Pesona Subangku_M. Fitra Fadhillah A._SMPN 1 Cipeundeuy

M.-Fitra.jpg

PESONA SUBANGKU

Oleh M. Fitra Fadhillah Alathas

SMPN 1 Cipeundeuy

Hari itu begitu cerah, secerah hati dua anak kembar yang sibuk bermain kejar-kejaran di bawah hangatnya sinar mentari pagi. Elsa dan Dani namanya. Banyak orang berpendapat bahwa wajah mereka benar-benar mirip bagai pinang dibelah dua. Yang membedakan hanya gaya rambut dan cara berpakainnya. Semua orang berandai jika kedua anak itu botak dan memakai baju yang sama, mereka yakin takkan ada orang yang sanggup membedakannya.

Elsa dan Dani begitu senang, karena hari ini mereka akan berjalan-jalan keliling kota kelahiran mereka, Subang. Kedua orang tuanya, Pak Faris dan Bu Reni, mengajak kedua buah hatinya pergi ke berbagai tempat istimewa di Subang. Kedua pasangan suami-istri itu sekarang menyibukkan diri dengan mengangkat satu per satu barang-barang yang dibutuhkan selama perjalanan, sembari memperhatikan dua anak mereka yang asyik bermain di halaman rumah.

Jam menunjukkan pukul 08.06 ketika mobil yang menjadi transportasi mereka beranjak dari pekarangan rumah. Perjalanan dipenuhi canda tawa yang dihasilkan oleh si kembar. Keduanya terus menerus saling bertukar topik. Pak Faris mengajak mereka ke Alun-alun Subang terlebih dahulu.

Saat di perjalanan, mereka bertemu rombongan odong-odong berbagai bentuk, namun lebih didominasi oleh bentuk singa. Di atasnya duduk masing-masing anak seumuran Elsa dan Dani yang tersenyum lebar. Mereka sesekali tertawa ketika penari yang mengusung tandu singa tiruan bergerak lincah saat menari. Si kembar menatap pemandangan itu kagum, mata mereka pun berbinar-binar.

Bu Reni melirik kedua buah hatinya, lalu tersenyum simpul dan berkata, “Kalian tahu itu namanya apa?”

Si kembar menggeleng bersamaan, wajahnya menyiratkan rasa penasaran.

“Itu namanya ‘Sisingaan’ salah satu adat khas Subang. Memang bentuknya nggak semua singa, sekarang ada yang bentuk burung, naga dan hewan lain. Tapi, dulu bentuk singa yang pertama dibuat, makanya disebut Sisingaan. Kalau ada arak-arakkan kayak gini, berarti habis ada yang mengadakan khitanan atau sunatan.” Jelas Bu Reni.

“Dani dulu kayak gitu nggak, Ma? Di album foto aku nggak lihat,” tanya Dani ketika Mamanya selesai bicara.

“Ya jelas nggak ada, dong. Kamu kan masih bayi pas disunat, masa naik di atas odong-odong gitu.” Timpal Pak Faris. Semuanya langsung tertawa, tak terkecuali Dani sendiri.

“Eh, iya ya, hehe.”

Tepat ketika selesai tertawa, mereka sudah sampai di tujuan. Alun-alun Subang tampak ramai kali itu, berbagai kalangan berada di sana. Tua maupun muda berjalan beriringan di sekitar lapangan alun-alun. Berbagai jajanan juga dijual, mulai dari rujak, kue putu, gorengan, dan makanan kaki lima lainnya.

Selesai memarkir mobil dan turun, mata si kembar langsung tertuju ke sebuah gerobak es krim dengan roti berjejer di lemari etalasenya. Pak Faris dan Bu Reni menghampiri lelaki paruh baya yang berjualan es krim itu, lalu memesan dua porsi untuk kedua putra dan putrinya. Si kembar tersenyum girang, kemudian mulai menjilat es krim milik mereka.

Keluarga kecil itu menghabiskan satu jam mengelilingi alun-alun, tak jarang mereka membeli jajanan lagi. Wisata kuliner hari itu begitu menyenangkan, mereka tertawa bersama-sama ketika satu dari mereka membeli jajanan lagi dan lagi. Bu Reni membeli satu kantong penuh berisi kue-kue tradisional untuk perbekalan dan setelahnya mereka kembali ke parkiran, melanjutkan perjalanan ke tempat selanjutnya. Tangkuban Perahu.

Rumah mereka sebenarnya tak jauh dari tempat wisata yang tersohor itu, hanya berjarak beberapa kilometer. Pak Faris sengaja menempatkan objek wisata ini di urutan kedua agar saat menjelajah, cuaca masih tidak terlalu panas.

Setelah membayar karcis dan memarkir mobilnya, mereka semua turun dan langsung berjalan ke pusat wisata di sana sambil mengalungkan kamera di leher. Si kembar kembali bermain kejar-kejaran diawasi kedua orangtuanya di belakang yang berusaha memfokuskan kamera untuk memotret momen itu.

Dua jam mereka habiskan di sana, mengelilingi sekitar kawah dan tak lupa berswa foto. Elsa dan Dani puas berpetualang, jadi setelahnya mereka kembali ke mobil untuk menjajal wisata selanjutnya; Pemandian Air Panas Sari Ater di daerah Ciater. Usai lelah berpetualang, tentu akan menyenangkan jika beristirahat dengan berendam air panas bukan?

Mobil melaju keluar dari kawasan Tangkuban Perahu, lalu memasuki jalan ramai menuju daerah Ciater. Si kembar menatap takjub ke arah kanan dan kiri di mana dedaunan teh terhampar. Mereka meraih kamera kecil masing-masing, lalu memotret beberapa pemandangan. Udara segar menerpa wajah mereka, namun tak jarang membuat bergidik karena terlalu dingin. Saat tiba di tujuan kedua itu, mereka semakin merapatkan jaket yang membungkus tubuh keduanya bagai kepompong. Beberapa menit kemudian mereka sampai di tujuan kedua, lalu disambut hawa hangat dari kolam pemandian.

Elsa dan Dani menenteng tas mereka di pundak, berjalan ke arah loket ditemani kedua orangtuanya. Setelahnya mereka memasuki kawasan pemandian, lalu meletakkan barang-barang mereka di salah satu pondok yang di sewa. Si kembar langsung berganti baju, dan berjalan ke arah tepi kolam yang dangkal. Beberapa menit mereka beradaptasi, lalu menenggelamkan diri ke dalam air hangat. Hanya Bu Reni yang tidak turun ke kolam, karena tak suka berenang. Sementara suaminya bersenang-senang dengan buah hati mereka, ia sibuk memotret setiap momen dengan kameranya.

Satu jam mereka berendam, lalu berganti baju dan kembali berangkat menuju tempat selanjutnya dan sebagai penutup perjalanan mereka hari itu. Perkebunan teh Ciater.

Mobil kembali memasuki jalan raya Ciater yang padat oleh wisatawan lain. Pak Faris berusaha fokus di tengah berbagai kendaraan yang tak henti-hentinya membunyikan klakson. Setelah melewati sedikit jalanan macet itu, mereka kembali melewati kawasan kebun teh, lalu turun di sebuah lahan parkir yang disediakan.

Pak Faris, Bu Reni, dan si kembar berurutan turun dari mobil, menenteng tas dan tikar gulung yang sudah dipersiapkan. Mereka semua berjalan ke sebuah lahan kosong di tengah kebun teh, lalu menggelar tikar di atasnya. Elsa dan Dani kembali asyik berlarian, kamera yang menggantung di lehernya melambai-lambai. Sementara itu, kedua orangtuanya menyiapkan bekal yang mereka bawa untuk makan siang; satu box spaghetti untuk si kembar; dua porsi ayam kremes untuk mereka sendiri; dan beberapa jajanan pasar yang mereka beli dari tetangga mereka serta kue tradisonal yang Bu Reni beli di alun-alun.

Jam menunjukkan 11.23 ketika Bu Reni mencari kedua anaknya. Tiba-tiba Elsa dan Dani menghampiri dari balik dedaunan teh, napasnya memburu. “Aduh-aduh, capek kan? Sini, makan siang udah siap.”

Si kembar duduk di atas tikar, kemudian meraih piring masing-masing berisi seporsi spaghetti favorit mereka. Tak lupa mereka berdoa terlebih dahulu, sebelum memasukkan segumpal mie kuning pucat dengan saus merah itu ke dalam mulut. Semuanya makan dengan tentram, mata mereka terus fokus antara makan siang dan hamparan kebun teh di hadapan mereka. Begitu damai rasanya saat makan ditemani pemadangan yang begitu indah di depan mata. Pemandangan asri di kota tercinta mereka.

Mereka paling lama menghabiskan waktu di sana, menghayati pemandangan kebun teh itu. Sebelum beranjak pulang, Pak Faris mengajak keluarganya untuk membeli jagung bakar. Banyak kios berjejer di seberang kebun teh. Kepulan asap berarak perlahan membawa aroma jagung bakar. Menggoda hidung siapa pun yang melintas.

Pak Faris dan keluarganya tersadar, begitu banyak tempat istimewa di kota kelahiran mereka. Walaupun tak benar-benar terkenal, setidaknya tetap bisa disebut daerah wisata karena selalu ramai pengunjung setiap akhir pekan. Mereka bangga, bisa menjadi bagian dari kota Subang.

(Visited 18 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan