Gara-Gara Game_Neni Aryani_SMPN 1 Cipeundeuy

GARA-GARA GAME

Oleh Neni Aryani

SMPN 1 Cipeundeuy, Subang

 

Tik tok tik tok ….

Suara denting jam menggema meramaikan sepinya malam di rumah sederhana dan minimalis yang terletak di pinggir kota. Pada salah satu kamar, terlihat Andi yang sedang asyik bermain game online. Padahal jam hampir menunjukkan pukul 00.00 WIB.

Beberapa hari lalu, Andi tidak sengaja login ke game online yang sedang viral. Tapi, rasa penasaran mendorong Andi untuk terus bermain, seperti hari ini. Mamanya sejak tiga jam lalu sudah mengingatkan agar Andi lekas tidur. Namun Andi diam-diam bermain game lagi dan akhirnya terus bermain sampai lupa waktu. Andi telah melupakan nasihat mama untuk disiplin waktu.

Tak hanya lupa waktu, Andi juga telah melupakan tugas sekolah yang harus dikerjakan. Yang lebih parah lagi, Andi lupa bahwa besok adalah hari yang sangat penting, yaitu hari perlombaan cerdas cermat. Ia dan kedua sahabatnya memutuskan untuk mengikuti lomba cerdas cermat tingkat kecamatan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan. Namun Andi baru menutup matanya saat hampir menjelang subuh.

Drettttt drettttt ….

Sudah hampir 10 menit alarm berbunyi. Tapi, si pemilik kamar masih tertidur sangat pulas. Andi tak sadar bahwa sekarang jam di atas nakas telah menunjukan pukul 08.00 WIB. Andi masih saja terpejam seolah tidak terganggu oleh teriakan alarm tersebut. Sampai-sampai mama dibuat jengkel dengan bunyi alarm di kamar Andi dan bergegas menuju kamar putra bungsunya itu.

Mama sangat kaget ketika melihat Andi yang masih nyaman meringkuk di atas kasur. “Bukankah Andi harus ikut lomba?” Batin mama sambil mencoba mengingat-ingat apakah betul hari ini jadwal lombanya. “Sungguh tidak disiplin sekali anak ini,” pikir mama sambil menghampiri Andi.

“Andi!!! Andi, bangun! Ini sudah siang cepatlah bangun!” Ucap mama sedikit keras. Akan tetapi tidak diindahkan oleh Andi seolah telinganya tertutup rapat. Mama Andi kemudian mengguncang pelan tubuh Andi dan membuka tirai jendela kamar untuk membangunkan anaknya itu, tapi tetap saja Andi tidak bangun seolah ia sedang pingsan bukannya tertidur.

Suara ketukan di pintu depan membuat mama menoleh. Mama lekas keluar kamar dan membukakan pintu depan. Di balik pintu warna coklat itu, muncul dua orang remaja yang seumuran dengan Andi. Mereka adalah sahabat anaknya, Agus dan Cecep.

“Assalamu ‘alaikum Mama …,” Ucap mereka sambil menyalami Mama Andi. Mereka memang telah dianggap anak oleh orang tua Andi, begitu juga dengan Andi yang sudah dianggap anak oleh orang tua mereka. Oleh karena itu, mama Andi senang-senang saja jika Agus dan Cecep memanggilnya dengan sebutan “mama”.

“Astaghfirullah, sudah hampir pukul 08.30 tapi Andi belum bangun, Ma?” Ucap Agus tak percaya setelah mendapat penjelasan dari mama Andi bahwa anaknya masih tertidur pulas.  Bagaimana bisa Andi masih tidur padahal kemarin sore Andi yang paling antusias dalam mempersiapkan lomba. Cecep hanya bisa menggelengkan kepala, sungguh ia tak habis pikir dengan kelakuan Andi yang memang sudah sering terlambat dalam hal apa pun. Tapi apakah Andi akan terlambat juga untuk lomba?

“Anak-anak, bantu Mama bangunkan Andi ya? Mama akan menemui Kakak dahulu,” pinta mama Andi sambil keluar kamar. Agus dan Cecep saling pandang satu sama lain lalu menghela nafas sedikit berat. Mereka tahu seberapa susahnya Andi bangun.

Sementara itu di ruang tamu, mama Andi melihat anak sulungnya sudah rapi. “Sungguh kedua anak ini saling bertolak belakang,” pikir mama sambil menatap kakaknya Andi yang terlihat seperti orang gelisah.

“Mama, Andi sama temannya mana? Bukankah perlombaannya mulai pukul 09.00? Kalau tidak berangkat sekarang, mereka bisa terlambat.” Tanya Kakak Andi saat melihat mamanya menghampiri. Kakak Andi sedikit dibuat kesal karena kelakuan adiknya yang selalu terlambat. Padahal dengan kepintaran adiknya itu, ia sangat mengharapkan adiknya menang dalam lomba cerdas cermat kali ini.

“Adik kamu itu belum bangun, mungkin karena begadang tadi malam. Teman-temannya sedang berusaha untuk membangunkan Andi.” Ucap mama panjang lebar. Mendengar jawaban sang mama, membuat kakak Andi menghela nafas.

“Ya sudah, Kakak ke kamar Andi dulu ingin melihat apakah Andi sudah bangun atau belum.” Kakak Andi lantas bergegas  menuju kamar adik satu-satunya itu.

“Andi belum bangun juga?” Tanya kakak Andi mengejutkan Agus dan Cecep yang sedang memikirkan bagaimana lagi caranya membangunkan Andi. Mereka sudah mencoba berbagai cara tapi Andi seolah tidak terganggu.

“Belum Bang, susah sekali membangunkan Andi.” Jawab Cecep seadanya, membuat raut wajah kakak Andi menjadi suram.

“Gimana ini, jam segini Andi belum bangun, sementara waktunya sudah nggak cukup buat sampai di tempat perlombaan. Tapi … mereka bisa saja pergi berdua tanpa Andi dan mungkin masih diizinkan mengikuti  lomba.” Kakak Andi bergumam. Gumamnya pelan tapi masih bisa didengar oleh Agus dan Cecep.

“Em … Bang, kita nggak akan pergi ke sana jika Andi belum bangun juga. Tidak apa-apa kalau nggak jadi lomba. Mungkin ini bukan rezeki kami, Bang.” Ucap Agus yakin yang langsung mendapat tatapan aneh dari Cecep, namun diabaikan olehnya.

“Eh ini serius?” Kak Andi masih tak percaya. Agus mengangguk yakin.

“Ya sudah jika itu keputusan kalian, Abang minta maaf atas nama Andi. Karena dia, kalian jadi tidak bisa mengikuti lomba.” Kakak Andi lalu keluar kamar, baru saja ia ingin membalikkan badan setelah menutup pintu, kakak dikejutkan oleh kehadiran mama yang tiba-tiba ada di depannya.

“Gimana?” Tanya mama tanpa peduli raut terkejut anaknya itu.

“Andi belum bangun Ma, tapi Agus dan Cecep sepakat nggak akan ikut lomba bila tidak dengan Andi” ucap kakak. “Ya sudah Kakak berangkat dulu, ya, Ma. Kakak akan konfirmasikan keputusan mereka ke panitia lomba.” Kakak pamit sambil menyalami mama.

Sementara itu di kamar Andi, Cecep dan Agus sedang berdebat karena ucapan Agus tadi. Cecep tidak setuju dengan keputusan Agus. Karena ia tahu bahwa Agus sangat ingin mengikuti lomba cerdas cermat ini walau tidak seantusias Andi. Perdebatan mereka yang berisik itu tanpa mereka sadari telah berhasil membangunkan Andi.

“Kalian sedang apa di kamarku?” Tanya Andi lugu. Membuat dua orang yang tengah berdebat langsung terdiam sambil menatap Andi.

“Kamu lihat jam berapa sekarang?” Tanya Cecep sambil menahan amarah yang sebentar lagi akan meledak. Ia bukan marah tapi ia kecewa pada Andi. Karena ia sangat tahu bagaimana senangnya Agus  saat mengetahui mereka lolos babak penyisihan dan maju ke tahap berikutnya di lomba cerdas cermat. Tapi kesempatan itu harus gagal karena Andi tidak tepat waktu dan tidak disiplin.

Andi yang tidak tahu ada apa langsung melihat jam di nakas. Betapa kagetnya dia saat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 09.30 WIB.

“Astagfirullah!” Seru Andi karena ia sadar sudah terlambat mengikuti lomba. Ia melihat kedua sahabatnya hanya diam.

“Kami sudah mencoba berbagai cara untuk membangunkan kamu. Tapi kamu selalu tertidur lagi. Mungkin harusnya tadi aku siram saja muka kamu, seperti saran Cecep. Abang kamu bahkan sudah berangkat setengah jam yang lalu dan kita mengundurkan diri dari perlombaan.” Jawab Agus dengan wajah datar andalannya, walaupun di hatinya ada sedikit kecewa. Ia dan Cecep pun keluar dari kamar Andi, memberi waktu untuk Andi agar bisa merenung.

Melihat raut wajah para sahabatnya membuat Andi merasa sangat bersalah. Ia pun bergegas mandi dan bersiap-siap menemui mereka yang sudah berada di ruang makan. Tanpa banyak basa basi, Andi pun bergabung bersama mama dan kedua sahabatnya.

Makan siang berlangsung dengan khidmat tanpa ada yang berbicara sedikit pun. Setelah itu, mama Andi mengajak ketiga remaja laki-laki itu untuk mengobrol di ruang keluarga.

“Apakah kamu tahu apa kesalahan kamu, Andi?” Tanya mama sambil menatap putra bungsunya itu saat mereka sudah duduk di sofa ruang keluarga. Mama Andi masih bisa menahan nada bicaranya walau sebenarnya ia sedikit kesal dan jengkel kepada Andi.

“Kapan Andi akan berubah dan lebih disiplin?” Tanya mama lagi.

“Andi tahu kesalahan Andi. Andi minta maaf.” Ucap Andi pelan sambil menundukkan kepala. Ia sungguh merasa bersalah dan menyesal.

“Bagus jika kamu tahu kesalahan kamu.” Ucap mama,”Kamu ini sudah 14 tahun Andi, tapi kamu tetap belum mengubah kebiasaan kamu. Sekarang lihat, karena tidak disiplin kamu kehilangan kesempatan mengikuti lomba cerdas cermat. Dan bukan hanya kamu yang kehilangan kesempatan tersebut tapi juga sahabat kamu.” Ucap mama lagi membuat Andi tambah merasa bersalah kepada dua sahabatnya itu.

“Disiplin merupakan sikap yang harus dimiliki oleh semua orang. Karena dengan disiplin, hidup seseorang akan teratur. Salah satu contohnya adalah disiplin waktu, taat terhadap waktu. Bagaimana kita bisa menghargai waktu yang sudah diberikan Allah dengan sebaik-baiknya.” Andi memerhatikan setiap kata yang keluar dari mulut mamanya.

“Tidak disiplin waktu dapat merugikan diri sendiri. Contohnya seperti kamu, kamu terlambat bangun karena tadi malam begadang bermain game, kan? Akibatnya kamu bangun terlambat dan tidak bisa ikut dalam perlombaan yang kamu idam-idamkan. Selain itu, tidak disiplin waktu dapat merugikan orang lain, Andi. Seperti hari ini, Agus dan Cecep harus kehilangan kesempatan mereka untuk maju dan membanggakan orang tua mereka. Mereka tidak mau meninggalkan kamu.” Ucap mama Andi panjang lebar agar anaknya itu tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.

Andi tak tahu, bahwa lomba itu adalah kesempatan terakhirnya bersama dengan Agus dan Cecep. Karena setelah lebaran, Agus akan pindah ke luar kota. Setelah mendengar ceramah mama, Andi berjanji akan lebih disiplin dan tidak menyia-nyiakan waktu. Ia sadar bahwa disiplin sangatlah penting bagi kehidupan sehari-hari. Dan ia tak akan lagi mengecewakan keluarga juga sahabatnya.

 

*** TAMAT ***

(Visited 28 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan