Pahit yang Berbuah Manis_Alzena Rachmatia Zarah_SMPN 1 Subang

WhatsApp-Image-2021-04-17-at-17.34.25.jpeg

Semenjak aku masuk sekolah menengah atas, aku sangat berhati-hati dalam mengatur waktu. Sembilan puluh persen kuhabiskan untuk belajar. Aku tidak memiliki banyak waktu untuk bersenang-senang.

Aku berasal dari keluarga sederhana. Ayahku telah meninggal saat aku berusia lima belas tahun. Ibuku hanya orangtua tunggal yang membesarkan tiga orang anak dengan susah payah. Selama tiga tahun duduk di bangku SMA aku selalu menanggung beban pikiran tentang universitas.

Aku sangat tahu ibu mungkin tidak mampu membiayai kuliahku. Aku sempat berpikiran saat lulus SMA aku akan langsung bekerja agar bisa meringankan beban ibu untuk membiayai pendidikan adik-adikku. Aku sangat dilema hingga guru konselingku memberikan pencerahan.

“Ibu pikir kamu bisa mencoba mengenyam penndidikan sambil kerja paruh waktu,” katanya beberapa waktu lalu.

Dan di sinilah aku sekarang. Di sebuah caffe yang cukup terkenal di kalangan remaja. Aku mendapatkan informasi dari temanku jika tempat ini sedang membutuhkan pekerja paruh waktu dari sore sampai jam delapan malam. Dan itu sangat cocok denganku!

“Nana! Dua americano sama satu macchiato untuk meja nomor 14 ya!” seru Kak Andin, seniorku di tempat kerja.

“Oke Kak!” balasku lalu segera menyiapkan coffe yang disebutkan kak Andin tadi.

Aku tersenyum pada pelanggan setelah memberikan coffe pesanan mereka. Huft! Ternyata cukup melelahkan juga bekerja seperti ini. Walaupun tidak begitu berat tapi ini cukup menguras tenagaku. Setelah jam kerjaku habis, aku langsung menggendong tas ranselku untuk segera pulang.

Begitu sampai di rumah aku langsung membersihkan diri. Dan setelah itu aku langsung belajar untuk UTBK. Aku hanya berjaga-jaga jika nanti hasil menyatakan jika aku tidak lolos SNMPTN maka aku sudah siap untuk jalur SBMPTN.

Tidak sedikit temanku yang mengatakan jika aku ini gila belajar. Mereka mengatakan jika aku sudah pasti lolos lewat jalur SNMPTN dengan nilai-nilaiku yang hampir sempurna itu. Tapi aku tidak boleh gegabah dan merasa sudah berada dipuncaknya. Aku harus berhasil di masa depan untuk ibu dan kedua adikku.

“Nana, ini hampir larut malam lho. Lebih baik kamu pulang kerja langsung istirahat saja. Jangan terlalu memaksakan nak.” Suara lembut Ibu menyapa telingaku.

Aku tersenyum padanya lalu berkata, “Aku baik-baik saja kok Bu. Ibu tidak usah khawatir.”

Dapat kulihat Ibu menghela napas pasrah. “Ya sudah, kamu jangan sampai lupa makan ya. Nanti sakit lho.” Ibu mengusap pelan sebelah pundakku.

“Oke Bu!” Aku mengacungkan jempol padanya.

Aku harus berusaha semaksimal mungkin. Sejak pertama kali masuk sekolah menengah atas, aku sudah memutuskan untuk masuk fakultas kedokteran. Maka dari itu, aku sangat ambisius dalam belajar.

Pada waktu istirahat pun aku hanya cukup membeli roti dan meminum air mineral yang aku bawa dari rumah. Siswa waktunya kugunakan untuk membaca buku referensi di perpustakaan sampai aku diberi gelar siswa paling rajin mengunjungi perpustakaan oleh pustakawan sekolah. Menurutku mungkin aku lebih cocok disebut dengan penghuni perpustakaan. Hehehe…

“Nana! Sudah aku tebak kamu pasti di sini,” kata Niki yang baru saja datang ke perpustakaan dan menarik satu bangku lalu duduk di depanku. Ah ya! Niki ini adalah teman yang memberiku informasi tentang lowongan kerja di caffe.

“Kamu kenapa Nik?” heranku saat menyadari raut muram pada wajah Niki.

Niki berkata, “Nilaiku sangat buruk pada ulangan fisika minggu lalu. Aku takut dimarahi oleh ibuku…”

Aku ikut sedih mendengar suara Niki yang sedang frustasi. Sebenarnya aku mendapatkan nilai sempurna di ulangan fisika minggu lalu.

“Kamu… mau aku coba ajari tidak?” tanyaku sangat berhati-hati. Aku hanya takut menyinggung perasaan Niki. Niki adalah teman terbaikku selama ini.

“Ih tentu saja aku mau!” balasnya antusias. “Maksud aku kemari juga seperti itu. Aku sudah lama ingin belajar bersama kamu, tapi aku selalu lupa.” Niki menepuk jidatnya menyadari kebiasaannya yang pelupa itu.

“Oke, nanti kamu atur waktu saja ya kapan kita akan belajar bersama,” ucapku pada Niki.

“Harusnya kamu yang atur waktu. Kamu kan orang sibuk Na. Nanti aku yang menyesuaikan waktu aja,” kata Niki seakan menyadari betapa padatnya waktu yang aku miliki.

“Oke sepakat!” kataku seraya tersenyum.

Beberapa hari kemudian aku akhirnya dapat datang ke rumah Niki untuk belajar bersama. Hari ini adalah satu-satunya hari di mana aku tidak memiliki tugas yang belum diselesaikan dan aku mendapatkan libur satu hari dari caffe tempatku bekerja. Maka sepulang sekolah aku dan Niki langsung pergi ke rumahnya.

Aku mulai mengajari  Niki tentang rumus-rumus yang belum ia pahami sampai bisa. Setelah diyakinkan ia sudah sangat paham, lalu kami mencoba mengerjakan soal latihan. Jika nanti ada jawaban yang berbeda, maka kami akan membandingkannya dengan cara diskusi.

“Kamu gak keberatan mengajari aku seperti ini?” tanya Niki seraya memakan kue di saat kami sedang melakukan istirahat selama beberapa menit.

“Eh? Kenapa harus keberatan?” tanyaku heran.

“Apa kamu tidak merasa rugi? Bagaimana jika nanti aku menjadi sainganmu di kelas?” Niki melanjutkan pertanyaannya.

Aku tersenyum dan berkata, “Niki, berbagi ilmu itu perbuatan baik lho. Aku malah senang bisa mengajari kamu. Dan walaupun nanti kamu jadi sainganku itu bagus lho. Kita bersaing saja secara sehat.”

Niki meletakkan kue yang ada di tangannya lalu berhambur memelukku. “Kamu adalah teman terbaik yang aku miliki, Na!”

Begitupun aku, Niki adalah teman terbaikku!

Beberapa waktu berlalu aku dan Niki selalu menyempatkan untuk belajar bersama di tengah jadwal kesibukan kami.

Sampai hari yang aku tunggu-tunggu akhirnya akan tiba. Besok adalah hasil pengumuman seleksi SNMPTN. Jika aku tidak lolos seleksi, maka aku harus menempuh jalur SBMPTN dengan mengikuti ujian tulis berbasis komputer. Dari semalam mulutku tidak berhenti komat-kamit untuk merapalkan doa. Sampai sekarang tanganku berkeringat. Niki yang duduk di sampingku pun keadaannya tak jauh berbeda. Niki memutuskan untuk mengambil jurusan kesehatan masyarakat. Saat ini kami sedang berada di laboratorium komputer sekolah. Aku dan Niki sama-sama belum memiliki laptop. Maka kami memanfaatkan fasilitas yang ada di sekolah.

Sampai akhirnya penantikan kami berakhir, layar komputer menampilkan kotak hijau yang artinya kami sama-sama lolos di jalur SNMPTN.

“Alhamdulillah akhirnya!!!!” aku dan Niki berpelukan satu sama lain sebagai ekspresi bahagianya kami. Rasanya menyenangkan jika berjuang dan mendapatkan hasil yang sama-sama manis dengan teman.

Aku juga tidak khawatir lagi tentang biaya. Selain bekerja paruh waktu, aku juga beruntung mendapatkan program beasiswa unggulan dari pemerintah. Jadi aku tidak perlu terlalu membebani ibu.

Kabar bahagia ini harus aku sampaikan pada ibu secepatnya. Aku bergegas pulang ke rumah. Begitu pun dengan Niki. Kami sama-sama tidak sabar untuk membagikan kabar bahagia ini pada keluarga di rumah!

(Visited 2 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan