PERSAHABATAN YANG INDAH_LIA RAHMAWATI_SMPN 2 SUBANG

WhatsApp-Image-2021-04-19-at-11.57.03.png

PERSAHABATAN YANG INDAH

Oleh : Lia Rahmawati

 

      Aku Nazwa, aku sangat beruntung mempunyai sahabat yang tulus membantu dan selalu ada untukku, kami melewati suka duka bersama. Saat suatu itu aku dan sahabatku berantem dengan hal sepele, baru aku sadari sahabatku sangat penting bagiku. Suatu hari aku dan sahabatku sedang melalukan tugas bareng di rumah aku sendiri saat itu rumah aku sepi, orang tua aku sedang pergi ke pasar. Suatu ketika Nazwa lupa membawa pensil untuk mengerjakan tugas, aku pun meminjam ke sahabtku,  “hai aku boleh minjem pensil? karna aku lupa untuk membawa pensil” Kata Nazwa. “tentu saja kamu boleh meminjem pensil punyaku” Kata ku. “terimakasih sahabtku kamu memang sahabat paling pengertian.” Jawabnya. “hahaiya lah aku memang sahabat tugas nya saling membantu.” Jawab nya. sembari tersenyum sambil berpelukan. “kamu haus ga? atau laper? Tanya nya. “haus sih laper juga boleh ga? Jawabnya sembari ketawa. “yaudah ayo aku ambilin deh kamu tunggu sini ya, mau sama apa? atau samain aja kaya aku? Jawabnya sembari berangkat ke dapur untuk mengambil makanan. “yaudah sama in aja dah” Ucapnya. Saat selesai makan mereka melanjutkan untuk mengerjakan tugas-tugas nya agar cepat selesai.

      Aku yang sudah menulis tetepi Nazwa yang sibuk mencari sesuatu. “kamu lagi cari apa Nazwa?” Tanya nya. “aku lagi cari pulpen punya kamu yang di kasih pinjem barusan, tapi aku udah nyari ga ketemu. Apa hilang?” Jawab nya. “ah kamu sih jorok!  kalo ilang gimna? karna yang aku kasi pinjem itu pensil baru dan bagus yang kemarin di beliin mamah aku!” Tanya lagi sembari marah. “yaampun maafin aku, aku gatau kalo pensil itu baru yang di kasih mamah kamu! aku minta maaf! Jawab nya. “apa minta maaf? kamu pikir dengan minta maaf barangku bisa kembali? engga kan? seenaknya aja kamu minta maaf” Jawabku dengan kesal, lalu tanpa basa basi aku meninggal nya ke luar rumah. Dia pun pergi pulang tanpa di suruh karna Nazwa merasa bersalah atas apa yang di perbuat.

      Keesekan hari nya dia datang ke rumahku dan dia membawa pensil yang persis saat dia minjam pensilku, tetapi tetap saja aku menghiraukan nya. Maka setelah beberapa lama, aku sadar bahwa hal yang aku perbuat itu salah, dan aku tersadar betapa egoisnya aku. Aku pun langsung meminta maaf.

 

Subang,  April 2021

(Visited 3 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan