Sepucuk Surat Areya_AISHA RAHMA MUNIFA_SMPN 1 SUBANG

WhatsApp-Image-2021-04-19-at-22.10.11.jpeg

Areya berkali-kali menghentakkan kakinya pada lantai dengan hati gusar. Setiap hari tidak ada habisnya ia khawatir dengan sahabatnya Yuna yang kini tengah isolasi mandiri di rumahnya. Ia tahu ia terdengar lebay. Tapi virus yang menggerogoti Yuna tidak bisa dianggap enteng. Tidak sedikit jiwa yang direnggut oleh virus itu.

Areya menatap cermin yang kini menampakan dirinya yang tengah menggigit kuku jarinya tak tenang. Kakinya lalu memutuskan untuk keluar dari kamar dan berjalan menuju kamar kakak perempuannya. Setelah sampai, Areya menatap Kakaknya yang tengah fokus dengan laptop di hadapannya dengan mata menyipit. Kakak Areya yang bernama Alaya itu menoleh menyadari kehadiran Areya lalu menaikkan sebelah alisnya kebingungan. “Kamu sedang apa?”

Areya tak mengeluarkan suara. Ia tetap berdiri menatap Alaya di dekat pintu masuknya sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Alaya memutar bola matanya setelah dengan hebatnya menebak apa yang ada di fikiran Areya sekarang. “Jangan bilang kau berfikir untuk memberikan Yuna sesuatu lagi, bukan? Menyerahlah, kau tidak akan mendapat izin dari petugasnya. Walaupun kau belum pernah mencoba, sudah dapat kuduga bahwa kau akan gagal.”

Areya mendengus, ternyata sia-sia pergi ke kamar Alaya untuk meminta ide. Berkali-kali Areya memberi tahu Alaya ide miliknya untuk mengirim sesuatu kepada Yuna, namun Alaya berkata bahwa ia tak akan mendapat izin dari petugas kesehatan untuk mengirim sesuatu. Alhasil Areya berkali-kali pula mengurungkan niatnya. Areya berbalik sembari berdecak meninggalkan kamar Alaya dengan langkah yang ia hentakkan ke lantai lumayan keras. Hal itu membuat Alaya menggeleng-gelengkan kepalanya pusing melihat kelakuan adiknya itu.

Alaya juga sebenarnya khawatir teramat-sangat terhadap kondisi Yuna. Apalagi gadis itu adalah sahabat dekat Areya bahkan mereka sudah seperti saudara. Alaya juga sering mengantar jemput kedua orang itu menggunakan mobilnya ketika dulu mereka pergi ke sekolah, dan ia pergi untuk kuliah. Namun ia percaya dengan Yuna, perempuan itu tidak akan menyerah semudah itu hanya karena virus yang menggerogoti dirinya itu. Ia yakin karena Yuna adalah gadis yang sangat optimis, ia tak mudah terpengaruh berita-berita buruk tentang virus yang ada di tubuhnya itu. Jika Yuna sudah berkata ia akan sembuh, maka gadis itu akan berusaha untuk sembuh.

Alaya malah khawatir dengan Areya yang terlalu risau dengan keadaan Yuna. Padahal Yuna saat ini pasti tengah memakan makan siangnya sembari bersenandung menyanyikan lagu kesukaanya. Areya menjadi jarang tersenyum. Ia hanya akan tersenyum jika sudah mengetahui keadaan Yuna. Gadis itu juga jadi tidak nafsu makan. Ia bahkan bingung sekarang ini siapa yang tengah sakit, Areya atau Yuna?

Alaya melepas kacamata bening yang sebelumnya bertengger manis di hidungnya sembari memijit pangkal hidungnya sebelum akhirnya ia memutuskan merebahkan diri sejenak. Sedangkan Areya, ia masih sama saja. Berguling sana-sini sembari berusaha mencari ide untuk menghibur Yuna agar gadis itu tidak stress. Tapi siapa juga yang tengah stress, sepertinya itu dia sendiri. Telinga Areya mendengar suara ketukan dari arah pintu. Kepalanya yang ditutupi bantal lalu terangkat dan menampakkan wajahnya yang datar. Alaya tertawa, ia mengheampiri adiknya itu dan duduk di kasur berwarna birunya.

“Aku mempunyai ide,” kata Alaya langsung pada topik.

Areya mengangkat alis kirinya, “Apa itu?”

“Kita bisa membuat surat untuk Yuna.” Areya mengangkat tubuhnya yang kini sudah terduduk di sebelah Kakaknya itu.

“Surat? Surat apa?” tanyanya tak mengerti.

Alaya berdecak, “Ya, surat! Kata-kata motivasi dan sebagainya. Lalu kita bisa memberinya kejutan. Untuk izin kau bisa serahkan kepadaku, sepertinya kita bisa mengirim sesuatu asal ‘berguna’ untuk Yuna.” Dahi Areya mengkerut, namun 3 detik kemudian ia tersenyum. Mengerti kata ‘berguna’ yang dikeluarkan Alaya. Maksudnya adalah berguna untuk mental dan kesehatan Yuna, agar gadis itu tidak patah semangat untuk menjalani tahap penyembuhan ini.

Areya melompat dari kasurnya lalu menepuk tangannya kencang. “Baiklah! Aku akan menulis surat dan memberikan Yuna sesuatu, dan yang pasti aku sudah tahu itu apa. Sekarang, kau boleh keluar,” Areya menunjuk pintu keluar kamarnya agar Alaya segera pergi. Alaya mendengus, “Dasar tidak tahu terima kasih!” Setelah tak lagi melihat tubuh Alaya, ia langsung menyambar binder tebalnya yang sering ia jadikan buku catatan berisi quote untuk dirinya sendiri. Tangannya menyobek sebuah kertas hitam dengan corak lumba-lumba yang ada di setiap ujung kertasnya, ia lalu mengorek-korek tempat spidol warna-warninya mencari spidol dengan tinta berwarna putih.

Setelah semuanya siap, tangannya dengan teliti menulis setiap katanya dengan rapih. Tak membiarkan ada satu kesalahan yang akan mengakibatkan kerusakkan pada kertas hitam itu. Hasilnya pun sepadan dengan usahanya. Tulisannya terlihat rapih, ia pun merasa puas dengan susah payahnya. Areya lalu meletakkan kertas itu di atas meja, kakinya lalu pergi menuju kulkas bagian bawah di mana tempat sayuran dan buah-buahan disimpan di rumahnya. Ia menghela nafas lega setelah menatap banyaknya buah dan sayuran yang baru ibunya beli tadi pagi.

Tangan Areya mengambil acak sayur dan buah-buahan yang ada di kulkas itu ke dalam sebuah kotak yang lumayan besar. Dimulai dari pisang, apel, paprika, bengkuang, dan lain-lain. Ketika ia hendak menutup kotak besar yang sudah ia isi tadi, tiba-tiba Alaya sudah berdiri di sampingnya dengan senyum lebar. Areya mengusap dadanya pelan karena terkejut, namun ia langsung menatap Kakaknya itu dengan tatapan penuh harap bahwa mereka akan mendapat izin dari para petugas kesehatan. “Mereka mengizinkan!”

Mata Areya melebar, ia melompat kegirangan sembari sesekali berteriak kecil karena tak ingin membuat keributan di dalam rumahnya. Alaya juga tak henti-hentinya tersenyum lebar sambil tertawa kecil melihat Areya yang terlampau senang. Areya menghentikan lompatannya ketika pintu rumahnya diketuk beberapa kali. Saat dibuka, tampak seorang wanita berjilbab putih dengan senyum di wajahnya. “Halo, aku yang akan mengantar kiriman kalian kepada Yuna,” kata wanita itu langsung pada topik inti. Areya tersenyum, “Hai, apa Kakak salah satu petugas kesehatan yang mengurus Yuna?” Wanita itu menggeleng, “Tidak. Aku hanya kebetulan dimintai tolong oleh petugas kesehatan yang mengurus Yuna untuk mengirim barang kalian, nanti akan kuserahkan langsung pada salah satu petugas kesehatannya,” katanya menjelaskan.

Alaya serta adiknya itu ber-oh secara bersamaan. Areya buru-buru kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil kotak besar tadi dan surat yang sudah ia masukkan ke dalam amplop coklat dengan hiasan bunga kering di atasnya. Wanita tadi pun langsung pergi tak berbasa-basi karena ia masih memiliki pekerjaan yang harus ia kerjakan. “Maaf sudah merepotkan!” teriak Areya pada mobil perempuan tadi yang mulai menjauhi pekarangan rumahnya.  Ketika Areya hendak masuk ke dalam rumahnya, mendapat satu lagi ide untuk mengerjai Yuna. Dengan cepat gadis itu berlari menuju kamarnya dan menyampar ponselnya. Tangannya bergerak lincah mengetik sesuatu untuk dikirim pada Yuna.

Anda:  Aku mengirimkan sesuatu untukmu, para petugas sudah memberi izin. Mungkin sebentar lagi akan sampai, jangan menangis ketika melihatnya ya. Hihi.

Areya tertawa sendiri. Berharap dapat melihat reaksi Yuna ketika melihat kotak berisi sayur dan buah-buahan tadi. Gadis itu pasti akan tertawa kencang sembari memegangi perutnya yang kesakitan, lalu mengusap matanya yang basah karena terlalu banyak tertawa. Alaya yang melihat hal itu pun tersenyum karena akhirnya melihat adik semata wayangnya itu kembali tertawa.  Yahh, walaupun dunia sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya diri sendiri harus tetap bahagia. Benar begitu, bukan?

(Visited 29 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan