Lemon yang Manis_FATHIN AZ-ZAHRA_SMPN 1 SUBANG

FOTO-FATHIN-AZ-ZAHRA.jpg

Setahun yang lalu, tepatnya di pertengahan bulan Maret 2020.

“Fathin, coba baca surat Edaran Bupati ini!”. Seru Ummi sambil menyerahkan ponsel di tangannya kala itu.

Akupun membaca kalimat demi kalimat pengumuman yang ada di salah satu grup whatsApp Ummi.

“Ya Allah Mi…..mulai besok aku gak sekolah karena ada himbaun dari  pemerintah untuk tidak belajar tatap muka.“ Tuturku dengan suara lemas dan wajah melongo seolah masih tidak percaya dengan pengumuman apa yang kubaca beberapa menit yang lalu.

“Mau gimana lagi.. pemerintah harus mengambil langkah demi melindungi pelajar dari virus COVID19. Fathin kan tahu sendiri gimana di sekolah, anak-anak banyak yang berkerumun dan itu akan menimbulkan cluster baru untuk penyebaran virus COVID19”. Ummi mencoba menjelaskan alasannya walaupun saat itu semuanya belum bisa aku terima dan pahami.

“Hore…Libur….” Tiba-tiba terdengar teriakan adikku Fauzan yang masih bersekolah di SD.

“Bukan libur ah…” kataku sambil pergi ke kamar dengan hati yang semrawut. Setelah di kamar aku hanya bisa termangu duduk di ruangan merah muda itu sambil tetap berulang-ulang membaca surat edaran itu. Dulu jika ada tanggal merah senangnya minta ampun, tapi sekarang sepertinya tidak kuharapkan.

Brakk…

Sebuah diary berwarna merah jambu tanpa sengaja terjatuh saat kutarik sebuah selimut nuansa kotak-kotak krem. Kudapati untaian beribu kata dan bait  tarian penaku menjadi saksi suasana hari-hariku. Tanpa kusadari tangan ini mulai menari di atas lembar putihnya.

Ada sebuah tanya yang tak kupahami

Ketika nalar tak lagi bisa menjawab

KehendakNya tak ada yang bisa menerka

Bagaimana esok masih kutunggu.

‘****

‘*****

“Fathin..bangun nak, ini sudah siang. Waktunya kamu daring, bukankah pagi ini ada google meeting nak?”. Suara nyaring Ummi  masuk memenuhi gendang telingaku dan aku bukannya bangun tapi malah menarik selimutku yang masih menggulung tubuhku untuk menutup bagian kepalaku, mencoba melanjutkan mimpiku dan tak peduli omelan Ummi yang berusaha membangunkanku.

Uuh…Lagi-lagi ummi menghentikan mimpiku,  apa ummi gak tahu kalau aku masih mengantuk. Suara batinku muncul dibenakku. Dan tubuhku tidak sama sekali mencoba untuk berubah posisi  untuk bangun, pipiku dan bantal bak seperti amplop dan prangko. Mataku sangat berat hingga susah untuk terbangun. Aku tahu matahari sudah tersenyum riang untuk memancarkan siluet sinarnya dan masuk ke roster-roster dinding kamarku. Maafkan aku Ummi tanpa Ummi tahu semalam aku begadang karena harus menyelesaikan tulisan  thrillerku. Hati kecilku berkecamuk dan  aku sendiri mengakui aku salah.

“Fathin, jam berapa ini!? masa belum mandi?”

“Fathin tugas-tugas dari sekolah sudah dikerjakan?”

“Fathin….bla…bla…bla.”

Itu semua adalah  salah satu deretan pertanyaan-pertanyaan Ummi yang membuat aku jengkel. Aaaaa…rasanya aku mau teriak.

Aku tidak sanggup lagi kalau seperti ini terus….

Aku bangun hanya untuk mengikuti kata Ummi supaya terbebas dari omelannya bukan dengan kesadaran dari hati. Hatiku selalu bertanya kenapa Ummi tidak pernah mengerti apa yang aku rasakan. Aku lelah dengan semua perubahan yang terjadi, sudah hampir setahun  hari-hariku begitu aneh. Maafkan aku Mi…Lagi-lagi aku menghujat Ummi dalam batinku.

Seperti pagi itu aku harus bangun pagi dengan baju yang rapih dan terkadang kupakai seragam lengkap hanya untuk duduk manis di depan laptop dan belajar online. Egoku ingin pergi ke sekolah bertemu langsung bapak ibu guru dan teman-temanku di sana. Apalagi tugasku dua kali lipat lebih banyak dibandingkan saat belajar biasa.

Makanya jangan heran, jika ketidaksukaanku ditunjukan dari cara belajar saat online.

“Fathin, tolong hidupkan kameranya nak”.

Kalimat guruku itu sering  terdengar saat belajar online karena aku selalu mematikan kamera leptop ketika meeting virtual . Bagaimana tidak aku matikan? Itu jurusku untuk menyembunyikan suasana hati buruk yang nampak di wajah lesuku.

Sungguh hari-hari yang aneh, aku melakukan hal yang tidak aku inginkan dan sepertinya aku marah pada keadaan.

Maafkan aku Ummi dengan keadaanku seperti ini, Ummilah orang pertama yang dibuat bingung mungkin kesal harus bagaimana lagi cara mengatasi keadaanku.

****

Tanpa sengaja saat aku mengambil baju di lemari, aku melihat salah satu seragam putih biru yang tergantung di lemariku, lantas aku ambil baju itu dan kubawa duduk bersamaku. Tanpa disadari tanganku  mengelus-elus baju itu dan memoriku terbang ke arah bangunan yang beraksen warna biru dengan pesona kesejukannya dari pohon-pohon yang berjejer rapi memayungi bangunan itu, juga pot-pot kecil yang berbaris rapi baik secara vertikal maupun horizontal berderet mempercantik halamannya itu. Bangunan itu tak lain adalah sekolahku, SMP Negeri 1 Subang. Tempat aku dan teman-teman merasakan ada sebuah kehangatan di sana. Aku merasa disitulah rumah keduaku setelah rumah orangtuaku.

Tak cukup disitu ingatanku pergi melayang pada wajah-wajah ramah dan hangat yang saat ini aku rindukan. Sekarang aku hanya bisa melihat dari layar virtual saat belajar online. Sosok itu adalah guru-guruku sekaligus motivatorku untuk meraih sederet mimpi untuk hari esokku. Tiba-tiba bibirku tersenyum, bukan senyum tanpa alasan tapi ingatanku kembali pada wajah-wajah imut beribu karakter, mereka adalah teman-temanku. Aku rindu semuanya… aku rindu pulang telat demi latihan basket di sekolahku, aku rindu berada di laboratorium bersama teman-teman KIR ku..aku rindu ketika harus antre di kantin koperasi sekolahku hanya untuk sebuah puding dan aku rindu saat aku antre beli teh botol di gerobaknya Mang Aceng sambil menunggu mobil angkot yang mengantarkan aku pulang.

“Fathin?”.

Ummi menyadarkanku yang sedang melamun,

”Kamu sudah selesai mengerjakan tugasnya? Kalau sudah, tolong bantu Ummi di dapur.”

“Sudah mi, nanti Fathin nyusul ke dapur, Fathin mau beresin meja belajar dulu.”

Jawabku sambil berdiri dan menggantung baju seragam untuk kembali menjadi penghuni lemariku kembali,  dalam hatiku berkata bahwa suatu hari nanti aku akan memakainya kembali dan pergi ke sekolah seperti biasa. Tanpa aku sadari mataku berkaca-kaca.

“Fathiiiin”. Teriak Ummi di dapur membuat tersadar untuk kesekian kalinya.

Tanpa jawaban langkah gontaiku menuju ke dapur dan duduk di kursi makan. Ummi menoleh ke arahku, tanpa harus bertanya aku tahu perempuan itu dengan naluri keibuannya bisa tahu jika suasana hati anak sulungnya  sedang tidak bagus.

Kemudian perempuan itu terlihat di tangannya membawa dua buah Lemon dan duduk di depanku sehingga kami saling berhadapan.

“Buat apa Mi Lemon ini?” tanyaku heran.

“Mau dibuat minuman segar. Lemon ini bagus, mengandung vitamin C yang merupakan antioksidan kuat. Manfaat lain, membantu tubuh menyerap zat besi dari makanan dan berkontribusi pada penyembuhan luka. Penelitian menunjukkan bahwa makanan yang mengandung banyak vitamin C dan antioksidan dapat membantu meningkatkan kekebalan tubuh terhadap kuman dan virus. Terutama saat pandemi ini bisa meningkatkan imunitas tubuh.”Aku mengangguk-angguk mendengar penjelasannya.

“Tapi, Lemon itu kecut banget Mii.”Cetusku dengan ekspresi mengernyit seolah merasakan rasanya.

“Benar, nak. Apa Fathin pernah dengar sebuah kalimat motivasi yang berbunyi saat kehidupanmu memberikan Lemon, ubahlah menjadi Limun?”.

“Artinya apa itu Mi?” tanyaku sambil mengernyitkan kening penasaran dengan pertanyaan Ummi.

“Itu hal kiasan kehidupan tentang bagaimana seseorang ketika takdirnya mendapat  kesusahan, kekurangan atau keadaaan yang sedih bukan berputus asa tetapi seseorang itu berupaya dan berjuang keadaaanya menjadi lebih baik. Seperti Fathin bilang, Lemon ini kecut rasanya, coba Fathin ambil air, gula dan es batu. Kita jadikan Lemon ini sebagai minuman segar.” Tandas Ummi sambil tangannya sibuk dengan mengaduk air lemon dan gula di gelas.

Akupun terdiam seribu kata, perkataan Ummi barusan bagiku sebuah tamparan halus yang membangunkan aku dari  hari-hariku yang penuh dengan keluhan.

Astagfirullahhal adzim….Ya Allah ampuni hamba-Mu ini…jerit batinku.

“Masa pandemi corona ini berdampak pada semua orang, bukan hanya Fathin sebagai pelajar, tidak sedikit orang yang kehilangan pekerjaannya pada pandemi ini sedangkan mereka punya tanggungan untuk dinafkahi, banyak perusahaan yang bangkrut dan lebih miris lagi banyak orang terpapar virus COVID19 yang menyebabkan mereka diisolasi terpisah dari keluarga bahkan jika orang tersebut meninggal jenazahnya harus dikebumikan dengan protokol kesehatan oleh petugas khusus tanpa melibatkan keluarganya”.

“Jadi Fathin harus pandai bersyukur…semua orang yang normal pasti pernah mengalami hal yang membosankan dalam rutinitas, tapi bagaimana caranya Fathin mengisi waktu yang membosankan dengan sesuatu yang positif dan terus berkarya sesuai apa yang kamu bisa”.

Ups…kata-katanya bak busur panah yang sudah meluncur tepat sasaran, mengena sekali. Okey ..saat ini aku harus bangkit dan tidak ada dalam kamus seorang Fathin harus marah pada keadaan ataupun menyerah. Pasti ada pesan tersembunyi yang Allah berikan pada pandemi ini yaitu manusia untuk tafakur diri dan banyak belajar hal baru.

“Ummi, Fathin minta maaf karena selama ini Fathin bikin Ummi kesal” ucapku dengan penuh penyesalan mengingat hari-hari kemarin susah bangun pagi, susah mandi dan sederet hal-hal dari aksi protesku dengan keadaan.

“Semua orangtua pasti ingin yang terbaik buat anaknya dan ummi  memaafkan Fathin”. Ujar Ummi sambil mengelus-elus kepalaku dengan begitu lembut.

“Nak, kita tidak pernah tahu pandemi sampai kapan,  hanya Allah yang tahu.  Jadi kita harus mencoba hidup berdampingan dengan COVID19”. Terlihat wajah Ummi sedih.

“Maksud Ummi?” tanyaku dengan penasaran.

“Maksudnya hidup berdampingan di sini bukan berarti menyerah, akan tetapi kita harus merubah perilaku, cara pandang dan beradaptasi dengan kebiasaan baru. Seperti Pemerintah bilang  bahwa hal penting yang perlu dilakukan saat pandemi ini ada tiga, yaitu menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Intinya kita harus selalu menjaga kebersihan dengan dimulai dari diri kita sendiri”

“Iyaa..Ummi, Fathin paham sekarang. Kita harus bisa adaptasi dengan kebiasaan baru memakai protokol kesehatan dan terus berkarya..Oh iya ummi. Ada kabar dari guru Fathin Bu Desi, akan ada semacam Challenge Menulis Puisi dan Cerpen untuk siswa SMP, apa Fathin mampu Ummi?”

“Bismillah ya nak…In Syaa Allah Fathin bisa, jangan takut untuk mencoba. Hasil tidak akan mengkhianati usaha, semangat !”.  Ujar Ummi sambil menepuk pundakku.

“Terima kasih Ummi”. Hanya itu yang terucapkan di bibirku walaupun banyak kata yang ingin aku ungkapkan. Hati kecilku bertekad aku ingin terus berkarya dan bisa membanggakan sosok perempuan ini yang sedang kupeluk dan  mengangkat harum  nama sekolahku adalah impianku selama ini.

****

 

(Visited 117 times, 1 visits today)

One thought on “Lemon yang Manis_FATHIN AZ-ZAHRA_SMPN 1 SUBANG

Tinggalkan Balasan