Alur Terbalik   Kisah seorang suami istri yang tinggal di kota yang bernama Hereford di Inggris. Suami istri itu bernama Jane dan Michel. Mereka telah menikah sepuluh tahun tetapi belum juga dikaruniai anak. Pada saat Jane dan Michel sedang makan,

Payung Hitam   “Don liat gue bawa apa?” ucap Wildan sambil menunjukan payung yang dibawanya. “Payung, dari mana Lo, beli? Buat apa beli payung warna hitam?” ucap Dini heran. Lalu Wildan menceritakan jika sebelum dia bertemu dengan Doni. Wildan pergi

Terangkai Oleh : Yara Atiatul F Satu kata membuat sukma berdetak Senyum s’lalu tertarik memancarkan kebahagiaan Menanti datangnya hari esok Hanya ingin mendapatkan satu kata Berjuanglah, Raihlah dengan kerja keras Bangkitkaniah asa Jiwa ragamu Agar membuatkan kata sukses Satu kata

Takdir Oleh : Yara Atiatul F Hujan mengalir deras Bersanding angin Bau tanah tercium nyata Kilatan petir menyambar Mengantarkan getaran di jendela Bising hujan bergema mengalun di gendang telinga Namun , tiada lama berselang Kala waktu bicara Awan berpangku bidadari

Subang nan Elok Oleh : Yara Atiatul F Sinar mentari Yang memberikan kehangatan pagi Hamparan perkebunan teh Bagai permadani hijau Gugusan kabut beradu dengan langit Hawa sejuk nan jernih Angin menggetarkan dedaunan Aliran sungai bersinar, Menyilaukan penglihat Subang Menyuguhkan kemolekan

Siapa Pelakunya? Oleh : Yara Atiatul F Angin berteriak lancang Menerpa kulit wajah insan Menebus relung terdalam raga Aku diri masih bertanya Tentang virus yang kini melanda dunia Makhluk kecil yang tak mudah ditakluk Virus lugu yang mudah dicampakkan Ketika

Pena Guruku Oleh : Yara Atiatul F Pena guruku Terus menari nari dalam diriku Menuliskan rantai kata bermakna Mewarnai sanubari Membuncahkan asa hidupku Kau t’lah memberikan seribu nilai Memberi sejarah di takdirku Memberi pita beribu asa Kini … Biarkan aku

PATIMBAN Oleh : Yara atiatul F Saat kutapakkan kakiku di pasirmu Kulihat, Debur ombak memecah pantai Kudengar, Cicit camar terbang melayang Kurasakan hembusan angin, Membelai tubuhku Kulihat Perahu berbaris di pantaimu Bagai pagar kebeningan pasirmu Airmu nan biru Tersimpan berbagai

Padatnya Kotaku Oleh : Yara Atiatul F Mentari mulai menafikan sinarnya Awan mulai mengerubuti cakrawala Kicauan burung berterbangan Menghias penjuru-penjuru Subang Derap suara langkah kaki mengalun di telinga Padatnya jalanan, Meramaikan kebisingan Kota Subang Perayaan di siang hari Memadati jalanan

MIMPI Oleh : Yara Atiatul F Oh, mimpi… Mewarnai tidur lelapku Bagaikan pelangi di angkasa Walau maya tampak begitu nyata Aku bisa melakukan apa saja Terbang diangkasa tanpa Sayap Berjumpa dengan Presiden Indonesia Atau menjadi idola anak sedunia Begitu memesona

Kungkungan Oleh : Yara Atiatul F Helaan napas terdengar gusar Frustasi melanda pikiran Gundah gulana meraba jiwa Alunan lirih berdengung di telinga. Kubuka jendela Pak Akbar berkeliling Bu Irma merawat tanaman Kini menetap tak ada yang terlihat kubuka pintu Terkuak

Komitmen Oleh : Yara Atiatul F Berjuta waktu diriku lewati Diisi dengan menulis kata demi kata, Hingga menjadi sebuah kalimat, Kalimat bermakna jika kubaca slalu Tak sempurna tulisanku Tak pintar diriku Namun, waktu begitu banyak Selalu kusisihkan untuk menulis Menulis

Kesempatan Oleh : Yara Atiatul F Serasa jarum jam Kini berdetak lebih cepat Raja siang telah berangsur naik Kujejaki kembali hari Baru sesaat rasanya Perjalanan pagi hari Menyapa burung yang berkicau Menyapa bunga yang bergoyang Mengambil secarik kertas Mencatat kata

Cerpen, Bilqis adila putri *Sampai tujuan* Ketika aku seolah melupakan mimpiku, aku pun mengingat harapanmu padaku. Untuk apa aku berjalan sejauh ini? Aku bertanya pada diriku sendiri tentang hal itu berkali-kali. Perasaanku terluka semalam saat aku hampir sampai di tujuanku,

Isolasi Covid-19 Oleh : Yara Atiatul F Kala pintu berderit, terkunci Jendela ditarik hingga tertutup Tirai bergeser mengalang pandang Masker dikenakan dimulut Berjalan mondar mandir Sambil mata terus menatap tirai, Datang seseorang mengetuk pintu Hanya tangan yang bisa keluar Bertatap

Irisan Duka Oleh : Yara Atiatul F Dulu dia berhura-hura Bermanja-manja di dekapan sang ibu Meminta-minta di bahu sang ayah Tak ingat usia sudah mampu berdiri tegak Lambat-laun mereka meninggalkan dia Bersam sosok bidadari mungil yang lugu Merutuki kebodohannya yang

Garis Terdepan Oleh : Yara Atiatul F Orang-orang bermata redup Berlarian menghindar dari corona Hatinya remuk bagai tertusuk belati Lemah tak berdaya, tak ada asa Bila kau butuhkan telinga untuk didengar Bahu untukmu bersandar Untukmu… sang pahlawan Yang berusaha terus

CURUG CILEAT Oleh : Yara Atiatul F Di bibir Curug Cileat Kududuk bersama para penjelajah Kupandangi langit nan biru Kupandangi hamparan sawah nan luas Angin bertiup semilir, ah sejuknya Kicau burung bersahut-sahutan Kupu-kupu pun beterbangan Hinggap di bunga yang mekar

Cerpen, Bilqis adila putri *Semangat* Aku berlomba dengan orang yang tak pernah kalah di perlombaan. Dia orangnya sombong dan penggretak. “Hei kau menyerahlah dari perlombaan ini” ucap dia “Untuk apa? Aku bukanlah orang yang mudah menyerah sepertimu, aku tetap ingin

Angan Oleh : Yara Atiatul F Telaga bening Tanaman penghias alam Bersinergi merangkai keindahan Ibarat kepingan surga Angan … Membuat insan berandai-andai Menjulang menembus angkasa Menggapai bintang Tak dipungkiri Angan tak mudah digapai Tak bisa tanpa mencoba Lewat usaha tiada

Alam Kotaku Oleh : Yara Atiatul F Tugu nanas yang menjulang tinggi Bermahkotakan sinar mentari Awan yang menawan, Selalu setia menemani Tiupan sang bayu, Jalan yang berputar Kidung burung yang merdu Terasa nyaman tanpa kebisingan, Tanpa polusi udara Dengan asaku

Zamrud Khatulistiwa (Karya : Nifa Nurazizah) Purnama raya penghias malam Ujung dunia yang indah Telah hujan Muncul Selendang raja yang indah kuingin kelilingi dirimu Kuingin temui dirimu Zamrud khatulistiwa Begitu besar harapanku Zamarud khatulistiwa Banyak keindahan tersimpan Nusantara …. Begitu

Wabah yang memisahkan (Karya :Nifa Nurazizah) Angin yang bertiup Bunga yang terhembus ungin Terdapat kekompakan dari kalian Sama Sama Saling melengkapi Lalu kemana orang penyemangat kemana mereka pergi Kita slalu bersama Untuk meraih tugas maksimal Nilai kelompok bukun hambatan Bagaimana

Takdirmu Pasti Indah Oleh : Nipa Nurazizah Telah kususun banyak rencana Telah kupadatkan jadwal harianku Untuk hari lubur yang akan datang Namun semuanya berantakan Makhluk kecil jadi penyebab Bisa menebang Menumbangkan raga nan nyawa Telah beribu-ribu banyaknya Engkau makhluk kecil

Rembulanku Oleh : Nipa Nurazizah Rembulan bersanding gemintang Mereka sama-Sama hadir Saat malam menjelang Menyinari seluruh buana Rembulanku… Kemana kau pergi Kaupergi tanра pamit kaupergi tanpa jabat tangan Di mana kausaat ini Rembulan yang selalu menyinari Apakah engkau tiada untuk

PJJ Oleh : Nipa Nurazizah Telah satu tahun siswa Siswi dirumahkan Telah menumpuk rasa rindu terpendam Sukma terus menangis Akan PJJ saat ini Pembelajaran saat ini… Lebih rumit dimengerti Lebih sulit dibanding sekolah biasa Yakin pasti ada bukit Di balik

Pantai Pondok Bali Oleh : Nipa Nurazizah Ombak mengiring air Ke kedaratan yang membentang Aku tak bosan menyaksikanmu kausungguh mencuci mataku Menyaksikan ombak berkejaran Tak ada beranjak untuk pulang Karena menikmatit keelok pondok bali Bukan Bali lokasinya Hanya nama Pantai

Pangeran Mulia Oleh : Nipa Nurazizah Pagi yang dingin Telah di selimuti kabut Kalbu tertusuk ilalang Kau hadir menggandeng tangan Penyemangat hidup Pembimbing hidup Penerang hidup Pemandu hidup Ayah engkau bagai pangeran Engkau insan mulia Begitu besar jasamu Begitu besar

Pahlawan Oleh : Nipa Nurazizah Engkau begitu berjasa pada dunia Kau rela tinggalkan keluarga tercinta Demi Negara kita Kau rela tinggalkan rumah Di kala semua sibuk bercengkrama Kau rela berjuang menangani pasien Yang menyandang penyakit hebat Paramedis, pahlawan pandemi Di

Mutiara Hati Oleh : Nipa Nurazizah Sukma yang tersenyum Melihat mutiara hati Begitu mulia dirimu Begitu banyak jasa kaulakukan Tak bisa kubalas jasamu Kaubagai mutiara hati Bagi aku buah hatimu Yang selalu bersinar dalam kegelapan Selalu ,emerangi di malam kelam

Mentari di Balik Awan Oleh : Nipa Nurazizah Mentari di balik awan Cemerlang dirimu terhalang Walau redup Kautetap memberi sinar Berkat hadirmu… Kutahu banyak hal kutahu nilai positif kaurela tinggalkan orang tersayang Demi siswamu.. Kaurela melewati jalan berliku Demi muridmu

Langit yang Bersinar Oleh : Nipa Nurazizah Langit mendung Kembali ceria disapa mentari Mengurai kekalutan rasa Serasa kaesejukan embun pagi Engkaulah insan mulia Kedatanganmu sungguh bermakna Hatimu nan jernih Sejernih mata air Engkaulah malaikatku Engkaulah orang tua keduaku Begitu mulia

Kota Setumpuk Rindu Oleh : Nipa Nurazizah Senja yang memerah Akan kembali menghampiri Tak serupa titian bidadari Tak pernah tepati janji Rerumputan telah menghijau Daun riang menari Bunga bersorak gempita Bertasbih atas cipta-Mu Kotaku nan indah Kukantongi setumpuk rindu Memanjakan

Curug Masigit Oleh : nipa nurazizah Gemercik air Menawarkan kesegaran Mengupas setumpuk penat Yang singgah di raga umat Curug Masigit Penawar keindahan alami Meraih para wisatawan Untuk bercengkrama dengannya Curug masigit Hiasan Pasanggrahan Penyejuk rasa Menebar aroma wangi alam Ah,…

Cita-Cita Oleh : Nipa nurazizah Guru, Itulah yang kucita-citakan Itulah impianku Masa yang akan datang Guru yang selalu kuimpikan Karena guru mengajarkan banyak hal Kutahu semua hal berkat dirinya Tak terbayang jika tanpanya Bagaimana nasib anak-anak Indonesia Bagaimana masa depan

Buana Oleh : Nipa Nurazizah Mentari tenggelam di cakrawala Di ufuk timur gemintang menghiasi langit Sukma menangis Satu episode telah berlalu Buana telah menua Buana memikul lelah Karena dihuni kaum sekarah Ayo kita dekati kebaikan! Agar buana tak cepat musnah

Tepian Mimpi Di sudut Subang kota Berjalan sendirian Melihat gelandangan Sangat menyedihkan Di seberang sana Manusia buncit dengan dasinya Tertawa ria di susur kolam Tak nampak mimik muram Sejenak berhenti Kurenungi diri Akan dibawa ke mana raga ini? Mustahil pada

Dunia Baru Dinamika hidup masa kini Melelahkan, menyengsarakan Pasalnya Alat perang menyesakkan Harus dikenakan Paman tua Serangkap tanggung jawab di pundak Dengan letih yang akut Terpapah Merangkai nyawa anak dan istri Orang-orang terjangkit Yang tak mampu Disuguhkan: Tes berbayar Vaksin

  Keladi Syifa Namanya  Syifa Amalia. Dia yatim saat umurnya masih 3 tahun, saat itu ayahnya kecelakaan saat berangkat ke pasar untuk berdagang. Dan menjadi piatu saat berumur 5 tahun karena ibunya sakit keras. Syifa  tinggal bersama neneknya. Sekarang Syifa