Joging di Masa Pandemi_Neni Aryani_SMPN 1 Cipeundeuy

JOGING DI MASA PANDEMI

Oleh Neni Ariyani

SMPN 1 Cipeundeuy, Subang

 

Tok … Tok … Tokk ….

Suara ketukan pintu kamar bernuansa kartun katak hijau terdengar nyaring. Sisil perlahan mengerjapkan mata mendengar ketukan itu.

“Silahkan masuk, pintunya tidak dikunci.” Ucap Sisil sambil beranjak dari tidurnya. Ia masih mengerjapkan mata, menarik nafas panjang dan berusaha mengumpulkan nyawa.

Kreeek …

Terdengar suara pintu dibuka. Sesosok wanita paruh baya melenggang masuk.

“Loh, kamu belum siap-siap?” Bunda menggelengkan kepala saat melihat putri bungsunya itu hanya duduk diam sambil memasang wajah bantalnya.

“Eh? Siap-siap buat apa, Bunda?”

“Tyas dan Lina sudah menunggu kamu. Katanya kalian ingin joging?” Ucap bunda sambil membuka tirai kamar sang anak walaupun matahari belum menampakkan diri.

Sisil yang belum sepenuhnya sadar dari mimpinya dibuat kaget oleh tepukan bunda di bahunya.

“Kamu kenapa masih di sini?” Tanya bunda yang hanya dibalas dengan ekspresi bingung oleh Sisil. Bunda menghala nafas, “Cepetan mandi, Nak. Tyas sama Lina sudah menunggu di bawah.” Jelas bunda sedikit gemas dengan kelakuan putri bungsunya.

Karena tak mau berdebat dengan bundanya, Sisil pun menuruti perintah sang bunda walaupun ia masih bingung kenapa Tyas dan Lina datang sepagi ini. Tyas dan Lina adalah sahabat Sisil. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, mereka bertiga selalu pergi dan bermain bersama.

Sisil menguap beberapa kali. Diliriknya jam dinding yang menggantung di kamar. Masih pukul lima pagi. Semalaman ia berusaha menyelesaikan PR. Hal itu membuatnya lupa dengan janji pagi ini.

“Kalian ada perlu apa pagi-pagi buta datang ke sini?” Tanya Sisil sambil menghampiri kedua sahabatnya. Ia baru saja selesai mandi dan merapikan jilbabnya.

Tyas dan Lina yang sedang fokus dengan ponsel masing-masing melihat ke arah Sisil sambil melebarkan mata. Bagaimana tidak, mereka akan pergi joging tetapi lihatlah Sisil, ia malah menggunakan gamis!

“Kamu lupa kita mau kemana?” Tanya Lina. Gadis berkacamata bulat itu, menggunakan kaos hoodie dan celana training berwarna army. Ia bertanya dengan nada sedikit ragu karena Lina tahu Sisil bukanlah orang yang pelupa seperti dirinya.

“Memangnya kita mau ke mana?” Bukannya menjawab, Sisil malah balik bertanya dengan wajah polos. Membuat kedua sahabatnya itu semakin gemas.

“Astaghfirullah Sisil … kita kan mau joging bareng di Lanud!” Ucap Tyas dengan nada kesal.

Sisil diam sesaat, lalu ia menepuk keningnya sendiri. Sekarang ia ingat, tadi malam saat mengerjakan tugas, kedua sahabatnya itu menelepon. Mereka mengajak Sisil untuk olahraga joging dan sisil menyetujui ajakan dari sahabat itu.

Sisil sebetulnya tidak suka berolahraga. Ia jarang sekali olahraga baik di rumah maupun di lingkungan sekitar. Paling bagus ya seminggu sekali. Itu pun saat pelajaran olahraga saja. Namun, semenjak diadakan pembelajaran jarak jauh, Sisil sama sekali tidak pernah berolahraga. Padahal di masa pandemi covid seperti ini dianjurkan untuk menjaga kesehatan, salah satunya dengan berolahraga.

“Hhee … maaf ya para sahabatku yang budiman, aku lupa.” Ucap Sisil sambil menunjukkan deretan gigi kelincinya. Kemudian ia kembali ke kamarnya untuk mengganti baju.

10 menit Tyas dan Lina harus menunggu kembali. Kini Sisil sudah menggunakan pakaian olahraga dengan kerudung warna hitam.

“Eh jangan lupa pake masker, bawa hand sanitizer dan bawa minum.” Teriak bunda saat Sisil dan kedua temannya ingin beranjak pergi.

Sisil melihat kepada dua sahabatnya, “Kalian sudah bawa minum?” Tyas dan Lina mengangguk. Sisil kemudian masuk ke dapur untuk mengisi botol minumnya.

“Ingat ya, tidak boleh berkerumun. Kalian juga masih harus jaga jarak. Patuhi protokol kesehatan. Biar bagaimana pun, aktivitas di luar rumah masih sangat dibatasi.” Ujar bunda mengingatkan.

“Iya Bunda, kami akan ingat pesan Bunda.” Ucap sisil sambil mencium tangan bunda begitu pula yang dilakukan Tyas dan Lina.

“Ini untuk kalian.” Bunda menyodorkan satu kotak makanan.

“Apa ini, Bunda?” Tanya Sisil.

“Kue buatan Bunda. Sedikit camilan untuk kalian.” Jawab bunda sambil mengedipkan sebelah matanya.

Tyas dan Lina tersenyum girang. Mereka tahu bahwa kue buatan bunda Sisil selalu lezat. “Terima kasih, Bunda.” Ucap Tyas, Lina dan Sisil berbarengan. Bunda hanya mengangguk sambil tersenyum simpul.

“Kami pamit dulu ya, Bunda … Assalamu’alaikum.”

“Wa ‘alaikum salam.”

***

Rumah Sisil tidak terlalu jauh dari Lanud Suryadarma, Kalijati. Cukup berjalan 10 menit, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Tak mau menyia-nyiakan waktu, sesampainya mereka di Lanud, Tyas langsung memimpin pemanasan.

“Kenapa kita nggak langsung joging saja?” Tanya Sisil sambil meregangkan otot-otot tangannya mengikuti gerakan Tyas.

“Kamu itu kan jarang banget olahraga, Sil. Otot kamu pasti pada kaku semua. Pemanasan itu penting sebelum olahraga, biar otot kita nggak kaget.” Jelas Tyas. Sisil hanya mengangguk-anggukkan kepala.

Usai melakukan pemanasan, mereka kemudian berjalan santai terlebih dahulu. Saat berjalan santai itulah, Sisil tak henti-hentinya menatap kagum jalanan yang bersih serta rumput hijau yang terawat.

Walaupun tidak seramai seperti sebelum pandemi datang, namun Sisil bersyukur masih bisa menginjakkan kaki di Lanud Kalijati. Sisil memerhatikan sebuah pesawat yang dijadikan monumen. Pesawat itu merupakan pesawat pertama yang ada di Lanud.

“Tyas, Sisil … kalian tahu nggak sejarah Lanud ini?” Tanya Lina tiba-tiba. Mereka telah melakukan jogging selama 60 menit. Kini, mereka tengah duduk di tepian jalan sambil menyelonjorkan kaki masing-masing.

Sisil dan Tyas menggeleng. Lina tersenyum, “Kalian ini, lahir di Kalijati tapi tidak tahu sejarahnya. Nih … “ Lina kemudian menyodorkan hp-nya.

Sisil dan Tyas mendekatkan kepala mereka untuk bisa membaca artikel yang tertulis di Wikipedia itu. Setetes keringat meluncur jatuh.

“Iiiih … jorok. Susut dulu tuh keringat kalian!” Ujar Lina tak rela hp-nya terkena keringat kedua sahabatnya.

“Hehehe, iya maaf. Habis jogingnya kelamaan sih ampe satu jam segala.” Balas Sisil.

“Haduh, satu jam itu udah waktu minimal, Sisil.”

“Sudah, sudah. Ayo kita lanjut baca saja.” Tyas menengahi. Ia dan Sisil kembali fokus membaca.

Di balik layar hp Lina, tertulis bahwa Pangkalan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) Suryadarma atau (Lanud Suryadarma) berlokasi di Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Pangkalan ini merupakan pangkalan udara militer tertua di Indonesia karena didirikan pada masa pemerintahan pendudukan Belanda, tepatnya pada 30 Mei 1914, dan bertepatan dengan 11 tahun setelah Wright Bersaudara mengangkasa untuk pertama kalinya di dunia. Pangkalan ini merupakan satuan pelaksana langsung di bawah Komando Operasi Angkatan Udara. Peringatan hari lahir pangkalan ini, ditetapkan pada tanggal 07 September 1946.

Pangkalan TNI AU ini pada awalnya bernama Pangkalan TNI AU Kalidjati hingga akhirnya diputuskan diubah menjadi Pangkalan TNI AU Suryadarma, sebagai penghargaan kepada Bapak AURI, Marsekal TNI Raden Soerjadi Suryadarma. Keberadaannya tidak terlepas dari peristiwa perlawanan terhadap kekuatan pendudukan pemerintahan Belanda dan Jepang. Sejak tahun 1991 sampai sekarang Lanud Suryadarma dikenal sebagai Pangkalan Induk bagi para penerbang helicopter (chopper) TNI sehingga mendapatkan julukan “All Choppers were born in here”.

“Wahh … ternyata keren, ya!” Ucap Tyas kagum. Sisil turut mengiyakan. Sungguh mereka mempunyai kebanggaan tersendiri sebagai salah satu penduduk Kabupaten Subang.

Matahari mulai menampakan diri dengan malu malu. Tapi ketiga gadis SMP itu masih melanjutkan joging mereka. Hingga akhirnya mereka sampai di suatu bangunan dengan bentuk seperti tabung. Sisil terdiam menatap bangunan tersebut. Ingatannya melayang saat beberapa tahun ke belakang. Ketika ia duduk di bangku SD. Dalam rangka memperingati  hari jadi Lanud tersebut, diadakan wisata planetarium. Saat itu adalah pertama kalinya Sisil berkunjung ke Lanud Suryadarma.

Tak terasa, kini Sisil sudah duduk di bangku SMP.  Tak banyak yang berubah dari tempat ini. Tapi banyak perubahan di negari ini. Pandemi Covid-19 merajalela. Ada rasa rindu akan kehidupan beberapa tahun yang lalu. Jika dulu bebas pergi ke mana pun, kini kita harus membatasi diri, memakai masker, selalu membawa hand sanitizer dan harus menjaga jarak untuk memutus rantai penyebaran virus.

Meski sudah banyak menelan korban jiwa, tetap saja sebagian ada orang yang tidak mematuhi peraturan new normal. Sisil sangat menyayangkan hal itu. Apakah masyarakat tidak merindukan suasana tanpa pandemi, sehingga untuk menjalankan protokol kesehatan terasa sangat berat? Ia berharap semoga pandemi ini cepat berlalu agar ia bisa kembali ke Lanud dengan suasana seperti dulu : ramai.

(Visited 10 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan