Kertas Lumba-Lumba_AISHA RAHMA MUNIFA_SMPN 1 SUBANG

WhatsApp-Image-2021-04-19-at-22.10.11.jpeg

Matahari saat itu bersinar terik hingga membuat jutaan manusia banyak memilih tinggal di kamar mereka dan berteman dengan pendingin ruangannya masing-masing. Namun tidak untuk Yuna. Ia malah sangat ingin mendobrak pintu kamarnya sekarang juga setelah berdiam diri di tempat itu selama delapan hari. Gadis itu sesekali menarik cairan dari hidungnya agar tak turun, terkadang ia jijik sendiri jika harus berurusan dengan hidungnya yang sampai sekarang masih memerah. Tentu sudah dapat ditebak. Yup, gadis itu sedang isolasi mandiri di rumahnya.

Sudah berkali-kali Yuna meminta kepada kedua orang tuanya agar dicarikan rumah sakit yang masih bisa menampung satu pasien lagi. Namun semuanya sia-sia, di kotanya sudah tidak ada lagi rumah sakit yang dapat menampung pasien. Semuanya sudah penuh. Dan itu sangat menyebalkan menurutnya. Ia lebih memilih isolasi di rumah sakit dari pada kamarnya yang ternyata sangat membosankan. Padahal dulu ia dapat diam di kamarnya selama berjam-jam tanpa serasa sakit akan bosan. Karena jika di rumah sakit, sudah pasti akan banyak kegiatan yang bisa ia lakukan dengan pasien lain. Seperti berjemur, senam, dan lain-lain. Namun sekarang ia malah serasa ingin berteriak karena ingin keluar dari kamarnya sesegera mungkin. Terima kasih pada Kakak sepupunya yang telah membawa virus ini ke dalam tubuhnya, karena sekarang, ia tidak baik-baik saja. Sialnya, Kakak sepupunya itu sembuh lebih cepat dari pada dirinya. Dan tentu saja, Yuna kesal dengan hal itu. Ia beradu argumen dengan Kakak sepupunya di sebuah aplikasi kirim pesan, namun lelaki itu malah mengejeknya dan mengatakan imunnya terlalu lemah dan menyuruhnya untuk berolahraga.

Menyebalkan bukan? Apakah teman-temannya tahu mengenai berita tentangnya? Sebagian. Hanya yang menurutnya perlu saja. Salah satunya Areya, sahabat dekatnya. Menurut Yuna gadis itu rempong melebihi ibunya sendiri. Menyuruhnya memakan banyak hal agar Yuna cepat sembuh, namun dari sisi Yuna, gadis itu terdengar seperti menyuruh Yuna untuk menjadi gendut.

“Yuna kau sudah makan? Cepat makan! Ini sudah telat dari jam makan!!”

“Kau sudah tidur? Kenapa belum tidur?? Kau harus tidur! Tidak boleh begadang!”

“Yuna kau terlalu sering memegang handphone! Simpan! Kau harus istirahat!!”

Kira-kira begitulah cerewetnya. Namun masalahnya bukan itu, jika Yuna tidak membuka handphone-nya dua jam sekali. Maka pesan-pesan Areya akan menumpuk dan membuat memori hpnya penuh seketika. Yuna kini tengah menatap layar handphone-nya dengan pasrah akan kecerewetan Areya. Tapi ya sudahlah, Areya memang sering terlalu khawatir akan dirinya. “Yuna… Kakak bawa makananmu.” Setelah mendengar suara lembut seorang perempuan. Yuna langsung tersenyum, sudah hafal siapa orang itu. Yuna buru-buru menyimpan hpnya dan berjalan menuju pintu. Ia menatap bagian bawah pintu yang sengaja di desain untuk memasukkan makanan dari lubang bawahnya dengan binar di matanya.

Setelah tujuh detik menunggu, matanya menatap gembira makanan yang dibungkus plastik transparan yang masuk sedikit demi sedikit ke dalam kamarnya. Ia dapat melihat di piring putih besar itu terdapat satu kepalan besar nasi putih, tempe goreng, sayur toge, dan daging sapi. Tak lupa selang beberapa detik kemudian, ibunya kembali memasukkan 1 botol air putih dan jus jeruk kemasan.

“Habiskan ya, aku tidak mau kau menyisakan makananmu seperti kemarin,” teriak perempuan yang mengantar makanannya tadi dengan lembut. “Akan aku lakukan,” jawab Yuna sopan. “Jangan lupa sholat setelah selesai makan yaaa.” Yuna tertawa geli, “Baiklah.”

Setelah semuanya makanan masuk dengan sempurna ke dalam kamarnya, tangannya baru mengangkat satu-satu barang itu dan membawanya ke meja kecil yang sering ia gunakan untuk makan.

Jangan khawatir, petugas biasanya memasukkan makanan untuknya menggunakan tongkat khusus untuk memberikan jarak antara dirinya dan kamar Yuna. Namun terkadang juga mereka masuk untuk memeriksa keadaanya. Seluruh keluarganya juga tinggal di rumah kakeknya sampai ia sembuh. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ia merasa kesepian? Tentu saja. Siapa juga yang suka tinggal di rumah sendirian selama seminggu lebih. Tapi ya sudah, mau bagaimana lagi ‘kan? Yuna lalu membuka plastik yang membungkus makanan itu. Sebelum jemarinya menyentuh makanan, ia segera mengangkat kedua tangannya untuk berdo’a kepada Yang Maha Kuasa. Ia lalu memasukkan makanan itu sedikit demi sedikit dan menikmatinya. Jangan lupa jus kesukaannya yang ia minum sampai habis tak tersisa.

Dua puluh menit kemudian, Yuna sudah menyelesaikan makannya hingga habis tak tersisa. Yang harus ia lakukan selanjutnya hanya memasukkan semua wadah makanan tadi ke dalam kresek besar untuk dibawa oleh petugas kebersihan. Setelahnya, Yuna mengeluh sembari memegangi perutnya yang kekenyangan. Dengan langkah berat, gadis itu berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melakukan ibadah salat dzuhur. Lalu gadis itu mengambil sebuah buku terjemahan bergenre fantasi untuk menemani siangnya, pasalnya ia tak tahu harus melakukan apa.

Ketika Yuna sudah hampir membuka buku tebal itu, ponselnya berdering kencang hingga membuat Yuna mengusap dadanya terkejut. Ia menyumpah-serapahi suara nontifikasi hp nya itu yang terlalu kencang. Namun apa boleh buat, hatinya sudah terlanjur penasaran akan pesan apa yang masuk. Yuna membuang nafasnya setelah nontifikasi Areyalah yang menyuguhkan matanya. Ia mengusap hidungnya yang memerah beberapa kali sebelum akhirnya memutuskan membuka pesan itu.

Areya Lily Quinsyana: Aku mengirimkan sesuatu untukmu, para petugas kesehatan sudah memberi izin. Mungkin sebentar lagi akan sampai, jangan menangis ketika melihatnya ya. Hihi.

Dahi Yuna mengkerut, tak biasanya para petugas mengizinkan seseorang memberinya sesuatu. Tapi kira-kira apa itu? Jangan bilang sekotak besar buah atau sayuran untuk ia makan. Yuna menggelengkan kepalanya pelan mengusir pikiran aneh di otaknya itu. Namun apa kemungkinan lainnya yang bisa ia dapat selain itu? Lagi-lagi Yuna menghela nafas. Ia membenci otaknya ketika sudah berfikiran terlalu jauh sampai ia pusing sendiri akan dirinya yang aneh. Terserahlah, semoga saja buah yang datang, bukan sayur. Ia membencinya. Yuna lalu mengambil inisiatif untuk tidur siang sebentar sembari menunggu kiriman dari Areya. Entahlah, ia hanya mendapat firasat bahwa kiriman ini akan sampai lumayan lama. Gadis itu lalu menyimpan handphone miliknya tepat di atas nakas samping tempat tidurnya. Ia juga menarik selimut tipis untuk jaga-jaga siapa tahu ia kedinginan ketika ia tertidur. Matanya perlahan mulai terpejam meninggalkan suara jarum jam yang memenuhi kamarnya.

45 menit berlalu, Yuna kini mulai membuka matanya seiring dengan dingin yang memang selalu tiba-tiba menggerogoti tubuhnya saat ia tertidur. Untung saja gadis itu menyiapkan selimut tipis. Jika tidak ia pasti akan langsung menggigil selama berjam-jam hingga para petugas membantu menghangatkan ruangannya. Seperti gejala pada umumnya, ia juga merasakan pilek, batuk-batuk, tenggorokannya juga sering terasa gatal entah kenapa. Mula-mulanya bahkan ia sering sesak nafas, namun hal itu tak terjadi lagi setelah empat hari ia isolasi mandiri.

Terima kasih kepada para petugas yang sudah membantunya melawan virus di dalam tubuhnya. Yuna bahkan sudah hafal nama-nama para petugas yang sering mengecek keadaannya sehari 3 kali. Dimulai dari Kak Indriana, Bu Era, dan Bang Odi. Yuna menutup mulutnya yang menguap lebar agar serangga tidak masuk. Tiba-tiba dari ujung mata Yuna, ia menangkap siluet sesuatu yang bergerak dari arah kanan, ia pun langsung menoleh. Sebelah alisnya terangkat melihat sebuah amplop coklat dengan hiasan bunga mawar kering yang ditempelkan di atasnya.

“Loh, dari siapa, Kak?” tanya Yuna kepada Kak Indriana. Ia sudah hafal bahwa yang akan memberinya makan atau memberinya sesuatu itu selalu Kak Indriana atau yang sering disapa Kak Indri olehnya. Telinga Yuna dapat mendengar suara tawa Kak Indri samar-samar. “Buka aja dulu. Nanti kalau sudah selesai makan malem kasih tahu Kakak apa isinya.” Yuna semakin dibuat bingung. Namun tiba-tiba otaknya kembali berputar mengingat pesan Areya siang tadi. Apa gadis itu pengirimnya? Tangannya pun langsung membuka amplop cantik itu dengan perlahan.

Matanya langsung disuguhkan sebuah kertas hitam dengan corak lumba-lumba berwarna emas yang menghiasi tepi kertas itu. Yuna mengambilnya dan membuka lipatannya pelan-pelan. Terdapat tulisan rapih menggunakan tinta berwarna putih dengan gliter. Di bagian paling bawahnya terdapat stiker bertuliskan ‘Semoga Cepat Sembuh’ berwarna merah muda.

Hai Yuna, aku tahu kau pasti sudah dapat menebak bahwa pengirim surat ini adalah aku. Yup, Areya, sahabatmu. Aku tidak mau basa-basi di sini, karena aku bukan orang yang pandai melakukan itu. Intinya aku tidak mau kau menyerah, jangan putus asa. Meski lebih lama dari Kakak sepupumu, kau tidak boleh merasa bahwa kau sudah menyerah pada keadaan. Aku tidak mau punya teman yang tidak tahu caranya berjuang. Dan oh, sebentar lagi ada sesuatu yang akan datang, tunggu saja.

Dari sahabatmu, Areya.

Yuna meledakkan tawanya kencang. Astaga, sejak kapan Areya tahu kata-kata bagus untuk membuat surat? Nilai sastranya saja sangat buruk. Guru bahasa mereka harus melihat surat itu yang pasti. Eh tunggu, apa yang akan datang lagi. Jangan-jangan Areya—

“Yunaaa! Ini ada sesuatu dari Areya!” teriak seseorang dengan nada berat yang sudah dapat ia tebak Bang Odi.  Dari arah pintu, sebuah kotak besar berwarna ungu masuk dengan cepat. Hal itu membuat Yuna melompat dari kasurnya ke arah kotak itu. Tak ingin berlama-lama, gadis itu membukanya. Yuna dengan keras berusaha menahan tawanya agar tidak kembali meledak, namun gagal. Bagaimana tidak, di depannya kini terdapat macam-macam buah dan sayuran hijau yang sudah ia tebak Areya sengaja mengirim ini padanya untuk dikonsumsi. Ada-ada saja gadis itu.

(Visited 4 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan