Kampung Impian _Fathin Az-Zahra_SMPN 1 Subang

WhatsApp-Image-2021-04-17-at-10.56.12.jpeg

Wajahnya murung, sepertinya gadis itu kecewa dengan apa yang terlihat di depannya. Kerinduannya pada kampung halaman menjadi sebuah kemarahan yang tak jelas tertuju pada siapa. Mimpinya untuk mendengar nyanyian kodok yang saling bersahutan dengan si kecil jangkrik telah hilang. Kerinduannya pada hamparan hijau sepertinya telah musnah, padahal dari jauh-jauh hari sebelum gadis itu pulang sudah terbayang dibenaknya akan pematang sawah yang dulu tempatnya berjalan mencari keong.

Kemana pesona alam yang indah itu?

Inikah dampak dari modernisasi?

Umpat gadis itu dengan kesal.

“Ji-han? Kamu itu teh ?” Tiba-tiba  entah muncul dari mana di depanku berdiri seorang gadis seusianya.

“Ratna? Kamu Ratna kan?” Tanya gadis itu.

Rupanya gadis itu bernama Jihan.Terlihat keduanya sangat antusias dan raut bahagia terlihat dari matanya yang berbinar. Merekapun saling berpelukan dan saling menumpahkan kerinduan bertahun-tahun.

“Masya Allah …  Jihan teh meni geulis sekarang mah ya” tutur gadis yang bernama Ratna itu dengan logat sundanya yang sangat kental.

“Kamu juga Ratna cantik sekali, ah dari dulu juga kamu mah udah cantiknya kelihatan ko”. Balas Jihan memuji teman kecilnya dulu.

“Jihan aku teh kaya mimpi ketemu kamu lagi,  aku teh suka kangen sama kamu teh” cerocos Ratna sambil terus memegang tangan Jihan.

” Aku juga kangen kamu, aku kangen nenek kakek aku dan ….” Tutur Jihan terhenti dan mukanya berubah total.

” Dan apa … ? Kunaon muka kamu jadi mendadak sedih gitu? Bilang sama aku sok … Siapa tahu aku bisa bantu!” cerocos Ratna.

Itulah Ratna sahabat kecilnya yang dulu selalu menemani bermainnya sejak kecil. Orang bilang, di situ ada Jihan dan pasti ada Ratna.

“Kamu itu dari dulu tidak berubah ya …  selalu ingin bantu teman. Aku kangen sawah, tempat dulu kita kecil main,”  jawab Jihan dengan nada datar.

“Ohhhhh sawah..sawah yang dulu teh sudah tidak ada, sekarang mah jadi pabrik. Kamu ingat gak kolam ikan Pak Haji tempat kita mandi setelah main lumpur di sawah itu juga sudah jadi kos-kosan pegawai pabrik”.

Deg… kalimat Ratna itu seperti ada menusuk pedih ke hati gadis itu.

***

Malam semakin larut.  Matanya masih menatap bintang-bintang di langit dari jendela kamar yang sengaja dia bukakan. Tapi mata gadis itu belum bisa terpejam, pikirannya masih sekitar suasana kampung halamannya yang berubah.

Tangannya masih memegang pulpen warna biru yang tak jarang meliuk-liuk goresannya dalam sebuah diary merah muda.

Dalam sebuah kerinduan

Dalam penantian yang panjang

Dimanakah sarang kecilku?

Dimanakan hamparan hijau itu?

Dimanakah kicauan burung pipit itu?

Dimanakah lumpur yang kunantikan?

Dimanakah nyanyian kodok yang saling bersahutan dengan sang Jangkrik?

Semuanya telah hilang terhapus banyak mimpi

Tempat untuk berebah  saatku pulang

 

Tiba-tiba tok..tok..tok … seseorang telah mengetuk pintu kamarnya.

“Masuk,” jawabku tak beranjak dari jendela kamarku.

“Nak…kamu belum tidur?”

Rupanya ibu yang masuk sambil membawakan koper-koper Jihan yang masih berantakan di ruang tamu.

“Aku belum bisa tidur Bu”

“Ada apa? Cerita sama ibu!” Selidik ibu sambil mengernyitkan dahinya.

Jihan menghela nafas panjang.

“Bu, Jihan pikir pulang kampung Jihan akan menemukan sawah tapi …”

“Ibu mengerti dan ibu merasakan hal yang sama. Tapi kamu tidak boleh terlarut dalam kesedihan, justru kamu harus melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk kampung halamanmu.”

“Apa Jihan bisa bu? … terus apa yang bisa Jihan lakukan bu?” tanya Jihan sambil memutar otak apa arti kalimat ibunya.

“Sekarang kamu tidur! Biasanya jika kita istirahat cukup akan terlahir ide-ide cemerlang di pikiran kita.”

Mendengar nasihat ibu, gadis manis itu langsung menutup jendela. Dia mencoba memejamkan matanya. Dalam batinnya berharap semoga mimpinya sebuah inspirasi cemerlang untuk kebaikan kampung kelahirannya.

***

Pagi itu ketika Jihan sedang menyiram bunga-bunga yang berjejer rapi di teras rumah, tiba-tiba ada suara memanggil namanya.

“Jihaaaaaan”

Gadis itu pun mendongakkan kepalanya sambil teriak …

“Aaaaaaaaaaa…..itu kalian? Ratna, Sarah … Baim … Putra … dan kamu Dani?” Teriak Jihan sambil menunjuk satu persatu.

“Alhamdulillah….aku senang kamu masih ingat dengan kami.” Kata anak lelaki yang Jihan tunjuk bernama Putra.

“Kami semua dapat kabar dari Ratna, kalau kamu pulang kampung.”

“Kenapa pulang tidak berkabar? Kami rindu sama kamu.” Tambah anak perempuan yang bernama Sarah.

“Maaf aku pulang tidak sempat kasih tahu kalian, untung kalian datang, tadinya aku mau ke rumah Ratna minta antar ketemu kalian. Alhamdulilllah… Ayahku yang bertugas di Tarakan Kalimantan  sudah mutasi lagi ke Subang. Kami akan menetap kembali di kampung tempat aku lahir .” Seru Jihan dengan mata berbinar.

“Eh ada tamu … keliatannya seruuuu. Ngomong-ngomong mau minum apa?” Tanya ibu dengan ramah.

“Makasih Bu..jangan ngerepotin,” jawab Sarah sambil menatap ke teman-temannya.

“Iyaaa Bu, tidak apa-apa. Yang ada saja hehe…” guyon Dani sambil tertawa.

Dari dalam ke luar ibunya sambil membawa beberapa botol minuman teh manis dingin dan sepiring kue.

“Yo dicicip, ini adalah kue Ciput Tarakan … kue khas Kalimantan,” tutur ibu sambil menyimpannya di sebuah meja kecil teras.

“Asiiiiik……” teriak Dani dengan senang.

Kemudian merekapun dengan sigap langsung menyerbu dan memakan kue-kue itu. Suasana penuh kegembiraan terpancar dari wajah mereka dan sepertinya perpisahan bertahun-tahun dengan Jihan tidak menjadikan mereka canggung seolah mereka menemukan masa kecilnya dahulu.

***

Suatu hari ketika Jihan pergi bersama teman-teman kecilnya untuk berkeliling kampung.

“Ji … kenapa kamu bengong seperti itu? “ tanya Sarah menatap ke arah Jihan.

“Ohhh… aku tahu kamu pasti terpesona sama kampung kita yang banyak kemajuannya?” teriak Putra.

“Rumahnya bagus-bagus kan? …  beda sama yang dulu.” Tambah Dani tersenyum.

“Iya…iya …bagus..tapi bukannya aku ga setuju dengan segala kemajuan di kampung ini. Apa kalian tak sadar, semua tempat yang dulunya sejuk kini berubah menjadi panas, “ umpat Jihan kesal.

Jihan pun menghentikan langkahnya sambil duduk pada sebuah bangku taman.

“Iya dulu kan banyak pohon di kampung kita, sekarang udah ditebang,” jawab Sarah.

“Nah..itu dia, apa kita harus berdiam diri mengalami segala perubahan ini. Kalian pernah dengar efek rumah kaca atau global warming? Aku tidak berharap kita tinggal diam. Kita harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkan bumi kita.” Tutur Jihan menggebu-gebu.

“Terus apa yang seharusnya kita lakukan?” tanya Ratna.

Semuanya terdiam dan berpikir tentang sebuah ide. Tiba-tiba seorang anak kecil usia 8 tahunan membuang sebuah botol bekas minuman ke arah dekat tempat mereka duduk di taman itu.

“Sembarangan tuh anak, buang sampah sembarangan!” umpat Putra kesal.

“Oooooo … aku tahu,” tandas Jihan. Tangannya sambil memegang botol minuman yang semenit yang lalu diambilnya, raut muka yang tadi murung berubah menjadi bahagia.

“Maksud kamu?” tanya teman-temannya kompak sambil menatap ke arah Jihan.

“Oh aku tahu pasti kamu sudah dapat ide.” Tebak Ratna.

“Teman-teman bagaimana kalau kita kumpulkan botol-botol bekas ini untuk membuat tanaman hidroponik. Kita hijaukan kampung kita dengan menanam tanaman di sepanjang jalan kampung. Oh ia Dani, aku lihat di rumahmu banyak sekali bambu-bambu. Bagaimana kalau digunakan untuk membuat rak vertikal dan horizontal”.

“Oooo jadi intinya kita membuat konsep kampung hijau. Iya aku setuju. Nanti aku minta bantuan Bapak aku untuk membuat rak kayunya”.

Kemudian pandangan Jihan mengarah pada sebuah bangunan tepat tak jauh dari taman tempat dia duduk.

“Bangunan apa itu seperti kosong?”

“Itu adalah bangunan Posyandu, tidak terawat karena pemakaiannya hanya sekali-kali saja jika akan diadakan Posyandu”

“Bagaimana kalau kita hubungi pengurus di sini untuk minta izin kalau sebagian ruangannya kita jadikan perpustakaan kecil di kampung kita. Kita kumpulkan sumbangan buku-buku dari setiap rumah untuk dijadikan pelengkap perpustakaan”

“Ide yang bagus. Jadi selain konsep rumah hijau kita buat perpustakaan kecil. Ok..aku siap make over ruangannya kan cita-citaku jadi designer ..” kelakar Putra semangat.

“Aku siap sumbang buku …  rumahku banyak buku-buku siapa tahu bisa bermanfaat”.

“Oh iya teman-teman semuanya kan perlu biaya. Bagaimana cara kita mendapatkannya?’

“Bagaimana kalau kita buat kue dan kita jual sama penduduk sekitar kita?”

“Teman-teman makasih ya…atas dukungan kalian. Aku bangga sama kalian.”

“Gak usah bilang terima kasih pada kami, Ji. Justru semuanya berawal ide dari kamu dan semuanya untuk kampung kita. Untuk Kota Subang.”

“Jadi kita bisa mendukung Program Pemerintah Daerah Subang dengan jawaranya.” Tandas Sarah.

“Dukungan seperti apa?” tanya Dani polos.

“Konsep kampung hijau kita mendukung Jawara Riksa yaitu tentang lingkungan hidup dan yang kedua taman baca kita mendukung Program Jawara Daya yaitu mencerdaskan masyarakat dengan membaca.” Jawab Sarah dengan menggebu-gebu.

Terlihat mata Jihan berkaca-kaca karena terharu dan bersyukur memiliki teman-teman yang kompak dan menyenangkan. Lantas dia pun tersenyum membayangkan kampungnya berubah menjadi hijau kembali seperti impiannya selama ini di perantauan.

****

(Visited 41 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan