerpen dan seperti biasa aku memenangkannya.

Aku Narraya Collins, biasa dipanggil Ara. Impianku adalah menjadi seorang penulis terkenal. Aku sangat suka menulis, entahlah mungkin sejak SD bakatku ini mulai menonjol. Aku sudah sering mengikuti lomba menulis, entah itu cerpen, novel, dan yang lainnya. 

Pagi ini, aku pergi ke sekolah dengan wajah yang berseri-seri karena kemarin aku memenangkan perlombaan. 

“Pagi calon penulis hebat,” sapa sahabatku bernama Shella.

“Hay juga calon Dancer,” balasku. 

“Selamat yaaa, atas kemenangnya!” ucapnya bersemangat.

“Selamat juga buat yang kemaren ngalahin pesaing terhebat,” jawabku tak kalah bersemangat. 

Ya begitulah, aku dan sahabatku memiliki impian, dan kita mendukung satu sama lain. Aku mengenal Shella saat duduk di bangku kelas 7, saat itu aku baru pindah ke kota subang dan aku bertemu dengannya. Dia selalu memuji hasil karyaku, begitu sebaliknya aku selalu memuji dance choreography miliknya.

Setelah berjam-jam belajar di kelas, akhirnya istirahat juga. Aku memutuskan untuk pergi ke kantin bersama Shella. Disana aku dan dia memesan es jeruk, saat menunggu, aku mendengar seseorang tengah membicarakanku.

“Ehh katanya dia tuh menang lomba nulis, karena curang tahu!” terang Bella.

“Eh masa sih? Ga percaya banget dia gitu,” sambung Bianca.

“Iya lah dia mah gak punya bakat mana mungkin bisa menang, ya kecuali kalo dia curang,” kata Bella dengan suara yang keras 

Aku berniat menghampiri Bella dan Bianca, tapi Shella menahanku.

“Udahlah, biarin aja gak usah ladenin orang yang gak punya bakat!” sindir Shella

“Ehh tahu gak sih, katanya temennya juga jago dance padahal cuma gerakan yang gak jelas doang!” ledek Bella dan disusul gelak tawa Bianca.

Aku dan Shella hanya diam, bukan tak bisa melawan hanya malas untuk berdebat dengan mereka. Aku bahkan tidak mengerti kenapa mereka berdua membenci kami. Istirahat pertama sudah selesai, kita berdua kembali ke kelas. Namun, guru mengumumkan bahwa pembelajaran hari ini sudah selesai semua siswa boleh pulang. Beberapa hari ke depan akan diadakan pembelajaran dari rumah, karena kasus Covid-19 sudah menyebar sampai di kota Subang. 

Saat sedang membereskan buku-buku ke dalam tas, aku melihat secarik kertas terjatuh. Aku mengambilnya dan membaca isi dari kertas itu. 

‘Pergi ke taman belakang! Itu yang tertulis di dalam kertas. 

Aku kenal tulisan yang ada di kertas itu, itu tulisan Shella. Selesai membereskan buku, aku pergi ke taman belakang sekolah, disana aku melihat Shella sedang duduk dikursi favorit kami, tapi di sana dia tidak sendirian, iya Shella sedang mengobrol dengan Bella dan Bianca. Melihat itu, aku cepat-cepat bersembunyi dibalik pohon, dan mulai menguping pembicaraan mereka

“Aku sama Ara gak temenan, dia kalo nulis jelek banget cerpen yang dia buat gak nyambung alurnya, kadang dia masih suka salah sama tanda baca!” teriak Shella di hadapan Bella dan Bianca.

Aku tak percaya, sahabatku sendiri mengatakan hal seperti itu. Aku marah, kesal tapi tetap tidak mempercayai bahwa yang mengatakan itu adalah Shella sahabat baikku. Aku berbalik dan tak sengaja menendang sebuah pot, tentu saja itu membuat mereka menoleh ke arahku, disana Shella berteriak memanggil namaku, tapi aku tak menghiraukannya aku tetap berlari tanpa menoleh ke arahnya. 

Sejak kejadian itu, aku tak pernah lagi berkomunikasi dengan Shella. Namun, Shella terus menerus menelepon dan mengirimku pesan teks, tak satu pun telepon atau pesan itu aku lihat. Aku terlalu kecewa terhadap apa yang dikatakan padaku, aku tak menyangka sahabat yang kukira baik ternyata bermuka dua.

Sudah dua minggu aku tak berkomunikasi dengan Shella, hari ini adalah hari ulang tahunku. Entahlah tapi aku sangat merindukan sahabatku, aku menginginkan Shella berada di sini bersamaku merayakan ulang tahun. 

“Ara ada paket tuh buat kamu,” ucap ibu membuyarkan lamunanku.

“Iya bu,” jawabku singkat.

‘paket dari siapa ya? Kan aku gak pesen apapun dari online shop’ pikirku

Aku mengambil paketku, dan membukanya. Paket itu berisikan bunga mawar putih kesuakaanku, ada surat dan sebuah kotak kecil. Ku buka surat itu dan membacanya.

‘Hai Naraya Collins

 Happy birthday !

 Aku harap kamu suka sama hadiah yang aku kasih, sehat terus yaa, bahagia terus, semangat

 jadi penulisnya, aku tahu kamu pasti bisa!

 Btw, aku tahu kamu marah sama aku, tapi aku beneran gak bermaksud kaya gitu. 

Sebelumnya aku minta maaf, tapi kamu salah paham. Apapun yang kamu denger waktu itu ditaman belakang sekolah gak seperti yang kamu kira, waktu itu aku suruh kamu ke taman belakang soalnya ada yang mau aku omongin sama kamu, tapi sebelum kamu dateng Bella sama Bianca dateng, dia terus terusan ngejelekin kamu, aku emosi terus aku ikutin ucapan mereka dengan gayaku ternyata waktu itu kamu ada di situ dan kamu salah paham.

Serius Ara, aku gak mungkin kaya gitu sama temen aku sendiri. Udah ya marahnya, aku kangen sama kamu. Oh iya, soal yang di taman belakang aku cuma mau bilang kalo aku sakit liver dan umur aku udah gak akan lama. Aku harap aku bisa lihat kamu sebelum aku pergi. Kalopun aku udah pergi aku harap, kamu tetep lanjutin mimpi kamu ya, jadi penulis yang hebat. I LOVE U!

Sahabatmu,

Shella’

Aku menangis membaca surat itu, kubuka kotak kecil yang diberikannya. Di sana berisi kalung putih berinisial N. Tangisku makin pecah, cepat-cepat aku bersiap memakai masker dan mengayuh sepedaku pergi menuju rumah Shella.

Sesampainya di sana, kurasa aku terlambat. Semua orang tengah berkumpul dan aku melihat Shella sedang terbaring ditengah-tengah orang-orang itu. Tangisku pecah, aku memeluk tubuhnya yang dingin.

“Laa bangun,” lirihku, “Maaf aku terlambat,” lanjutku dalam tangisan pilu.

Semuanya sudah terlambat, aku hanya bisa menyesali perbuatanku. Aku menyesal mengapa aku tak pernah menjawab teleponnya, dan aku menyesal kenapa aku begitu marah padanya. Seharusnya sebagai sahabat aku tidak meragukannya, sudahlah semuanya sudah terjadi. Yang bisa ku lakukan saat ini adalah mewujudkan mimpiku sama seperti yang Shella inginkan. Aku pasti akan menjadi penulis hebat.

TAMAT

(Visited 62 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan