Sesal yang Kekal_M. Fitra Fadhillah A_SMPN 1 Cipeundeuy

SESAL YANG KEKAL

Oleh M. Fitra Fadhillah Alathas

SMPN 1 Cipeundeuy

Matahari menyembul dari ufuk timur. Cahayanya yang hangat menyelimuti seluruh bumi pertiwi. Sebuah rumah kecil dengan taman yang mengelilinginya tak luput dari cahayanya. Sinar merambat perlahan, lalu menjangkau sebuah jendela bertirai biru tipis.

Jaka terbangun ketika merasakan cahaya hangat itu menyinari tepat di wajahnya. Kelopak matanya terbuka. Tubuhnya terasa begitu lelah karena semalam suntuk mengikuti acara syukuran atas kepulangan bundanya dari luar negeri.

Namun rasa lelah itu perlahan sirna mengingat pagi ini bunda akan menyambutnya dengan menu sarapan spesial. Jaka bangkit dari ranjangnya, lalu melangkah menuju kamar mandi.

“Pagi, Bunda.” Sapa Jaka saat melihat bundanya sibuk di dapur.

“Pagi, juga.” Bu Eni menatap putra tunggalnya itu sekilas sembari mengulas senyum. “Mbok yo keringkan dulu itu wajahmu.”

Jaka cengengesan, tangannya menggaruk kepala yang tidak gatal. “Sengaja, biar diomelin Bunda. Soalnya kan nggak akan lama di sini.”

“Kamu ini ada-ada saja.” Bu Eni tak menyadari tangannya berhenti ketika mencerna kalimat yang dilontarkan putranya. Ia rasakan matanya mulai basah, namun dalam sekejap ia mengendalikannya. Air mata itu masuk kembali, tangannya mulai kembali mengaduk nasi goreng buatannya.

Jaka sempat melihat wajah itu. Wajah dengan kesedihan yang mendalam, lalu dalam sekejap terganti oleh senyum palsu yang kentara. Ia menyesal telah mengucapkan kata-kata tadi, berharap waktu bisa diulang dan ia takkan mengeluarkan serangkaian kata-kata itu.

Untuk mengalihkan keheningan yang ada, bunda meminta Jaka membangunkan ayah yang masih tertidur pulas di kamar. Jaka menurut. Ia melangkah dan baru berhenti di depan sebuah pintu berwarna putih pucat. Setelah mengetuk dan menunggu beberapa saat namun tak mendapat jawaban, ia membuka pintu perlahan.

Ayah masih tertidur pulas dengan suara dengkuran yang memekakan telinga. Pelan, Jaka menepuk bahu ayahnya. “Yah, bangun. Sarapan.”

“Hmm?” Ayah belum membuka matanya.

“Yah, bangun. Udah pagi.”

Ayahnya masih terlelap, dengkurannya malah semakin keras.

Jaka memikirkan suatu ide, lalu menemukannya. “Gempa, Yah! Bangun!” Teriak Jaka. Sontak mata ayah terbuka lebar dan langsung bangkit dari tidur pulasnya. Matanya menerawang sekitar, ia tak merasakan guncangan sedikit pun. Pak Soni menatap anaknya yang tertawa terbahak-bahak. Saat itu ia menyadari bahwa Jaka telah mengerjainya.

“Oalah, asem kamu! Tak kira gempa beneran!” Ayahnya menggerutu sembari melangkah keluar kamar dengan perut yang terus berbunyi. Jaka mengikutinya masih dengan tawa geli.

Nasi goreng buatan Bu Eni membuat Jaka dan Pak Soni makan dua kali lebih banyak. Semuanya tampak harmonis dan hangat, sehangat mentari pagi itu. Namun, siapa yang tahu bahwa Tuhan sudah merangkai serentetan peristiwa tak terduga bagi keluarga tersebut.

***

“Sebuah virus baru-baru ini ditemukan di kota Wuhan, China. Masih diselidiki siapa saja orang yang kontak langsung dengan pasien. Pemerintah mulai menutup bandara untuk sementara. Hal ini bertujuan guna mengurangi potensi penyebaran virus.

Terjadi keheningan beberapa saat setelah menyimak berita tersebut. Semua orang dalam satu kantor itu terdiam, tak ada yang berani membuka mulut sampai seorang lelaki bertubuh ramping yang sedari tadi sibuk dengan komputernya bicara.

“Pak, saya sudah temukan salah seorang WNI yang diduga membawa virus tersebut ke Indonesia. Ia bekerja tepat di Wuhan sebagai TKW dan sepertinya pernah kontak dengan pasien.”

Seorang lelaki bertubuh tegap menatapnya sebentar, “Dimana ia tinggal?”

“Di salah satu kota di Provinsi Barat, Pak.”

“Lacak lokasi tepatnya di mana, lalu kirim tim medis ke rumahnya sekarang juga. Beritahu pihak media, umumkan mulai hari ini, untuk sementara warga tidak boleh keluar rumah.”

“Baik, Pak Presiden.” Jawab seisi ruangan.

***

Di tempat lain, Jaka sedang meminta ijin kepada bunda. Hari ini ada janji tugas kelompok, jadi takkan bisa terus bersama bunda. Bu Eni mengijinkannya. Ia berhasil menyembunyikan rasa rindu yang mendalam di balik senyum simpulnya.

Setelah pamit, Jaka menaiki sepeda gunung lalu melaju di antara kompleks perumahan. Setelah melewati hutan kota, ia tiba di ujung gang. Sekarang, roda sepedanya menapaki aspal yang mulai menghangat oleh matahari pagi. Setelah sampai di rumah tujuan, ia memarkirkan sepedanya kemudian mengetuk pintu.

“Eh, Jaka, masuk-masuk.” Sang pemilik rumah mempersilakan masuk. Di rumah Putri ternyata sudah ada Qila dan Desy.

“Duo pelupa kemana?” Tanya Jaka sembari duduk dengan tas yang masih digendongnya.

“Hendra sama Doni lagi beli kertas karton sama lem. Biasalah, mereka lupa membawa bahan tugas kita.” Timpal Qila.

Baru beberapa detik berlalu, dua orang yang mereka bicarakan datang. Peluh mengalir di dahi sampai dagu keduanya, nafas mereka masih memburu.

“Panjang umur,” celetuk Desy yang sedari tadi diam.

“Oh … habis ngomongin kami, ya?” Ucap Doni.

“Sudah-sudah. Kita langsung mulai saja.” Lerai Jaka sambil membagi tugas kelompok. Sesekali ia membantu menggunting kertas. Desy dan Qila sibuk dengan spidol dan pensil warna. Putri fokus menulis beberapa artikel dan menempelkannya ke kertas karton. Sedangkan Hendra dan Doni asyik dengan ponsel mereka, memutar beberapa lagu kesukaanya diselingi lawakan yang membuat semuanya tertawa. Mereka berdua bisa saja disebut benalu dalam kelompoknya, namun setidaknya cukup bermanfaat karena telah menebar kebahagiaan.

Sayang, kebahagian itu tak berlangsung lama bagi Jaka. Ponsel Putri berdering, melantunkan irama lagu Location Unknown milik HONNE. Ia terkejut melihat nama ‘Om Soni’ tertera di papan panggilan. Untuk apa ayah Jaka meneleponnya? Putri memberikan ponsel itu pada Jaka, “Kayaknya ini buat kamu. Kamu nggak bawa hp?”

Jaka pun terkejut melihat nama ayahnya tertera di papan panggilan ponsel Putri. “Bawa kok,” ia mengecek ponsel di sakunya, ternyata mati. Menyadari ponsel Putri dalam genggamannya takkan lama lagi berdering, ia segera menggeser tombol telepon ke warna hijau.

“Jaka …” Terdengar suara ayah yang sarat akan pilu dan tergesa-gesa.

“I-iya, Yah?” Jawab Jaka gugup.

“Nanti kamu pulang ke rumah Pakde sama Bukde Hadi ya …” Ucap ayah.

“Tapi, kenapa, Yah?” Jaka teringat Ibunya. “Bunda kemana?”

Tak ada jawaban untuk sejenak. “Bunda terinfeksi virus yang ada di berita itu, Nak.” Jaka merasakan kepalanya mulai pusing. Ia menutup telepon, mengembalikan ponsel Putri, lalu keluar menerjang sepedanya. Semua temannya menatap heran.

“Jaka! Mau ke mana?” Seru Doni. Namun Jaka sudah hilang dari pandangan.

Jaka terus mengayuh sepeda. Ia tak hiraukan makian dan klakson dari berbagai orang yang dilewatinya. Bukannya pulang ke arah rumah Pakde dan Bukde, ia malah kembali ke rumah.

***

Jaka sampai di rumah tepat ketika dua mobil ambulans akan pergi dari sana. Ayah terkejut melihat kedatangannya. Saat ayah hendak menghampiri, Jaka berlari mencegat ambulans. “BUNDA!”

Kedua mobil itu berhenti. Seorang lelaki bertubuh besar keluar dari kursi ambulans. Matanya langsung menatap Pak Soni tajam. “Apa maksudnya ini? Katanya Bapak belum punya anak? Lalu siapa ini?”

Pak Soni diam seribu bahasa, kepalanya menunduk dalam. “Maafkan saya. Ini memang anak saya.”

Dengan satu isyarat jari dari lelaki bertubuh besar, beberapa orang berpakaian serba hitam turun dari ambulans kemudian mengelilingi Jaka. Lelaki tegap itu berkata, “Tes dia. Tanyakan siapa saja yang telah ditemuinya.” Ia memandang ambulans lain, lalu melambaikan tangan. Perlahan mobil pertama itu beranjak dari pekarangan rumah Jaka.

Tepat ketika ambulans pertama menjauh, mata Jaka menangkap wajah yang sangat dikenalnya. “Bunda!” Jaka berusaha mengejar ambulans namun gagal karena orang-orang tadi mencengkeram erat. Ia hampir terlepas dari cengkeraman mereka, namun mendadak tubuhnya terasa lemas. Jaka roboh dalam dekapan salah seorang pria berpakaian hitam. Sayup, Jaka mendengar ayahnya berteriak.

“Hei! Apa yang kalian lakukan pada Anakku?!”

“Tenang, pengaruhnya tak akan lama.” Si lelaki bertubuh tegap mencabut jarum suntiknya dari punggung Jaka.

***

Bu Eni terduduk di atas ranjang pasiennya. Ia melihat sekeliling, tampak dua orang yang bernasib sama sepertinya terpisah oleh sekat. Bu Eni bertanya-tanya apakah putranya baik-baik saja. Tiba-tiba seseorang dengan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap memasuki ruangan isolasi itu.

“Bu Eni, ada yang ingin bicara dengan Anda.”

Bu Eni berpikir sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia mengikuti langkah sang perawat. Tepat ketika ia sampai di sebuah koridor sepi, ia dapat melihat siluet putranya.

“Saya diperintah untuk terus memantau Ibu. Jadi, saya akan berdiri di belakang namun tetap menjaga jarak untuk memastikan saya tidak mendengar percakapan kalian.” Ucap perawat yang lebih mirip astronot itu.

Bu Eni mengangguk, lalu perawat itu mundur sejauh enam meter. Terjadi keheningan sebentar. Bu Eni mencari kehadiran suaminya, namun nihil. “Ayah mana, Nak?”

“Ayah ada di lobi. Jaka pengen ngomong sama Bunda berdua aja.” Tatapan putranya tampak hampa, sembari membetulkan posisi maskernya, ia melanjutkan, “Gimana keadaan Bunda sekarang?”

“Oh … baik. Jaka …”

“Kenapa Bunda nggak bilang pernah kontak dengan pasien?” Jaka memotong ucapan bunda. Suaranya begitu dingin sampai-sampai hati Bu Eni seolah membeku karenanya.

“O-oh, itu m-maaf.” Lidahnya kelu, tak tahu harus menjawab apa. “Bunda … cuma kangen sama kamu, Jaka.”

“Harusnya Bunda ngomong dari awal. Semua ini nggak akan terjadi kalau Bunda cerita. Ayah dan Jaka selalu terbuka untuk nerima semuanya.” Terdengar jelas kekesalan dalam suara Jaka.

Kelopak mata Bu Eni tak sanggup lagi menampung air matanya, satu tetes berhasil lolos. “Maafkan Bunda, Jaka … Ini semua memang salah Bunda.”

“Bunda egois.” Jaka melangkahkan kaki meninggalkan Ibunya yang menangis tersedu-sedu meratapi kerpergiannya. Jaka tak akan menduga penyesalan besar menyusul di kemudian harinya.

Tepat seminggu kemudian, Bu Eni menghembuskan nafas terakhir. Jaka yang sama sekali tak menyangka hal itu langsung pingsan, sementara ayahnya menemani sembari berusaha membendung air mata yang nyaris mengalir dari kelopak matanya.

Berhari-hari setelahnya Jaka berubah. Ia cenderung lebih pendiam, tatapan matanya kosong. Dalam hatinya ia selalu menyesali semua yang ia katakan pada bunda. Penyesalan itu selalu ada dalam dirinya. Penyesalan terbesar dan kekal dalam hidupnya.

(Visited 9 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan