ATHFALUNA NOOR INAYAH_HIDUP BERSIH? SIAPA TAKUT!_SMPN 1 SAGALAHERANG

FOTO-ATFAL.jpeg

Siang itu matahari menampakan dirinya, memperlihatkan sinarnya yang terang dan hawanya yang panas. Seorang anak laki laki yang sedang menonton televisi pun turut merasakan panasnya, ia bangkit untuk mengambil minuman di lemari pendingin.

Tingtong,,, tingtong,,,,

Bunyi bell terdengar, anak itu pun berjalan untuk membukakan pintu, tak lupa minumannya ia simpan di atas meja.

“ayah?? Katanya akan pulang besok?” . ujar anak laki laki tersebut, sang ayah hanya terkekeh dan mengelus rambut anak tunggalnya itu.

“Supaya ayah ngasih kejutan buat Andi” balas ayahnya, Andi pun tersenyum lalu berlari dan duduk di depan televisi, di ikuti oleh sang ayah lalu duduk di samping Andi,

Pemirsa,,

Setelah dilakukan pemeriksaan dan adanya hasil penelitian, ternyata virus yang bernama covid-19 ini dapat menular, dan penularannya tersebut dapat ditularkan melalui udara, air liur dan juga bersentuhan dengan orang yang terinfeksiatau terjangkit virus ini.

Masyarakat di himbau agar jaga jarak, selalu memakai masker bila berpergian, dan rajin mencuci tangan. Alamgkah baiknya jika masyarat supaya diam di rumah dan tidak beraktivitas dengan orang banyak.

Saya susi anastasya melaporkan.

Begitulah ucap pembawa berita yang di siarkan di acara breaking news, tentang pandemi yang datang akibat adanya virus covid-19,

“Ayah kenapa bisa virus menyebar melalui udara?” Tanya Andi penasaran atas apa yang ia lihat di televisi,

“karena virus itu kecil dan tidak bisa di lihat oleh mata telanjang, membutuhkan alat yang bisa melihat sesuatu yang kecil. Karena itu kita harus menjaga kebersihan, dan meningkatkan imunitas tubuh kita Andi” jelas ayah demham semyum simpulnya.

“tapi ayah, kita kan sudah hidup bersih. Tangan Andi juga sudah bersih tidak perlu cuci tangan”. ujar Andi yang di balas gelengan maklum oleh ayahnya,

“eitsss, Andi harus selalu cuci tangan karena virus itu tidak terlihat. Kalau andi tidak cuci tangan, berarti Andi memakan beribu ribu virus dan kuman. Coba Andi bayangin, di perut Andi terdapat pasukan kuman dan virus yang bisa membuat Andi sakit. Memangnya Andi mau?” terang ayah dengan perumpamaan supaya Andi mengerti, dengan polosnya Andi menggelengkan kepalanya kuat kuat yang membuat sang ayah terkekeh.

“nah, karena sekarang sudah malam. Jagoan ayah harus sudah berada di atas singgasananya, siap jagoan? Mari kita cuci muka,tangan dan kaki, tak lupa gosok gigi”. Ajak ayah karena melihat jam telah mennjukan pukul tujuh malam,

Selesai dengan aktivitas sebelum tidurnya Andi pun beranjak ke kamarnya, Ratih sang bunda menghampiri Tyo. Mereka berdua pun pergi ke ruang keluarga untuk sekedar berbincang bincang sebelum terjun ke alam mimpi.

“akibat pandemi, harga bahan dapur ikutan naik. Belum lagi gas yang susah di dapat” keluh ratih pada Tyo, “ya, mau bagaimana lagi bun. Namanya juga kebutuhan, mereka yang berjualan pasti akan menaikan harga” tanggap Tyo pada sang istri,

“Belum lagi jika beraktivitas keluar kita terbatas, harus jaga jaraklah, pakai masker lah, bawa handsanitizer lah, makin ribet” protes Ratih tak terima dengan keadaan pandemi virus saat ini,

Tyo hanya menghela nafas “namanya kita itu berusaha bun, lagian tidak ada salahnya. Apa yang di himbau oleh pemerintah juga ada untungnya buat kita. Memangnya bunda mau terjangkit kalau tidak mengikuti protokol kesehatan?” Tanya Tyo pada akhirnya, yang di balas gelengan oleh Ratih.

Lagi dan lagi layar televisi meampilkan sosok pemuda memakai jas putih lengkap dengan sarung tangan dan maskernya,

 

total pasien yang terjangkit ada sekitar 457 orang, sedangkan pasien meninggal dunia berjumlah 538 orang, total semua saat ini adalah 995 orang.

Untuk kedepannya kami para dokter dan perawat menghimbau agar masyarakat mengikuti protokol kesehatan yang berlaku, untuk membantu penyebaran virus covid-19 yang tiap hari semakin mengganas dan menambah korban.

Bagi masyarakat yang tidak berkepentingan diamlah di rumah dan bagi yang berkepentingan saya himbau sekali lagi patuhi protokol kesehatan, karena bukan hanya anda yang tidak ingin tertular atau terjangkit, melainkan kita semua. Ingat patuhi protokol kesehatan.

Sekian terima kasih

 

Siaran tersebut berganti dengan tayangan iklan.

“nah bun, sekarang sudah jelaskan apa pentingnya mengikuti protokol kesehatan?” Tanya Tyo pada Ratih, yang di Tanya pun mengangguk faham lalu menoleh kepada Tyo,

“Lalu kita bagaimana? Tidak boleh keluar rumah, apa yang harus di lakukan di dalam rumah? Andi juga pasti bosan lama lama” Papar Ratih, Tyo pun tersenyum sedikit berdehem.

“maka dari itu bun, hitung hitung kumpul keluarga. Lagian kita jarang bisa kumpul kaya gini, kita jadikan ajang pembelajaran untuk saling mengenal satu sama lain. Apalgai dengan adanya kita di rumah, kita bisa memantau perkembangan Andi secara langsung. Dan itu pasti akan lebih menyenangkan” usul Tyo kepada Ratih,

“Nah sekarang saat kita tidur bun, daripada pusing mikirin gimana hari esok. Lebih baik kita berkelana di alam yang taka da ujungnya” canda Tyo yang berhasil membuat Ratih tertawa, dan seperti apa yang Tyo ucapkan tadi. Kedua insan itu pun pergi ke alam mimpinya masing masing.

Sinar mentari menerobos masuk melalui jendela, membangun anak laki-laki berumur 5 tahun itu, Andi. Ia beranjak turun dari kasurnya, berjalan ke kamar mandi untuk memulai rutinitasnya di hari ini. Gemericik air menandakan bahwa ia sedang melaksanakan ritual di pagi harinya.

“Bunda!!! Andi sudah selesai mandinya” teriak Andi menghampiri Ratih yang sedang menyiapkan makanan kesukaan anak laki laki itu, nasi goreng. Tyo pun turut hadir dalam sarapan mereka pagi ini,

“pagi jagoan ayah, pagi pagi sudah rapih nih. Makin ganteng kamu” sapa Tyo pada Andi, sedangkan Andi tersenyum lebarr mendengar pujian ayahnya.

“Hari ini sampai seterusnya ayah sama bunda bakal ada di rumah nemenin Andi” lanjut Tyo, binar kesenangan terlihat jelas di mata Andi membuat Ratih terkekeh dan tersenyum bahagia, ia menyimpan dua piring nasi goreng untuk Tyo dan Andi dan satu untuk dirinya.

“wahhhh Andi seneng banget yah, bun. Andi gak sabar main basket di taman belakang sama ayah juga belajar menghitung bareng bunda” celoteh Andi semangat, benar apa yang Tyo katakan.

Dengan adanya pandemi ini, bisa kita jadikan ajang untuk berkumpul bersama keluarga, istirahat dari sibuknya kerja, ingat dengan sanak saudara, juga bisa membantu orang tua.

Setelah selesai sarapan, Andi mengajak Tyo untk bermain basket di halam belakang. Di dampingi Ratih yang menyiram bunga di dekat gazebo, Andi dan Tyo yang melihat itu pun membantu Ratih. Tyo yang membersihkan kolam renang sedangkan Andi membantu sang Ayah membawakan tempat sampah untuk membuang daun daun yang mengambang di atas kolam renang. Ya, bahagia tidak harus dengan kemewahan, melakukan hal sederhana dengan hati yang penuh akan menimbulkan rasa bahagia.

(Visited 4 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan