Matahari yang Baik Hati_Nadya Maulida Nur Rachma_SMPN 1 SUBANG

WhatsApp-Image-2021-04-17-at-17.23.49.jpeg

‘hidup adalah sebuah roda yang berputar, terkadang di atas terkadang di bawah. Matahari bisa di lambangkan sebagai keceriaan dan kebahagiaan sedangkan bulan dilambangkan sebagai kesunyian dan kesepian, dan itu semua terjadi di hidup kita’

Di sebuah sekolah yang megah terdapat seorang murid bernama Larrisa Aeliana atau biasa dipanggil Risa atau Lia. Dia adalah gadis yang sangat ceria namun tidak ada yang tahu rahasianya ketika malam tiba.

“Lia!!!” seseorang memanggil Larrisa dari arah belakang sekolah. Larrisa Aeliana atau Lia pun menoleh mencari seseorang yang memanggilnya. Dilihatnya seorang wanita dengan seragam yang sama dengannya sedang berdiri tak jauh darinya sambil melambaikan tangan seperti menyuruh Lia menghampirinya.

Lia pun berjalan menghampirinya, namun wanita itu malah pergi tetapi Lia tetap mengikuti langkahnya. Setelah mengikutinya cukup lama berakhir sudah Lia  di gedung belakang sekolah yang buntu dengan wanita itu yang keluar bersama teman-temannya.

“Apa yang mau kalian lakukan?” Lia cukup ketakutan, bagaimana pun Lia yang ceria dan baik hati tetaplah Lia yang selalu dibully oleh orang-orang yang tidak menyukainya.

“Tidak ada yang ingin kami lakukan, kami hanya ingin bermain denganmu Lia,” mereka tampak mendekat ke arah Lia. Lia mundur perlahan-lahan tetapi tiba-tiba saja tubuhnya menabrak sesuatu. Lia membalikkan tubuhnya dan melihat apa yang dia tabrak tadi, ternyata itu adalah kakak osisnya yang terkenal sangat tegas.

“Apa yang kalian lakukan di sini? Bukannya sekarang waktu istirahat?” terdengar suara dingin yang dia keluarkan.

“Ehh,i-itu kak kita lagi main aja kok. Iya kan temen-temen?” salah satu dari mereka terlihat gelagapan menjawab pertanyaan dari kakak osis tersebut. Kakak osis tersebut menatap tajam mereka, membuat mereka kabur ketakutan.

“Terima kasih kak” Lia membungkukan badannya dan mengucapkan terima kasih. Ketika Lia akan pergi tiba-tiba saja tangannya ditahan oleh kakak osisnya itu.

“Berapa kali kamu dibully seperti tadi?” kakak osis yang diketahui bernama Devano tersebut bertanya kepada Lia.

“Ya? Maksud kakak?” Lia terlihat bingung dengan pertanyaan Kak Devan.

“Saya sudah memperhatikanmu sejak lama dan saya sering melihatmu ke tempat ini atau pun ke gudang sendirian. Lalu ketika kamu keluar, penampilanmu sangat berantakan ditambah memar yang sering kali menghiasi wajahmu itu.” Devano menjelaskan maksud pertanyaannya tadi.

“Kakak tidak perlu tahu, ini urusan saya dan saya harap kakak tidak melaporkan mereka. Saya permisi.” Lia melepas paksa genggaman tangan Devano lalu pergi begitu saja.

Pulang sekolah, saat ini Lia berada di perpustakaan untuk mengembalikan buku yang ia pinjam. Jika kalian bertanya, apa Lia suka membaca buku? Tentu saja tidak. Lia lebih suka menghabiskan waktunya untuk menari daripada harus membaca buku yang membosankan itu. Setelah Lia mengembalikan buku, ia pergi ke ruang latihan menari. Jika kalian pikir Lia mempunyai jadwal ekskul menari tentu kalian tidak salah, tetapi setiap hari pulang sekolah Lia akan ke sini hanya untuk menari menghilangkan stressnya. Lia mengganti baju, lalu melakukan peregangan sebelum akhirnya dia mulai latihan menari.

“Kau aneh!” Lia mendengar seseorang berbicara. Sekarang pukul 16.30 sore dan Lia baru saja menghentikan latihan yang dia lakukan sejak dua jam yang lalu.

“Apa yang kakak lakukan di sini?” ternyata itu adalah Devano yang sedang memperhatikan Lia dari pintu.

“Tidak ada, aku hanya baru pulang rapat dan mendengar suara music keras yang berasal dari sini” Devano menatap Lia dengan tatapan tidak bisa diartikan.

“Keluarlah kak! Aku ingin mengganti bajuku” Lia berdiri lalu mengambil bajunya, sedangkan Devano keluar dan menutup pintunya. Setelah berganti baju Lia keluar dari tempat latihan dan menatap jengkel Devano yang berdiri di depan pintu. Tanpa minat Lia meninggalkan Devano begitu saja.

“Pantas saja kau bodoh, kau hanya fokus menari tanpa belajar” ternyata Devano mengikutinya hingga pintu gerbang.

“Apa peduli kakak? Pendidikan bukan hanya matematika, ipa, dan ips bukan?” Lia terlihat kesal dengan keberadaan Devano.

“Apa maksudmu?” Devano bingung dengan pertanyaan akhir yang Lia tanyakan.

“Apa kakak bodoh? Maksudku, pendidikan bukan hanya akademik tetapi juga non akademik. Aku lebih suka menari dan berolahraga daripada harus belajar dengan segunung buku yang tidak pernah aku mengerti. Pendidikan juga tentang etika, jika kakak berpendidikan maka etika kakak juga pasti bagus tidak mengurusi urusan orang seperti ini.” Lia menjelaskan lalu pergi begitu saja karena hari mulai sore.

—-

Di rumah Lia.

“Aku pulang!!” Lia berteriak untuk memberitahu bahwa ia sudah pulang.

“Lihatlah anak bodoh ini sudah pulang. Nilaimu semester lalu sangat jatuh, berhentilah melakukan hal yang tidak berguna! Dan fokus saja dengan nilaimu yang jelek itu!” Ayahnya mulai membentak Lia, kedua orangtua Lia sangat tidak suka kalau Lia menari dan lebih peduli pada nilai Lia di sekolah daripada diri Lia sendiri.

Lia yang mendengar bentakan ayahnya pun hanya tertunduk. Lia sangat merindukan orangtuanya yang dulu, yang selalu mendukung Lia di bidang apapun dan selalu memperhatikan Lia. Semuanya berubah sejak adik kembarnya meninggal dunia, sejak saat itu Lia selalu ditekan untuk belajar lebih keras lagi tanpa memperdulikan kondisi Lia.

Lia berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Selesai mandi, Lia hanya duduk di pinggir kasur dengan tatapan kosong. Jarum jam menunjukkan pukul 19.15 yang artinya sesuatu akan terjadi.

“Lia!!” seseorang membuka pintu dengan tiba-tiba dan memanggil Lia.

“Apa yang kau lakukan? Mengapa kau tidak bela…” omongan ibu Lia terhenti Ketika melihat tatapan dari mata Lia

“Risa??” tiba-tiba saja ibu Lia memanggil Lia dengan sebutan Risa

“Bisa ibu meninggalkan kami?” ibu Lia hanya mengangguk dan keluar dari kamar Lia. Risa adalah adik kembar Lia yang menjadi kepribadian ganda Lia. Nama asli Lia adalah Aeliana Poetri namun sejak adik kembarnya meninggal berganti menjadi Larrisa Aeliana. Bulan dan Matahari menjadi sebutan untuk mereka karena arti nama mereka, Larrisa yang berarti bulan dan Aeliana yang berarti matahari.

Kepribadian mereka pun berbeda Risa yang bersifat dingin dan menyukai kegelapan dan lebih suka membaca buku, jadi sudah tahu bukan Lia meminjam buku untuk siapa? Lia yang bersifat ceria, menyukai keramaian dan sangat membenci buku lebih suka berolahraga. Ketika malam tiba Risa akan muncul namun ketika pagi Lia akan menjadi dirinya sendiri. Malam itu dihabiskan waktu oleh Risa untuk membaca buku.

Keesokan paginya, jam 6 pagi Lia sudah berada di sekolah dan sedang berada di dalam kelas mendengarkan lagu kesukaannya. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahu Lia, membuat Lia yang sedang mendengarkan musik pun menoleh. Ternyata itu Kayla dan teman-temannya, Kayla adalah orang yang hampir membully Lia kemarin. Tidak kemarin saja sih tetapi sudah bebarapa kali Kayla dan teman-temannya membully Lia. Lia terkejut melihat keberadaan mereka, rasa takut menjalar ke seluruh tubuh Lia melihat mereka semua.

“Jangan takut!, kami kesini ingin meminta maaf atas yang pernah terjadi dulu,” mereka menundukan kepala mereka yang membuat Lia bingung dengan tingkah mereka.

“Kak Devano meneror kami semalam dengan pesan chat yang dia kirim,” salah satu dari mereka berbicara.

“Kak Devano bilang, kalau kamu memintanya untuk tidak melaporkan kami ke bk,” yang lain mulai berbicara.

“Jadi kami kesini ingin meminta maaf atas perlakuan kami,” mereka terlihat tulus meminta maaf, membuat Lia tersenyum.

“Aku sudah memaafkan kalian,” ucap Lia sambil terseyum manis.

“Benarkah?” Kayla tampak tidak yakin, karena dengan mudah mereka di maafkan begitu saja.

“Tentu saja,” mendengar jawaban Lia, mereka menghela napas lega.

“Hey!! Apa yang kalian lakukan lagi sekarang???” Sebuah suara terdengar dari arah pintu, membuat mereka menoleh ke arah pintu dan mendapati Devano sedang bersandar di pintu dengan satu tangan dimasukan ke dalam saku. Kayla dan kawan-kawan tampak panik karena takut dituduh yang tidak-tidak. Lia bangun dari duduknya dan berdiri di depan Kayla sebagai tameng.

“Mereka hanya meminta maaf kepadaku saja kok, jadi tidak usah laporkan mereka,” Lia memajukan langkahnya.

“Benarkah? Bagus deh aku tidak perlu repot-repot berurusan dengan kalian.” Devano menatap Kayla dan yang lainnya dengan tatapan tajam, membuat mereka takut dan kabur lewat pintu belakang.

“Jangan gitu kak, lagi pula mereka sudah minta maaf kan” Lia menatap Devano dengan tatapan kesal.

“Kamu ini terlalu baik, bodoh?” Devano mendorong kepala Lia dengan jari telunjuknya, lalu pergi begitu saja.

“Yak!! Kak Devan!!” Lia berteriak kesal memanggil Devano namun pura-pura tidak didengar Devano.

——

Jam istirahat.

Saat ini jam istirahat sedang berlangsung dan Lia sedang duduk sendiri di kantin. “Woy!” ada seseorang yang memanggil Lia tapi tidak menyebutkan namanya. Dan itu adalah Devano. Devano duduk di depan Lia dengan nampan makannya yang sudah terisi makanan.

“Kenapa kakak duduk di sini? Kan masih banyak tempat lain” ucap Lia acuh melihat Devano duduk di depannya.

“Gak liat apa ya? Tempat lain udah penuh, yang kosong cuma di sini jadi aku duduk di sini,” jawab Devano gemas dengan pertanyaan Lia.

“Terserah Kakak,” Lia melihat sekeliling dan memang sudah penuh semua, akhirnya mereka beruda fokus dengan makanannya masing-masing.

“Kakak mau nanya sama kamu.” Devano tiba-tiba bersuara di tengah kesunyian yang mereka buat. Lia menatap bingung Devano.

“Kenapa kamu gak mau kakak melaporkan mereka?” mendegar pertanyaan Devano membuat Lia tersenyum.

“Karena aku tahu bagaimana orangtua mereka yang akan memukuli mereka di saat mereka membuat masalah dan merusak nama baik keluarga mereka. Orangtua mereka hanya peduli tentang popularitas keluarga mereka sendiri tanpa mempedulikan anak-anak mereka,” ucap Lia yakin dengan jawabannya.

“Wah, kukira kau sangat bodoh, ternyata kau bijaksana juga ya,” Devano meledek Lia sambil tertawa.

“Aku memang bodoh, namun aku menerima kenyataan dengan senang hati. Tidak seperti anak jaman sekarang yang memanipulasi nilainya sendiri. Ah, lebih tepatnya orang tua mereka yang menyogok guru agar nilai anak mereka bagus. Lagi pula nilai buka segalanya kok.” Lia tersenyum menanggapi ledekan Devano, yang membuat Devano terpesona dengan sifatnya.

“Nilai hanyalah sebuah angka, rapot adalah sebuah hasil sementara. Keduanya tidak dapat menjadi ramalan untuk masa depan jadi jangan terlalu berpatok pada dua hal itu karena nilai di dalam rapot tidak bisa menentukan hasil di masa depan. Asal ada usaha semuanya akan baik-baik saja.”

(Visited 4 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan