Mewujudkan Keinginan Sederhanaku_YOSTRA FAUZAN ZULFAN_SMPN 2 SUBANG

YOSTRA.jpeg

Mewujudkan Keinginan Sederhanaku

Oleh: Yostra Fauzan Zulfan

 

Namaku Sarah, aku duduk di kelas 1 SMP. Bapakku bekerja di luar kota, dan ibuku sering pergi keluar rumah bersama teman-temannya. Jadi aku selalu menghabiskan waktuku di rumah sendirian. Hak anak kepada orang tuanya yaitu mendapatkan kasih sayang, tetapi aku jarang merasakan hal itu dari kedua orang tuaku karena mereka selalu sibuk dengan urusannya masing-masing. Mereka bilang aku sudah dewasa, tetapi tetap saja aku pun membutuhkan kasih sayang dari mereka. Aku ingin sekali mendapatkan perhatian dari kedua orang tuaku.

 

Pagi hari, Aku terbangun dengan perasaan senang karena hari ini adalah hari libur akhir semester, aku berharap kedua orang tuaku mengajakku pergi jalan-jalan walaupun aku tahu hal itu sangat sulit terjadi. Tetapi aku selalu menghibur diriku sendiri dengan cara membayangkan aku pergi jalan-jalan bersama orang tuaku. Aku turun ke bawah untuk sarapan, dan harus memasak sendiri karena ibuku tidak lagi memasak makanan untukku sejak aku mulai masuk SMP. Ibu bilang aku sudah dewasa, jadi aku harus hidup mandiri. Setelah sarapan, aku langsung pergi ke kamarku untuk membaca buku. Aku suka sekali membaca buku dari aku kecil hingga sekarang. Oleh karena itu, membaca adalah hobiku. Selesai membaca, aku pun tertidur lelap di kamarku.

 

Beberapa jam kemudian, aku pun terbangun. Tak terasa sudah sore hari. Kulihat jendela, matahari mulai tenggelam. Aku langsung turun ke bawah dan menuju kamar orang tuaku, tetapi tidak ada orang di sana yang artinya mereka belum pulang ke rumah. Lalu aku pergi mengambil camilan dan menonton televisi di ruang keluarga sambil menunggu orang tuaku. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, lalu aku pun membukanya dan ternyata itu adalah ibuku, “Eh Sarah, kamu belum tidur?” tanya ibuku. “Belum, Sarah lagi nonton televisi” jawabku. “Ya sudah ibu mau tidur ya, ibu cape” kata ibuku, lalu ibu pun pergi meninggalkanku dan menuju kamarnya. Tadinya aku ingin sekali mengajak ibuku menonton televisi, tapi karena ibu kelelahan jadi aku mengurungkan niatku. Aku pun melanjutkan menonton televisi sendirian hingga aku tertidur.

 

Keesokan harinya, aku dibangunkan oleh ibuku. “Sarah, ibu mau pergi dulu sama teman-teman ibu, terus tadi bapak telepon ibu katanya bapak baru bisa pulang besok. Kamu baik-baik ya di rumah jangan main, diam saja di rumah” kata ibuku dan aku pun mengangguk. Setelah ibuku berangkat, aku pun menuju kamarku untuk mengambil buku dan membacanya di ruang keluarga sambil menonton televisi. Beginilah keseharianku, tidak ada orang yang menemaniku di rumah. Aku mempunyai keinginan sederhana yang sampai saat ini belum Tuhan kabulkan, yaitu aku ingin pergi jalan-jalan bersama kedua orang tuaku ke Alun-alun Subang. Banyak orang bilang, Alun-alun Subang adalah tempat yang indah dan juga terdapat banyak pepohonan besar yang membuat tempat tersebut terlihat lebih asri dan rindang. Aku sangat penasaran akan hal itu, dan ingin sekali pergi bermain di sana bersama kedua orang tuaku. Jadi aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar suatu hari nanti bisa pergi ke Alun-alun bersama kedua orang tuaku. Selesai membaca, perutku terasa lapar sekali. Aku pun pergi ke dapur untuk makan. Selesai makan, aku langsung mandi lalu membersihkan rumah agar ketika orang tuaku pulang, rumah sudah terlihat bersih. Jadi ibuku tidak perlu membersihkan rumah, karena aku tahu ibu pasti kelelahan setelah pergi bersama teman-temannya.

 

Tak terasa jam menunjukkan pukul 7 malam. Selesai membersihkan rumah, aku pergi ke warung membeli beberapa bahan masakan untuk aku dan orang tuaku makan malam. Setelah itu, aku pun kembali pulang ke rumah dan langsung pergi ke dapur untuk memasak. Selesai memasak, terdengar suara pintu terbuka, lalu aku langsung berlari melihat siapa yang datang. Rupanya bapakku baru pulang dari luar kota, “Ibu ke mana? Belum pulang?” tanya bapak padaku. “Belum pak” jawabku. Terlihat wajah bapak yang kelelahan karena pekerjaannya, lalu bapak pun pergi ke kamar untuk tidur. Tak lama kemudian, ibu pun pulang, “Sarah, bapak udah pulang belum?” tanya ibu padaku. “Sudah bu, sekarang bapak ada di dalam kamar” jawabku. “Ya sudah kamu pergi sana tidur, sudah malam ini” perintah ibuku lalu meninggalkanku. Padahal aku sudah membuatkan makanan untuk mereka dan aku ingin sekali makan malam bersama mereka, tetapi sepertinya mereka butuh istirahat karena kegiatan mereka hari ini, jadi aku seperti biasa makan sendirian. Selesai makan, aku langsung pergi ke kamarku, lalu membaca buku hingga larut malam.

 

Keesokan harinya, aku terbangun disiang hari karena aku tidur larut malam. Aku langsung turun ke bawah dan di sana sudah ada ibu dan bapakku. Aku pun segera menghampiri mereka, “Bu, Pak, bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan ke Alun-alun, kita kan belum pernah ke sana bersama. Kata teman-teman Sarah, di sana tempatnya sejuk dan indah” ajakku kepada orang tuaku. “Nanti ya Sarah, bapak lagi sibuk kerja” kata bapaku. “Iya sayang, ibu juga lagi sibuk” sambung ibuku. “Oh ya sudah, nanti kalau bapak sama ibu sudah tidak sibuk, kita pergi ke sana ya” kataku kepada mereka, tetapi tidak ada yang menjawabnya. Lalu ibu dan bapakku seperti biasanya pergi keluar karena urusannya masing-masing, tinggal aku sendirian di rumah. Perutku terasa lapar, aku pun langsung menuju meja makan, dan kulihat tidak ada makanan di sana. Aku pun pergi keluar berjalan kaki untuk membeli makanan. Sesampainya di tempat makan, aku langsung memesan makanan lalu meminta untuk di bungkus karena aku akan memakannya di rumah. Setelah membayar, aku pun berlari menuju rumahku. Di luar sangat panas, jadi aku berlari sekuat tenagaku dan tiba-tiba ada motor yang melintas sangat kencang lalu menabrakku yang sedang berlari. Kepalaku terasa pusing dan aku pun terjatuh pingsan. Aku mendengar samar-samar suara warga berteriak, lalu segera menolongku. Setelah itu, aku tidak tahu apa yang terjadi padaku.

 

Aku terbangun dari tidurku. Kulihat kasur tidurnya berbeda dengan yang di rumahku, ternyata aku sedang di rumah sakit. Lalu ibu menghampiriku sambil menangis dan menceritakan apa yang terjadi padaku. Dokter pun datang, lalu memberitahu bahwa aku harus menggunakan kursi roda untuk sementara waktu, karena ada tulang kakiku yang patah. Tak lama kemudian, bapak pun datang ke rumah sakit dan langsung memelukku. Aku pun sangat senang karena ini pertama kalinya aku di peluk oleh bapakku ketika dewasa, karena aku hanya merasakan pelukan bapakku ketika aku masih kecil. “Sarah, kamu baik-baik aja kan?” tanya bapakku penuh kekhawatiran. “Sarah baik-baik aja pak. Kata dokter, Sarah harus pakai kursi roda untuk sementara waktu, karena ada tulang kaki Sarah yang patah” kataku. Mendengar hal itu, bapak pun menyemangatiku. Lalu ibu pun menyuruhku untuk segera tidur. Setelah aku tertidur, ibu dan bapak pun mengobrol, “Pak, gimana kalau besok kita pergi jalan-jalan bersama Sarah ke Alun-alun. Sarah pasti senang soalnya dia kan selalu ingin pergi ke sana” kata ibuku, dan bapak pun menyetujuinya.

 

Keesokan harinya, ibu membangunkanku dan membantuku untuk bersiap-siap karena hari ini aku diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Selesai bersiap-siap, bapak langsung membawa barang-barangku ke dalam mobil dan ibu membantuku menaiki kursi roda, lalu kami pun pergi dari rumah sakit. Di perjalanan pulang, aku terheran karena bukannya pergi pulang rumah, tetapi kami sedang menuju ke suatu tempat. Aku pun bertanya kepada kedua orang tuaku tetapi mereka menjawabnya dengan “lihat saja nanti” yang membuatku semakin penasaran. Beberapa menit kemudian, aku terkejut karena kami pergi ke Alun-alun Subang. Aku pun terheran dan bertanya kepada orang tuaku kenapa kita pergi ke sini. “Sarah, kamu kan ingin sekali pergi ke sini bersama ibu dan bapak, jadi kami menuruti keinginan yang selama ini kamu harapkan, maafkan ibu dan bapak ya karena terlalu sibuk dengan urusan luar jadi kurang memperhatikan kamu” kata ibuku sambil menangis, lalu mereka pun memelukku. Setelah itu, kami pun berjalan-jalan di kawasan Alun-alun. Di sini sangat ramai pengunjung, dan aku pun sangat senang karena Tuhan akhirnya mengabulkan permintaanku. Setelah berkeliling, perut kami terasa lapar. Kami lihat banyak sekali tukang jualan yang menghiasi pinggiran kawasan Alun-alun, lalu kami pun segera membeli makanan di sana. Selesai makan, perutku terasa kenyang sekali karena membeli banyak makanan. Setelah itu, Aku pun mengajak kedua orang tuaku untuk mengunjungi satu tempat lagi, yaitu Wisma Karya Subang untuk berfoto di sana, karena di sana tempatnya yang sangat indah. Orang tuaku pun menyetujuinya dan kami pun langsung menuju ke sana. Sesampainya di sana, kami pun sangat takjub akan keindahan Wisma Karya, tempat yang dimiliki Kota Subang. Lalu kami pun berfoto-foto di sana. Terdapat air pancuran yang memperindah kawasan Wisma Karya ini. Lalu aku pun melihat di seberang sana ada patung sisingaan yang melambangkan kesenian khas Kota Subang, dan tak lupa aku pun memotretnya karena patungnya yang sangat indah.

 

Setelah berfoto-foto, kami pun duduk dan beristirahat karena kelelahan. Lalu aku pun memeluk kedua orang tuaku dan berterima kasih kepada mereka karena telah mewujudkan keinginanku. Orang tuaku sangat bahagia, karena mereka baru pertama kalinya melihatku sebahagia ini. Mereka pun sangat menyesal karena mereka terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing. Lalu mereka kembali menangis dan meminta maaf sambil memelukku dengan erat. Aku pun segera menghapus air mata yang mengalir di wajah mereka, “Bapak sama ibu kenapa menangis? Sarah sudah memaafkan bapak dan ibu dari jauh hari, dan juga tidak ada yang perlu disesali” kataku. Mereka pun tersenyum melihatku yang sudah mulai tumbuh dan berpikiran dewasa. Lalu kami pun berfoto bersama untuk dijadikan kenangan. Matahari pun mulai tenggelam, dan bapak menyuruh kami untuk segera pulang dan beristirahat. Lalu kami pun masuk ke dalam mobil, dan kami pun pergi pulang ke rumah.

 

Subang,  April 2021

(Visited 9 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan