Shella Qurrotusyaripah_Pandemi_MTs N 2 Subang

IMG-20210410-WA0056.jpg

Pandemi

Karya Shella Qurrotusyaripah

 

“Kita makan dulu yuk!” ajak Liana kepada teman-temannya.

“Yuk!” jawab teman-temannya bersamaan.

Liana, Aira, Vionna, Raffa, dan Arka sudah bersahabat sejak duduk di bangku kelas 7 SMP, kini mereka duduk di bangku kelas 9 SMP, sudah hampir tiga tahun mereka berteman melewati suka dan duka bersama. 

Mereka tengah berjalan menuju salah satu Cafe favorit mereka. Sesampainya di sana mereka mulai memesan beberapa minuman dan makanan untuk mengganjal perut mereka sebelum pergi les bersama. Beberapa saat kemudian setalah menghabiskan makanan dan minuman yang mereka pesan, mereka pun pergi ke tempat les bersama. Selesai les, mereka pun pulang ke rumah masing-masing.

Keesokan paginya, mereka pergi ke sekolah. Saat istirahat tiba, para siswa dikumpulkan di lapangan, ada sebuah pengumuman yang harus diberitahukan kepada seluruh siswa.

“Baik anak-anak, bapak umumkan karena virus Covid-19 sudah memasuki kota Subang, dan ada pemberitahuan dari pemerintah pusat agar diadakan karantina, maka dari itu sekolah akan diliburkan untuk beberapa hari ke depan. Bapak ingatkan sekali lagi, di rumah nantinya akan  tetap diberi tugas oleh guru mata pelajaran masing-masing, sekian terima kasih atas perhatiannya!” ucap kepala sekolah.

Setalah pengumuman itu, seluruh siswa berhamburan pulang ke rumahnya masing-masing.

“Kita gak bisa kumpul lagi nih, buat beberapa hari ke depan,” celetuk Aira.

“Iya mau gimana lagi, kan di karantina,” sahut Raffa.

“Semoga karantinanya gak lama,” lanjur Liana.

“Aamiin,” jawab Vionna dan Arka bersamaan.

Mereka pun berpisah menuju rumah mereka masing-masing. Selama karantina Arka, Aira, Raffa, Liana dan Vionna sering menghabiskan waktu bersama melalui media virtual seperti video call, calling, chatting, dan yang lainnya.

Dua minggu sudah mereka di karantina, namun tak juga virus covid-19 ini menghilang, justru malah makin berkembang dari kota ke kota. Sebab itu juga karantina diperpanjang. Aira, Arka, Liana, Raffa, dan Vionna mulai merindukan satu sama lain, hingga mereka mulai memutuskan untuk bertemu di salah satu rumah mereka, toh tetap di rumah pikir mereka.

Akhirnya hari itu pun tiba, namun Vionna tidak bisa ikut karena tidak enak badan. Sementara Vionna beristirahat di rumahnya, Aira, Arka, Liana, tengah berkumpul di rumah Raffa.

“Eh gila udah lama banget gak ketemu,” ucap Arka.

“Gimana nih kabarnya, pada sehat kan?” tanya Liana.

“Yoi, sehat dong,” sahut yang lainnya.

“Eh, Vionna beneran gak dateng?” tanya Raffa.

“Kayaknya sih, buktinya gak dateng,” jawab Arka.

“Yaudah lah ya, gak papa mungkin dia lagi istirahat,” sambung Liana.

Mereka pun mulai membicarakan banyak hal dimulai dari keluh kesah banyaknya tugas sekolah, kenangan mereka ketika berada di sekolah, dan hal-hal konyol lainnya. Hingga Ponsel salah satu dari mereka berbunyi, tanda seseorang mengirimkan pesan teks.

Aira yang menerima pesan itu pun membuka ponselnya, dan membaca pesan teks tersebut. Untuk beberapa saat ia terdiam sampai ia berkata.

Guys, Vionna positif covid,” ucapnya.

Seketika teman-teman yang lain ikut terdiam untuk beberapa saat. Mereka berusaha mencerna apa yang dikatakan Aira.

“Hah? Kok bisa?” terang Liana bertanya-tanya.

“Jangan bercanda deh Ra!” tegas Arka.

“Gua gak bercanda ya,” balas Aira.

“Ini gua dapet chat langsung dari Vionna,” lanjutnya seraya menunjukkan pesan teks itu kepada teman-temannya.

Karena khawatir, Raffa menelpon Vionna untuk memastikan bahwa apa yang barusan ia dengar itu benar, bukan prank belaka.

“Hallo vionna,” kata Raffa.

“Iya hallo,” sahut Vionna dari seberang telepon.

“Lu beneran sakit covid?” tanya Raffa spontan.

“Iyaa,” jawabnya.

“Kok bisa sih, ya tuhan semoga cepet sembuh,” balas Raffa.

“Iya makasih doanya, tolong kasih tahu sama yang lain jangan terlalu mikirin gua, ntar sakit lagi hehe. Kalian jaga kesehatan ya!” pesan Vionna.

“Yaudah gua tutup dulu ya, gua mau istirahat,” sambung vionna dan mematikan ponselnya.

Setalah mendapat kabar bahwa Vionna terjangkit virus covid-19, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah mereka. Sesampainya di rumah Liana mulai membuka ponselnya, dan membuka beberapa akun media sosialnya. Saat tengah asyik bermain media sosial, ia menemukan satu artikel tentang perkembangan kasus covid-19. 

Karena penasaran, Liana membuka artikel tersebut, disana ia membaca bahwa semakin banyak masyarakat Indonesia yang terjangkit virus corona, karena mereka tidak mematuhi protokol kesehatan, dan masih sering berkeliaran bebas tanpa menjaga jarak. Seolah diingatkan, Liana tiba-tiba memikirkan Vionna sahabatnya. 

Liana pun menghubungi teman-temannya melalui video call, mereka mulai membahas virus covid-19 dan tentunya membahas teman mereka Vionna yang terkena virus tersebut.

Setelah diskusi panjang, akhirnya Liana, Aira, Raffa, dan Arka memutuskan untuk mengadakan bantuan sosial bagi masyarakat yang terkena virus covid-19, dan mereka juga akan membagikan beberapa masker kepada masyarakat yang tidak mematuhi protokol kesehatan.

Mereka dibagi beberapa tugas, Raffa membuat sebuah website agar masyarakat lain bisa ikut menyumbang, Arka dan Liona ditugaskan untuk menyumbangkan beberapa masker ke panti asuhan, dan ke jalanan di kota Subang. Sementara Aira hanya ikut membantu, dia seperti tidak bersemangat dengan proyek yang dijalankan oleh teman-temannya.

“Aira lu kok kaya gak semangat gitu sih?” tanya Liana

“Engga kok gua gak papa,” jawabnya.

“Bener?” ucap Liona memastikan.

Aira hanya menganggukkan kepalanya tanda ia memang baik-baik saja. Sementara itu website yang Raffa buat mulai di datangi banyak orang, dan banyak orang pula yang menyumbang sedikit rezeki mereka ke website tersebut.

Semua proyek mereka berjalan sukses, bahkan mungkin bisa di bilang bahwa lebih sukses dari yang mereka bayangkan. Terlihat Aira tengah melamun memerhatikan teman-temannya yang lain sedang membagikan masker pada masyarakat. Liana, Arka, dan Raffa mulai mendekatinya, sepertinya mereka sudah menyelesaikan tugas terakhir mereka.

Guys, gua mau jujur!” kata Aira membuka pembicaraan.

“Jujur apa?” tanya Arka.

“Sebenernya, orang tua gua juga kena virus covid-19” tutur Aira.

Pernyataan Aira sontak membuat teman-temannya terkejut, kini mereka paham kenapa Aira selalu murung dan tak bersemangat akhir-akhir ini.

“Kenapa lu gak bilang dari awal?” tanya Raffa.

“Gua, gak tahu gimana cara ngomongnya,” jawab Aira dengan matanya berkaca-kaca.

Melihat itu, Liana memeluk tubuh sahabatnya, dan tangis Aira pun pecah di pelukan Liana.

Liana, Aira, Arka, dan Raffa berlari menuju sebuah pemakaman, lima menit yang lalu mereka mendapatkan kabar bahwa Vionna telah meninggal. Mereka menangis menyaksikan sahabat mereka di kuburkan. Seketika mereka mulai mengenang masa-masa kebersamaan mereka.

Liana, Aira, Arka, dan Raffa menguatkan satu sama lain. Mereka berjanji agar berjuang bersama sampai lulus nanti bahkan mungkin sampai sukses nanti.

Tiga bulan berlalu, hari ini adalah hari ke lulusan, Liona, Aira, Arka dan Raffa tengah berfoto bersama. Sepulang dari acara kelulusan mereka mengunjungi makam Vionna. 

“Hallo Vionna, kita semua udah lulus nih!” ucap Arka.

“Iya nih, lu di sana baik-baikkan?” tanya Raffa.

“Lu lebih bahagia kan di sana?” tutur Liana sambil mengusap batu nisan di depannya.

“Kita kangen lu Vi,” kata Aira sembari mengusap air matanya.

Semuanya larut dalam pikiran masing-masing, mendoakan Vionna yang berada jauh disana, “Kita gak bakal lupain lu Vionna, sahabat baik yang selalu ngingetin kita berbuat baik, bersikap baik, dan menjadi pribadi yang lebih baik. Makasih untuk waktu yang lu luangin buat kita, WE LOVE U!” ucap batin Liana seraya meninggalkan pemakaman di ikuti oleh teman-temannya yang lain.

TAMAT

(Visited 7 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan