Hilangnya Permadani Hijau_Salma Dzakiyyah Irsa_SMPN 1 SUBANG

WhatsApp-Image-2021-04-12-at-22.42.43.jpeg

Dukbrak !!! “Andiiiiii,” seperti biasa suara itu hampir terdengar rutin di telingaku, karena seringnya, aku tahu itu adalah teguran Emak Suti pada Andi karena teledor menyimpan barang dagangan atau adonan odading yang tumpah. Rumahku dengan Andi hanya dibatasi gang yang lebarnya hanya 50 cm, jadi suara yang berasal dari rumah Andi akan terdengar nyaring di rumahku, terlebih teriakan Emak Suti ibunya Andi.

Sudah enam bulan Emak Suti berjualan odading di pasar minggu, semenjak Andi ditinggal Pa Kardi ayahnya, mereka harus banting tulang memutar roda perekonomian keluarga. Andi satu satunya anak Emak Suti dan Pak Kardi. Ia berusia 3 tahun lebih muda dariku. Andi sering kuberi suluran buku dan baju seragam agar mengurangi pengeluaran biaya sekolah. Walau keadaan serba sulit yang kukagumi dari Andi adalah kesungguhannya dalam belajar, ia rajin sekali membaca dan merangkum .Hampir semua buku ia ”lahap“, sehingga teman-teman memberi julukan kamus berjalan saking tahu segala hal dan mampu menerangkannya dengan jelas. Maka tak heran Andi banyak disukai banyak teman.

“Syam…ngelamun aja kau!,” sapa Andi, aku tak tau ia sudah ada di hadapanku sejak kapan. ”Anak muda jangan banyak bengong, mending kita nyari benalu yu sebelum weekend datang,” sahut Andi tanpa memberi kesempatan padaku menjawab kenapa aku bengong. ”Kamu ini lebih tua dari aku, tapi suka menyia-nyiakan waktu. Tahu-tahu nyawa dijemput malaikat maut tahu rasa kau!” kelakar Andi lagi, aku hanya senyum menimpali.

Andi dan aku memang punya bisnis baru nih ceritanya, orangtua kami pun tak mengetahuinya. Sengaja dirahasiahkan, yang mereka tahu kita bermain sorenya pulang, kadang kami berjamaah dzuhur dengan masyarakat di balik bukit sana. Desa kami berseberangan bukit dengan desa sebelah. Kami tinggal dihamparan pohon teh yang menghijau. Sebagian besar penduduk di sini bermata pencaharian pemetik teh. Ya karena taraf pendidikan mereka pun rendah, maka jabatan tertinggi yang diperoleh paling sebagai mandor. Kami termasuk manusia langka, Andi sebentar lagi masuk SMA, sedang aku akan kuliah, beruntung ayah dan ibuku tahu persis pentingnya pendidikan meski kami harus membagi jatah makan dengan biaya sekolah. Andi terbatas ekonomi juga tapi sangat berkeinginan maju melalui pendidikan.

Tak terasa langkah kami tiba di suatu tempat. “Kamu dari tadi diam saja Syam, ada yang dipikirkan? Tak biasanya begitu,” selidik Andi. ”Gak ada apa-apa kok, hanya saja aku kepikiran apa yang dikatakan Mbah Wiro kemaren sore,” ucapku memulai pembicaraan. ”Yang mana?” Tanya Andi sepertinya dia lupa. ”Itu lho katanya akan dibuat semacam rest area di bawah kaki bukit kita,” kataku mencoba mengingatkan Andi. ”Bagus lah…berarti daerah kita akan jadi rame dikunjungi banyak orang dan bisnis kita akan semakin lancar bro!” teriak Andi memekakkan telingaku.

Mbah Wiro adalah sesepuh dusun kami, Beliau semacam pemangku adat yang jadi tempat bermusyawarah orang sedusun dan dituakan dalam segala hal. ”Dusun kita akan di relokasi ke dusun seberang bukit, dusun kita akan dibangun rest area atau jalur tempat peristirahatan bagi kendaraan yang melintas. Jika ini benar, banyak kekayaan alam kita yang sudah ditanam akan kita tinggalkan karena beralih fungsi bukan lagi tempat bercocok tanam. Hampir 90% penduduk dusun ini tidak memiliki hak ijin mendirikan bangunan, maka haknya kurang jika ingin mempertahankan rumah dan ladangnya. ”Ucap Mbah Wiro menerangkan ketika ada kumpulan musyawarah dusun Senin sore lalu. ”Ketika Mbah ngomong gitu aku menyimak Di,” terangku pada Andi.

Hamparan hijau bak permadani akan hilang berubah wajah menjadi jalanan yang panas, hamparan hijau yang menyembunyikan benalu di setiap ruas jalurnya akan menjadi barang langka. Kicauan burung pagi yang mengambil ranting pohon daun teh untuk dijadikan kandang harus mengepakkan sayapnya lebih jauh lagi. Ya Subang meski gak seluas puncak di Bogor masih memiliki hamparan hijau kebun teh. Hamparan hijau bak permadani ini menambah sederetan daya tarik kota kami, tak terbayangkan jika sedikit demi sedikit hilang dan musnah begitu saja.

Andi mangut-mangut…sepertinya dia paham apa maksud pembicaraannku. ”Lalu apa yang bisa kita lakukan Syam?” Tanya Andi semakin membuat aku bingung menjawabnya.” Entahlah Ndi..”sahutku putus asa…kalo saja aku menjadi seorang pejabat dan punya kewenangan akan aku larang pembuatan rest area itu, biarlah mereka beristirahat di sela-sela daun teh, menggelar tikar sambil memuka hidangan yang dibawa dari rumah, udik sih tapi itulah kesederhanaan bangsa kita menurutku. Kekeluargaan terasa kental ketika saling bersenda gurau setelah menikmati makan. Sesekali berswafoto di balik hampatan perrmadani hijauku.

“Syaaaaam sebelah sini banyak benalunyaaa,” teriak Andi sambil mengacungkan benalu hasil pencariannya. Langkahku gontai agak malas mencari benalu, Ya benalu pohon teh dipercaya mampu memberikan manfaat kesehatan. Dibuat dengan menyeduhnya sama halnya dengan teh. Kami sedang menjalankan bisnis itu, memanfaatkan banyaknya orang yang datang ke dusun kami sekedar menikmati hamparan teh yang menghijau. Satu ikat benalu kami jual sepuluh ribu rupiah, kadang kami bisa menyimpan uang dua puluh ribu sehari dan bisa membantu orang tua membelikan minyak goreng. ”Aku udah gak mau lagi cari benalu, Di,” jawabku. ”Malas ah…mau pulang saja,” teriakku. ”Lho, gak bisa gitu dong, mumpung tanah ini belum beralih fungsi ya kita manfaatkan dong Syam,” kata Andi sedikit memaksaku dan menarik lenganku untuk melanjutkan mencari benalu.

“De benalunya ibu beli,” kata ibu yang berkunjung ke kebun teh ini, Ya setiap hari Sabtu dan Minggu Andi dan aku sengaja menjajakan benalu teh di kebun ini, yang konon akan dibuat tempat peristirahatan. ”Ambil saja bu uangnya, benalunya gratis,” ucapku. Jelas tingkahku mendapatkan protes keras dari Andi. “Kamu kenapa sih Syam?” tanyanya keheranan. “Kamu sudah menghancurkan cita-cita kita untuk terus sekolah, untuk terus membantu orangtua,” umpat Andi. ”Orang-orang aja yang berwenang merelakan keindahan alam ini untuk dibuang. Mereka merelakan untuk jadi sesuatu yang kurang memberi makna bagi kehidupan. Sekarang kita mengapa harus menjaga kearifan ini? Sekarang kenapa kita harus menikmati sesuatu yang kita miliki yang nantinya akan hilang dan harus kita relakan?” Tanyaku tak mengharap jawaban dari Andi .

Gepp…terasa ada tangan kekar mencengkram bahuku. Kutoleh ke arah bahu kananku, aku hafal benar itu tangan Mbah Wiro.”Ada apa denganmu nak?” tanyanya seraya terdengar bijak. ”Mbah benarkah semua hamparan hijau permadani ini akan beralih fungsi dan akan dibuat menjadi hamparan beton? Mbah, benarkah dusun kita yang penuh kekeluargaan dan ketenangan akan dipindahkan ke dusun seberang bukit? Mbah…di mana para bapak yang berkuasa memihak hak rakyat kecilnya?” kutatap wajah Mbah Wiro dalam-dalam. Yang kutemukan raut keheranan,”Kamu bicara apa nak?” tanyanya kaget. ”Iya Mbah bukankah benar yang akan terjadi demikian? itu yang saya dengar ketika Mbah berembug dengan warga Senin lalu. “Haahahahahaha !” Mbah Wiro tertawa, ”Sini aku jelaskan,” katanya bijak. ”Anakku makanya kalau mendengarkan sesuatu jangan setengah-setengah, untung belum meresahkan warga,” kata Mbah memulai penjelasan. ”Jadi kampung kita akan dijadikan kampung wisata, hamparan hijaunya mungkin akan sedikit terbuang dipergunakan untuk sarana akomodasi umum lainnya, seperti tempat lahan parkir, lahan sarana ibadah dan toilet, sarana tempat berjualan. Ini maksudnya agar masyarakat yang menikmati keindahan alam hamparan hijau kebun teh ini dapat dengan nyaman dan sekaligus menjadi tempat peningkatan pemasukan perkapita warga dusun ini. Coba kamu bayangkan orang-orang datang dan pergi ke dusun ini. Kalau belum dikelola dengan baik, mereka hanya meninggalkan sampah bekas mereka makan. Mereka tidak pula merasa bertanggung jawab atas kerusakan tanaman karena tidak adanya teguran dari petugas, atau bahkan mirisnya waktu salat bagi muslim ditinggalkan begitu saja karena tidak tersedianya sarana ibadah. Nah, karena itu untuk memperbaiki sistem yang ada maka diupayakan adanya perbaikan sarana dan prasarana,” jelas Mbah Wiro dengan gamblang menerangkan. ”Gimana Paham nak ?” kata Mabh Wiro menegaskan. ”Iya Mbah…sangat paham,” sahutku sambil tertawa lebar. ”Nah makanya kalau mendengar gossip jangan sedikit-sedikit, bisa salah info nantinya, gimana Mmau jadi presiden di tahun 2045 kalo presidennya salah dengar?” celoteh Andi disambut ketawa aku dan Mbah Wiro. Yah…lega rasanya setelah mendengar penjelasan Mbah Wiro tadi, Jangan pergi ya permadani hijauku…teruslah percantik Subangku….

(Visited 21 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan