RAIVALLA YURI S.E PRATIWI_WASPADA DARI AWASAN SANG VIRUS _SMPN 1 SAGALAHERANG

FOTO-RAI.jpeg

WASPADA DARI AWASAN SANG VIRUS

Virus covid – 19 benar – benar mengacaukan dunia, termasuk Indonesia. Setiap hari pasien positif covid – 19 terus bertambah setiap harinya, bahkan per harinya pasien positif covid – 19 bisa bertambah ratusan bahkan ribuan. Korban jiwa terus berjatuhan tiap harinya, penyebarannya yang sangat cepat benar – benar membuat pihak medis kewalahan. Gejalanya sudah diketahui, hal – hal yang harus dilakukan untuk menghindari penularan juga sudah diberitahukan, tapi penyebaran masih terus terjadi.

Beberapa orang masih mengabaikan hal – hal remeh yang sebenarnya penting untuk dilakukan, seperti memakai masker saat pergi keluar rumah, selalu mencuci tangan, dan tidak berkerumun.

—–

“Kino, bisa kesini sebentar gak? Ibu mau minta tolong,” ucap sang ibu pada anaknya yang sedang berada di kamarnya.

“Iya, kenapa Bu?” tanya Kino, setelah keluar dari kamarnya, melihat sang ibu yang sedang memberi makan adiknya yang baru berusia 2 tahun itu.

“Ini, Ibu mau minta tolong beliin keperluan rumah kayak biasanya, belinya ke pasar aja, toko Bu Hilda masih tutup, Bu Hildanya belum pulang.”

“Yaudah bu, Kino mau ganti baju dulu ya sebentar,”  ucap Kino, sebelum akhirnya pergi menuju kemarnya setelah sang ibu mengangguk sebagai jawaban.

“Ini daftar barang yang  harus dibeli, sama ini uangnya, kamu jangan lupa pake maskernya, sama hindarin kerumunan, tapi harusnya jam segini pasar udah sepi sih, tapi kamu harus tetep jaga jarak sama hindarin kerumunan ya, maskernya juga usahain jangan dibuka,” ucap sang Ibu memperingatkan anaknya, sembari menyerahkan sejumlah uang.

“Iya Bu, yaudah Kino berangkat dulu ya.”

—–

“Han, kok gak pake masker?” tanya Kino, saat melihat temannya itu tidak memakai masker, pasalnya semenjak covid – 19 masuk ke Indonesia tiga bulan yang  lalu, pemerintah menghimbau masyarakat agar selalu memakai masker saat pergi ke luar rumah untuk mencegah terjadinya penyebaran.

“Halah, cuman pergi ke pasar deket rumah kok harus pake masker, orang deket juga dari rumah, lagian sepi juga kan di pasarnya, jadi gak papa lah, cuman sebentar ini juga.”

“Bukan masalah deket enggaknya apalagi cepet lamanya Han, ya di pasarnya emang sepi, tapi kan nanti lo juga ketemu orang di jalannya, covid – 19 juga gak perlu waktu lama buat nyebarnya Han, waktu yang dibutuhin lo buat pulang pergi dari rumah ke pasar tanpa pake masker, itu udah  lebih dari cukup buat virusnya masuk ke tubuh lo,” Saat ini mereka berdua memang sedang berada di pasar, membeli barang yang diminta Ibu mereka masing masing, hal ini memang sudah menjadi kebiasaan rutin bagi mereka berdua. Bertemu temannya itu di pasar setiap minggunya bukanlah hal yang asing bagi Kino.

Bukan karena Ibu mereka malas atau bagaimana, tapi baik Kino dan Farhan memiliki Adik yang masih balita, yang masih perlu perhatian khusus dari Ibu mereka masing masing. Tangan Kino maupun Farhan masih belum cukup telaten untuk merawat adik mereka, jadi beginilah jadinya, mereka menggantikan ibu mereka membeli keperluan untuk 1 minggu kedepan. Sedangkan Ayah mereka berdua sibuk bekerja di luar kota.

“Nih ya No, orang yang selalu pake masker juga tetep aja kena kok, inimah tinggal sesuai keberuntungan masing masing aja, jadi lo gak perlu repot repot buat ngurusin gw deh, walaupun pake masker lo juga tetep bisa kena,” ucap Farhan, masih keras kepala.

“Iya, gw tau, walaupun udah pake masker juga tetep ada kemungkinan kita bisa kena, tapi seenggaknya kita bisa ngurangin kemungkinan itu kan.”

“Yaudahlah, lagian walaupun gak pake masker, gw tetep jaga jarak kok, nih liat, gw juga jarak sama lo, 1 meter kan,” ucap Farhan sembari menggerakkan tangannya, seolah ingin memperlihatkan jarak yang dia jaga diantara dia dan Kino.

“Lagian, walaupun kena juga masih bisa sembuh, lo liat aja, banyak kok pasien positif covid – 19 yang bisa sembuh,” lanjutnya

“Emang masih bisa sembuh sih Han, banyak juga yang berhasil sembuh dari covid – 19, tapi gak sedikit juga kan yang malah meninggal, bahkan ada juga yang meninggal setelah sembuh dari covid – 19 gara – gara kerusakan yang diakibatin sama virusnya terlalu parah.”

“Yaudahlah, lo gak perlu ngasih tau hal negatif atau nakut – nakutin gw kayak gitu juga, lo juga harusnya tau kan, pas lagi kayak gini pikiran positif itu penting.”

“Pikiran positif emang penting Han, tapi waspada sama nyegah juga gak kalah penting.”

“Terserah lo deh, gw udah selesai beli barangnya nih, duluan ya,” ucap Farhan sebelum akhirnya pergi meninggalkan Kino yang masih menunggu belanjaannya selesai dihitung.

—–

“Ibu, ini belanjaannya langsung aku taruh di dapur ya,” ucap Kino, sebelum pergi menuju dapur setelah memberi salam pada ibunya.

“Iya, abis itu kamu langsung bersih bersih sama ganti baju ya.”

“Tadi kamu jaga jarak sama ngehindarin kerumunan kan di luar?” tanya sang Ibu, pada sang anak yang sekarang sedang bersantai menonton televisi.

“Iya bu, tenang aja.”

—–

Satu minggu kemudian saat Kino pergi ke pasar untuk membeli keperluan rumah, dia tidak melihat Farhan, padahal biasanya temannya itu sudah datang terlebih dahulu. Sebenarnya, dibanding pergi ke pasar, Kino biasanya pergi ke toko di dekat persimpangan, hanya saja sang pemilik toko masih belum pulang dari kampung halamannya sejak 2 bulan yang lalu, alhasil Kino berbelanja di pasar yang memang sedikit lebih jauh dari rumahnya. Saat pertama berbelanja di pasar, Kino baru mengetahui temannya, Farhan ternyata juga sering membeli keperluan rumah di pasar, yang memang dekat dengan rumah Farhan.

Sejauh yang dia ketahui,  semenjak Ayah temannya itu pergi merantau keluar kota tahun lalu, Farhan rutin pergi ke pasar untuk membeli keperluan rumahnya, kecuali disaat dia sakit. Khawatir dengan temannya itu, sepulang dari pasar Kino lantas bertanya kepada sang Ibu, Ibunya itu cukup akrab dengan Ibu sang teman, jadi sekiranya pasti Ibunya tahu.

“Bu, Farhan sakit atau gimana ya? Soalnya tadi di pasar aku gak liat dia.”

“Aduh, Ibu lupa mau ngasih tau kamu, Farhan, Adeknya, sama Ibunya positif covid – 19, Ibu belanjanya juga lebih banyak itu karena mau sekalian masakin buat mereka, sekarang mereka lagi isolasi mandiri dirumah kan, gak bisa keluar.”

“Katanya juga Farhan pas jalan pulang dari pasar waktu itu sempet ada interaksi sama orang, eh ternyata besoknya orang itu malah positif covid – 19, pas pulang juga bukannya langsung bersih bersih sama ganti baju, dia malah langsung bantuin Ibunya di dapur,” lanjut sang Ibu.

“Yaudah Bu, nanti biar aku aja yang anterin makanannya ke rumah mereka,” ucap Kino, merasa bersmpati, dia berharap Farhan dan keluarganya bisa segera sembuh dari covid – 19, dan semoga hal ini bisa menjadi pelajaran  bagi Farhan, walaupun berpikir positif itu penting, waspada juga tak kalah penting, jangan sampai karena kelalaian satu orang, satu keluarga harus menanggung dampaknya.

Siangnya Kino membantu Ibunya itu memasak berbagai masakan untuk keluarga Farhan, lalu mengantarkannya pada sore hari menggunakan motornya.

3 hari kemudian, Ayah Farhan yang seharusnya berada diluar kota untuk bekerja, malah ada di rumah Kino. Ternyata maksud tujuannya datang bertamu, adalah untuk meminta tolong, agar Ibu Kino bisa terus mengirimkan makanan baik berupa bahan masakan atau yang sudah jadi ke rumah Istri dan anaknya. Ayah Farhan sendiri tidak bisa menemui Istri dan anaknya, karena mereka sedang diisolasi. Ayah Farhan akan mengirimkan uang setiap bulannya kepada Ibu Kino untuk membeli bahan masakan yang diperlukan untuk dikirimkan kepada Istri dan anaknya, atau untuk membeli keperluan mereka. Tentu saja Ibu Kino dengan senang hati mau membantu, ia senang bisa membantu temannya itu. Ayah Kino sendiri tidak  bisa berlama lama, ia langsung pergi keluar kota lagi setelah urusannya selesai.

(Visited 18 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan