Kota Sisingaan_Salma Dzakiyyah Irsa_SMPN 1 Subang

WhatsApp-Image-2021-04-17-at-04.57.17.jpeg

Sorot sinar sang surya sudah menembus sela pintu di kamarku, awan bergerak lambat laun menjauh seakan membuka jalan untuk sang surya. Embun menutupi jendela di sudut kamarku. Hawa sejuk selepas hujan di pagi hari membuatku semakin nyaman tertidur di atas kasur dengan balutan selimut hangat yang menyelimuti tubuhku. Aku buka kedua mataku dengan perlahan, memastikan kesadaranku kembali seutuhnya kusingkirkan selimut yang menyelimuti tubuhku dan beranjak pergi untuk membersihkan badan.

“Aara, anak mamah sini makan dulu nanti sayurnya keburu dingin,” teriak ibuku yang berada di dapur. “Iya Ma, Aara mau ke bawah, sebentar,” sahutku yang masih bersiap di kamarku.

Aku berlari ke bawah melewati satu persatu anak tangga, sesampai di bawah mataku langsung tertuju pada hidangan yang sudah berjejer rapih di atas meja. Mulai dari sup yang berkuah hingga tumis-tumis yang beraroma nikmat. Aku segera duduk di kursi, aku mengambil secungkil nasi hangat dan mengambil beberapa lauk yang sudah terhidang di atas meja. Aku makan dengan lahap seperti orang yang sudah tidak makan tiga hari. “Araa pelan-pelan makannya nanti keselek nak,” ucap ibuku yang terlihat khawatir melihatku makan dengan lahap. Jam yang terpasang di dinding menunjukkan pukul setengah tujuh, aku yang tidak sadar waktu akibat menikmati makan yang ibuku hidangkan. Aku berlari ke kamar mengambil tas sekolahku lalu segera bergegas berangkat ke sekolah.

“Aara ini uang jajannya, takut ketinggalan saying,” sahut ibuku dari dalam rumah. “Oh iya, Aara lupa!” ucapku karena teringat uang jajan yang masih berada di atas meja.

Mesin mobilpun dinyalakan, aku berangkat ke sekolah dengan ayahku. Pemandangan kota kecil ini selalu menarik di mataku setiap harinya, kota Subang. Banyak orang yang tidak mengetahui di mana kota Subang, walaupun kota ini kecil tapi menyimpan banyak cerita di dalamnnya. Suguhan pemandangan yang kulihat setiap harinya tetap tidak terasa bosan di mataku. Tidak terasa sudah perjalanan yang cukup lama, mobilku berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Kulangkahkan satu persatu kakiku menuju sekolah. Tidak ada bedanya dengan hari-hari biasanya, semua berjalan normal.

Hujan deras mulai mendekat ke arah kami. Angin yang bertiup kencang menerbangkan dedaunan kering yang berada di luar. Petir menyambar tanah dengan kencangnya membuat semua orang berteriak terkejut. Mulai dari tetesan air kecil yang lama-lama menjadi semakin deras. Hujan tak henti-hentinya mengguyur sekolah pada pagi hari ini. Bel pulang sekolah sudah mulai berbunyi, menandakan saat pulang sekolah.

Aku duduk di dalam mobil dan dengan otomatis mataku tertarik dengan sesuatu yang ada di luar jendela mobilku. Walaupun masih dengan pemandangan yang sama dengan yang kulihat tadi pagi. Tugu sisingaan khas Subang ini sangat menarik perhatianku saat ini. Patung yang terukir dengan detailnya yang menggambarkan tari sisingaan khas Subang, yang memiliki makna yang mendalam. Bukan hanya tugu sisingaan yang menarik perhatianku kali ini ada satu yang sangat menarik perhatianku kali ini, yaitu museum kota Subang atau yang lebih kita kenal dengan Wisma karya. Aku baru menyadari perubahan dari wisma karya kota Subang ini, mulai dari selasar yang berubah menjadi pancuran indah dengan patung piala Adipura yang berada di tengahnya dan perubahan lain di sekitarnya.

Lembayung sore hari seakan mengantarku pulang ke rumah, angin yang bertiup kecil menjatuhkan daun-daun kering di sore ini. “Assalamualaikum Mah,” ucapan salamku ketika memasuki rumah. “Waalaikumsalam nak, ayok ganti baju terus makan Mamah udah sediain makanan spesial buat Aara,” sahut mamahku yang sedang sibuk memasak di dapur. Aku langsung pergi ke kamarku segera mengganti baju dan bergegas pergi ke bawah untuk makan siang. Aku duduk di kursi yang sudah tersedia mengambil nasi hangat dengan lauk yang ibuku sediakan dengan special. Setelah selesai, aku kembali ke kamar untuk istirahat, mengingat besok aku harus berlomba.

Sinar sang surya tetap setia menemaniku di setiap pagi, namun kala ini awan dengan cepatnya menutupi sinar sang surya. Langit lambat laun semakin gelap, rintik hujan berjatuhan dan gemuruh suara petir sudah mulai terdengar. Aku harus segera bersiap untuk lomba hari ini. Semua barang yang kupikir perlu semuanya dimasukan ke dalam tas yang akan kubawa. Aku mulai menaiki mobil menuju kesekolah. Aku masuk ke sekolah dengan tergesa-gesa berlari kesana-kesini untuk mengambil semua yang kubutuhkan. Aku dan guru pembimbing segera berangkat menuju bandara. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 3 jam untuk menuju bandara. Kami menuju ke daerah yang lumayan jauh dari kota Subang. Perjalanan ini terasa sangat cepat sampai aku tak menyangka kalau aku sudah sampai ke tempat yang dituju. Aku segera bergabung dengan peserta lainnya untuk berbaris masuk ke ruang pelatihan. Di sini kami diberi sedikit pelatihan terlebih dahulu sebelum kami berlomba.

“Hai, nama kamu siapa?” sapa peserta lain yang ada di sampingku. “Aku Aara dari Subang, salam kenal ya!” sahutku dengan sumbringah. “Oh iya kamu dari kota apa Ra?” lanjutnya. “Oh, aku dari Subang Jawa Barat” jawabku.

Teman di sampingku terdiam dengan wajah bingungnya. “Aara kalau Subang itu di mana ya? Kok aku belum pernah dengar,” jawabnya yang membuatku cukup terkejut. Aku baru tahu ternyata tidak semua orang tahu di mana keberadaan kota Subang. Aku sangat terkejut dengan pertanyaan teman disampingku.

“Kamu tahu gunung Tangkuban Parahu? Gunung Tangkuban Parahu itu terletak di kota Subang!” kataku. “Ohh, aku pikir gunung Tangkuban Parahu itu ada di Bandung,” sahutnya yang cukup terkejut dengan apa yang kukatakan. “Banyak orang bilang seperti itu, tapi sebenarnya gunung Tangkuban Parahu itu ada di Subang loh!” terusku untuk memberitahu temanku di mana keberadaan kota Subang itu.

Lembayung sore hari sudah mulai menampakan keberadaannya. Sinar sang surya sudah berganti dengan langit orange yang memanjakan mataku. Suasana sore hari selalu berhasil membuatku takjub dengan keindahannya. Aku pergi ke kamar yang sudah disediakan mengganti bajuku dan merebahkan badanku. Kurasa hari ini cukup melelahkan dari hari-hari biasanya. Langit mulai menjadi gelap, jam dinding menunjukkan pukul tujuh malam. Aku segera membuka buku dan catatan dari pelatihan tadi. Besok adalah hari yang kutunggu, sesungguhnya bukan hanya materi saja yang harus kupersiapkan tapi aku juga harus mempersiapkan tubuhku agar tidak mengantuk saat lomba esok hari.

Sinar sang surya muncul kepermukaan dengan malu-malu. Aku segera mengumpulkan kesadaranku dan bergegas pergi ke untuk membersihkan diriku. Segera kubawa semua peralatan yang dibutuhkan untuk lomba kali ini dan aku usahakan tidak ada yang tertinggal. Aku segera duduk di tempat yang sudah ditentukan. Waktu mengerjakan sudah dimulai, aku segera memulai dengan semua yang telah kupersiapkan kemarin. Waktu sudah selesai semua peserta diperintahkan untuk berhenti mengerjakan. Lalu kami diperintahkan untuk keluar dari ruangan. Aku keluar dari ruangan dengan pikiran penuh tanda tanya dan juga rasa bimbang di hati. Aku memikirkan apakah jawaban yang kupilih tadi benar atau tidak dan ternyata soal yang diberikan lebih sulit dari yang kubayangkan. Aku mulai tidak percaya diri dengan diriku sendiri, apakah aku akan menang atau tidak.

“Hai Aara, gimana tadi susah tidak? Kalau aku tadi cukup kesulitan dengan beberapa soal, lumayan bimbang dengan jawabannya,” sahut temanku. “Iya aku juga cukup sulit dengan beberapa soal, aku jadi tidak percaya diri buat menang,” jawabku. “Oh, iya Aara nanti setelah lomba aku akan main ke Subang! Aku ingin lihat keindahan kota Subang banyak orang-orang bilang kota Subang itu indah banget,” terus temanku yang sangat gembira ketika akan mengunjungi kota tempat tinggalku. “Wahh, ayo nanti aku antar ke tempat-tempat menarik di kota Subang,” jawabku dengan sangat antusias mendengar temanku dari kota lain ingin berkunjung ke kota Subang.

Hari ini adalah pengumuman pemenang dari perlombaan nasional ini, aku sangat ingin memenangkan perlomban ini agar aku bisa mengharumkan kota Subang di tingkat Nasional. Jantungku sudah berdetak tidak karuan seperti sedang dikejar oleh mangsa. Peraih medali perunggu dan perak sudah diumumkan aku semakin tidak yakin dengan diriku sendiri. Aku tidak yakin bahwa aku akan mendapatkan medali emas pada perlombaan kali ini. “Pemenang medali emas dalam mata pelajaran IPA diraih oleh Aara dari kota Subang,” aku segera naik keatas panggung dengan rasa gembira. Aku masih tidak menyangka diriku bisa meraih penghargan tertinggi dalam perlombaan ini. Aku sangat senang karena aku bisa mengharumkan kota Subang sesuai dengan kuinginkan.

Sekarang aku memulai perjalananku untuk kembali ke kota Subang, dengan guru pembimbingku dan teman baruku yang ingin melihat keindahan kota Subang secara langsung. Sesampainya kami di kota Subang aku langsung mengajak temanku untuk melihat museum kota Subang atau yang sering kita sebut dengan Wisma Karya. Pemandangan yang sering kulihat setiap harinya namun tak membosankan untuk dilihat ciri khas dari kota Subangku ini. Aku juga memperlihatkan tugu sisingaan yang terpampang jelas saat pertama kali kami memasuki Subang kota seperti ucapan selamat datang dari kota Subang.

Aku dan temanku berpamitan, aku merasa tak rela untuk membiarkannya pergi begitu saja. Aku memberikan beberapa makanan khas Subang yang dapat ia bagikan dengan keluarga temannya. Aku rasa tidak cukup sehari saja untuk memperlihatkan kota Subangku ini. Aku rasa butuh lebih dari satu minggu untuk memperlihatkan semua keindahan yang ada di sini. Kota kecil saksi bisu semua kenangan yang telah terjadi di hidupku, kota Subang.

(Visited 11 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan