ATHFALUNA NOOR INAYAH_PENA KELABU_SMPN 1 SAGALAHERANG

FOTO-ATFAL.jpeg

Pena Kelabu

Malam pun datang, posisi matahari di gantikan oleh indahnya bulan yang senantiasa di temani kerlap kerlip bintang, menambah keidahan ciptaan tuhan. Sinar sang rembulan memasuki rumah tetanggaku, mungkin lebih łayak di sebut gubuk daripada sebuah rumah.

Namanya Ria, sesuai namanya ia gadis yang ceria, baik hati dan juga jujur, wajahnya yang cantik dan otaknya yang berisi menambah nilai dirinya. Tapi sayang, keluarga mereka bisa di sebut miskin. Ibunya yang bekerja sebagai buruh cuci, serta Ria yang membantu mengurus kedua adiknya karena ayah mereka telah tiada.

Tapi, bukan kehidupan Ria setiap hari yang akan ku ceritakan. Melainkan prestasi nya di sekolah yang luar biasa, walaupun terkadang Ria kesulitan dalam membeli alat sekolah yang mengharuskan ia untuk menunggak.

Pagi itu saat jam pelajaran pertama di mulai, guru matematika ku pak Theo menyuruh kami mengumpulkan tugas. Seperti biasanya, yang tidak mengumpulkan tugas akan di hukum, saat itu ada empat orang yang tidak mengerjakan. Salah satunya adalah Ria, aku pun tahu mengapa dia tidak mengerjakan karena dia kehabisan bukunya.

Untuk kali ini, pak Theo menyuruh murid yang tidak membawa atau mengerjakan tugas untuk mengambil dan mengerjakannya. Sedangkan Ria hanya berdiam diri, ku lihat raut wajahnya yang kebingungan. Kuhampiri dirinya lalu mengajaknya untuk membeli buku di koperasi sekolah, awalnya Ria menolak. Tapi, karena paksaan ku ia pun mengikutiku.

Raut bahagianya terlihat saat aku memberikannya buku. Ia mengucapkan terima kasih berulang ulang kepadaku yang kubalas dengan senyuman dan nggukan, dari situlah aku dan Ria dekat dan berakhir menjadi sahabat.

Hal yang membuatku salut dan bangga kepadanya adalah dia dan pena kelabunya, pena yang senantiasa menemaninya menuntut ilmu, pena yang memerangkap ilmu dalam tulisannya di dalam buku, pena yang di gunakannya untuk mengisi soal dengan ilmu yang dia dapat, dan pena yang selalu ada di dalam tas sekolahnya menemani ketekunan dalam belajarnya.

Saat ku tanya mengapa ia hanya mengisi ulang pena kelabu tersebut, aku mendapatkan alasan yang membuat hatiku terharu,

“karena bapak, bapak ku yang membelikannya saat aku akan memasuki bangku SMP Ra. Bapak berpesan kepadaku, bahwa ilmu itu tidak memandang siapa yang sedang mencarinya tapi memandang siapa yang sungguh sungguh mencarinya. Makannya Ra, aku akan terus menggunakan pena ini untuk menuntut ilmu. Akan aku tunjukan pada anak cucuku nanti saat aku sudah sukses, bahwa tidak ada perjuangan yang sia sia Ra” cerita Ria padaku.

Melihat tekad dan semangat Ria yang begitu kuat, membuat ku berfikir dengan dalam. Bahwa, walaupun kita kaya, di pandang oleh orang banyak, tapi jika kita tidak memiliki ilmu. Maka, untuk apa semuanya? Dan mulai saat itu aku berjanji pada diriku, aku akan bersungguh sungguh dalam belajar bila perlu aku akan pergi keluar negara untuk mencari dan menuntut ilmu.

Tak terasa 7 tahun telah berlalu, hari ini aku berada di negeri sakura untuk melanjutkan sekolahku. Aku pun berjalan di kawasan Tokyo umtuk mencari makan dan sekedar berjalan jalan, tidak sengaja diriku menabrak seorang wanita demgan pakaian musim dinginnya,

“Allara?” Tanya padaku, aku sangat terkejut. Bukan karena orang yang menabrak ku tahu nama ku, melainkan ia adalah sahabat lamaku Ria.

“Ra? Itu kamu kan? Allara Abigail andythama?” tanyanya meyakinkan, melihat aku yang masih terdiam karena keterkejutan,

“Ria? Aku kangen, sudah lama kita tak berjumpa. Bagaimana kabar mu?” sapaku dengan perasaan yang amat bahagia,

“Baik, Alhamdulillah aku dapat beasiswa dan melanjutkan sekolah ku hingga berakhir di sini” balasnya dengan senyuman khasnya,teduh.

“Syukurlah kalau begitu, bagaimana kalau kita mampir di tempat makan ujung sana? Aku dengar mereka mempunyai onogiri dan shushi dengan rasa terbaik” ajak ku yang di balas anggukan oleh Ria,

Kami pun berakhir di kedai shushi tersebut, kami saling tukar kabar, membahas masa lalu hingga perjalanan bisa sampai di negri sakura ini. Kalian ingat apa yang di katakan Ria dulu dulu? Dan itu memang kenyataan, usaha tidak akan mengkhianati hasil. Dengan ketekunan dan kegigihan, apapun yang kita ingin kan pasti akan tercapai.

Ria adalah salah satu bukti dari yang namanya berusaha, tak terasa waktu menunjukan pukul 5 petang. Aku meminta nomor ponselnya supaya kami bisa terus terhubung dan menjalin komunikasi, ia mengeluarkan selembar kertas dan menuliskan nomor ponselnya di atas kertas itu dengan benda kesayangannya.

Ya, pena kelabu. Pena pemberian sang ayahnya, pena yang menjadi saksi bisu atas segala kerja kerasnya, pena yang menjadi keberhasilan dan kesuksesan nya saat ini, pena yang selalu menemani Ria.

Hanya karena sebuah pena kelabu, seorang Camelia rianti dapat mengenyam di bangku pendidikan S2 yang berada di universitas Waseda, Jepang. Dan, karena pena kelabu itulah aku tahu apa artinya perjuangan, semangat dan tekad. Kita bisa belajar dari pena, bahwa kemauan kitalah dan jalan kita yang menentukan apa yang akan kita capai.

Pena hanyalah sebuah benda, yang di mana mengikutin kemauan sang pemilik. Kita bisa menggunakan pena untuk menulis atau menggambar, membuat karya atau coretan, di simpan atau di buang, di mainkan atau di pakai. Semua itu tergantung pilihan kita, kita yang memulai kita juga yang akan mengakhiri.

Ria bangkit dari duduknya, memberikan keras itu kepadaku yang aku terima dengan baik,

“Ra, aku pulang dulu ya. Terima kasih karena atas dirimu yang membelikan ku buku tempo lalu, membuat aku bisa mengenalmu dan berbagi kisah ku. Semoga apa yang kau impikan terwujud, kuharap tuhan mempertemukan kita kembali. Aku duluan, bye” pamitnya, aku pun membalasnya dengan senyuman dan lambaian tangan,

“iya hati hati Ria” ucapku, mataku kembali menatap kertas yang Ria berikan’

Pertemuan singkat, ya memang sangat singkat bagiku yang baru bertemu dengannya setelah sekian lama. walaupun singkat, aku sangat bersyukur karena jalan yang kupilih tempo lalu. Membuat seorang Allara Abigail andythama memiliki sahabat yang baik, semoga jalanku yang ku ambil ke depannya tidak salah.

Terima kasih tuhan, karena engkau telah mempertemukan ku dengan orang yang tepat. Membuatku tersadar  mempermudah orang untuk menuntut ilmu adalah perilaku yang mulia, karenanya aku memiliki tujuan yang harus aku penuhi. Membuat sekolah untk anak anak yang tidak mampu dan anak anak penyandang cacat.

Semua perilaku pasti ada konsekuensi, dimana adanya sebab dan akibat, seperti pena kelabu apapun tergantung dirimu.

(Visited 4 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan