ATHFALUNA NOOR INAYAH_MIMPI ANAK BANGSA DI MASA PANDEMI COVID-19_SMPN 1 SAGALAHERANG

FOTO-ATFAL.jpeg

MIMPI ANAK BANGSA DI MASA PANDEMI COVID-19

Saat ini, dunia sedang kewalahan karena pandemi Covid-19. Berbagai media berlomba lomba memberikan perkembangan virus ini. Aktivitas masyarakat pun secara terpaksa harus berhenti karena terhalang penularan virus yang sangat cepat, namun virus yang seperti apa yang sebenarnya Covid-19 ini. Covid-19 adalah virus yang dapat di temukan pada manusia dan hewan ketika terpapar virus ini gejala yang di namakan mirip dengan flu biasa, Bahkan bisa saja tidak menimbulkan gejala apa pun.

Di tetapkan sebagai pandemi berita tentang virus Covid-19 mulai menjadi momen yang sangat mengerikan bagi masyarakat seluruh dunia. Di mulai dengan pasien yang sangat banyak menyebarkan ketakutan di berbagai lapisan masyarakat. Mengetahui penularan dapat di antisipasi salah satunya dengan masker dan pembersih tangan. Lalu masyarakat berbondong – bondong untuk menimbun kedua barang tersebut. Alhasil harga barang tersebut semakin naik karena langka. Begitulah peran media dalam menggiring dan mempengaruhi perilaku masyarakat.

Orang pertama yang terkena virus Covid-19 ada di kota Bogor provinsi Jawa Barat. Waktu itu masyarakat harus tetap di rumah dan tidak boleh keluar rumah jika tidak ada yang penting, lalu masyarakat di suruh mematuhi protokol 3M memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

Saya dan keluarga pun ikut panik karena kota Bogor dekat dengan kota yang saya tempati yaitu kota Subang. Saat itu sekolah mulai tutup dan belajar daring atau menggunakan internet, karena kalau sekolah di buka akan ada kerumunan yang mengakibatkan gampangnya virus tercemar. Covid-19 datang ketika saya kelas 6 SD, waktu itu saya kelas 6 semester 2. Dulu… Saya mempunyai cita – cita menjadi seorang Dokter, karena saya ingin menolong orang yang sakit.

Tapi lama kelamaan cita – cita saya berubah ubah. Semenjak ada Covid-19 saya belajar agak sulit karena harus memakai internet, sinyal pun kadang ada kadang tidak ada. Tapi saya tetap semangat belajar karena saya ingin menggapai cita – cita saya.  Hari ke hari kasus Covid-19 semakin meningkat dan masyarakat mulai terkena virus sampai meninggal dunia. Rumah sakit pun sampai penuh dan yang punya penyakit biasa pun tidak boleh ke rumah sakit karena banyak pasien yang terpapar Covid-19. Karena kasus Covid-19 meningkat gedung – gedung pun di jadikan rumah isolasi atau rumah sakit sementara.

Begitu pula anak gadis yang sedang kebingungan memikirkan tugas – tugas dan tugas, setiap hari dia selalu tidur dan tidur.

Tuk-tuk-tuk…..

Ternyata ibu Siti mengetuk pintu kamar Siti.

“Siti!!! Bangun, sudah siang kamu masih tidur!” ibu siti marah kepada Siti. Lalu Siti bangun dengan mata yang masih ter tutup dan menguap, “iya ibu,” sahut Siti. Ibu Siti langsung membuka jendela agar sinar matahari masuk ke kamar. Siti bangun lalu meminum air putih dan pergi ke kamar mandi, ketika siti mandi ibu siti membereskan tempat tidur siti yang berantakan itu. Sesudah itu ibu siti keluar kamar Siti dan mengerjakan pekerjaan lain.

Siti pun sudah siap untuk sekolah Online karena sekolahan Siti belum di buka. Ibunya Siti menyiapkan sarapan untuk di makan oleh Siti karena di rumah hanya ada mereka berdua. Ayahnya sedang kerja di luar kota jadi tidak bisa bertemu dengan Siti.

“Siti ini sarapannya” kata ibu, “ iya ibu, Terima kasih.” ucap Siti.

Lalu siti melanjutkan belajar sambil sarapan.  Siti bertanya kepada ibunya, “Ibu, kenapa ayah tidak pulang?” siti bicara. “ayah masih kerja,” ucap ibu. “ya sudah ibu” kata siti. Siti melanjutkan belajarnya.

Siti sudah selesai belajar, lalu Siti melihat ibunya sedang kelelahan mengerjakan pekerjaan rumahnya. “ibu istirahat saja, biar siti yang melanjutkan,” ucap siti, “tidak apa-apa Siti biar ibu saja yang mengerjakannya” kata ibu. Tapi siti tetap membantu ibu.

“ibu….. Kalau cape istirahat saja, jangan dipaksakan nanti ibu sakit” ucap Siti dengan tatapan penuh cinta. “iya Siti, Ibu menjawabnya.

“ya sudah ibu istirahat saja,” ucap Siti.

“Siti ibu istirahat dulu,” jawab Ibu yang terlihat lelah.

“iya ibu,” Siti menjawab dengan rasa tenang.

Sini mulai menyapu dan mengepel, hari pun mulai siang. Ibunya Siti langsung memasak untuk makan siang, setelah itu ibu memanggil Siti.

“Siti……. mari kita makan siang dulu,” kata ibu

“iya ibu,” Siti menjawab sambil bergegas menemui ibunya.

Siti dan ibunya melanjutkan makan. Sudah itu mereka berdua tidur, ketika hari mulai sore Siti mengajak ibunya jalan-jalan sore mengelilingi kebun dan sawah karena rumahnya berada di perkampungan.

“ibu, kita jalan-jalan sore yuk ibu?” kata Siti

“ayoooo, ibu sudah lama tidak jalan-jalan sore,” ucap ibu dengan penuh semangat.

Lalu siti keluar rumah dan ibu masih di dalam, kemudian terdengar teriakan ibu dari dalam “Siti…., jangan lupa pakai maskernya” kata ibu, “iya ibu siti sudah bawa masker”.

Ibunya siti membuka pintu.

“ayo siti kita berangkat,” ucap ibu yang tampak bahagia.

“ayo ibu,” kata siti.

Siti dengan ibunya langsung jalan-jalan sore mengelilingi kebun dan sawah.

“wah…. Bagus sekali pemandangannya yaaaa?,” kata ibu dengan muka yang berseri. “iya ibu bagus sekali,” Siti menjawabnya dengan wajah yang penuh makna.

Kebetulan kota Subang itu banyak sawah dan perkebunan, di kota inilah Siti dilahirkan dan di besarkan, Siti sangat bangga bisa lahir di kota ini.

“ibu cape tidak?”

“alhamdulillah tidak siti”

Ibu dan Siti melanjutkan perjalanannya, lalu Siti dan ibunya pulang ke rumah karena hari mulai malam. Sesudah sampai di rumah siti dan ibu langsung mandi supaya tidak membawa virus ke dalam rumah.  Sesudah mandi ibunya Siti langsung memasak lagi, karena Siti lapar pulang jalan-jalan.  “ibu masak apa?” ucap Siti. “ibu masak makanan kesukaan kamu Siti” kata ibu.  Lalu Siti menonton film kesukaannya.

“Siti ayo kita makan dulu” kata ibu .

“iya ibu” siti menjawab sambil bergegas menghampiri ibunya.

Siti dan ibunya makan dengan lahap. Sudah makan mereka mengobrol,

“Siti bagaimana sekolahmu?” ucap ibu

“sama saja ibu seperti sekolah biasa tapi ini menggunakan internet, jadi lebih sulit” jawab siti. “ya Sudah sabar dulu saja, semoga pandemi ini cepat selesai” . Siti pun mengangguk.

Hari pun mulai malam mereka berdua lalu tidur, pagi pun tiba. Seperti biasa bangun tidur Siti langsung mandi dan ibunya sedang memasak untuk sarapan. Sesudah mandi Siti melihat di internet ada kabar bahwa kotanya itu zona merah seperti di Jakarta. Siti langsung memanggil ibunya.

“ibu…….” ucap siti. “ada apa siti? Kenapa?” jawab ibu

“ ibu kota sSubang zona merah ibu jumlah kasus pandemi meningkat di kota Subang” kata Siti. “lalu bagaimana dengan sekolah?” kata ibunya.

“terpaksa sekolah harus tetap di tutup dan belum boleh di buka”.

Mereka berdua memikirkan bagaimana nasib ayahnya karena tidak bisa bertemu.

“ibu ini ayah mengirim pesan, katanya tidak bisa pulang” kata Siti dengan nada sedih

“tidak apa-apa, asal ayahmu baik-baik saja” jawab ibu dengan raut muka yang tetap tenang.

Ya, benar apa adanya. Kita telah berusaha semampu kita, hasilnya kita serahkan pada tuhan yang maha kuasa.

 

(Visited 14 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan