MIMPI ITU, KENYATAAN?

DELIA-ADELA-9B.jpg

MIMPI ITU, KENYATAAN?

Delia Adelia

 

Malam hari, ketika semua aktivitas Lia sudah terselesaikan. Dia pergi menuju kamar dan duduk di tengah tempat tidurnya. Kemudian dia mengambil sebuah buku yang berada di atas bantal. Sembari selonjoran Lia mulai membaca setiap halaman-halaman yang berada dalam buku tersebut. Memang ini adalah buku kesukaan Lia yang bergenre percintaan remaja. Tak terasa waktu sudah menjukkan pukul 23.00 WIB. Tanpa disadari dia tertidur pulas dengan buku di tangan kanannya.

Lia terus mengamati orang-orang yang berjalan terburu-buru masuk ke dalam rumah sakit dengan kain yang menutupi wajah mereka. Lia berdiri seperti pajangan yang diabaikan.

Ia pun tak menyadari mengapa berada di tempat ini. Kemudian timbullah rasa penasarannya sehingga Lia kembali melangkah lebih jauh lagi ke dalam rumah sakit dan menemukan ruangan yang hanya dihuni satu orang. Tiba-tiba ada satu orang yang memakai pakaian seperti astronaut memasuki ruangan tersebut. Ternyata ia adalah perawat yang tengah mondar-mandir dari satu ruangan ke ruangan lain.

Lia kembali melangkahkan kakinya ke luar. Di sana banyak ambulans yang siap membawa mayat. Dengan pembawa yang memakai baju seperti astronaut juga. Lia jadi semakin heran. “Ini kenapa?”

Kaki Lia melangkah lagi, menuju suatu mal besar. Dia terhenti dan terheran juga, bagaimana bisa banyak orang berbondong-bondong untuk belanja sebanyak itu.

Lia kembali melangkah lebih dalam, banyak orang berdesak-desakan di depan setiap toko. Raut wajah mereka khawatir, karena tak tertutup apa-apa. Tidak seperti di rumah sakit tadi.

Sontak dalam hitungan detik, dunia menjadi hitam gelap. Tubuh gadis itu terhentak ke belakang, menghantam dinding suatu ruangan yang hanya ada TV dan lampu dengan cahaya yang redup. Napas Lia menderu, dia terduduk di lantai. Tubuhnya juga tersentak kaget melihat TV lebar yang ada di depannya ini menyala sendiri. Menampilkan banyak kejadian yang membuat Lia bingung sendiri. Segerombolan orang-orang yang terjangkit dan meninggal di sepanjang jalan, dibiarkan tak tersentuh. Dengan sebuah kota yang sunyi dan hampa layaknya tanpa penduduk. Dengan suasana langit yang gelap gulita, yang miskin mengemis, yang kaya tersenyum manis.

Lia menetralkan napasnya lalu melihat sebuah pintu yang terbuka, dia berdiri dan berjalan ke arah pintu. Dengan pelan-pelan Lia menatap ruangan dari pintu itu yang terlihat bersih. Dengan interior yang lebih meyakinkan dan lengkap. Lia tersenyum tipis, kemudian melangkah masuk.

Banyak layar yang menayangkan bagaimana orang-orang melakukan banyak hal dan berbelanja dengan normal. Sangat bertolak belakang dengan yang dirinya lihat di mal tadi. Lia masih bingung, ini kenapa?

Tubuhnya kembali terbawa ke belakang dengan keras. Punggungnya entah menabrak apa, dan berakhir terduduk di sebuah layar besar. Nampak seperti bioskop, layar itu masih hitam. Lia mengedarkan pandangannya ke segala arah, tempat itu terlihat sepi. Hanya ada dirinya sendiri. Lima menit setelahnya, bioskop itu menampilkan dua orang yang tengah mencontohkan gaya hidup sehat.

Dimulai dari pertama, membuang sampah pada tempatnya. Menghindari dari banjir, jangan menebang pohon sembarangan, menjaga satwa-satwa langka, bagaimana cara mencuci tangan dengan bersih. Lalu bagaimana menjaga jarak, memakai masker, dan menghindari kerumunan.

Lia sontak bingung, dengan akhir video penayangan yang ia lihat. “Menjaga jarak? Harus, ya?”

Lia kembali fokus, dan terus menyimak bagaimana film itu menayangkan banyak informasi yang tidak Lia ketahui sebelumnya. Hanya menghabiskan sepuluh menit penayangan, setelah itu, suasana menjadi gelap kembali. Hingga tubuh Lia kembali terhuyung, dan berakhir entah kemana.

___ ✧

“Mah, Lia berangkat sekolah dulu, ya.” Mamahnya Lia langsung berlari dari dapur, menangkap tangan Lia. Lalu menggenggamnya.

Lia sontak menoleh kaget, dan melihat wajah Mamahnya yang khawatir. Mamahnya menggeleng kuat. Hingga menimbulkan rasa penasaran di benak Lia.

“Kenapa, Mah?”

Mamahnya hanya menggeleng. Dan pergi, Lia menghela napas. Dan berlalu ke kamar. Dia tak enak jika tetap berangkat ke sekolah karena sama halnya dengan melawan orang tua. Padahal Mamahnya dengan khawatir mencegahnya.

Lia menatap langit yang berwarna biru, hari ini dia bersiap untuk pergi. Dengan pakaian sederhana, bosan rasanya sejak pagi berada di dalam rumah. Ke kafe bersama teman-teman tak terlalu buruk, kan?

Lagi-lagi Lia menatap ke sekitar tempat dia berdiri. Semua kafe maupun toko tutup. Lia sedikit kesal, dan berakhir pulang.

Dia mengetuk pintu, lalu disambut oleh Mamahnya. “Cuci tangan, pakai sabun. Setelah itu, masuk. Keluar gak pake masker lagi.” Lia menghela napas dengan kesal, lalu beranjak membasuh tangannya dengan sabun. Padahal sedari tadi dia tak memegang benda apa pun.

Lia duduk di depan televisi rumahnya, lalu mulai menekan tombol remote-nya. “Kasus Corona kian meningkat, masyarakat harap tenang. Dan tetap was—”

Lia memutar bola matanya malas, lalu beranjak mencari Mamahnya ketika sudah mematikan TV tadi. Dia benar-benar bosan, semua acara TV selalu menayangkan kasus Corona, Corona, dan Corona.

___ ✧

Kaki Lia turun dari tangga dengan tergesa-gesa. “Kok Lia gak dibangunin sih, Mah?!” Lia menghentakkan kakinya menuju kamar mandi.

Kesal dia, lihat jam berapa sekarang? Dia sudah terlambat untuk ke sekolah. Sedangkan Mamahnya? Dia santai dengan masakan-masakannya.

Lia menyisir rambutnya dengan perasaan kesal, menatap dirinya di cermin. Tiba-tiba Mamahnya muncul dari pintu kamar. Lalu berjalan mendekat ke Lia. Dan bersuara, “Jangan pergi ke mana-mana untuk sekarang. Bisa, kan? Kita harus aman, Lia.”

Lia menatap Mamahnya kesal, “Aman bagaimana, Mah? Bahkan sebentar lagi tahun baru, masa aku gak boleh keluar!” timpal Lia dengan kesal.

Mamahnya menggeleng kuat, “Ikuti saja Lia, kita akan selamat.” Lia mendengus kesal dan pergi ke dapur.

___ ✧

Lia menatap kosong ke depan, beberapa menit lalu dia mencoba menghubungi temannya. Dan ingin mengajaknya bertemu, namun apa? Temannya menolak. Dengan alasan, “Aku takut terkena Corona.”

Lia semakin geram. Dia bahkan tak tahu apa itu Corona. Dan yang dia lakukan sekarang hanya menghela napas, menerima semuanya. Walaupun berbeda dari kemarin.

Lia ingat, bagaimana dia bersenang-senang dengan teman-temannya di sekolah. Bagaimana dia bermain seharian bersama teman-temannya. Dan sekarang?

___ ✧

Tubuh Lia terbangun. “Hhhh….” Napas Lia terengah-engah, lalu dia beranjak duduk. Menatap jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.

Semalam dia tak bisa tertidur akibat rencana untuk hari esok. Dia ingin berbelanja dengan Mamahnya, tepat jam sepuluh pagi. Dan sekarang dia kesiangan. Membuat semua yang dilakukan Lia harus cepat dan terburu-buru.

Lia turun dengan langkah cepat, lalu terduduk di meja makan. Menatap punggung Sang Mamah yang tengah memasak makanannya. Lia memiringkan kepalanya, supaya bisa melihat Mamahnya. “Mah, jadikan hari ini belanjanya?”

Mamahnya melirik Lia sebentar. “Gak jadi, Lia.” sahut Mamahnya.

Lia menghela napas dengan kesal mendengar jawaban dari Mamahnya itu. “Mah, tapi kan ngerayain tahun baru juga. Ih, gimana, sih!” timpal Lia.

Mamah tetap menggeleng. “Tahun baru, jaga jarak dulu. Corona.”

(Visited 9 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan