RAIVALLA YURI S.E PRATIWI_Festival Kuliner Kota Subang_SMPN 1 SAGALAHERANG

FOTO-RAI.jpeg

Festival Kuliner Kota Subang

Tagihan kontrakan yang harus dibayar, uang sekolah dia dan adiknya, keperluan rumah, dan kebutuhan adik bungsunya yang masih balita. Di usianya yang baru berusia 18 tahun, Vina harus memikirkan bagaimana mencari uang untuk itu semua, setelah menyelesaikan kegiatan sekolahnya, Vina akan langsung pulang kerumah untuk mengganti baju, lalu kembali pergi menuju toko di dekat persimpangan, bekerja sebagai kasir. Untunglah pemilik tokonya mau berbaik hati memberi pekerjaan kepada Vina.

Sementara Vina bekerja, biasanya adiknya yang sudah menginjak bangku SMP akan menggantikan Vina untuk mengurus adik bungsunya.

“Tumben jam segini udah dateng Vin, biasa jam 2 datangnya.”

“Iya Beh, kebetulan sekolah dipulangin lebih awal, jadinya Vina bisa dateng lebih siangan,” jawab Vina, orang yang saat ini sedang berdiri di depannya adalah pemilik toko tempat dia bekerja, Babeh panggilannya.

“Yaudah sana, kamu masuk, sebelum mulai kerja kamu minum dulu, sama itu ada sedikit makanan, dimakan, Babeh tau kamu pasti gak makan dulu sebelum kesini.”

“Iya Beh, nanti Vina makan abis ganti baju, kalo gitu Vina masuk dulu ya Beh,” pamit Vina, sebelum pergi masuk kedalam toko, Sebagai rasa terima kasih biasanya Vina selalu mengucapkan kata terima kasih berulang – ulang, dan selalu dijawab “Gak usah bilang makasih, kalo kamu bilang makasih lagi nanti Babeh potong gajinya loh” kalimat itu diucapkan dengan nada serius, tapi Vina tahu Babeh hanya sedang bercanda.

Kebaikan hati yang dia terima dari pria berusia 50 tahun itu, selalu berhasil membuat Vina terharu, juga selalu mengingatkannya pada sosok orang tua yang kini sudah tidak ada di dalam hidupnya.

Vina sering membandingkan Babeh dengan sosok orang tuanya, Babeh yang selalu memperlakukannya seperti anak kandungnya sendiri, dan orang tua pemabuk yang meninggalkan dia dan kedua adiknya di sebuah kontrakan sempit. Sejak hari dimana orang tuanya pergi, dari saat itu sosok orang tua sudah hilang dari hidupnya, dan tidak akan pernah ada lagi, walaupun nantinya kembali, tak akan pernah ia terima lagi.

Luka di sekujur tubuh, luka bakar di punggungnya, dan luka di tubuh adiknya, sudah cukup untuk menjadi alasan kenapa ia tidak akan pernah bisa menerima mereka lagi. Sedikitnya ia lega mereka pergi, setidaknya tidak akan ada tangan yang dilayangkan ke arahnya lagi, tak ada api yang akan di arahkan ke punggungnya lagi. Setidaknya tidak ada teriakan penuh rasa sakit dari adiknya lagi.

Setelah selesai makan dan berganti baju memakai seragam yang biasa dia pakai, Vina lantas pergi ke tempat biasanya ia berada, di tempat kasir.

Tepat pukul 4, Vina berjalan pulang menuju rumah setelah berpamitan kepada Babeh dan pegawai lainnya di toko, sebenarnya Vina ini pegawai termuda di toko, pegawai lain rata rata berusia 20 tahunan keatas sedangkan Vina baru menginjak kelas 3 SMA. Vina pulang dengan tangan yang membawa sekantung makanan untuk makan malam dia dan adiknya, Vina juga membeli bubur khusus balita yang biasa ia berikan pada adik bungsunya.

—–

“Kak, tadi Bu Ijah dateng nagih uang kontrakan.”

“Iya, kakak lupa kayaknya belum nganterin uang kontrakan buat bulan ini,” ucap Vina, menampilkan senyum tak berdosa, yang dibalas gelengan kepala tak habis pikir dari adiknya.

“Kamu gimana tadi sekolahnya? Gak ada yang ganggu lagi kan?” tanya Vina, setelah selesai menyuapi adik bungsunya, sekarang ia beralih memberi makan dirinya sendiri.

Hening beberapa saat

“Gak papa kok,” ucap Girald, adik Vina adalah korban bully di sekolahnya, Girald sering kali di jadikan samsak hidup oleh teman – temannya, tentunya Vina merasa tidak terima, setelah mengetahui adiknya menjadi korban pembullyan, Vina bergegas pergi menuju sekolah Girald untuk mengadukan para pembully itu, hukuman yang didapatkan para pembully itu adalah skors selama beberapa hari, tak sebanding dengan kesehatan mental serta fisik adiknya yang terganggu, tapi Vina tidak bisa berbuat apa apa. Orang tua para pembully itu adalah orang berada, mereka menggunakan uang untuk meringankan hukuman anak – anaknya.

“Bener ya? Kalo ada apa apa kamu harus langsung bilang sama kakak loh, tenang aja, gini – gini kakak jago silat”

“Iya, kakak tenang aja.”

Setelah menyelesaikan makan malam, Vina dan kedua adiknya bersantai menonton televisi, bukan televisi mewah dengan layar yang besar, hanya televisi jadul kecil pemberian tetangga mereka. Setidaknya mereka masih bersyukur bisa mendapat sedikit hiburan dari televisi itu, walau tak jarang juga tayangannya hanya berisi gosip artis yang tak Vina kenal.

“Kak.”

“Hm? Kenapa?”

“Lusa ada festival kuliner di Alun – Alun Subang, di kota kita, boleh gak kita kesana? Aku ada kok uang buat jajannya,  udah nabung dari lama, lagian katanya harga makanannya juga lebih murah dari harga normal,” suara Girald cukup kecil dan terdengar ragu saat mengatakannya, mungkin takut sang kakak tidak mengijinkan. Memang, mereka sangat jarang pergi ke acara semacam itu, di kotanya ini memang kadang ada festival kuliner atau pasar malam setiap tahunnya, tidak rutin, hanya saat saat tertentu saja.

Mendengar adiknya sampai sudah menyiapkan tabungan, tentu saja Vina tidak bisa menolak. Sebenarnya, rencananya Vina juga akan membawa adik adiknya pergi ke festival itu, walaupun Girald tidak membicarakannya pada Vina. 2 tahun lalu saat festival seperti ini juga diadakan di Kota Subang, mereka gagal pergi kesana, uang yang sudah Vina kumpulkan untuk bekal mereka, malah habis terpakai untuk pengobatan adiknya.

Sebagai ganti rasa bersalahnya,Vina mulai mengumpulkan uang untuk berjaga – jaga sewaktu – waktu festival itu akan diadakan kembali, agar dia bisa menebus kegagalannya membawa kedua adiknya pergi ke festival itu 2 tahun lalu.

“Boleh, soal uangnya kamu gak usah khawatir, kakak ada uang kok buat bekalnya nanti,” jawab Vina, setelah mulai bekerja di toko Babeh 1 tahun lalu, kondisi keuangan Vina mulai membaik, bekerja dari siang sampai sore pada hari kerja, dan bekerja dari pagi sampai sore pada hari libur. Walaupun jam kerjanya tidak sampai malam seperti para pegawai lain, gaji yang diterima Vina sudah cukup besar untuk memenuhi semua kebutuhan dia dan kedua adiknya. Terkadang Babeh juga sering kali memberikan uang jajan pada adiknya, walaupun sudah ditolak berulang kali, Babeh tetap memaksa, akhirnya Vina mengalah.

—–

“Kak, udah siap belum?”

“Udah, ayo berangkat!”

Minggu pagi ini Vina menepati perkataannya untuk membawa kedua adiknya itu menuju festival kuliner yang diadakan di Alun – Alun Kota Subang. Adik bungsunya Vina gendong menggunakan gendongan yang biasa ia pakai, gendongan yang terbuat dari kain yang biasa disebut ‘Sinjang’ atau ‘Samping’. Walaupun sudah sedikit lancar berjalan, Vina masih merasa tidak tenang harus membiarkan adik bungsunya berjalan sendiri, apalagi di tengah kerumunan nanti.

Mereka pergi menuju alun – alun kota menggunakan kendaraan umum yaitu Angkot. Hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk sampai ke alun- alun kota, setelah membayar ongkos, Vina lantas membawa kedua adiknya masuk menuju festival.

Sesuai dugaan, tempat itu sekarang sudah dipenuhi oleh orang orang yang ingin berburu kuliner, tak bisa menunggu lebih lama, Girald menarik tangan kakaknya agar segera berjalan.

“Woah, yang ngolah buah Nanas lumayan banyak juga ternyata, lumayan banyak jenis olahannya,” ucap Gerald, setelah melihat cukup banyak orang yang menjajakan buah Nanas yang diolah menjadi berbagai macam makanan. Mulai dari jus, keripik, manisan, rujak, atau hanya sekedar menjual buah yang sudah dikupas.

“Yaiyalah, kan Subang emang produsen buah Nanas, diolah jadi macem macem juga biar gak bosen makannya. Nanas juga punya banyak manfaat buat tubuh,” jelas Vina, Subang memang terkenal sebagai produsen Nanas, bahkan di Kecamatan Jalancagak yang terletak di Kota Subang sendiri terdapat tugu Nanas yang lumayan besar. Beberapa tahun lalu Nanasnya masih bercat hijau, belum matang. Beberapa waktu lalu catnya sudah berubah menjadi kuning kemerahan, sudah matang mungkin, tinggal menunggu dipetik.

Setelah berkeliling dan mencicipi beberapa makanan, Vina dan kedua adiknya memutuskan untuk segera pulang kerumah mereka, karena waktu sudah semakin sore. Vina juga membeli beberapa buah Nanas yang belum dikupas untuk ia berikan pada Babeh, uang yang ia kumpulkan dari tahun lalu ternyata lebih dari cukup, sisa uangnya pun masih lumayan banyak.

—–

Minggu pagi ini Vina sudah siap berangkat membawa 2 buah Nanas segar yang belum dikupas untuk Babeh, jam kerjanya saat hari libur dimulai dari pagi, jadi Vina berangkat menuju toko sejak matahari belum muncul ke permukaan, karena rencananya ia akan pergi ke pasar terlebih dahulu, membeli bahan – bahan kue. Saat di festival kuliner kemarin, ada satu jenis kue yang sepertinya sangat disukai adiknya itu. Vina ingin mencoba membuatnya.

Setelah menyimpan bahan – bahan yang nantinya akan ia sulap menjadi sebuah makanan, Vina lantas buru – buru pergi menuju toko, takut ia akan kesiangan. Untungnya, Vina tiba di toko tepat waktu.

“Wih, bawa apa tuh Vin, berat kayaknya, sini Babeh bantu,” ucap Babeh, sesaat setelah Vina sampai di toko, melihat Vina yang kesusahan membawa bawaannya, Babeh mengambil alih.

“Itu Nanas Beh, buat Babeh, Vina beli dari festival kemarin, seger loh Beh, Babeh pasti suka.”

“Wah, makasih loh Vin, nanti Babeh makan bareng pegawai lain, kita rujak aja.”

Siangnya, para pegawai toko itu benar – benar mengadakan acar rujakan bersama, bukan hanya Nanas, tapi ada buah – buahan lain juga, yang dibawakan oleh Istri bos mereka.

 

(Visited 10 times, 1 visits today)

One thought on “RAIVALLA YURI S.E PRATIWI_Festival Kuliner Kota Subang_SMPN 1 SAGALAHERANG

Tinggalkan Balasan