Rensika Alzahra 7E-SMPN 1 Ciater-Sunrise, sunset di Pamoyanan-Cerpen 4

foto Rensika

Sunrise, sunset di Pamoyanan

” Andi, Donii, tunggu ih, cape sumpah”. Seru Mhesya

“Heeh, main ninggalin mulu, nyebelin ih!” Tambah Siska

Begitulah rengek Mhesya dan Siska pada rekan-rekannya, yaitu Andi dan Doni, pasalnya mereka tertinggal jauh di belakang sedangkan Andi dan Doni sudah jauh di depan.

” Makanya sering sering olahraga, masa cuman gini doang cape!”, Teriak Andi dari radius 15 meter di depan. Sungguh Ingin rasanya Mhesya dan Siska tenggelamkan dia ke Palung Mariana, sumpah demi apapun bagi Mereka ini cape sekali. Bayangkan mereka harus melewati ratusan anak tangga demi bisa melihat indahnya pemandangan sunset, dan sunrise di bukit Pamoyanan.

Ya, kini Mhesya, Siska, Doni dan Andi sedang diperjalanan menuju puncak bukit Pamoyanan. Karna mereka berniat ingin berkemah di bukit Pamoyanan, maka merekapun berangkat dari rumah sekitar jam 16.00, lumayan siapa tahukan mereka bisa melihat sunset terlebih dahulu. Sekedar info mereka berteman sejak 2 tahun yang lalu, mereka saling kenal karena sama sama anak Mapala, jika tak salah saat itu mereka bertemu di perjalanan mendaki puncak gunung  Semeru.

Untuk kalian yang suka traveler, pariwisata bukit Pamoyanan sangat rekomended sekali. terletak di desa Kawungluwuk, Tanjungsiang, Subang,  bukit Pamoyanan akan mampu mengajak kalian menikmati indahnya negri diatas awan, tak lupa sunset juga sunrise pun dapat kalian nikmati.

” Siska, masih jauh ini teh?”, Mhesya penasaran pasalnya dari tadi rasanya gak sampe sampe. “Udah sampe kok! Tuh udah banyak pedagang!”, Tunjuk Siska ke arah depan, dimana disana memang sudah terlihat banyak pedagang. “Bener!. Mmh… eh tunggu-tunggu!, Lihat deh kesana, itu si naya bukan sih?”. Ucap Mhesya sambil menunjuk kearah pedagang sarung tangan, dan benar disana memang ada seseorang yang Mhesya dan Siska kenal, yaitu Naya. “Wah heeh, itu Naya, samperin yu!”. Ajak Siska

“Naya!”

#;’+;#;$-#&°€{°£^!!!”. Naya kaget sekali, pasalnya ia tiba-tiba bertemu dengan Kating nya disini. ” Eh kak Mhesya, kak Siska, aduhh… kaget banget, Untung aja aku gak sampe ngumpat!”. Ucap Naya blak-blakan. “Haha!! Iya maaf maaf!”. Kurang lebih mungkin seperti itu basa basi mereka. Sebenarnya Mhesya dan Siska tak terlalu dekat dengan Naya, tapi mereka tahu jika Naya adalah salah satu Maba juga anak Mapala baru dikampus mereka.

“Naya, kamu kesini sendiri?”, Tanya Mhesya memastikan jika Naya ke sini sendirian atau bersama temannya, siapa tahu kan kalo Naya sendirian Mhesya dan Siska bisa ajak Naya untuk gabung bersama mereka. “Engga kak aku ke sini sama temen-temen!”. Jawab Naya, ” aku kira kamu sendirian, haha!”.

 

“Woyy!! Mhesya, Siska! Buru, kok malah ngobrol sih!”. Teriak Doni dari depan. Kesal sekali padahal dari tadi Doni sudah teriak teriak tapi baru di dengar sekarang.

“Apa? Iya tunggu dulu ini ada temen!”. Jawab Siska ngeles, sedangkan Mhesya ia masih asyik ngobrol dengan Naya.

“Ya udah, kita duluan dulu ya Nay! Bye!”. Pamit Mhesya di akhir perbincangan nya, pasalnya ia risih sekali dari tadi Doni teriak-teriak mulu.

“Doni berisik ih!”. Ucap Mhesya kesal.

“Heeh, si Doni suaranya kayak thoa!, Meresahkan!”. Tambah Siska.

” I don’t care men!”. Jawab Doni singkat, padat, jelas.

“Alah udah-udah jangan berantem, mening kita lanjut jalan aja yu!”. Ucap Andi sebagai pemisah dari pertengkaran Mhesya,Siska, dan Doni.

Setelah pertengkaran kecil itu pun berakhir kini mereka berempat pun kembali melanjutkan perjalanan yang hanya tersisa beberapa meter lagi untuk sampai di puncak.

Sesampainya di puncak bukit Pamoyanan, betapa terkejutnya mereka saat melihat pemandangan matahari terbenam yang begitu menakjubkan dari atas sana!

“Indah banget, sumpah semalem aku abis mimpi apasih! Kok bisa aku lihat pemandangan seindah ini!” Ungkap Mhesya terkagum-kagum, baru kali ini dia bisa melihat sunset begitu dekat seperti ini, ” abadiin dong, sayang nih! Nanti keburu udahan sunsetnya!” Ajak Siska lalu menarik tangan Mhesa untuk pergi ke arah tempat yang menurutnya cocok untuk dijadikan spot foto, selagi mereka berdua mengambil foto, Andi dan Doni pergi mencari tempat yang cocok untuk mendirikan tenda.

 

” Sya, cepet sini kita ambil Selfi!”

“Ayo!”

Mereka terlihat sangat antusias mengambil banyak foto, katanya sih jarang jarang kan dapet pemandangan kaya gini.

” Siska coba sini, lihat deh hasil fotonya, bagus apa engga!”. Siskapun berniat memberikan kameranya itu namun tak jadi, karena tiba-tiba Andi merampasnya

“Di dalem tenda aja, pamali!, udah magrib nih soalnya,!”, Ucap Andi, dan tak menghiraukan jika Mhesya mencoba untuk merampas kamera itu dari tangannya. “Ih nyebelin!”

Merekapun masuk kedalam tenda masing masing yaitu Mhesya dan Siska tenda nya berwarna merah, sedangkan Andi dan Doni tendanya berwarna biru, jarak tenda mereka tidak terlalu berjauhan, bahkan saling berdampingan. Sebenernya alasan Andi menyuruh mereka masuk ke tenda bukan karena sudah waktu magrib saja, namun ia masih percaya dengan mitos yang di katakan oleh orangtuanya, yaitu ‘ kalo magrib jangan pada main diluar, nanti diculik wewegombel! ‘ kurang lebih mungkin seperti itu katanya.

“Andi liat liat dong foto-foto yang tadi!” Pinta Mhesya, namun kembali ditolak. “Udah solat ?” Tanya Andi, “Emang ada Musholla?”  Mhesya kebingungan karena seingat nya tak melihat musholla disini. “Sholat di dalem tenda aja!”.

Setelah sholat merekapun kembali ke kegiatan semula yaitu bermain gadget masing-masing. Dan entah bagaimana namun perkara foto dan kamera kini seakan terlupakan oleh Mhesya, padahal sebelumnya Mhesya ingin sekali bahkan ia sampai merengek-rengek sama Andi.

Malam pun terus berlanjut, begitu juga dengan angin malam yang kian lama kian terasa dingin menusuk tubuh.

” Jaket, sarung tangan, kaos kaki, sama Ciput nya dipake!, Nanti kalo kedinginan bisa berabe!” Suruh Andi, kepada dua gadis yang masih berada di dalam tenda, terlebih saat ia melihat Mhesya sedikit kedinginan. “Kalo udah nanti keluar tenda, aku sama si Doni mau bikin api unggun kecil di luar !” Sambung nya lalu hanya di balas deheman saja oleh Mereka berdua.

“Api unggun udah, sekarang tinggal apa?” setelah menyalakan api, Andi merasa seperti ada yang kurang. Doni pun melihat lihat ke sekitar nya, dan fokus matanya terhenti pada seorang pedagang jagung bakar, lalu suatu ide pun terlintas. “Beli jagung bakar!”, Ujar Doni.

Setelah bersiap-siap Mhesya dan Siska pun keluar dari tenda, namun mereka sedikit kebingungan karna tak melihat keberadaan Andi juga Doni disana, padahal beberapa menit yang lalu Mereka masih mendengar suara aktivitas Andi dan Doni yang sedang menyalakan perapian. Mhesya dan Siska mulai berfikir positif saja, siapa tahu mereka ke toilet, atau bisa saja sedang membeli makanan. Dan sepertinya tebakan yang terakhir benar, buktinya sekarang Andi dan Doni datang membawa dua buah jagung bakar, dan beberapa makanan lainnya.

” Nih makan !”, Suruh Andi sambil menyodorkan makanan itu. “Makasih, tahu aja kalo aku sama si Siska lagi laper!”.

Cukup lama mereka menghabiskan waktu di dekat perapian, hanya sekedar untuk menghangatkan diri juga saling bercengkrama. Dirasa bosan, Mhesya pun berinisiatif untuk mengajak Siska melihat lihat indahnya pemandangan malam dari ketinggian. “Sis,kesana yu! Kayanya pemandangan malem dari sana indah!”, Ajak Mhesya sambil menunjuk ke arah tempat yang lebih tinggi dari posisi mereka saat ini. “Ayo!” Jawab nya antusias

” Tuh kan bener, pemandangan dari sini indah kan!”. Ucap Mhesya saat ia melihat pemandangan indah seperti bintang, bulan, dan indahnya kelap kelip lampu dari perkotaan yang indah jika dilihat dari ketinggian. “Heeh bener. Eh sya coba lihat deh, itu kayanya Ciater!” Seru Siska sambil menunjuk kearah Barat. ” Iya gitu? Sok tahu!”. Jawab Mhesya ketus. ” Bukan sok tahu, cuman Ngada Ngada aja kok!”. Dan itulah jawaban aneh dari Siska

Malam pun kini semakin larut, dengan ditemani bintang bintang malam yang seakan bertaburan di langit, Mhesya dan siska masih setia berada di tempat yang semula, sekedar bercengkrama, Saling melempar gurauan, dan kadang hanya diam, menikmati semilir angin malam yang lewat sambil memandangi indahnya kelap kelip lampu perkotaan dari atas sana.

Disisi lain Andi dan Doni pun masih setia dengan perbincangan mereka, dengan ditemani hangat nya api unggun, mereka berbincang tentang banyak hal, dari mulai game, tempat pariwisata, dan kadang membicarakan tentang dunia perkuliahan dan rencana mereka setelah lulus.

Hingga waktu menunjukkan pukul 23.37, merekapun memutuskan pulang ke tenda masing-masing untuk istirahat, dikarenakan besok mereka harus pulang.

Malampun kini berganti dengan fajar, itu menandakan akhir dari malam yang panjang dan awal bagi sebuah pagi yang menyenangkan.

Mhesya, Siska, Andi dan Doni kini sedang duduk di luar tenda menunggu peristiwa sunrise. Sekarang jam menunjukkan pukul 05.24 berarti hanya beberapa menit lagi, matahari akan terbit. Jangan tanya apakah mereka sudah berkemas, Karena jawabannya pasti sudah, bahkan dari setengah jam yang lalu.

Kini saat yang di tunggu tunggu pun datang, yaitu terbitnya mentari dari ufuk Timur. Dan lagi lagi  Mhesya, Siska, Andi ataupun Doni mereka sama sama dibuat takjub kembali dengan peristiwa ini. Bedanya jika yang kemarin sore adalah sunset, namun yang pagi ini adalah sunrise.

Mhesya Senang sekali, karena lagi lagi ia merasa terpesona Dengan apa yang telah di suguhkan oleh keindahan alam ini. Namun segelintir rasa tak rela pun datang, Karena ia harus pulang dan meninggalkan Bukit Pamoyanan ini.

“Andi gak mau pulang ah!” Rengek Mhesya saat melewati kembali anak anak tangga yang kemarin sore mereka lewati,”Kapan kapan kita bisa kesini lagi kok! Teneng aja!” Ucap Andi menenangkan.

“Janji ya!”

“Janji!”

Merekapun meninggalkan Bukit Pamoyanan, dengan rasa senang bercampur sedih. Bahkan diperjalanan pun, mau Mhesya, siska, Doni ataupun Andi mereka sama sama bungkam. Dan mengingat-ingat kejadian yang kemarin terjadi di bukit Pamoyananlah yang hanya terlintas di pikiran mereka. Dan entah mengapa ingin rasanya mereka tetap disana, tak peduli seberapa dinginnya hawa disana namun dengan keindahan pemandangannya, itu sudah cukup menghangatkan.

 

Teruntuk Bukit Pamoyanan,

Terimakasih karna telah menyuguhkan pemandangan yang begitu indah,

Terimakasih karna telah membuat suasana yang begitu hangat antara aku dan teman-teman,

Terimakasih atas kenangan baru yang telah kau berikan, akan terus ku ingat   kenangan ini.

Betapa indahnya ciptaan Sang Maha Kuasa.. Masya Allah.

 

Ciater, April 2021

 

(Visited 8 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan