Rensika Alzahra 7E-SMPN 1 Ciater-Rindu-Cerpen 2

foto-Rensika.jpeg

 

Rindu

Setelah malam di temani hujan berakhir, kini cahaya mentaripun mulai menyelusup ke sela sela jendela, pertanda bahwa pagi sudah datang. begitupun dengan hawa dingin pagi yang mulai menyeruak ke seisi ruanganpun kini mulai terasa . Namun sepertinya Bagas tak menghiraukan itu, dengan bermodalkan baju pendek dan celana yang juga pendek, ia menghampiri kursi yang tepajang di sudut ruangan kamarnya, Dengan mata yang masih berbelek ia membuka layar handphonenya, untuk sekedar membuka apk WhatsApp siapa tahu ada tugas.

Ya, sudah hampir 1 bulan ini Bagas harus belajar online, dikarenakan adanya virus Corona yang kian hari kasus nya makin melonjak saja.

“Hmm jamkos!” Ucapnya

Namun selang beberapa menit ia tiba-tiba terdiam sejenak, karena tidak sengaja melihat foto ia bersama kawan kawannya saat akan mengirimkan tugas yang kemarin telat dikumpulkan. entah darimana datangnya tapi segelintir rasa rindupun tiba-tiba datang pada dirinya. Iya rindu, rindu pada kawan kawannya, entah bagaimana namun kenangan tentang 2 bulan yang lalu pun tiba-tiba melintas di ingatan nya, dimana saat itu untuk  pertama kalinya ia bisa merasakan perhatian lebih dari teman-temannya. Rasanya ingin ia kembali pada waktu itu.

Tiga  bulan yang lalu

” Anak anak, barusan bapak habis selesai rapat bersama guru walikelas lainnya…” ucap pak Adi walikelas 8H  kepada para siswa yang masih setia mendengarkan nya dan menunggu pak Adi melanjutkan pembicaraan nya

” Mengumumkan peringkat kelas, dari yang pertama hingga terakhir. Dan kelas kita menempati urutan kedua…” ucapan pak Adi pun sukses membuat siswa dikelas sangat senang, bahkan ada yang hingga bertepuk tangan karena saking senang nya

“Kedua terakhir!”. Sambung pak Adi sekali lagi, namun sekarang reaksi siswa berbeda dari yang tadi, kali ini hanya ada kesunyian saja, tak ada yang berani membuka mulut, tadinya mereka berpikir bahwa kelas mereka menempati urutan kedua, namun nyatanya malah kedua terakhir.

” Peringkat ini di tentukan atas evaluasi belajar kalian selama satu semester kemarin, juga hasil Ulangan kalian, dimana nilai nilainya tak boleh di bawah KKM dan ternyata dikelas kita ada satu siswa yang hampir semua nilai mata pelajarannya dibawah nilai KKM bahkan sangat rendah!” Jelas pak Adi panjang lebar, meskipun Pak Adi yakin para siswa tak akan mengerti

” Bagas! Nilai kamu sangat anjlok!, Mak dari itu Bapak akan menambah jam belajar kalian terlebih kamu Bagas!”. Sambung pak Adi yang langsung tak langsung membuat Bagas menjadi pusat perhatian juga jadi bahan ghibahan para siswa

Ah pak jangan kelas tambahan dong!”

“Iya pak jangan, Bagas aja suruh belajar tuh!”

” Ah Bagas gara gara lu nih!”

Dan itulah ocehan para siswa saat ini, karena merasa tak terima atas keputusan ini lagian kan Bagas yang nilainya dibawah rata-rata kok jadi semua yang dapat imbasnya. Berbeda dengan keadaan kelas yang kini tengah heboh Bagas malah terlihat santai santai saja dan tak merespon ocehan para teman-teman nya itu. Kalo kata Rhoma Irama, sungguh terlalu

“Apasih gitu aja heboh , cuman jam belajar ditambah doang, biasa aja kali!”. Respon Bagas santai sekali seperti tak memiliki salah apapun. “Ih Bagas ngeselin!” Ucap salah satu siswi, Rena.

Bel istirahat pun sudah berbunyi kira kira 15 menit yang lalu, sebenarnya ia di tadi di suruh pergi ke perpustakaan untuk belajar namun di otak Bagas ada dua pilihan yaitu pergi ke perpustakaan untuk membaca buku atau pergi ke UKS untuk merebahkan diri. Dan pastinya Bagas lebih memilih opsi kedua yaitu menjadikan UKS sebagai tempat untuk bermalas-malasan. Entah bagaimana caranya naum dengan otak bulus nya ia mampu mengelabui petugas PMR dengan emel emel sakit lah, itulah, inilah pokoknya banyak sekali alasan.

Bagas pun tiba di UKS ia mulai merebahkan tubuhnya lalu mencoba untuk menutup matanya. Namun tanpa sepengetahuan Bagas, ternyata teman-teman sekelasnya dari tadi mengikuti Bagas hingga ke UKS, mereka berniat untuk membawa paksa Bagas ke perpustakaan untuk belajar.

” Bagas bangun heyy!! ”

“Bagas Jangan tidur Mulu! Bangun belajar heyy!!”

” Kalian apa sih ganggu! Sana sana!” usir Bagas, namun bukannya pada pergi mereka malah menggotong tubuh Bagas lalu dibawa lah pergi ke Perpustakaan.

“Heyy lepas, apa apaan sih!” Seakan bisu mereka tak merespon sedikit pun ocehan Bagas, yang mereka pikirkan hanyalah bagaiman carana agar Bagas mau belajar, itu saja

Sampailah mereka di perpustakaan, dengan susah payah mereka mencoba mendudukkan Bagas disalah satu kursi disana, pasalnya dari tadi Bagas bersikeras untuk kabur.

“Nih baca!”

‘BRAKK’

Di simpannya buku buku itu di hadapan Bagas, dengan menganga Bagas membuka buku buku itu dan terpajanglah rumus rumus, angka, huruf, pokoknya semua itu ia tak menyukai nya.

“Ah engga mau, pusing!” Ucap Bagas

“Pokoknya buku buku ini kamu bawa pulang!”

” Sebanyak ini? Engga engga, ngak mau!” Tolak Bagas sekali lagi, namun teman temannya bersikeras menyuruh ia untuk membawa buku buku itu pulang, bukan untuk di pandangi tapi untuk di baca!. Dan akhirnya Bagaspun menyerah dan mengikuti apa yang teman-temannya suruh.

Sudah cukup lama Bagas pulang dari sekolah, mungkin satu jam yang lalu. Sekarang ia berada di kamar tak ada hal yang ia lakukan selain menatapi buku buku yang tadi ia bawa dari sekolah,

“Segini di baca? Sebanyak ini? Gak salah?” Ucap nya sambil bergidik ngeri terbayang saat ia selesai membaca semua buku ini lalu otak nya akan meledak, wah amit-amit. Cukup lama iya meratapi buku buku itu, bukannya dibaca ia malah berniat tidur Disana. Dan benar saja ia malah terlelap tidur.

“Bagass… bagaass…!”

“BAGAS TUH ADA TEMEN, SAMPERIN GIH!”

Ia terlonjak dari kursi meja belajar. Sungguh kaget sekali baru juga menutup mata sudah dikagetkan. Ia pun keluar dari kamar dan menghampiri pintu depan lalu dibukakan nya pintu itu, dan terlihat lah sosok sosok manusia yang tadi siang telah membawa paksa ia pergi ke perpustakaan.

” Kalian mau apa? Jangan bilang mau ngajak belajar!”

” Tahu aja, iya kita kesini mau ngajak lu belajar bareng!”

” Astaga jangan lagi”.

Seperti apa yang tadi siang terjadi di perpustakaan kini Bagas disuruh belajar lagi.

” Bagas rumus segitiga itu, ½ dikali alas dikali tinggi”

” Bagas, Karnivora adalah jenis hewan pemakan daging!”

” Bagas kalo ada yang nanya what is your name, jawabannya itu my name is… ”

Bagas hanya mengangguk ngangguk saja, meskipun tadi diawal awal Bagas sedikit ngeles, tapi makin lama ia dapat mengikuti pelajaran nya, meskipun tak semua masuk ke otaknya tapi setidak nya ia masih bisa menyerap nya meskipun sedikit.

“Gas, ngerti ga?”, Tanya salah satu temannya, lalu Bagas pun menggelengkan kepalanya, pertanda ia tak mengerti

“Astaga mau nangis!” Rengek salah temannya lagi

Waktu pun terus berjalan dengan cepat, hingga tak terasa sudah hampir 2 bulan Bagas dan temannya selalu menghabiskan waktu dengan belajar bersama.  hingga hari yang ditunggu-tunggupun tiba yaitu hari UTS, dimana Bagas akan menunjukan hasil kerja keras nya selama 2 bulan ini ia janji jika hasil UTS nya kali ini tak akan mengecewakan.

“Kertas UTS nya silahkan di isi, waktu nya 90 menit, baca soalnya dengan benar baru isi, dan selalu ingat teknik mengisi soal yang mudah dulu, baru yang susah, jangan menyia-nyiakan waktu!”. Itulah pesan terakhir dari Pak adi yang Bagas ingat

“Hufft, 90 menit! Pasti bisa, harus bisa, pokoknya bisa!”. Bisik Bagas menyemangati dirinya sendiri.

” Bagas!! Semangat!”

Bagas pu melongo saat melihat kawan-kawan nya itu serempak berbalik ke arah nya lalu menyemangati nya, Bagas pun hanya tersenyum ‘ baru kali ini aku di perhatiin lebih sama orang-orang di sekitar ku!’ ucap Bagas dalam hati.

Bagaikan roda berputar, waktu pun berjalan begitu cepat, hingga tak terasa 2 Minggu pun berlalu. Dan kini adalah saat nya mengetahui hasil UTS siswa, sungguh kali ini Bagas sangat was was.

” Bagas nilai UTS kamu ada peningkatan, meskipun tidak semua nilai mata pelajaran memenuhi kriteria, selamat!”

“Makasih pak!”

Setelah mengambil hasil raport nya , ia pun kembali ke bangku nya, sebenarnya ada rasa takut, takut jika teman-temannya kecewa, namun sepertinya dugaan bagas salah bukannya marah teman-temannya malah terlihat sangat senang, dan itu membuat Bagas sedikit lega!

“Selamat ya!” Ucap teman temannya serempak

“Kak”

“Kak Bagas!”

“Kak heh!”

“Hah apa?” Lamunan tentang 3 bulan yang lalu pun seketika buyar saat sang adik memanggil manggil namanya

“Jangan ngelamun mulu nanti kemasukan!

“Apa sih ,enggak kok gak ngelamun, sana sana kakak mau belajar!” Usirnya, agak malu juga sih karena terciduk sedang melamun.

Masih dalam posisi semula, yaitu memandangi foto-foto bersama teman-temannya. Bagas pun mulai mengamati ruangan kamarnya, bak roler film yang berputar, semua ingatan tentang kenangan itu pun kembali berputar, dimana di ruangan ini mereka tertawa bersama hanya karena hal bodoh yang di buat oleh dirinya, menangis bersama karena tak mengerti materi pelajaran, juga di oceh oleh teman-temannya, ruangan ini telah menjadi saksi bisu perjuangan keras ia dan teman-temannya, pokoknya suka duka dilalui bersama di sini.

 

Hufft, rasanya ia sangat rindu teman-temannya, sama belajar dengan Bp/Ib guru di sekolah. Andai saja si Corona tak melanda bumi ini, mungkin sekarang iya sedang bermain bersukaria bersama sama. Namun apalah daya ia hanya manusia biasa yang tak bisa berbuat apa-apa, mungkin mematuhi peraturan, protokolkesehatan  dan berdoa yang hanya bisa ia lakukan. Sebenarnya itu bisa ia lalui dengan sukarela, namun sangat tak rela jika harus merindu, mungkin jika hanya  berbicara tentang rindu itu adalah hal yang mudah, namun yang sulit adalah menahan rindunya. karena merindu itu sangat berat dan bukanlah perkara yang mudah.

Ciater, April 2021

(Visited 19 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan