Neni Aryani_Ayah, Aku Rindu_SMPN 1 Cipeundeuy

AYAH, AKU RINDU

Oleh Neni Aryani

SMPN 1 Cipeundeuy, Subang

 

Allahu Akbar … Allahu Akbar ….

Azan subuh berkumandang, menandakan bahwa sudah saatnya bagi seluruh umat islam melaksanakan ibadah. Begitu pula dengan Linda. Ia melaksanakan salat subuh dengan khusyuk. Tapi karena kantuk yang tak bisa ia tahan, ia pun kembali bergelut dengan selimut setelah melaksanakan sembahyang.

Sinar mentari menembus tirai jendela kamar. Membangunkan Linda dari tidurnya. Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Linda. Karena ia akan bertemu dengan sang ayah yang pulang dari rantauan. Ayah Linda adalah seorang dokter yang dipindahtugaskan ke daerah terpencil. Jadi Linda hanya bisa bertemu dengan ayahnya 1 tahun sekali. Itu pun hanya saat Idul Fitri saja. Tapi yang membuat Linda sedih adalah lebaran tahun lalu ayahnya tidak bisa pulang karena Covid-19.

Linda keluar dari kamar dengan senyum merekah. Hal itu membuat sang ibu dan nenek tersenyum sambil menggelengkan kepala karena melihat tingkah Linda yang seperti anak kecil. Padahal pada tahun ini Linda akan berusia 12 tahun.

“Tidak biasanya anak itu pagi-pagi begini sebahagia itu, apakah ada yang aku lewatkan?” Tanya nenek kepada ibu Linda. Rupanya ibu Linda lupa tidak memberi tahu kepada sang mertua bahwa ayah Linda akan pulang nanti sore.

“Maaf Ma, sepertinya saya lupa memberitahu bahwa Ayah Linda akan pulang sore ini jika tidak ada halangan.” Ucap Ibu Linda dengan senyuman khasnya yang mendapat gelengan kepala dari nenek sebagai balasan.

Seusai sarapan Linda langsung kembali ke kamar karena dia harus melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ). “Hhh … sampai kapan Covid-19 akan ada dan sampai kapan akan diadakan lockdown?” Linda membatin.

Waktu terus berputar. Tak terasa sudah memasuki waktu zuhur. Setelah Linda melakukan sembahyang, ia segera menghampiri ibunya yang sedang bereksperimen di dapur.

“Ibu sedang membuat apa?” Tanya Linda saat mendekati ibunya.

“Makanan kesukaan ayah kamu,” Jawab ibu tanpa menoleh dan masih asyik memasak rendang yang terlihat sangat enak dan menggiurkan.

Saat sedang asyik melihat ibu memasak, terdengar nada dering ponsel sang ibu.

“Aish! Mengganggu saja!” gerutu Linda.

Ibu Linda lantas menatap anaknya. Entah karena takut akan tatapan sang ibu atau Linda sangat peka karena meski mulut ibu tak bicara, matanya seolah berkata, “Cepat angkat teleponnya.”

Akhirnya Linda pun meraih ponsel sang ibu. Awalnya Linda memasang muka datar, tapi ia langsung tersenyum saat melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut. Tanpa basa-basi ia langsung mengangkat panggilan yang terus berteriak dari ponsel merah marun milik ibunya.

“Ayah … Linda kangen!!! Kapan Ayah pulang?” Ucap Linda sedikit berteriak dengan tempo cepat tanpa menjawab salam dari ujung telepon sana.

Ibu Linda hanya menggelengkan kepala saat melihat kelakuan manja putri tunggalnya pada sang ayah. Ia lalu kembali berkonsentrasi memasak. Bahkan, karena terlalu konsentrasi, ia tak menyadari bahwa Linda sudah ada di belakang tubuhnya.

“Bu, kenapa Ibu tidak bilang jika Ayah akan sampai pukul 16.00?” Ucap Linda dengan nada sedikit kesal sampai membuat ibunya kaget.

“Sudah lah, Linda mau siap-siap dulu” Lanjut Linda. Ia pun segera berlalu ke kamarnya untuk siap-siap.

Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Kini Linda bersama nenek dan ibunya sedang dalam perjalanan menjemput sang ayah di bandara Soekarno-Hatta dengan suasana mobil yang sepi.

Sesampainya di bandara, Linda bergegas membuka pintu mobil, tapi sebelum ia beranjak dari duduk, ibu sudah lebih dulu menahan tangannya. Ternyata ibu memberikan masker dan hand sanitizer kepada Linda. Protokol kesehatan.

“Astaghfirullah, Linda hampir lupa memakai masker dan hand sanitizer karena tidak sabar bertemu  Ayah. Terima kasih, Bu.” Linda langsung masuk ke area bandara menunggu ayahnya keluar dari pintu kedatangan.

Tak berapa lama, ia melihat pria dengan jaket coklat dan topi hitam serta lengkap dengan sarung tangan juga masker. Tak perlu ditanya siapa  karena Linda sudah mengetahui bahwa itu sang ayah. Tanpa menunggu lagi Linda langsung berlari ingin memeluk ayah yang selama ini dirindukannya. Tapi, saat jarak mereka tinggal beberapa meter lagi, ayah justru menghindar dari pelukan Linda. Hal itu membuat Linda sangat kecewa.

“Apakah Ayah tidak rindu denganku?” batin Linda.

Setelah kejadian itu, Linda di mobil hanya diam dan terlihat lesu. Apalagi ditambah sang ayah yang menolak untuk satu mobil dengannya dan memilih naik taksi.

“Kamu kenapa Linda, dari tadi diam saja?” Tanya nenek yang ada di kursi depan. Ia heran dengan perubahan sikap Linda. Tadi saat berangkat cucunya bersemangat sekali. Tetapi saat ini Linda terlihat sangat lesu.

“Aku tidak apa-apa, Nek.” Jawab Linda singkat.

“Apakah kau tidak mau keluar dan akan tidur di mobil Linda?” Tanya Ibu Linda yang menyadarkan bahwa bahwa mereka sudah sampai di rumah. Sudah pukul 17.23 WIB. Saat masuk rumah Linda langsung mencari ayahnya. Tapi ia tak menemukannya.

“Ayahmu mungkin ada di kamar tamu Linda, sedang istirahat. Kamu juga harus istirahat. Jadi, pergilah ke kamar dan jangan lupa mandi serta ganti bajumu sebelum istirahat.” Jelas Ibu Linda.

Karena lelah berpikir , Linda pun menuruti perintah ibunya. Sesudah mandi ia langsung turun ke meja makan untuk makan malam, tapi lagi-lagi Linda tidak menemukan sang ayah.

Selesai makan malam Linda langsung menghampiri ibu yang sedang membaca majalah. “Emm Ibu, kenapa waktu di bandara Ayah nggak mau dekat atau peluk aku? Dan kenapa Ayah nggak makan bareng sama kita tadi?” Tanya Linda sambil menatap sang ibu dengan mata berkaca-kaca.

Ibu Linda akhirnya mengerti mengapa sikap Linda berubah selama perjalanan pulang tadi.

“Linda, dengarkan ibu baik-baik. Kamu tahu pekerjaan Ayah, bukan?”

Linda menganggukan kepala. Ibu lalu melanjutkan, “Ayah bukan tidak mau memeluk kamu, juga bukan berarti tidak ingin makan bersama kita. Ayahmu pasti sangat ingin memelukmu dan berdekatan dengan kita. Tetapi ia tak bisa melakukan itu untuk saat ini.” Jelas Ibu Linda. Ia ingin putrinya mengerti tentang resiko dalam bekerja apalagi dalam masa pandemi Covid-19 ini.

“Tapi … kapan aku bisa memeluk ayah?” Tanya Linda lagi. Ia sudah sangat rindu pada ayahnya.

“Sampai masa karantina ayahmu selesai dan tubuhnya sudah steril.” Jawab ibu lagi.

Linda terdiam. Ia bingung maksud dari ibunya itu. Ibu Linda yang tadinya sibuk dengan majalah menoleh pada Linda dan tersenyum.

“Ayahmu adalah seorang dokter Linda. Ia menangani pasien yang terkena virus Corona. Meski sebelum ke bandara hasil tes ayahmu negatif tapi kemungkinan besar ia terkena atau membawa virus sangatlah besar. Jadi, dia harus  melakukan karantina mandiri sampai tubuhnya benar-benar steril dari virus tersebut. Sikapnya adalah bentuk kasih sayang ayah pada anak dan keluarganya. Ayahmu tidak mau kamu tertular Covid-19 karena dia.” Ucap Ibu Linda.

“Jadi, Ayah menjauh karena sayang?” :inda bertanya yang dibalas anggukan oleh ibu. Linda yang penasaran apa itu karantina pun bertanya lagi pada sang ibu, “Ibu … apa itu karantina mandiri dan berapa lama?”

“Karantina bisa diartikan dengan memisahkan diri bagi orang yang kemungkinan terpapar Covid-19, Linda. Dan yang harus dilakukan saat karantina itu adalah tinggal di rumah, tidak pergi bekerja, sekolah atau tempat umum. Tidak menggunakan transportasi umum seperti bus, kereta api, atau taksi kecuali ada pemberitahuan bahwa transportasi yang kita gunakan aman dari virus serta meminta orang lain untuk tidak berkunjung ke rumah. Selama karantina, kita bisa meminta teman, anggota keluarga atau layanan pengiriman untuk membantu tugas kita seperti membeli bahan makanan, obat-obatan, atau belanja.

Saat dihimbau untuk melakukan karantina mandiri, kita harus tinggal di dalam rumah dan menghindari kontak dengan orang lain. Termasuk anggota keluarga harus menjaga jarak. Dan karantina harus dilakukan 5 sampai 10 hari.” Jelas Ibu Linda.

Mendengar hal tersebut Linda bertekad akan bersabar menunggu ayahnya selesai karantina mandiri. Tapi nyatanya sulit untuk Linda belajar bersabar. Hampir setiap hari ia bertanya pada ibu apakah ia boleh bertemu dengan ayah. Sampai-sampai ayahnya sendiri yang akhirnya menyuruh Linda untuk lebih bersabar. Linda pun berusaha bersabar kembali. Ia selalu berdoa agar ayahnya baik-baik saja.

Dalam hidup, terkadang Tuhan punya rencana lain yang berbeda dengan kehendak kita. Di hari kelima, Ayah Linda mulai merasakan gejala sakit. Bahkan ayah harus mendapatkan perawatan intensif di ruang ICU. Walau cemas, hal itu tak memutuskan kesabaran Linda. Ia ingat pesan ayah agar lebih bersabar. Maka, Linda pun terus berdoa  agar ia diberikan kesempatan untuk membuktikan pada ayahnya bahwa ia akan menjadi orang sukses.

Namun, rahasia takdir tidak pernah ada yang tahu. Terlalu lelah dan terpapar corona membuat kondisi ayah semakin melemah. Sepertinya Allah lebih sayang pada ayah sehingga Ia memanggilnya. Setelah bersabar, kini Linda pun harus belajar mengikhlaskan kepergian sang ayah. Walau ia tak bisa ikut dalam prosesi pemakaman, tapi Linda akan selalu berdoa agar ayahnya tenang.

Tujuh hari selepas kepergian sang ayah, Linda sadar bahwa pada masa pandemi ini kita harus lebih hati-hati dalam melakukan hal-hal di luar rumah dan selalu menjaga protokol kesehatan. Karena bila kita  tidak menaati protokol kesehatan, diri kita sendiri yang akan rugi.

Bukan itu saja. Dengan menaati protokol kesehatan, berarti kita telah menghargai tenaga medis yang rela berkorban demi menyembuhkan pasiennya walau mereka harus mempertaruhkan nyawa dan meninggalkan orang yang mereka sayangi. Seperti Linda, kini ia tak pernah bisa lagi memeluk ayahnya yang telah pergi.

 

*** TAMAT ***

PENULIS :

Neni Aryani_SMPN 1 Cipeundeuy
(Visited 29 times, 1 visits today)

One thought on “Neni Aryani_Ayah, Aku Rindu_SMPN 1 Cipeundeuy

Tinggalkan Balasan