DELIA ADELA_SEPENGGAL KISAH GADIS PESISIR_SMPN 3 PUSAKANAGARA

DELIA-2.jpg

SEPENGGAL KISAH GADIS PESISIR

Delia Adela

 

Gadis kecil bernama Dinda itu menarik jaring ikan yang ia pasang beberapa jam lalu. Ia tersenyum bahagia melihat banyaknya ikan yang terjerat di jaringnya. Kemudian tangan mungil Dinda secara cekatan melepaskan ikan-ikan tersebut dan dimasukkannya ke dalam wadah. Hari ini ia sendirian menarik jaring ikan.

 

Tak terasa hari sudah sore. Itu tandanya Dinda harus segera pergi ke pelelangan untuk menjual ikan yang telah ia dapatkan. Tak lupa juga ia memisahkan beberapa ikan yang akan diberikan kepada Ibunya untuk dijadikan ikan asin dan dijual. Perahunya sudah tiba di daratan. Ia bergegas menuju pelelangan ikan dan kemudian pulang ke rumahnya.

 

Setelah sampai di rumahnya ia langsung mencari Ibunya, “Ibu? Ibu?” nampak tak terdengar sahutan dari Ibunya.

 

Dinda langsung saja membuka pintu yang ternyata tidak dikunci oleh Ibunya. Ia segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Kemudian Ibunya menghampiri dan memanggil dari depan kamar mandi.

 

“Din, ini berapa kilo ikan yang kamu bawa?” tanya Ibunya.

 

“Satu kilo, kan, Bu.” jawab Dinda di dalam kamar mandi.

 

Kemudian Ibunya mengangguk dan langsung membersihkan ikan-ikan yang telah Dinda bawa untuk kemudian dijadikan ikan asin dan dijual.

 

Setelah membersihkan diri kemudian Dinda salat, lalu makan. Ia tidak langsung beristirahat setelah memenuhi kebutuhan untuk dirinya. Ia langsung meraih buku pelajaran yang sempat diberi oleh teman satu bangkunya ketika sekolah dasar. Begitulah aktivitas Dinda jika telah pulang dari laut.

 

___✧

 

Namanya Syla. Ia merupakan teman sebangku Dinda ketika duduk di bangku sekolah dasar. Syla melanjutkan sekolahnya, namun tidak dengan Dinda. Dinda harus mengubur mimpinya untuk terus bersekolah, hal tersebut dikarenakan ekonomi keluarganya yang memaksakan ia untuk bekerja.

 

Dinda harus ikut bekerja karena Ayahnya sudah meninggal tenggelam saat mencari ikan. Ayahnya terhantam ombak yang besar sehingga mengakibatkan tubuhnya hilang dan tidak ditemukan. Namun, perahu yang Ayahnya pakai berhasil ditemukan dan sekarang dipakai oleh Dinda untuk pergi melaut mencari ikan.

 

Tok… Tok…

 

Terdengar suara ketukan pintu. Kemudian Dinda beranjak membuka pintu setelah menaruh buku yang dia baca tadi. Ternyata ada Syla di depan pintu membawa sebuah buku di tangannya.

 

“Begini, aku ada buku yang sudah tidak terpakai. Nih, buat kamu, Din.” ucap Syla sembari memberikan buku itu.

 

Dinda tersenyum lebar, lalu menerima buku itu, “Makasih ya, Syl. Mau mampir?”

 

Syla menggeleng, “Aku harus pulang. Nanti ketahuan mamahku, bahaya.”

 

Dinda mengangguk, tangannya melambai pada Syla yang beranjak pergi. Setelah itu ia masuk.

 

___✧

 

Udara dingin membangunkan Dinda, kemudian ia bergegas melaksanakan salat subuh. Setelah salat ia kembali tertidur. Kira-kira pukul 07.00 ia kembali dibangunkan oleh sinar matahari yang menyinari tubuhnya lewat jendela. Dinda langsung bergegas untuk mandi. Setelah itu ia pergi ke laut untuk kembali melakukan aktivitas seperti biasanya. Hari ini ia melaut bersama nelayan-nelayan dewasa, karena katanya cukup berbahaya jika ia pergi ke tengah laut sendirian, meskipun terkadang pada saat mengambil ikan ia suka sendirian.

 

Di perjalanan menuju perahu peninggalan Ayahnya, kakinya terhenti oleh sebab lalu-lalang anak-anak seusianya yang akan berangkat sekolah mengenakan pakaian putih biru. Setelah terdiam sambil melihat anak-anak seusianya itu, ia kembali melanjutkan langkahnya ke tempat perahunya berada.

 

Setelah sampai ia langsung berangkat bersama Pak Harto ke tengah laut. Hari ini perut Dinda belum terisi apa-apa. Hal tersebut karena Ibunya jarang sekali memasak. Ibunya pernah berkata, “Di mana-mana kerja dulu baru bisa makan.” kiranya seperti itu yang Ibunya ucapkan.

 

Kemudian Dinda menebar jaring ikan dengan harapan banyak ikan yang terperangkap di jaringnya. Setelah itu ia duduk. Semilir angin laut terus saja menghantam tubuhnya yang belum terisi apa-apa. Hal tersebut membuat tubuhnya bergetar dan lemas.

 

“Mau roti, Neng?” Dinda kemudian mendongak. Ternyata Pak Harto yang ikut melaut di perahunya menawarkan sebuah roti.

 

Kemudian Dinda menerimanya, karena memang sudah tidak kuat menahan lapar di perutnya.

 

“Bapak?” ucap Dinda. Maksudnya Dinda menanyakan kalau roti ini ia makan, lantas Pak Harto makan apa.

 

“Bapak udah sarapan, Neng. Silakan dimakan rotinya.” jawab Pak Harto sambil mengacungkan jempolnya.

 

Dinda kemudian memakan rotinya dengan pelan-pelan sembari terduduk di atas perahunya yang sedang berjalan pulang.

 

Kemudian siang harinya selepas Zuhur ia akan kembali ke laut untuk mengambil jaring yang tadi pagi telah ia tebar bersama Pak Harto. Biasanya ia akan kembali mengambil jaringnya bersama Pak Harto, atau bahkan ia bisa saja mengambil jaringnya sendirian dikarenakan Pak Harto ada pekerjaan dadakan.

 

___✧

 

Keesokan paginya setelah terbangun dari tidurnya yang kedua kali setelah subuh Dinda menemui Ibunya lalu menunduk dan menanyakan, “Ibu, Dinda mau sekolah, boleh?” tanya Dinda pelan.

 

Ibunya lalu menggeleng kuat. “Kamu miskin Dinda, gak usah banyak gaya mau sekolah. Fokus cari uang aja sana! Cari ikan yang banyak biar bisa makan tiap hari!” Dinda menghela napas pasrah. Lagi-lagi Ibunya selalu menjawab seperti itu.

 

“Tapi Dinda mau sekolah, Bu.”

 

“Apa yang kamu bisa, hah?!” sahut Ibunya sambil melempar pisau yang tengah digunakannya.

 

Dinda mulai terisak-isak. “Tapi Dinda mau kayak anak-anak lain, Bu! Mau sekolah! Mau ngerasain pakai baju seragam!”

 

Ibunya terlihat lelah, dia membersihkan tangannya. Lalu berdiri, menatap sang anak yang raut wajahnya pasrah. “Ini udah jam sepuluh, cepet cari ikan. Pak Harto pasti nungguin kamu terus dari tadi, kasian.”

 

Dinda berlari meraih jaringnya dan pergi untuk mencari ikan dengan air mata yang masih bercucuran.

 

___✧

 

Dinda tidak pulang kembali setelah menebar jaring ikannya, ia memutuskan untuk menunggu sampai sore hari untuk mengangkat jaringnya.

 

Sore hari pun tiba, dan waktunya Dinda untuk pulang dengan hasil tangkapannya. Lalu tiba-tiba di perjalanan menuju pulang pandangannya menemukan Syla yang terduduk di gubuk rotan sendirian dengan buku-buku yang menemaninya. Dinda langsung berlari ke arah Syla. Dia menaruh jaring dan ember yang berisi ikan-ikan yang telah ia pisahkan.

 

Kakinya naik ke gubuk yang cukup tinggi itu. “Hai, Syla.” Syla menoleh ke arah Dinda, lalu tersenyum.

 

Dinda membersihkan kaki-kakinya terlebih dahulu, setelah itu barulah dia melihat Syla yang tengah fokus pada satu lembar kertas yang dipegangnya.

 

“Ada ulangan, ya?” tanya Dinda.

 

Syla menggeleng. “Ada lomba nih dari sekolah, dan yang menang bisa bersekolah tanpa biaya.” jawab Syla.

 

Dinda sontak mendekat dan berkata, “Aku ikut dong.”

 

Syla mendongak, menatap tak percaya pada temannya itu. “Kamu yakin? Kan….” ucapnya menggantung, takut Dinda tersinggung juga.

 

Dinda menarik satu kertas di tangan Syla, lalu membacanya. “Oalah, aku ikut, ya? Ini gampang, loh. Yayaya….” Dinda memohon.

 

Kemudian Syla mengangguk asal.

 

Dinda lalu turun dari gubuk itu, lalu pulang dengan membawa kertas yang berisi soal matematika yang dilombakan.

 

___✧

 

Sampailah Dinda di depan rumahnya. Ibunya menatap Dinda keheranan, karena tidak biasanya ia sampai rumah setelah azan magrib.

 

“Dari mana kamu?” tanya Ibunya.

 

Dinda menaruh jaringnya, lau bersuara, “Tadi aku lihat Syla di gubuk. Oh iya, Bu, coba deh baca ini.” ucap Dinda lalu memberi kertas lomba yang ia dapatkan tadi pada Ibunya.

 

Ibunya membaca kertas itu dengan serius, setelah selesai membacanya lalu menatap aneh ke anak gadisnya itu.

 

“Yakin kamu bisa nyelesain soal ini?”

 

Dinda mengangguk yakin tentunya.

 

“Ibu udah bilang terus padahal, kamu kerja aja!” ucap Ibunya lalu beranjak masuk ke dalam rumah sambil membuang kertas yang telah dibacanya.

 

Dinda menghela napas, memungut kertas yang dibuang oleh Ibunya dan ikut masuk.

 

Setelah membersihkan tubuhnya, salat, dan makan. Dinda langsung berpikir keras untuk menjawab soal matematika yang dilombakan itu dengan hanya bermodalkan pengetahuannya dari bangku sekolah dasar dan buku-buku bekas pemberian Syla yang telah ia baca. Hampir setiap malam ia berusaha untuk menyelesaikan soal demi soal yang dilombakan.

 

___✧

 

Hari pengumpulan lomba pun tiba, dan Dinda sudah menyelesaikannya. Dinda sudah ada di depan rumah Syla sejak pagi. Dinda ingin menitipkan jawaban soal-soal yang diperlombakan itu pada Syla.

 

Dinda berdiri, ketika mendapati Syla yang keluar dari rumahnya. “Syla!” panggil Dinda.

 

Syla menoleh, lalu mendekat ke Dinda. “Kenapa, Din?”

 

Dinda menyerahkan kertas soal dan jawaban lomba itu. “Aku udah selesai menjawabnya, Syl. Tolong kumpulin, ya. Aku gak bisa ke sekolah soalnya. Gapapa, kan?” Syla mengangguk ragu.

 

Lalu dibalas senyuman cerah oleh Dinda.  “Makasih Syla, aku berangkat dulu. Kamu semangat belajarnya. Nanti kasih tahu siapa pemenangnya, oke?”

 

Kemudian gadis bernama Dinda itu berlari ke arah laut.

 

Syla sedikit terkejut oleh jawaban milik Dinda, dia sudah menebak pasti Dinda pemenangnya. Syla menggeleng terus menerus, karena sedari tadi ada niat jahat yang tiba-tiba muncul, yaitu menukarkan jawaban miliknya dengan jawaban milik Dinda. Namun, hatinya berkata, “Ah, itu jelas salah, Dinda butuh sekolah.” ucap Syla dalam hati.

 

Syla menghela napas dalam-dalam setelah sampai di sekolah, lalu beranjak mengumpulkan kertas milik dirinya dan Dinda. Semua pikiran jahatnya ia hilangkan, itung-itung membantu Dinda masuk sekolah saja.

 

___✧

 

 

Sore harinya setelah Dinda pulang melaut. Ia terdiam membeku. Air matanya menggenang, lalu menetes. Bagaimana tidak?. Hari ini, tepat satu hari setelah pengumpulan jawaban atas lomba yang ia ikuti. Ternyata ia dinobatkan sebagai pemenang juara pertama. Hal itu ia ketahui setelah Syla memberitahu padanya.

 

Jaring dan embernya terjatuh ke pasir dikarenakan kekagetannya atas informasinya dari Syla. Kemudian Dinda meraih sebuah surat yang terlipat dari tangan Syla dan mengatakan, “Makasih ya Allah, makasih Syla. Akhirnya aku bisa sekolah juga! Aku harus kasih tau Ibu!” Dinda mengangkat jaring dan embernya, lalu berlari pulang ke rumah.

 

Syla juga pulang menuju rumahnya. Ia sudah dihadapkan oleh banyak pertanyaan yang akan keluar dari mulut Ibunya.

 

Benar saja, Ibunya Syla marah-marah padanya karena ia dikalahkan oleh Dinda yang hanya anak putus sekolah. Padahal Syla dikenal sebagai anak yang pintar dan bahkan sering dibangga-banggakan oleh Ibunya ketika Ibunya sedang berkumpul bersama tetangga-tetangganya.

 

___✧

 

Sesampainya Dinda di rumah dan hendak memberitahukan Ibunya bahwa ia memenangkan lomba dan berhak atas hadiah sekolah gratis, tiba-tiba ia melihat Ibunya terjatuh di lantai dekat tempat tidur. Sontak saja Dinda kalang kabut dan berusaha mencari bantuan ke sana-sini.

 

Akhirnya ia sampai di rumah sakit dan Ibunya segera dapat ditangani. Hampir semalaman Dinda terus menemani Ibunya, hingga subuh tiba Ibunya belum sadar juga. Ia dihampiri oleh perawat yang menanyakan biaya administrasi. Dinda bingung, dia tidak punya uang sama sekali. Dinda mau tidak mau melewatkan hari pertamanya untuk bersekolah. Ia mencium kening dan tangan Ibunya sebelum benar-benar meninggalkannya pergi melaut mencari ikan untuk dijual. Dinda telah sampai di perahu, dan di sana juga sudah ada Pak Harto.

 

“Pak, Dinda ada dua kabar hari ini. Pertama Dinda bisa Kembali bersekolah dengan gratis. Kedua Ibu Dinda jatuh sakit dan masuk rumah sakit. Hari ini seharusnya Dinda bersekolah untuk pertama kalinya. Tapi, Ibu benar, sebaiknya Dinda kerja saja biar bisa mendapat uang untuk keperluan sehari-hari dan membiayai rumah sakit Ibu.” Dinda mencurahkan isi hatinya pada Pak Harto.

 

“Sabar ya, Neng. Semua pasti ada hikmahnya.” Pak Harto berusaha untuk menenangkan.

 

Mereka akhirnya pergi melaut hingga sore hari.

 

___✧

 

Setelah melaut Dinda langsung bergegas menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, tiba-tiba mata Ibunya perlahan-lahan terbuka. Dinda langsung memeluk Ibunya dan menangis dalam pelukan.

 

“Ibu, mengapa Ibu tidak jujur pada Dinda kalua Ibu mempunyai penyakit gula darah?” tanya dinda sambil terisak-isak.

 

“Ibu sengaja Dinda, Ibu gak mau nyusahin kamu. Biaya rumah sakit pasti mahal.” jawab Ibunya sambil berlinang air mata.

 

“Ibu sebenarnya Dinda mau ngasih Ibu kejutan.” ucap Dinda.

 

“Kejutan apa, Din?” tanya Ibunya.

 

Dinda langsung memberikan surat yang menyatakan bahwa ia memenangkan lomba dan berhak untuk bersekolah secara gratis.

“Kamu menang, Din? Ibu sama sekali tidak menyangka. Awalnya Ibu melarang kamu bersekolah karena Ibu menganggap kalau kamu sudah tidak akan bisa mengejar teman-teman karena kamu sudah setahun tidak bersekolah. Tapi, setelah melihat hasil ini Ibu berubah pikiran, kamu boleh sekolah dan berhak menggapai cita-citamu. Oh iya, hari ini seharusnya hari pertama kamu sekolah, kan?” ucap Ibunya panjang lebar dan diakhiri dengan sebuah pertanyaan.

 

“Iya, Bu, Dinda menang. Iya Bu seharusnya hari ini hari pertama Dinda sekolah. Tapi, benar kata Ibu waktu itu, lebih baik Dinda kerja aja mencari ikan agar bisa mendapat uang untuk makan sehari-hari dan juga untuk biaya berobat ibu juga.”

 

“Tidak Dinda, kamu harus sekolah.” ucap Ibunya sambil memeluk Dinda.

 

“Tapi, Bu. Dinda harus mencari uang untuk biaya rumah sakit Ibu.” sahut Dinda dengan terisak-isak.

 

Tiba-tiba seseorang membuka pintu. “Jangan khawatir Din, Bu.” ucap seseorang itu.

 

Dinda dan Ibunya melepaskan pelukan setelah mendengar seseorang itu. Ternyata itu suara Pak Harto.

 

“Saya ada rezeki, Bu. Ini buat bayar rumah sakit. Gapapa, pake aja.” Pak Harto menyodorkan amplop putih berisi uang ke Dinda.

 

“Tapi, Pak … Ini tebal banget.” ucap Dinda masih tidak percaya dan sambal menerimanya dengan ragu-ragu.

 

“Pakai untuk bayar rumah sakit. Ini sebagai ucapan terima kasih Bapak ke Dinda dan Ibu Mayah karena udah mengizinkan saya menumpang di perahu milik almarhum.

 

“Terima kasih, ya, Pak Harto.” ucap Dinda dan Ibunya.

 

___✧

 

Sore harinya Dinda dan Ibunya boleh pulang ke rumah.

 

“Din, besok kamu sekolah, ya.” ucap Ibunya setelah berbaring di tempat tidur.

 

“Iya, Bu, siap. Terima kasih, ya, Bu. Doakan Dinda biar bisa menjadi orang yang sukses dan bisa membahagiakan Ibu.” sahut Dinda.

 

“Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu. Maafkan jika Ibu terkadang suka keras sama kamu ya, Din.” ucap Ibunya.

 

“Iya, Bu. Dinda juga minta maaf terkadang suka tidak nurut. Dinda sayang Ibu.

 

Mereka berdua berpelukan dan terciptalah senyum manis yang menandakan kebahagiaan.

(Visited 1 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan