Didekap Penghujung Kota Subang_Keysha Chika Anindira_SMPN 1 SUBANG

WhatsApp-Image-2021-04-23-at-01.45.59.jpeg

Daksa berdiri di tengah ruang hampa gelap, sedikit sesak karena ia memang tidak suka dengan kekosongan. Hanya ada satu sorot pelita redup tepat diatas kepala yang menjadi teman dalam keheningan. Berusaha menerka di mana kini dirinya sedang berdiri. Ia mencoba mengitari ruang hampa tak berujung, beradaptasi dalam kegelapan mencari jalan untuk pergi. Namun nihil. Seberapa jauh kakinya melangkah, ia akan tetap kembali pada tempat pertama kali membuka mata di sini. Ia sadar, dirinya tersesat. Helaan napas penuh terdengar kala gadis itu menutup mata, nyaris putus asa. Seraya merungguh diri, ia mencoba memaksa sel-sel otak bekerja memikirkan berbagai cara yang singgah semakin terburu.

BRUAKH!

Suara debaman terdengar di sudut telinga sang gadis. Lalu secercah cahaya muncul dari sana. Memperlihatkan ada dua orang anak adam yang muncul dengan raut wajah khawatir di pengelihatannya yang kabur karena sudah terlalu kelelahan.

“Rayensha!” Tersentak akan suara yang menggema yang baru hadir memenuhi riuh dalam relung yang senyap, kepalanya sedikit mendongak, menatap samar pada seseorang yang membawanya kedalam sebuah dekapan penuh kekhawatiran yang teramat. Namun sebelum ia bertanya, bagai disengat puluhan lebah, kepalanya beputar mendengar kebisingan di luar. Menyebut namanya berulang-ulang. Semuanya gelap.

Beberapa jam berlalu, seketika kepingan-kepingan yang sempat tersisih dari ingatan berputar tepat diingatan bak film lawas. Memaksa satu persatu mengisi ingatan yang belum sepenuhnya pulih. Mata yang mempunyai bulu yang lentik itu mengerjap beberapa kali, menetralkan nafas dan indra pengelihatannya yang kabur beberapa waktu lalu. Membiarkan cahaya masuk dari balik kegelapan malam. Ia mengenali tempat ini, kamarnya.

Suara beberapa orang yang tengah berbincang di ruang keluarganya masuk memenuhi indra pendengarannya. Sesekali ada suara tawa yang terdengar. Ia mencoba menggerakan tangan dan kakinya yang sudah terasa tak terlalu sakit lagi, lantas turun dari tempat tidur. Mencoba berjalan ke arah suara suara itu ada. Setelah mencari sebentar, lengkung sabit terpatri sejenak pada rupa apik yang perlahan kembali muram saat melihat dirinya sedang berdiri di sudut ruangan yang terisi oleh empat anak adam dan satu ibu muda yang terduduk di sana.

“Eh kenapa keluar? Sini duduk, nak. Udah ga kenapa-napa, kan?” Tersirat kepanikan di dalam dialognya yang didengar biasa saja. Rayensha menggeleng, berjalan menghampiri mamanya yang langsung mengelus surai lembut sang putri. Keheningan mulai merebak, tanpa ada yang membuka suara. Membiarkan Rayensha terbiasa dengan keadaan. Netranya beralih menatap sang kakak yang tengah berbalik menatapnya tajam.

“Kenapa, kak?” Cakapnya diiringi sedikit senyuman di balik kurva lancipnya. Yang ditanya menggeleng, lalu duduk di hadapan sang adik. “Ada yang sakit, gak?” Lantas berganti, kini Rayensha lah yang menggeleng, keadaannya malah lebih baik dari sebelumnya. “Kamu tadi nyasar di gudang sekolah yang baru dibangun, lagi apa emangnya?” Kini ingatannya perlahan pulih, ia kembali mengingat apa yang sebenarnya terjadi. “Aku baru inget, tadi aku mau ngumpetin riddle jurit malam untuk camping anak kelas sepuluh, kak.” Jelasnya. Sang kakak tersenyum, lalu mengecup kening sang adik. “Ada kakak kelas, ketos katanya. mau bicara di luar sama kamu, kamu siap-siap dulu.” Ucapnya sedikit berbisik.

Daripada banyak bertanya, gadis ukasya itu berdiri. Masuk ke dalam kamarnya, tapi sebelumnya. Ia mencoba menatap yang dibilang kakak kelasnya barusan. Ah, kak Dikta rupanya. Kini semuanya nampak sangat jelas. Bau khas tanah sehabis hujan untuk terakhir kali pada malam itu tiba-tiba terlintas. Keduanya diam, tidak ada yang membuka percakapan antara satu sama lain.

—-

Braga, Bandung Jawa Barat.

Pukul setengah delapan malam. Sampai pemuda dengan tubuh tinggi dan tampang yang terlihat tampan itu tiba-tiba berucap. “Campingnya pindah, kita jadi liburan.” Rayensha mengangguk, telinganya siap menyimak tiap bait kata yang terdengar dari ucapan Dikta. “Ke kota Subang, jadi siap-siap besok. Jam lima subuh.” Dan final, keheningan kembali terasa. Hawa dingin merebak, menembus jaket kulit yang Rayensha kenakan. Milik Dikta tentunya. “Saya harap, kamu sebagai sekretaris siap. Engga kayak tadi.” Dikta berkata tajam. Sang gadis tampak tidak terkejut menyadari perubahan nada dari kakak kelasnya. Memang seperti itu. Sedikit tersenyum, mata sendunya menatap pemuda yang tengah fokus pada benda pipih di tangannya. “Maaf..” Katanya pelan. Tidak menjawab, Dikta malah berisyarat agar Rayensha masuk ke dalam mobilnya.

Suara pintu yang dibuka pelan terdengar di telinga milik laki-laki yang tidak bisa dikata muda lagi. Ayahnya. Rayensha tersenyum, lantas duduk di samping sang ayah yang tengah duduk di hadapan tv yang menampilkan acara komedi malam.

“Ayah belum tidur?” Mendengar pertanyaan anaknya, ayah dari dua anak itu tertawa terbahak. Menciptakan tanda tanya di kepala Rayensha. “Jangan buat pertanyaan basa-basi yang kayak gitu ya, kesannya lucu.” Setelahnya kembali tertawa lagi. Menyadari itu, gadis ukasha tersebut menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Maaf, ayah.” Cakapnya ikut terkekeh diakhir kalimat. “Gapapa. Ayah belum ngantuk, kamu sendiri? Kenapa baru pulang? Tadi kakak kelas kamu yang namanya Dikta-Dikta itu bilang apa? Katanya ketos, tapi ayah kurang tahu.” Pertanyaan yang dilontarkan ayahnya barusan hampir membuat dirinya pusing harus menjawab yang mana.

“Tadi kak Dikta bilang, katanya campingnya pindah jadi liburan ke kota Subang kalau engga salah. Kak Dikta emang ketos di sekolah, sedikit galak. Moodswing gitu.” Lagi-lagi, di ujung kalimatnya. Gadis itu bermonolog pelan, agar tidak didengar sang ayah yang tengah menyimak penjelasan anak bungsunya. Ayahnya terdiam, “Subang, ya?” Rayensha mengangguk. “Itu tempat tinggal ayah dulu, waktu kakak kamu umur enam tahun, kamu tiga tahun.” Gadis itu lantas mendekat, mendekati sang ayah berharap mendapat cerita lebih.

Mengerti dengan rasa penasaran anak gadisnya, ayahnya menjelaskan. “Dulu ayah sama mama kamu tinggal di Subang. Pindah ke Bandung karena tugas kantor ayah. Subang itu asri, sering dibilang kembarannya Bandung. Dekat gunung, jadi belum ada yang namanya polusi di sana. Banyak kebun teh, jadi setiap libur ayah sama mama, abang, kamu sering main ke kebun teh, sejuk di sana.”

“Gaada yang namanya macet macet.” Katanya sambil mencubit kecil hidung sang anak. “Airnya juga belum tercemar. Jernih. Ayah jadi kangen Subang.” Jelasnya lagi, tangannya yang memainkan rambut sang gadis memelan. Rayensha mengerutkan dahinya, “Iyakah?” Tanyanya antusias. Tentu ayahnya mengangguk girang. “Iya dong! Kalau malam waktu ayah bujang, ayah sama temen-temen ayah selalu makan jagung bakar di depan rumah. Dingin, tapi serasa camping juga.”

“Setiap pagi juga ayah selalu makan surabi yang jualan depan rumah. Makanannya belum terkontaminasi bakteri. Jadi aman aman aja.” Berbalik, justru sekarang ayahnya yang antusias menjelaskan tentang kota Subang yang dibayangkan terlalu indah itu. Dan setelah percakapan panjang dengan sang ayah kemarin malam hingga pukul setengah dua belas malam, setelah disuruh sang bunda untuk tertidur.

Sekarang arunika telah menyapa buana, pendar baskara memaksa masuk melalui celah jendela. Menjagakan nona amritambu dari bunga tidurnya. Gubuk tua terlupa di tengah kota menjadi loka atma bertahan. Lantas, ia bertumpu kaki. Bangkit melangkah ke arah kaca yang terpaut pada partisi. Netranya mengamati kaca yang hanya melukiskan refleksi materi. Ia bersiap, untuk mandi dan menyiapkan beberapa pakaiannya didalam koper berwarna abu gelap. Sembari menyusun, ia bermonolog sendiri. “Subang itu.. kayak gimana, ya?” Ucapan sang ayah sejak tadi malam terus berbayang di ingatannya. Sketsa tentang Subang yang digambarkan begitu indah dalam dialog malam itu membuatnya tidak sabar.

Tangan mungilnya beralih menatap ponselnya yang kini bertuliskan angka empat lebih tiga puluh dua menit. Dan terlihat pula beberapa notifikasi dari Dikta yang menyuruhnya berangkat lebih awal karena ada beberapa hal yang harus dibicarakan di sekolah dengan anggota OSIS yang lain.

Baiklah, dengan gelora yang membara, ia berjalan menuju adimarga. Sudah dua belas warsa rupanya ia tak pernah berkunjung ke rumahnya dahulu. Menurut sang ayah, yang mengatakan jika sejak umur tiga tahun sampai lima tahun Rayensha tinggal di sana. “Engga sabar mau kesana!” Ucapnya, jelas menyiratkan harsa. Tak apa, walau ada yang melihatnya. Rayensha sudah tidak peduli. Tepukan pada pundak membuatnya sedikit tersentak. Meskipun sudah tau siapa tersangkanya, tetap saja ia kesal. “Astaga, hobi banget buat kaget.” Rutuknya. Yang menerima wacana murka malah menyuarakan tawa bahagia, menambah kadar kekesalan sang nona. “Kok ketawa? Kebiasaan.” Tak tahan, gadis akasha itu menepuk lengan sang pemuda yang masih tertawa bebas. “Hahaha maaf maaf. Abisan ngomong sendiri.” Katanya sambil terkekeh.

Rayensha hanya mendengus, lalu kembali menatap lurus kedepannya yang terdapat beberapa patung kecil yang biasa dipajang di halaman sekolahnya. “Sha, ditungguin anggota yang lain itu, nanti kalau telat kak Dikta marah lagi.” Bisik Junandra, yang biasa dipanggil Juna itu. Yang diperingati menepuk dahinya, “ASTAGA IYAA. MAKASII JUNA, DULUAN YA.” Rutuknya lagi sambil sedikit berlari ke arah sebuah ruangan yang berwarna coklat.

Sekarang Rayensha sedang berada didalam bus. Mendengar alunan melody tahun 1990-an yang terdengar di telinga. Netranya berfokus pada novel berjudul Dilan 1990 yang dibacanya. Tak terasa juga, halaman terakhir dibaca. Ia sudah dipanggil oleh suara gadis yang ia kenali. “Rayensha ayo turun!” Itu Revalsha, teman sekelasnya yang selalu tahu jika gadis itu pasti akan melupakan dunianya ketika sedang membaca sesuatu. Yang dipanggil tersenyum senang, lalu menyiapkan semua kebutuhannya nanti.

Setelah selesai, kakinya melangkah turun. Disambut dengan hawa sejuk yang menyeruak masuk ke indra penciumannya. Netranya beralih ke arah kanan, menatap pepohonan rindang yang tertiup angin kesana kemari. Saat matanya beralih ke kiri, ia melihat hamparan kebun teh yang tenang berwarna hijau, sangat nyaman dipandang. Jadi… Subang itu, seperti ini? Mengingat kembali cerita ayahnya yang mendekripsikan kota Jawara itu. Cerita ayah, benar adanya.

Malam harinya, acara terus berlangsung. Diiringi dengan hawa dingin yang menusuk ketulang, yang mencoba dihangatkan oleh api unggun, diselingi juga jagung bakar dan susu coklat panas yang menemani. Alunan musik dari gitar anak anak kelasku mengiringi semarak malam ini. Juga beberapa celotehan candaan yang terlontar dari gadis gadis yang tengah melempar beberapa pertanyaan konyol yang membuatku sedikit sedikit tertawa saat menyimak obrolan mereka. Rasanya tenang di kota ini. Damai dan hawa sejuk selalu menemani dirinya disini.

“Rayensha! Mau nanya deh.” Teriak Jendra sambil memetikan senar gitarnya lagi. Rayensha menaikkan alisnya, lalu kembali berfokus kepada jagung yang ia makan bersisa setengah. “Tau ga apa yang ga bisa timsar lakuin?” Tanya Jendra sedikit berteriak lagi karena memang jarak mereka cukup jauh. Anak anak yang lain diam, mendengarkan jawaban yang akan dilontarkan Jendra sebentar lagi karena Rayensha tak kunjung menjawab. “Chat aku yang tenggelem di Line kamu, HAHAHA.” Tawa mereka pecah, tak terkecuali Rayensha yang sedikit geli karena pertanyaan tadi.

Malam yang indah ya, semoga tidak cepat berlalu. Guyuran tinta cakrawala dari himpunan mega yang tadi hendak tumpah seketika sirna, corak jingga yang menghias semesta kembali menyapa pagi seorang gadis yang tengah bersiap untuk berjalan pagi di daerah Ciater. Rayensha baru saja selesai mandi dari balik tirai toilet yang berada di ujung perumahan warga yang begitu ramah. Airnya, sangat jernih. Tidak tercemar.

“Anak-anak, ayo keluar! Kita akan beli surabi khas Subang, loh!” Teriak bu Anta dari luar. Semuanya keluar dari tenda dengan semangat, menghampiri bu Anta dan Dikta yang tengah sibuk memperhatikan anak-anak yang berlalu lalang di tengah lapangan tersebut. Setelah siap, semuanya berjalan menuju tempat yang dituju dengan suasana hati yang riang gembira, perlu waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai kesana. Semuanya saling mengantri satu sama lain untuk mendapatkan sarapan pagi khas Subang yang ia inginkan. Begitu juga dengan Rayensha yang saat ini tengah berbincang dengan Prima dan Juna sambil melahap surabinya yang dicampur dengan sedikit sambal kacang.

“Kalian tahu ga surabi ini dibuat dari apaaa?” Ucap bu Anta dengan nada jenaka. Hampir semuanya menggeleng, kecuali Melody yang berucap. “Surabi sering disebut mirip sama pancake yang berasal dari Belanda. Kalau pancake dari tepung dan telur, adonan serabi dibuat dengan menggunakan tepung terigu, tepung beras, sama santan kelapa!” Katanya antusias. Ditanggapi dengan tepuk tangan dari seluruh siswa, terutama bu Anta. “Ibu tambahin, ya. Cara memasaknya itu dipanggang menggunakan cetakan dari tanah cekung liat setengah lingkaran!” Jelas bu Anta sambil melahap surabinya.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, waktu sore telah tiba. Menandakan mereka harus segera pulang. Saat ini Rayensha sedang didalam bus sambil sedikit terlelap dikarenakan alunan musik yang terdengar dibalik ipodnya. Namun itu harus berhenti dikarenakan Dikta yang berteriak dari arah depan. “Semuanya turun dulu, kita beli nanas khas Subang!” Mengikuti Dikta, Rayensha turun. Dan menatap beberapa nanas yang menurutnya terlihat lezat. Benar benar menggiurkan.Jadi ia membeli dua nanas di sana. Satu lagi, cerita yang ia baca dari internet tadi malam benar. Jika Subang terkenal dari nanas simadunya yang begitu menarik.

Waktu menunjukan pukul tiga sore, semua siswa/i sedang berada di sekolah sekarang. Menunggu jemputan yang akan membawa mereka pulang ke rumah masing masing. Rayensha juga baru saja dijemput oleh ayahnya. Ia bercerita dengan antusias tentang perjalanannya kemarin sore hingga tadi siang. “Ternyata Subang itu keren banget yaa! Sore sampai pagi lagi dingin. Terus makanannya bersih-bersih! Cerita ayah juga bener tentang air di sana yang jernih-jernih! Keren banget!” Ceritanya bersemangat saat di mobil. Sang ayah terkekeh, lalu mengusap pelan punggung sang gadis. “Iya anak ayah, lanjut ceritanya di rumah ya. Lagi di jalan ini, hahaha.” Rayensha mengangguk, lalu kurvanya melengkung. Ia akan rindu dengan kota damai tersebut.

(Visited 25 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan