Kakek Tua di Tanjakan Emen_Neni Aryani_SMPN 1 Cipeundeuy

Neni A

KAKEK TUA DI TANJAKAN EMEN

Oleh Neni Aryani

SMPN 1 Cipeundeuy, Subang

Hari sudah menjelang malam ketika bumi dihiasi rintik hujan. Hawa yang mencekam diiringi nyanyian hewan hutan di sepanjang jalan, membuat bulu kuduk siapa pun akan berdiri. Namun, itu tidak berlaku untuk Ismi. Gadis berumur 19 tahun itu masih asyik dalam lamunan, seolah tenggelam dalam dunianya sendiri. Terkadang Ismi meneteskan air mata. Ingatannya melayang ke beberapa saat yang lalu ….

***

Ismi sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur yang tidak bisa dibilang besar. Ia baru saja membereskan kamar kostnya. Ia memang menyewa kamar kost sendiri karena tempatnya kuliah sangat jauh dari rumah. Akan banyak waktu yang terbuang jika Ismi harus pulang pergi Bandung-Subang. Tepatnya, bukan Subang kota, melainkan pantura.

Lelah dan letih menjadi satu, setelah menghadiri kelas pagi sampai sore di kampusnya, Ismi ingin sejenak beristirahat. Namun, nyanyian ponsel membuat kegiatannya terganggu. Ia pun mau tak mau harus beranjak dari kasur yang nyaman. Ismi mengangkat panggilan dengan santai. Tidak ada firasat apa pun.

Bagai disambar petir di siang bolong, setelah mendengar ucapan orang di seberang sana, nafasnya tercekat dan tubuhnya seolah kehilangan tenaga. Ia pun langsung memasukkan pakaian seadanya ke dalam koper kecil lalu bergegas memesan taksi online. Sambil menunggu, kepala Ismi tak berhenti berpikir, tidakkah terlalu cepat Allah mengambil kakek tersayangnya?

“Bagaimana kakek bisa meninggalkan cucu kesayanganmu tanpa melihat dia memakai toga?” Pikir Ismi pilu. Air mata Ismi kembali meleleh membasahi pipi.

“Sudah atuh Neng … jangan melamun dan menangis, kan saya jadi tidak enak hati.” Tegur pak sopir yang membuyarkan lamunan Ismi. Bukan hanya sekali ini ia menegur gadis yang menjadi penumpang taksi online miliknya. Sudah beberapa kali Pak Rahmat, sang sopir, menyapa dan berusaha mengajak Ismi berbicara, namun hanya direspon seadanya oleh gadis belia itu. Hal itu membuat pria paruh baya yang masih mengemudikan mobilnya merasa canggung sekaligus iba. Apalagi ia sempat melihat Ismi beberapa kali mengusap air matanya.

“Neng tidak apa-apa, kan?” Ucap Pak Rahmat sedikit keras agar terdengar jelas. Matanya mengamati spion dalam mobil untuk melihat keadaan sang penumpang yang dari tadi tidak bersuara.

Ismi yg tersadar kemudian menganggukkan kepala tanda bahwa ia baik-baik saja. Ia pun tak lupa mengucapkan terima kasih saat Pak Rahmat memberi beberapa helai tisu untuk mengusap air matanya.

Mobil Pak Rahmat telah melewati Gunung Tangkubang Perahu, perbatasan antara Subang dan Bandung. Saat mobil melaju di jalanan yang menurun dan berkelok, hening menguasai suasana mobil. Pak rahmat berinisiatif menyalakan radio. Namun, belum sempat ia menyalakannya, tiba tiba mesin mobil tersebut mati di sebuah tanjakan.

Pak Rahmat kalang kabut. Ia ingat betul cerita yang melegenda itu, salah satu tempat yang digadang-gadang angker di Kabupaten Subang, tanjakan yang telah menewaskan puluhan jiwa. Nama tempat tersebut sudah tidak asing lagi bagi warga Subang seperti Pak Rahmat.

Tanjakan Emen. Mobil Pak Rahmat tepat berhenti di Tanjakan Emen. Nama tempat itu diambil dari korban kecelakaan dahulu kala. Konon, ada seorang laki-laki bernama Emen yang meninggal di tanjakan itu. Menurut kepercayaan setempat, semenjak kejadian  kecelakaan Emen, sering terjadi kecelakaan di daerah tanjakan tersebut. Oleh karena itu mereka menyebutnya Tanjakan Emen.

“Kenapa, Pak? Kok mobilnya berhenti?” Tanya Ismi. Ia baru sadar bahwa mobil yang ditumpanginya kini tidak bergerak lagi. Tadi ia sedang memejamkan matanya. Namun tiba-tiba ia merasakan hawa dingin dan seperti ada hembusan nafas, sehingga mau tak mau Ismi membuka mata. Tapi tidak ada siapa pun.

“I … itu Neng, mungkin mesinnya mati.” Jawab Pak Rahmat ragu. “Daripada nanti kemaleman, mending Bapak cariin mobil yang bisa disewa atau bisa anterin Neng, ya.” Sambungnya. Ia tak mau mengambil resiko jika terjadi apa-apa terhadap Ismi.

Pak Rahmat pun keluar mobil dan berdiri di tepi jalan. Walaupun jarak pandangannya terbatas karena kabut, hal itu tak menggoyahkan niat baik Pak Rahmat. Ia tetap berdiri sambil melihat apakah ada pengemudi mobil lain yang mau membantunya, sembari mulutnya berkomat kamit membaca Ayat Kursi.

Di dalam mobil, Ismi yang tak tahu apa pun hanya menikmati udara dingin yang menyeruak masuk lewat kaca jendela. Ia daritadi memang merasakan ada yang aneh dengan tempat ini tapi dia tidak tahu. “Nanti saja aku tanyakan kepada nenek. Mungkin ia tahu,” pikir Ismi.

Sementara itu, Pak Rahmat yang sedang berada di luar dibuat terkejut dengan tepukan yang ia rasakan di bahunya, hingga ia menjerit. Jeritan yang bisa dibilang keras itu membuat Ismi kaget dan bergegas menyusul Pak Rahmat.

“Pak Rahmat, kenapa kok …” Ucapan Ismi terhenti. Ia kini mengerutkan dahi bingung saat  melihat seorang kakek membawa sepeda ontel sedang memegang pundak supirnya yang ketakutan.

“Malam hari naik sepeda ontel dan tidak menggunakan jaket?” Kepala Ismi mulai dipenuhi berbagai pertanyaan. “Kakek siapa?” Tanya Ismi kemudian pada kakek berkupluk hitam dan berambut panjang.

Eh, kieu Neng, Abah teh ningali mobil Bapak ieu ereun ngadadak. Jadi ku Abah disamperkeun. Sugan weh Abah bisa nulungan. (Eh, begini Neng, Abah lihat mobil Bapak ini berhenti mendadak. Jadi Abah menghampiri. Siapa tahu Abah bisa menolong)” Jelas kakek yang memanggil dirinya abah itu dengan bahasa Sunda.

“Oh enya Bah, jadi gini … mobilnya itu tiba-tiba berhenti padahal tos dicek ku Pak Rahmat mesinna teu kunanaon. (Oh iya Bah, jadi gini … mobilnya itu tiba-tiba berhenti padahal sudah dicek oleh Pak Rahmat mesinnya tidak apa-apa)” Cerita Ismi dengan bahasa campurannya. Si Abah hanya mengangguk-anggukkan kepala.

Berbeda dengan Ismi, Pak Rahmat malah kelihatan was-was. Jika tadi wajah Pak Rahmat menunjukkan rasa takut, sekarang wajahnya justru memperlihatkan mimik curiga. Ismi yang melihat perubahan mimik wajah sang sopirnya itu menggelengkan kepala melihat kelakuannya.

Mendapat tatapan curiga dari Pak Rahmat, si kakek hanya tersenyum menampilkan deretan gigi yang sudah hilang dua. Lalu kakek misterius itu meminta rokok dan korek api. Walaupun Pak Rahmat curiga, ia tetap memberikan benda tersebut.

Ismi yang melihat kejadian itu tak banyak bertanya. Ia kembali masuk ke dalam mobil. Tapi tidak dengan Pak Rahmat. Ia heran melihat sang kakek misterius itu menyalakan rokok lalu membuangnya. “Mengapa meminta rokok bila hanya untuk dibuang?” Pikir Pak Rahmat.

Tong koret mere rokok  di dieu mah. Jeung ulah poho babacaan lamun lewat dieu. Komo si eneng tadi, ulah ngalamun kitu. Bisi dibawa ku Abah na.” (Jangan pelit memberikan rokok jika di sini. Dan jangan lupa selalu berdoa kalua lewat sini. Apalagi gadis tadi, jangan banyak melamun, takutnya dibawa oleh kakeknya) Ucap kakek misterius itu seolah bisa membaca isi pikiran Pak Rahmat. Suaranya pelan tapi bisa membuat bulu kuduk Pak Rahmat berdiri.

Pak Rahmat baru ingat. Dulu sewaktu kecil ibunya sering bercerita tentang mitos melemparkan puntung rokok di tanjakan Emen. Sekarang, ia mengalaminya  sendiri. Sebenarnya dulu ia masih percaya tidak percaya akan mitos tersebut.

Sok ayeuna hirupkeun mesinna, mangga Ujang lanjutkeun perjalanana. Abah bade angkat heula.” (Sekarang coba nyalakan mesinnya, silahkan kamu lanjutkan perjalanan. Abah mau berangkat dulu) Ucap sang kakek sambil menepuk-nepuk pundak Pak Rahmat dan berbalik sambil menaiki sepeda. Pak Rahmat terus mengamati hingga sosok kakek tua itu hilang ditelan kabut malam.

Pak Rahmat yang melihat kejadian itu bergegas memasuki mobil dan menyalakannya. Ajaib! Percaya tak percaya, mobilnya kini menyala kembali. Tanpa pikir panjang, Pak Rahmat pun menjalankan mobil dan bergegas menjauhi kawasan tanjakan Emen.

Setelah melewati kawasan angker tersebut, perjalanan berjalan dengan lancar. Ismi bahkan tertidur pulas hingga dini hari ketika ia sampai di depan rumah. Ismi sudah memberikan alamat lengkapnya pada Pak Rahmat sejak ia naik taksi tersebut, sehingga memudahkan Pak Rahmat untuk mencapai tujuan.

Setibanya di rumah Ismi, Pak Rahmat langsung pamit. Sebenarnya ia ditawari menginap sampai pagi oleh orang tua Ismi, tapi beliau menolak karena rumahnya tak jauh dari sana. Ternyata Pak Rahmat sama-sama orang Subang.

Siang hari, selepas pemakaman sang kakek, seperti biasanya, Ismi selalu bermanja dengan sang nenek. Ia pun mulai bercerita tentang peristiwa di tanjakan Emen tadi malam. “Nek, Ismi mau tanya kenapa harus melemparkan puntung rokok saat ada di tanjakan Emen?” Tanya Ismi yang sejak kemarin penasaran. Sang nenek amat terkejut mendapatkan pertanyaan yang berbau mistis dari Ismi yang notabene tak percaya dengan adanya makhluk halus.

“Konon kata masyarakat sekitar, dengan melemparkan rokok dapat membuat Emen atau yang dipercaya penunggu tanjakan berkelok itu senang. Karena si Emen ini semasa hidupnya adalah perokok akut.” Ucap sang nenek kemudian ia memberikan wejangan kepada sang cucu agar saat kita pergi ke mana pun dan ke tempat apa pun, kita harus selalu berdoa kepada Allah SWT agar terhindar dari gangguan jin maupun setan.

Ismi tidak pernah mengetahui siapa sosok kakek yang ia temui di tanjakan Emen. Tapi, semenjak kejadian itu, Ismi tidak berani lagi melewati tanjakan Emen pada malam atau pun sore hari. Ia selalu ingat ucapan nenek agar saat bepergian senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar tidak diganggu jin dan setan.

*** TAMAT ***

(Visited 34 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan