Prasangka Buruk Aurorae_Alzena Rachmatia Zarah_SMPN 1 Subang

WhatsApp-Image-2021-04-17-at-17.34.24.jpeg

Minggu pertama di bulan Maret, 2020.

Sebuah ruangan bernuansa pastel dengan luas 5×5 meter persegi itu tidak bisa dikatakan dalam kategori normal. Baju bekas pakai kemarin tersebar begitu saja di kolong ranjang. Meja belajarnya lebih parah, kertas penuh coretan, sampah bekas rautan pensil dengan ketebalan berbeda, hingga berbagai buku dongeng yang sudah terpisah dari sampulnya. Ditambah lagi, bungkus kemasan kripik singkong dan botol minuman yang akan mengganggu langkah siapa saja yang masuk ke dalam kamar itu.

Aurorae, si empunya kamar memandangi kekacuan yang ada di kamarnya lewat mata hazelnya. Dengan langkah gontai dia mulai membereskan kekacauan itu satu per satu. Baju yang berada di kolong ranjang ia masukkan ke dalam keranjang cucian yang berada dekat mesin cuci. Tangan mungilnya memungut sampah yang berserakan di lantai lalu ia masukkan ke dalam kantong kresek hitam dan membuangnya ke tong sampah depan rumah, juga merapikan buku-buku yang berantakan menjadi satu tumpukan rapi. Tak lupa juga ia mengganti seprainya dengan yang baru.

Aurorae menghela napasnya. Akhirnya selesai!

Kakinya lalu melangkah dari kamarnya dan berjalan keluar menuju gazebo yang terletak di halaman belakang rumahnya.

Dia merentangkan tangannya sembari menikmati semilir angin yang meniup pelan rambutnya. Udara di sore hari memang sangat menyejukkan hati dan pikiran.

“Rora, cepat lihat ke sini!” suara Ibu yang disertai sedikit lengkingan menyapa telinga Aurorae.

“Aku datang!” balas Aurorae sembari berlari menuju rumah.

Melihat Ibu yang menampilkan ekspresi terkejut di depan televisi membuat Aurorae penasaran lalu berkata, “Ada apa, Bu? Apa ada sesuatu yang mengganggu Ibu? Atau sudah terjadi masalah?”

Ibu menepuk sofa di sampingnya. Isyarat menyuruh Aurorae agar duduk di sebelahnya. Aurorae pun menuruti perintah ibunya. Dia melangkah menuju sofa dan duduk di samping Ibu.

“Tadi Ibu baru saja menyalakan televisi yang menyiarkan berita jika virus covid-19 sudah mulai menyerang negara kita.” Ibu berucap agak khawatir. Raut wajahnya juga menampilkan ekspresi yang sama.

“Oh, begitu ya. Aurorae kira sesuatu terjadi pada Ibu. Aku takut Ibu kenapa-kenapa,” ucap Aurorae seraya mengelus dadanya. Dia agak lega karena Ibu baik-baik saja. Ibu adalah segalanya bagi Aurorae. Sejak Ayah meninggalkan mereka berdua, Ibu bersusah payah menjadi orangtua tunggal untuk putri tunggalnya. Ibu bekerja keras menjadi wanita karir. Kini mereka hidup untuk satu sama lain.

Kening Ibu mengerut. Tampaknya dia cukup heran dengan reaksi Aurorae yang terlihat biasa saja. “Kok responmu begitu sih, Nak? Ini masalah serius lho. Wabah ini sudah mendunia. Ini pandemi, Rora.”

Sudut bibir Aurorae sedikit tertarik menciptakan sebuah lengkungan tipis. “Asalkan Ibu baik-baik saja, Aurorae tak akan mencemaskan apapun. Kehilangan Ibu adalah ketakutan terbesar bagi Aurorae.”

Hati Ibu sangat terenyuh mendengar penuturan dari mulut putrinya. Namun sedikit terselip rasa khawatir pada hatinya. Ibu takut jika anaknya itu kehilangan rasa simpatinya pada oranglain karena Aurorae sudah memiliki kehidupan yang keras sejak berumur lima tahun. Saat itu Ibu tidak bisa selalu bersama Aurorae karena harus mulai merintis usaha toko rotinya.

“Maafkan Ibu, Nak.” Ibu berucap sangat pelan hingga Aurorae pun tak dapat mendengarnya.

Pada malam harinya Aurorae mendapat kabar jika mulai besok sekolah akan dilaksanakan secara daring selama dua minggu.

“Huh! Apa-apaan ini,” gerutu Aurorae yang sedang membaca surat edaran pemberitahuan pembelajaran daring dari grup sekolah.

Ibu yang sedang membaca resep roti menoleh karena mendengar gerutuan putrinya. “Ada apa, Nak?”

“Masa mulai besok aku sekolah di rumah selama dua minggu sih Bu?” Aurorae melipat kedua tangannya. Ekspresinya menunjukkan anak itu sedang tak senang. “Ini sangat membosankan karena aku tidak bisa pergi ke kantin.”

“Kamu libur dua minggu dong?” tanya Ibu sembari menaruh buku yang tadi ada di tangannya ke atas meja.

“Libur apanya. Jika seperti ini mungkin akan sangat merepotkan.” Membayangkannya saja sudah membuat Aurorae muak. Bisa saja saat pembelajaran virtual berlangsung akan ada banyak gangguan. Seperti gangguan pada koneksi jaringan yang akan menghambat suara dan kualitas video.

Ughh menyebalkan!

 

***

 

Keesokan harinya Aurorae sudah bersiap di depan laptop untuk mengikuti pembelajaran secara virtual. Dia duduk di kursi sementara laptopnya ia taruh di atas meja belajar. Tiba-tiba ada yang menaruh segelas susu di atas meja tepat di samping laptopnya.

“Eh, hai Bu!” Aurorae menyapa Ibunya yang baru saja datang dengan membawa sebuah nampan.

Ibu tersenyum menatap Aurorae.

“Kamu sudah siap belajar, Nak?” tanya Ibu sembari mengelus rambut panjang Aurorae.

“Tentu saja dong!” Aurorae menjawab dengan sangat antusias. “Aku sudah merubah pikiranku Bu. Mungkin saja belajar secara virtual tidak semembosankan itu. Lagi pula kami kan belum mencobanya.”

Sekali lagi Ibu tersenyum menatap putrinya. “Baguslah jika kamu sadar. Ke depannya jangan bersangka buruk terhadap hal-hal yang belum kita lakukan, Rora.”

“Baik Bu,” sahut Aurorae.

Ibu mengelus rambut Aurorae. “Dengar Nak, bisa saja hal yang kita sangka tak baik menurut Tuhan adalah yang terbaik bagi kita. Begitu pun sebaliknya.”

“Kalau begitu bisa saja hal yant menurut kita buruk malah baik bagi kita menurut Tuhan?” Aurorae menatap Ibu, meminta penjelasan.

“Benar, Nak. Karena Tuhan itu tahu segalanya. Dia tahu mana yang terbaik bagi kita. Kita sebagai umatnya hanya bisa menjalani kehidupan yang telah ditakdirkan,” jelas Ibu.

Aurorae mengangguk paham. “Baik Bu, Aku mengerti. Terima kasih.”

Ibu mengangguk pelan. “Baik, kalau begitu kamu minum dulu susunya. Supaya bersemangat mengikuti pembelajaran virtual di hari pertama.”

“Siap!” Aurorae memberi gerakan hormat membuat Ibu tertawa.

Setelah Ibu meninggalkan kamarrya, Aurorae menyalakan laptopnya lalu masuk ke dalam google meet lewat tautan yang diberikan oleh gurunya tadi malam.

Baru ada sepuluh siswa yang sudah bergabung.

“Eh, Din! Kamu tidak pakai rok sekolah ya?” Aurorae menyapa Dina dalam panggilan video. Kebetulan guru belum bergabung dalam kegiatan virtual itu.

Bisa Aurorae lihat dari layar sana jika Dina sedang bingung karena mengerutkan keningnya.

“Kok kamu tahu, Rora?” heran Dina.

“Aku juga sama kok. Hehehe,” ucap Aurorae lalu tertawa.

“Ih! Aku pun sama tahu.” Dinda, teman sekelas mereka juga ikut bersuara membuat beberapa orang dalam panggilan itu tertawa.

“Aduh! Pak Setyo mana, sih?” protes Ivan yang sudah tidak sabaran. Bukan sudah tidak sabar untuk belajar, melainkan sudah tidak sabar agar proses belajar virtual ini segera berakhir.

Karena Ivan tidak serajin itu…

“Hayoo, kamu sudah tidak sabar belajar ya?” Pak Setyo tiba-tiba menyahuti pertanyaan Ivan. Guru yang memakai kacamata itu baru bergabung ke dalam panggilan video.

Dari seberang sana Ivan terlihat sedang menggaruk kepalanya lalu berkata, “Eh, bukan itu maksud saya pak.”

“Jadi kamu tidak semangat untuk belajar?” tanya Pak Setyo membuat Ivan semakin resah.

Tawa Pak Setyo pecah dari seberang sana. “Hahahahahaha! Bapak hanya bergurau saja kok Ivan. Tidak usah panik seperti itu.”

Lalu pembelajaran pun dimulai dengan serius namun sesekali diselingi canda tawa. Kalau kata Pak Setyo sih agar tidak garing-garing amat.

Ternyata tidak seburuk itu…

(Visited 8 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan