UKIRAN KENANGAN_SALMA DZAKIYYAH IRSA_SMPN 1 SUBANG

WhatsApp-Image-2021-04-22-at-21.11.38.jpeg

Kabut di pagi hari menjadi suguhan rutin bagiku. Rintik hujan masih berjatuhan menambah suasana sejuk di pagi hari ini. Dedaunan yang basah dan juga suara serangga menyambut pagiku. Aku mulai membuka mataku dengan otomatis mataku tertuju pada pemandangan yang terpampang di jendela kamar. Kulihat hamparan kebun teh hijau yang diselimuti kabut tebal, walaupun tak terlihat jelas di mataku tapi aku bisa merasakan dinginnya di luar sana. Aku beranjak dari tempat tidurku dan membukakan jendela. Aku diam sesaat melihat hamparan kebun teh yang basah terkena hujan.

Aku pergi beranjak dari kamarku menuju meja makan. Sudah ada ayah dan kakakku yang sedang menikmati sarapan. Aku mengambil nasi hangat yang tersaji di atas meja dan mengambil beberapa lauk untuk sarapanku kali ini. Aku dan keluargaku berbincang-bincang tentang pembelajaranku selama masa pandemi ini. Rasanya sangat senang karena dapat belajar di rumah bersama keluargaku, tapi aku rasa cukup hampa karena tidak bisa bermain dengan teman-temanku di waktu istirahat.

“Aara kenapa melongo nak?” tanya ibuku dengan khawatir. “Astagfiirullah, tidak apa-apa bu, Aara lagi kangen sama teman-teman di sekolah,” jawabku. Aku menyimpan alat makan ke tempat cuci dan membersihkannya. Lalu kembali pergi ke kamar dengan langkah gontai lesu. Semakin lama berada di rumah semakin hampa rasanya. Pasti saja ada yang kurang di dalam hati. Aku membaringkan tubuhku dengan sekuat tenaga. Rasanya benar-benar kosong hatiku entah apa yang kurang namun aku selalu merasa ada yang kurang setiap harinya.

Tidak kusangka aku tertidur di atas kasur, dengan rasa malas aku segera beranjak dari kasur. Entah apa yang aku pikirkan saat ini namun pikiranku mengarahakanku ke meja belajar. Hati ini terasa bergetar. Rindu, hanya itu yang ada di pikiranku. Aku rindu kota kecil ini kota yang pertama kali aku lihat dalam hidupku. Kota kecil tempat menyimpan kenangan yang tidak akan pernah hilang dari benakku. Kota Subang, foto-foto yang terpampang rapih di meja belajar membuatku tersadar apa yang membuatku terasa hampa selama ini. Aku benar-benar ingin kembali ke kota asalku, kota Subang tapi karena banyak alasan aku tidak bisa kembali ke kota asalku.

Aku ingat dengan rinci pengalamanku ketika harus berpisah dengan teman yang kota belahan jiwaku ini. Hari itu benar-benar hari terburuk dalam hidupku, berita yang tidak pernah kusangka akan dating. Aku harus meninggalkan kota kelahiranku ini. Aku harus meninggalkan semua teman-teman yang selalu ada disaat apapun. Aku segera berpamitan dengan teman-teman dan guru di sekolahku. Langit hitam mengiringi perpisahan kami, seakan dunia pun tidak terima akan perpisahaan ini. Dengan berat hati aku harus menerima perpisahaan ini lebih cepat dari yang kupikirkan. Entah mimpi apa aku semalam. Perpisahaan ini bagai badai yang menyapu habis kota. Rasanya semua tubuhku lemah aku tidak bisa memikirkan bagaimana keadaanku nanti setelah aku pindah. Apakah aku bisa memiliki teman yang selalu ada seperti mereka? Atau bahkan aku tidak akan memilikinya sama sekali. Banyak hal-hal yang bergentayangan di pikiranku. Aku sempat sedikit berkeliling di kota kesayanganku ini melihat tugu-tugu kota Subang dan lain sebagainnya. Aku sangat menyukai suasana kota Subang di sore hari. Jarang sekali terlihat kemacetan di kota ini, bahkan mungkin tidak pernah.

Monumen terakhir yang aku bisa lihat yaitu museum kota Subang atau yang bisa kita sebut dengan Wisma Karya dan juga tugu sisingaan. Dua monumen ini benar-benar berarti bagiku. Dua ciri khas kota Subang ini selalu menjadi ucapan selamat datang bagiku namun sekarang dua monumen ini terasa mengucapkan selamat tinggal padaku. Tugu sisingaan ini selalu kulihat setiap harinya, namun entah mengapa aku marasa hari ini cukup sulit aku mengatakan selamat tinggal.

Semua kejadian itu akan selalu tersimpan dalam benakku, mungkin tidak akan pernah hilang. Di saat libur panjang seperti sekarang aku sangat ingin berlibur atau bahkan hanya berkunjung ke kota Subang itu akan membuatku sangat bahagia. Tapi karena kedua orangtuaku sedang sibuk bekerja aku juga tidak bisa melarang mereka untuk mencari nafkah.

Aku duduk menatap ke jendela kamar yang tertutup embun. Angin yang bertiup kecil masuk melalui sela-sela jendela, rintik hujan mulai berjatuhkan. Langit sudah kembali gelap, kututup jendela di kamarku lalu berbaring di kasur sebari menggulung tubuhku dengan selimut hangat. Udara di pagi hari ini lebih dingin dari biasanya, tubuhku terasa menggigil tak tahan menahan dinginnya udara luar. Angin bertiup kencang menerbangkan dedaunan yang tak bersalah. Pikiranku terus memikirkan kenangan-kenangan indah yang terukir di kota Subang. Mulai dari saat aku belajar bersepeda sampai kelulusanku di sekolah dasar. Semua kenangan yang kuukir di kota Subang tidak akan pernah hilang dari benakku, bahkan aku berharap bisa mengulangi semua kejadian itu kembali. Jalan yang berada di kota Subang tidak begitu ramai pengendara tidak seperti kotaku sekarang. Suara mesin mobil dan klakson motor yang saling sahut membuatku cukup risih ketika di siang hari.

“Nak, mamah ada meeting di Subang Aara mau ikut?” suara mamahku yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarku. “Benar mah? Kalau begitu Aara mau ikut!” sahutku yang masih tidak percaya dengan yang mamah katakana. “Ayo cari bajunya, nanti kita segera berangkat,” lanjut mamah. Masih dengan rasa tidak percaya aku mencari baju yang cocok untuk suhu di kota Subang yang relatif lebih panas dibandingkan dengan kotaku sekarang. Cukup sulit untuk memilih baju yang ingin kupakai, aku juga cukup bimbang ingin memakai yang mana. Lalu kuputuskan untuk memakai sweeter berwarna abu-abu dan rok berwarna hitam kesayanganku.

“Aara, ayo berangkat sayang,” sahut mamah yang sudah menunggu di dalam mobil sedari tadi. “Iya mah Aara segera turun,” sahutku. Perjalanan kami tidak begitu lama, hanya memakan waktu kurang lebih dua jam saja, itu pun karena kemacetan. Suasana yang sangat indah, tugu sisingaan menyapaku ramah seperti biasanya.  Museum Wisma Karya berdiri megah dengan pancuran air dengan replika piala adipura kota Subang yang berada di tengahnya. Walaupun aku tidak bisa berlama-lama berada di sini namun aku sudah bisa merasakan peluk hangat dari teman-temanku. Jalanan yang kosong dan juga sinar senja yang tersenyum manis melihat kedatanganku kali ini, udara sejuk dan angin sepoy-sepoy menembus sweeter yang kupakai. Udara dingin dengan rasa hangat di dalam hatiku menjadi satu kesatuan yang indah. Aku menunggu ibuku beberapa saat sembari melihat ke sekitar kota Subang dan mengenang semua kenangan yang telah kuukir selama tiga belas tahun ini. Aku tidak menyangka bisa datang ke kota Subang ini, kicauan burungvpun mengantarkanku kembali ke rumah. Langit malam yang gelap dengan bintang dan bulan pun ikut mengantarku pulang.

 

(Visited 9 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan