Subang Diambang Sahara_AISHA RAHMA MUNIFA_SMPN 1 SUBANG

AISHA.jpeg

Siang itu daun-daun berguguran. Bahkan angin yang berhembus pun terasa panas tak karuan. Aku diam terduduk di kasurku sembari menghela nafas berkali-kali. Dengan malas, tanganku bergerak berusaha mengambil handphone milikku yang bergetar sedari tadi.

Ternyata Eri—sahabatku—menelponku. Telunjukku lalu menggeser tombol hijau yang terdapat pada layar dan mendekatkan benda persegi itu ke telingaku.

“Hey, Aira. Sudah menemukan ide untuk tugas poster minggu ini?” tanya Eri dari seberang sana.

Aku menggeleng, walaupun aku tau gadis itu tak bisa melihat reaksiku.

“Belum. Kau sendiri?” tanyaku balik.

Kini aku dapat mendengar Eri menghela nafas berat dengan nada frustasi. “Kau tidak sendirian, akupun sama. Otakku sepertinya terlalu penuh dengan makanan sampai tidak bisa berfikir soal pelajaran.”

Aku terkekeh mendengar candaan Eri. Gadis itu tak pernah bisa diajak serius.

“Ya sudah, Ri. Ku tutup, ya. Selamat bekerja sama dengan otakmu itu,” aku tertawa bercanda.

Aku mendengar Eri berdecak, “Yaaa, benar. Baiklah.”

Kami mengakhiri panggilan singkat itu sepihak.

Aku kembali meletakkan benda pipih itu ke atas meja. Lagi-lagi aku menghela nafas. Astaga… aku tidak dapat memikirkan ide untuk tugasku sama sekali. Akupun sudah lelah dengan keadaan saat ini.

Keadaan di mana masyarakat terpaksa mengikat hasratnya untuk melangkah kaki keluar pagar dari pagar besi.

Berusaha mememnjarakan jiwa yang merasa sengsara.

Membosankan, memang kata yang tepat.

Aku bangkit dari dudukku dan berjalan ke luar kamar dengan langkah gontai.

Otakku butuh istirahat sejenak.

“Kau benar-benar seperti zombie, kau sadar, kan?”

Diriku menoleh ke arah kanan. Ah, ternyata kakak laki-lakiku yang menyebalkan.

Aku mengangguk lemas. “Ya aku tahu, kau mengatakan hal itu setiap hari padaku.” Tanganku mengibas-ngibas menyuruh Kakakku menjauh. Ia berdecih lalu pergi melewatiku.

Kakiku melangkah menuju kasur yang berada di ruang TV. Dan tentu saja tubuhku langsung melompat ke atasnya dan meregangkan otot-ototku.

Mataku berniat terpejam sejenak, namun tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. Aku membuka mataku terkejut. Kenapa rasanya hari ini semua orang berusaha untuk menggangguku??

Aku menghembuskan nafas lalu menggeserkan tubuhku membiarkan seseorang yang berada di hadapanku tidur di sampingku.

Itu ibuku.

Tangannya kini sibuk dengan remot, berusaha mencari berita terkini yang sudah dapat kutebak apa topik pembahasannya.

‘Pasien Covid-19 Bertambah Setiap Harinya’, selalu tentang itu.

Aku menghembuskan nafas sembari memutar bola mataku cepat. Ibuku bahkan sampai berceloteh panjang tentang banyaknya berita seputar virus yang kini tengah menyebabkan pandemi di bumi ini.

Tubuhku bangun dari tidur, kembali ke kamar setelah merasa tidak ada yang menarik untuk dilihat. Tanganku bergerak kembali mengambil handphone berwarna hitam milikku.

Aku menatap beberapa nontifikasi di layar handphoneku. Mataku menangkap sebuah nontifikasi berita.

‘Pasien Covid-19 di Subang meningkat hingga 3778 orang’.

Astagfirullah…” aku menggeram frustasi. Sudah lelah dengan keadaan seperti sekarang.

Kerinduanku akan keadaan seperti dulu kembali bergejolak. Aku rindu sekolah, aku rindu teman-temanku—jangan lupakan jajanannya yang tak dapat kulupakan.

Dan, jangan lupakan sistem PJJ atau Pelajarn Jarak Jauh yang saat ini masih diadakan hampir di semua tempat di Indonesia, aku bukannya tidak menyukainya, tentu saja aku menyukainya, hanya saja hawanya sudah tidak lagi sama. Tidak seseru saat bertatap muka langsung.

Kau hanya bisa mengerjakan PR mu sendirian di kamar, berteman dengan kesunyian tanpa ada kejadian di mana hampir seluruh siswa tidak mengerti dengan materi pembelajaran.

Ahhh, aku terkekeh seperti orang gila ketika kembali mengingatnya.

“Ra, kau tidak benar-benar gila bukan?”

Aku menoleh cepat ke arah pintu. Mukaku kembali datar sembari menatap wajah Kakakku yang menyembul menatapku.

“Bisakah sehari saja kau tidak menggangguku? Aku sedang pusing sekarang, jangan membuatku semakin gila. Aku tidak mau ketularan sinting karenamu,” kataku pedas.

Lelaki itu mencibir, ia lalu masuk ke dalam kamarku perlahan. Membuat muka datarku menjadi semakin keruh tak suka.

“Kau punya PR tentang poster, ‘kan? Masa mencari ide saja tidak bisa??” ujarnya meledek.

Aku menghela nafas. Ku akui kakakku ini memang rada sinting, tetapi soal pelajaran dia pasti unggul.

Aku pun tidak mengerti kenapa, padahal lelaki itu hanya hobi bermain.

Tapi kenapa selalu dapat peringkat besar?? Sedangkan diriku, mengerti rumus phytagoras saja sudah seperti memanjat pohon dengan tubuh gajah. Susah minta ampun.

“Kalau kau datang ke kamarku hanya untuk meledekku mending kau keluar. Karena aku tidak akan tersulut emosi saat ini. Jadi menjahiliku akan sangat sia-sia untukmu,” kataku masih dengan wajah tak peduli alias datar.

Kakakku melengkungkkan bibirnya ke bawah setelah merasa misinya gagal.

Ia membuang nafas pelan. “Kemari, mumpung aku baik. Kakak bantu cari ide poster.”

Dahiku mengkerut. Tidak biasanya Kakakku mau membantuku.

Aku menatapnya dengan curiga, “Mau apa?”

Lelaki itu memiringkan kepalanya. “Maksudmu??”

“Pasti mau minta sesuatu, ‘kan. Makannya membantuku. Iya, ‘kan?” tanyaku penuh tanda tanya.

Kakakku mengusap dadanya pelan, “Astagfirullah, Aira. Kakak sudah baik, nih. Sudah ah, cepat!”

Aku berdecak pelan, terpaksa aku membiarkan lelaki itu membantu.

Sebenarnya aku tidak sudi, tapi ah sudahlah, yang penting tugasku selesai. Toh, lelaki itu memang pintar, ‘kan?

Mulutku bergerak cepat memberitahu informasi yang guruku berikan untuk tugas minggu ini.

“Hah? Seriusan kau tidak memiliki ide sama sekali untuk tugas ini?? Astaga, kau benar adikku?? Entah mengapa aku serasa menjadi dewa ketika duduk di sampingmu.”

Mataku berputar dengan decakan di bibirku. Lelaki ini mulai lagi.

“Kau berniat untuk membantuku atau tidak, sih??” tanyaku geram.

Kakakku menggeleng-geleng, lelaki itu lalu terdiam beberapa saat. Matanya lalu beralih menatapku serius.

Cowok itu memiringkan kepalanya seperti orang sinting. “Kenapa kau tidak membuat poster tentang Covid-19?”

Aku seketika terdiam tak membalas, tidak tau ingin bicara apa. Otakku lalu berusaha mengingat apakah guruku memberitahukan informasi tema poster yang harus kubuat.

Aku menepuk jidat. Sekarang aku mengerti kenapa Kakakku mengatakan aku bodoh.

Setelah aku ingat-ingat guruku sama sekali tidak membatasi muridnya ingin membuat poster bertema apa.

Yang berarti aku bebas untuk memilih temaku sendiri.

Ternyata aku sebodoh itu, haha.

Sebuah tangan tiba-tiba menepuk pundakku dan menyadarkanku dari lamunan.

Aku menoleh, menatap Kakakku yang tersenyum aneh padaku.

Ia terkekeh mencurigakan, “Sepertinya kau baru menyadari kalau kau memang lebih bodoh daripada aku. Bukan begitu, Aira?” tanya nya terlampau lembut hingga membuat bulu kudukku merinding.

Aku diam tak mengelak. Tapi dengan cepat aku kembali menatap mata Kakakku tajam.

“Aku tidak bodoh, aku hanya pusing. Kau tahu aku sangat ingin masuk sekolah, terkadang aku tidak mengerti materi apa yang guruku jelaskan padaku. Karena sinyalnya jelek,” aku berusaha membela diriku sendiri.

Nye nye nye, terserah apa katamu,” ujarnya meledek.

Lelaki itu lalu pergi dari kamarku, meninggalkan diriku yang masih meruntukki kebodohanku.

Setelah selesai bergumam tak jelas, kaki ku berlari mencari alat gambar yang kupunya untuk memulai tugas yang seharusnya besok sudah kukumpulkan.

Setelah lengkap, tanganku dengan lihai mulai menggambar berbagai macam objek di kertas.

Aku mengambil tema 3M. Menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker.

Selain untuk kepentingan nilai, kuharap teman-temanku dapat terus mengingat betapa pentingnya 3 hal tersebut pada masa seperti ini.

Terutama dengan terus meningkatnya virus Covid-19 di Subang.

Jika dikira-kira, sepertinya aku mengerjakan tugas itu selama 4 jam.

Jari-jariku sudah seperti pelangi melihat banyaknya warna krayon yang menempel pada telapak tanganku.

Aku bisa saja menggunakan pensil warna, tetapi untuk gambaran yang lumayan besar seperti punyaku, akan memakan waktu yang sangat lama untuk mewarnainya.

Yang ada jari tengahku akan membengkak karena terlalu lama menekan pensil warna.

Tapi hei, lihat hasilnya. Tidak terlalu buruk, kok.

Tiba-tiba handphone milikku kembali bergetar.

Eri menelpon lagi, sudah pasti untuk menanyakan soal tugas yang baruku selesaikan tadi.

“Halo, Ri,” panggilku.

“Ah, jadi bagaimana? Kau sudah menemukan idenya?”

Aku tertawa kecil. “Sudah, bahkan aku sudah menyelesaikannya. Baru saja selesai.”

Telingaku dapat mendengar suara Eri menggebrak mejanya lumayan kencang. Aku terkekeh geli.

“Hey hey heyyy, dan kau tidak memberitahuku??”

“Maaf-maaf, aku tadi kelupaan. Aku sudah ingin bilang tadi, tapi lupa,” kataku sembari tertawa.

“Kau menyebalkan, Aira.” kata Eri dengan nada mengintimidasi.

Aku tertawa kencang. “Iya iyaaa, aku minta maaf.”

“Eh, bagaimana dengan milikmu? Sudah dapat ide?” tanyaku balik.

Aira terdengar menghela nafas. “Sebenarnya, sih sudah. Tapi entah kenapa aku malas untuk mengerjakannya.”

Aku berdecih, “Sebaiknya kau kerjakan sekarang. Akan lebih malas lagi jika kau kerjakan nanti.”

Aira bergumam mengiyakan.

“Ya sudah, ku tutup ya telfonnya.”

“Oke.”

Kami lalu kembali mengakhiri panggilannya.

Aku memang sangat dekat dengan Aira. Gadis itu teman sekaligus sepupuku. Ia ramah, dan sangat terbuka.

Mataku lalu menatap jendela dengan penuh harap akan hari esok dengan langit cerah, tidak ada lagi awan mendung yang memayungi bumi dengan sejuta badai pasirnya.

Aku menatap awan yang berlalu-lalang. Menggenggam sejuta do’a dipikiranku dengan harap semoga Tuhan kabulkan.

“Semoga yang sakit segera diberi kesembuhan, yang ditinggalkan diberi ketabahan. Dan Subang—ah tidak, Indonesia kembali sehat.” Kira-kira itu do’a nya.

 

AISHA RAHMA MUNIFA, 2021

(Visited 8 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan