KOTA BERJUTA RASA_AISHA RAHMA MUNIFA_SMPN 1 SUBANG

WhatsApp-Image-2021-04-19-at-22.10.11.jpeg

Bell besar itu berbunyi seiring dengan ratusan siswa berlari kesana-kemari menuju kelasnya masing-masing. Namun seorang gadis dengan rambut kucir kuda dan ransel hijaunya itu tak peduli. Ia tetap berjalan santai seakan tidak akan terjadi apa-apa setelah ia masuk kelas.

Dan tentu saja tebakkan gadis itu salah. Begitu tangannya membuka pintu kelas, sudah banyak pasang mata kini menatapnya tajam seperti ingin memakannya saat itu juga. Si ketua kelas yang bahkan sudah berdiri di depan kelas bahkan menatapnya dengan tatapan lelah.

“Sampai kapan kau akan berdiri di situ seperti patung, Sena?” tanya si ketua kelas bernama Edo itu.

Sena menghela nafas, ia lalu berjalan menuju meja miliknya dengan santai sambil tersenyum canggung.

“Kau sudah 3 kali menulis catatan telat. Apa alasanmu sekarang?” Edo sedikit membentak.

Sena menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Baiklah aku minta maaf! Tadi aku sangat lapar jadi mampir ke kantin sebentar dan membeli gorengan,” katanya sembari mengangkat sebuah plastik berisi 2 macam gorengan.

Edo menepuk jidatnya kesal. “Sebaiknya jangan diulang lagi. Selain berdampak pada nilai sikapmu, kau tahu kita semua juga yang akan terkena imbasnya.”

Sena mengangguk lemah, “Baik. Sekali lagi maaf.”

Ketua kelas itu menghela nafas sembari menarik selembar kertas dari sakunya. “Oke, aku akan absen semuanya. Jika nama kalian disebut angkat tangan. Aku tidak akan mengulangi panggilanku 2 kali.”

Sena menutup matanya. Menunggu namanya dipanggil. Ya sudahlah, memang salahnya terlalu meremehkan waktu. Tidak ada salahnya seluruh teman kelasnya kesal pada dirinya.

***

“Oke, hari ini kita akan membahas tentang kota kita tercinta, Subang. Ada yang tau mengenai informasi Kota Subang?” Tanya Bu Lela dengan nada tegas.

Seluruh murid diam tak bersuara membuat guru berumur 32 tahun itu menghela nafas.

“Baik, akan ibu jelaskan. Seperti yang kalian tahu Subang terkenal dengan nanasnya yang melimpah, wisata air panasnya, kebun teh, dan jangan lupakan kesenian sisingaan yang masih sering kita temui. Tentu saja masih banyak yang terkenal dari Subang namun tidak bisa ibu sebutkan satu per satu.”

“Dan juga Subang terkenal oleh sejarah turut sertanya pada masa penjajahan. Salah satunya adalah sebuah perusahaan kebun teh, kopi, dan karet milik seseorang berkebangsaan Belanda bernama Peter William Hoefland. Ya, P & T Lands. Sempat dijadikan sebuah hotel bernama Hotel Subang Plaza, dan dulu beroprasi sebagai kantor besar perusahaan tersebut. Namun pada akhirnya gedung itu menjadi terlantar.”

Sena memangku kepala dengan sebelah tangannya, menyimak materi dari Bu Lela. “Oke, ini mulai menarik,” katanya dalam hati.

Pasalnya rumah gadis itu lumayan berdekatan dengan Hotel Subang Plaza yang memang sudah terlantar. Padahal jika dilihat lagi gedung itu sangatlah megah. Ia pikir bangunan itu hanya hotel biasa. Namun ternyata telinganya setuli itu sampai tidak tahu mengenai sejarah sekeren ini.

“Lalu ada juga museum Wisma Karya. Yang menarik adalah, di dalam museum tersebut terdapat patung Hoefland yang terbuat dari perunggu. Dibuat di Belgia. Lalu pengurus museum tersebut memindahkan patungnya ke dalam museum itu. Namun sangat disayangkan, saat ibu amati lagi pengunjung museum itu masih sangat kurang. Padahal banyak sekali koleksi barang prasejarah yang ditemukan di wilayah Subang di dalam bangunan tersebut.”

Edo mengacungkan tangannya, meminta izin untuk mengeluarkan pertanyaannya. Bu Lela mengangguk mempersilahkan. “Kira-kira kenapa ya bu pengunjungnya masih kurang?”

Bu Lela tersenyum, “Coba tanyakan pada diri kalian sendiri, kenapa masih banyak dari kalian yang belum berkunjung ke museum itu.”

Seketika kelas menjadi hening. Edo pun menggaruk kepalanya merasa malu. Sena juga langsung memalingkan wajahnya setelah berdeham ringan serasa disindir.

Bu Lela terkekeh kecil, “Baik ibu lanjutkan. Sekarang kita akan membahas buah unggulan kota kita yang tentu kalian sudah tahu, yaitu nanas. Jenis nanas yang banyak dibudidayakan di daerah Subang adalah nanas madu Subang. Memiliki daun dan mahkota yang halus dan nyaris tidak berduri, serta mata buahnya cenderung datar, ukurannya pun lebih besar dibanding nanas madu asal Palembang yang memiliki ukuran mungil. Kelebihannya terdapat pada lamanya buah ini bertahan, tidak cepat busuk ataupun layu, kadar airnya pun banyak dan memiliki rasa manis semanis madu.”

Sena menganga. Ia berfikir apakah ia pernah mencoba nanas tersebut sebelumnya. Jika berdasarkan ciri-ciri yang disebutkan Bu Lela, sepertinya ia sudah pernah. Rasanya memang sangat manis, jari-jemari nya selalu lengket ketika memakan buah itu karena kandungan airnya yang melimpah.

“Apa kalian tahu? Bahkan sudah ada nanas dari Subang yang sampai diekspor ke negara Jepang.”

“HAH?!” semua murid memekik terkaget termasuk Sena.

“Sudah seterkenal itu ‘kah, Bu??” tanya Bara, teman dekat Edo.

Bu Lela mengangguk cepat. “Tentu kalian bangga dengan hal tersebut bukan.”

“Tentu saja!!” jawab seisi kelas dengan nada gembira.

Sena menoleh ke arah kiri, di mana Echa temannya duduk. “Kau tahu tentang hal ini, Cha?”

Echa menggeleng keras. “Ya ampun, kita seperti anak pedalaman saja tidak tahu berita hebat seperti ini.”

Sena mengangkat kedua jempolnya setuju dengan ucapan Echa. Ia lalu kembali memalingkan wajahnya ke depan bersiap untuk menyimak apa yang akan Bu Lela ucapkan.

Bu Lela tersenyum melihat keantusiasan muridnya yang melebihi ekspetasi dirinya. “Jika kalian sudah pernah mencobanya jangan lupa untuk membeli olahannya juga,” katanya memberi tahu.

Seisi kelas tersentak terkejut.

“Loh, ada olahannya juga toh, Bu??” Sena mengangkat suara.

Bu Lela mengangguk. “Tentu saja! Ibu sering membelinya. Dimulai dari pie, cake, sampai olahan minumannya pun ada. Manis sekali.”

Guru itu perlahan tersenyum dan beralih menjadi kekehan kecil setelah melihat mata seluruh muridnya yang berbinar membayangkan rasa olahan nanas tersebut di mulut mereka.

“Di mana kita bisa membelinya, Bu??”

***

“Edo! Apa kau bisa berkeser ke samping sedikit?? Tubuhku sesakk!” pekik Echa sembari mendorong pundak Edo agar lelaki itu memberinya ruang untuk bernafas.

“Kau tidak bisa melihat, ya?? Di sampingku sudah penuh! Lagi pula tempatnya tidak jauh, tahan saja!” kata Edo membalas dengan tidak santai.

Echa menganga tak percaya, padahal jika Edo merapatkan kakinya sedikit pasti akan ada ruang untuknya bernafas. Tapi oh sudahlah, anak laki-laki.

Sena terkekeh geli melihat cekcok antara Edo dan Echa itu. Kini ia berada di angkot menuju suatu tempat yang alamatnya sudah diberikan Bu Lela. Bersama Edo, Echa, Bara, dan 3 orang temannya yang lain.

Setelah kelas kemarin, mereka langsung berencana untuk mengunjungi tempat olahan nanas tersebut. Sena yang selalu malas keluarpun langsung mengiyakan tanpa basa-basi.

“Kau sudah yakin arah menuju tempatnya ke sini, Nadya?” tanya Bara pada seorang gadis yang duduk tepat di sebelah Sena.

Nadya mengangguk tanpa ragu, “Kau tidak percaya? Yasudah turun dan cari jalan lain,” Nadya membalas Bara telak hingga lelaki itu pasrah tak mengucapkan satu katapun.

“Bang, kiri!” teriak seorang gadis berjilbab bernama Nana yang duduk di samping Nadya.

Sena lah yang terakhir turun dari angkutan umum tersebut karena memang dia yang duduk paling belakang.

“Sekarang, kita pergi ke mana?” tanya Sena sudah tak sabar.

Nadya terkekeh, “Sekarang kita lurus saja menuju gang itu.” Nadya menunjuk sebuah gang kecil yang hanya muat dimasuki satu mobil.

Kaki mereka lalu berjalan dengan sedikit terburu-buru. Echa bahkan sudah dapat membayangkan semanis apa olahan itu di ujung lidahnya.

Dan benar saja, mata mereka langsung disuguhkan palang kuning bertuliskan tempat olahan nanas Subang ketika masuk gang kecil itu. Nana sampai memekik senang menemukan tempat yang mereka cari-cari.

Ketika Echa sudah mau melangkahkan kakinya, matanya menangkap Bara, Edo, dan Riko—salah satu teman Edo dan Bara—yang berlari mendahuluinya dengan kecepatan kilat.

“Hey! Curang!” teriak Echa. Ia lalu berlari menyusul ketiga lelaki itu, disusul dengan Sena, Nadya, dan Nana.

Edo buru-buru menahan nafas saat matanya menangkap banyaknya olahan nanas yang kini berada di depan matanya. Namun ia langsung mengalihkan pandangannya pada seorang wanita yang tengah duduk di bagian kasir sembari tersenyum hingga membuat Edo malu.

“Ayooo, silahkan mau beli apa?” tanya wanita itu ramah.

Echa dan Sena yang baru sampai bahkan tidak menyadari adanya wanita itu dan sibuk membulatkan mata tak percaya. Mereka baru sadar ketika lengannya disenggol Nana agar kembali fokus.

Sena langsung menundukkan wajahnya malu, lalu menyusul Nadya yang sudah masuk duluan melihat-lihat produk yang diperjual belikan.

Seakan lupa rasa malunya, Sena langsung berbinar menatap lemari es berisi minuman dari olahan nanas yang sempat diberi tahu Bu Lela kemarin. Sena menelan ludahnya susah payah.

Bahkan Bara dan Riko sudah bar-bar mengambil apa yang ada di depan mata tidak peduli apa nama makanannya. Echa sudah sangat ingin berteriak menatap es krim nanas yang terjejer rapih di tempatnya.

Kini mereka semua sudah selesai membeli makanan dan tengah menunggu angkot lewat untuk kembali pulang ke rumah masing-masing.

Tangan Sena sudah belepotan dengan es krim yang tadi ia beli, tapi ia tak peduli. Toh, ia membeli banyak es krim nanas. Ia tak perlu khawatir akan kehabisan.

“Kapan-kapan kita ke tempat ini lagi bagaimana?” tanya Edo menawarkan.

“Boleh, tapi aku tidak mau duduk sebelah denganmu lagi. Badanmu besar!” teriak Echa mengeluh.

“Cih, siapa juga yang mau duduk denganmu?? Aku juga tidak mau, dasar tukang mengeluh!”

Sena tiba-tiba menoleh dan membuka mulutnya tak percaya apa yang telah Edo ucapkan. Ia lalu menatap Echa yang sudah marah, dilihat dari matanya gadis itu sudah pada batasnya. Do’a ‘kan saja, agar Edo selamat dari amukan seorang Echa Anastasya Prycilia.

Karena sekarang. Tangan gadis itu sudah di atas bersiap memberikan pukulan maut pada Edo.

Ah, sepertinya perjalanan pulang mereka kali ini akan melelahkan—sangat melelahkan.

(Visited 9 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan