Garis Terdepan Oleh : Yara Atiatul F Orang-orang bermata redup Berlarian menghindar dari corona Hatinya remuk bagai tertusuk belati Lemah tak berdaya, tak ada asa Bila kau butuhkan telinga untuk didengar Bahu untukmu bersandar Untukmu… sang pahlawan Yang berusaha terus

CURUG CILEAT Oleh : Yara Atiatul F Di bibir Curug Cileat Kududuk bersama para penjelajah Kupandangi langit nan biru Kupandangi hamparan sawah nan luas Angin bertiup semilir, ah sejuknya Kicau burung bersahut-sahutan Kupu-kupu pun beterbangan Hinggap di bunga yang mekar

Cerpen, Bilqis adila putri *Semangat* Aku berlomba dengan orang yang tak pernah kalah di perlombaan. Dia orangnya sombong dan penggretak. “Hei kau menyerahlah dari perlombaan ini” ucap dia “Untuk apa? Aku bukanlah orang yang mudah menyerah sepertimu, aku tetap ingin

Angan Oleh : Yara Atiatul F Telaga bening Tanaman penghias alam Bersinergi merangkai keindahan Ibarat kepingan surga Angan … Membuat insan berandai-andai Menjulang menembus angkasa Menggapai bintang Tak dipungkiri Angan tak mudah digapai Tak bisa tanpa mencoba Lewat usaha tiada

Alam Kotaku Oleh : Yara Atiatul F Tugu nanas yang menjulang tinggi Bermahkotakan sinar mentari Awan yang menawan, Selalu setia menemani Tiupan sang bayu, Jalan yang berputar Kidung burung yang merdu Terasa nyaman tanpa kebisingan, Tanpa polusi udara Dengan asaku

Zamrud Khatulistiwa (Karya : Nifa Nurazizah) Purnama raya penghias malam Ujung dunia yang indah Telah hujan Muncul Selendang raja yang indah kuingin kelilingi dirimu Kuingin temui dirimu Zamrud khatulistiwa Begitu besar harapanku Zamarud khatulistiwa Banyak keindahan tersimpan Nusantara …. Begitu

Wabah yang memisahkan (Karya :Nifa Nurazizah) Angin yang bertiup Bunga yang terhembus ungin Terdapat kekompakan dari kalian Sama Sama Saling melengkapi Lalu kemana orang penyemangat kemana mereka pergi Kita slalu bersama Untuk meraih tugas maksimal Nilai kelompok bukun hambatan Bagaimana

Takdirmu Pasti Indah Oleh : Nipa Nurazizah Telah kususun banyak rencana Telah kupadatkan jadwal harianku Untuk hari lubur yang akan datang Namun semuanya berantakan Makhluk kecil jadi penyebab Bisa menebang Menumbangkan raga nan nyawa Telah beribu-ribu banyaknya Engkau makhluk kecil

Rembulanku Oleh : Nipa Nurazizah Rembulan bersanding gemintang Mereka sama-Sama hadir Saat malam menjelang Menyinari seluruh buana Rembulanku… Kemana kau pergi Kaupergi tanра pamit kaupergi tanpa jabat tangan Di mana kausaat ini Rembulan yang selalu menyinari Apakah engkau tiada untuk

PJJ Oleh : Nipa Nurazizah Telah satu tahun siswa Siswi dirumahkan Telah menumpuk rasa rindu terpendam Sukma terus menangis Akan PJJ saat ini Pembelajaran saat ini… Lebih rumit dimengerti Lebih sulit dibanding sekolah biasa Yakin pasti ada bukit Di balik

Pantai Pondok Bali Oleh : Nipa Nurazizah Ombak mengiring air Ke kedaratan yang membentang Aku tak bosan menyaksikanmu kausungguh mencuci mataku Menyaksikan ombak berkejaran Tak ada beranjak untuk pulang Karena menikmatit keelok pondok bali Bukan Bali lokasinya Hanya nama Pantai

Pangeran Mulia Oleh : Nipa Nurazizah Pagi yang dingin Telah di selimuti kabut Kalbu tertusuk ilalang Kau hadir menggandeng tangan Penyemangat hidup Pembimbing hidup Penerang hidup Pemandu hidup Ayah engkau bagai pangeran Engkau insan mulia Begitu besar jasamu Begitu besar

Pahlawan Oleh : Nipa Nurazizah Engkau begitu berjasa pada dunia Kau rela tinggalkan keluarga tercinta Demi Negara kita Kau rela tinggalkan rumah Di kala semua sibuk bercengkrama Kau rela berjuang menangani pasien Yang menyandang penyakit hebat Paramedis, pahlawan pandemi Di

Mutiara Hati Oleh : Nipa Nurazizah Sukma yang tersenyum Melihat mutiara hati Begitu mulia dirimu Begitu banyak jasa kaulakukan Tak bisa kubalas jasamu Kaubagai mutiara hati Bagi aku buah hatimu Yang selalu bersinar dalam kegelapan Selalu ,emerangi di malam kelam

Mentari di Balik Awan Oleh : Nipa Nurazizah Mentari di balik awan Cemerlang dirimu terhalang Walau redup Kautetap memberi sinar Berkat hadirmu… Kutahu banyak hal kutahu nilai positif kaurela tinggalkan orang tersayang Demi siswamu.. Kaurela melewati jalan berliku Demi muridmu

Langit yang Bersinar Oleh : Nipa Nurazizah Langit mendung Kembali ceria disapa mentari Mengurai kekalutan rasa Serasa kaesejukan embun pagi Engkaulah insan mulia Kedatanganmu sungguh bermakna Hatimu nan jernih Sejernih mata air Engkaulah malaikatku Engkaulah orang tua keduaku Begitu mulia

Kota Setumpuk Rindu Oleh : Nipa Nurazizah Senja yang memerah Akan kembali menghampiri Tak serupa titian bidadari Tak pernah tepati janji Rerumputan telah menghijau Daun riang menari Bunga bersorak gempita Bertasbih atas cipta-Mu Kotaku nan indah Kukantongi setumpuk rindu Memanjakan

Curug Masigit Oleh : nipa nurazizah Gemercik air Menawarkan kesegaran Mengupas setumpuk penat Yang singgah di raga umat Curug Masigit Penawar keindahan alami Meraih para wisatawan Untuk bercengkrama dengannya Curug masigit Hiasan Pasanggrahan Penyejuk rasa Menebar aroma wangi alam Ah,…

Cita-Cita Oleh : Nipa nurazizah Guru, Itulah yang kucita-citakan Itulah impianku Masa yang akan datang Guru yang selalu kuimpikan Karena guru mengajarkan banyak hal Kutahu semua hal berkat dirinya Tak terbayang jika tanpanya Bagaimana nasib anak-anak Indonesia Bagaimana masa depan

Buana Oleh : Nipa Nurazizah Mentari tenggelam di cakrawala Di ufuk timur gemintang menghiasi langit Sukma menangis Satu episode telah berlalu Buana telah menua Buana memikul lelah Karena dihuni kaum sekarah Ayo kita dekati kebaikan! Agar buana tak cepat musnah

Tepian Mimpi Di sudut Subang kota Berjalan sendirian Melihat gelandangan Sangat menyedihkan Di seberang sana Manusia buncit dengan dasinya Tertawa ria di susur kolam Tak nampak mimik muram Sejenak berhenti Kurenungi diri Akan dibawa ke mana raga ini? Mustahil pada

Dunia Baru Dinamika hidup masa kini Melelahkan, menyengsarakan Pasalnya Alat perang menyesakkan Harus dikenakan Paman tua Serangkap tanggung jawab di pundak Dengan letih yang akut Terpapah Merangkai nyawa anak dan istri Orang-orang terjangkit Yang tak mampu Disuguhkan: Tes berbayar Vaksin

  Keladi Syifa Namanya  Syifa Amalia. Dia yatim saat umurnya masih 3 tahun, saat itu ayahnya kecelakaan saat berangkat ke pasar untuk berdagang. Dan menjadi piatu saat berumur 5 tahun karena ibunya sakit keras. Syifa  tinggal bersama neneknya. Sekarang Syifa

BELAJAR MELALUI DARING    OLEH:  NISA AULIA   Pendidikan sedang goyah Para murid tidak bisa sekolah Masa depan sangat parah Kehidupan pun menjadi tak tentu arah   Oh Negriku…. Kenapa sekarang menjadi begini Apa-apa serba mandiri Sekolah  pun seperti  tak

Aku Telah Berubah Oleh: Yostra Fauzan Zulfan   Hai, namaku Gery, umurku 15 tahun. Kini aku harus pindah sekolah karena aku dikeluarkan dari sekolah lamaku. Aku termasuk murid yang pintar di sekolah lamaku. Tetapi aku mempunyai kebiasaan buruk, yaitu suka

Warga Subang Saling menyapa, Menebar manis buah delima Menerapkannya dalam senyuman Menjadi ciri khas warga Subang Rasa pilu dalam sukma Tak dijadikan alasan tuk tidak bercengkrama Menjadi bagaskara Di tengah sunyinya kesenyapan Kicauan burung mengepak sayap di angkasa Menambah riang

Sang Pencerah Karya : Syifa Naura Nazifa Tersenyum dalam diam Namun penuh gelora Berkomitmen dalam realita Melenyapkan segala kenetapan umat Kau hadir di tengah kejamnya peradaban Memprioritaskan fasilitas akhlak Menebar kalam penuh makna Walau hanya satu ayat Saat gemintang benderang

Sang Ksatria Karya : Syifa Naura Nazifa Berbaris beriring Menelusuri labirin kota Bergegas melenyapkan onar Merenggut hara hara Desing Detiran senjata mematikan Menembus gendang telinga Tanda murka sang ksatria Melindas habis angkasa Lautan darah pembahasi kota Diterkam senjata ponggawa Binasalah

Sang Kekasih Karya : Syifa Naura Nazifa Terlahir dijuluki yatim Mengais pilu dalam sanubari Mencampakan insan-insan penuh dengki Merangkai hidup bersama Ummi Dikala melontarkan Kalam-Nya Diterjang segudang rintangan Namun, api semangat tak kunjung padam Dalam menyebarkan dinnul Islam Wahai kekasihku

Rumah Kedua Karya : Syifa Naura Nazifa Embun pagi berkilau Mentari perlahan menghangatkan Merenggut kantuk melebarkan sukma Sederhana , namun amat memesona Pondok , rumah keduaku Penjara suci Nusantara Penenun asa hari kemudian Menjadi sejarah lahirnya pakar – pakar mumpuni

Nestapa ( Semua peristiwa pasti ada hikmahnya) Karya :Syifa Naura Nazifa Ternyata, Tak semua peristiwa berujung petaka Ada masanya, Si pembawa kemalangan Mewariskan hikmah Terlihat ketika dirinya tersenyum diam Melihat penghuni kota merasa aman Namun, dia juga tertawa pingkal Akan

Merindu (Karya : Syifa Naura Nazifa) Hari berlalu begitu sendu Mendekap mentari di ufuk kalbu Mananti datangnya hari penuh makna Namun, Semuanya t’lah tertikung Virus teramat rakus Tiba-tiba menerjang buana Menghalau surya Tuk bertemu gemintang Jeritan penghuni jagat memilukan Tak

Mengurai Takdir (Karya : Syifa Naura Nazifa) Lika – liku sejarah Hiruk piruk penuh tanya Kini menyelimmuti keluarga cemara Terlahir gadis nan jelita Menjemput takdir tak disangka Memporakporandakan sel – sel kehidupan Menjadi insan penuh bencana Setetes air mata menjadi