Airys dan Sekotak Pizza_Alzena Rachmatia Zarah_SMPN 1 Subang

WhatsApp-Image-2021-04-17-at-17.34.24-1.jpeg

Cklek.

Airys menolehkan kepalanya pada pintu yang baru saja dibuka dari luar. Terlihat seorang perawat dengan seragam yang mirip seperti astronot datang dengan satu nampan di atas tangannya.

“Ini waktunya makan siang, Airys. Jangan lupa dimakan ya,” perawat yang diketahui bernama suster Ira tersebut berkata di balik maskernya.

“Huh! Aku sudah tahu, tidak perlu diingatkan lagi.” seperti biasa, Airys menjawab dengan nada angkuhnya.

Suster Ira diam-diam tersenyum simpul tanpa diketahui Airys karena terhalang masker. Sudah hampir tiga minggu Airys menjalani isolasi di rumah sakit ini. Anak yang sebentar lagi naik ke SMA itu dinyatakan positif covid-19 saat menjalani swab test. Selama ini Airys cukup dekat dengan Suster Ira karena Suster Ira yang mencoba mendekatkan diri pada Airys dengan mengajaknya mengobrol walaupun anak itu membalasnya dengan acuh tak acuh. Airys setiap harinya pasti selalu murung. Bahkan jika ada pasien lain yang ingin mengajaknya mengobrol, Airys selalu menolaknya.

Menurut yang Suster Ira tahu, Airys ini di rumahnya sangat manja. Semua yang Airys butuhkan pasti sudah ada yang mengurusnya. Namun sekarang Airys harus isolasi di rumah sakit sendirian tanpa ada orang yang dikenalnya. Maka dari itu Suster Ira tertarik untuk membuat Airys bisa berbaur dengan orang lain.

“Oh ya, vitamin C nya jangan lupa kamu minum. Oke Irys?” suster Ira mengedipkan sebelah matanya berniat untuk menggoda si anak angkuh itu.

Airys mendengus. “Apaan sih Sus, jangan sok kenal deh.” Airys memalingkan wajahnya ke arah lain.

“Kamu tuh jadi anak jangan kaku-kaku amat dong, senyum dong sekali-kali!” perkataan suster Ira membuat Airys menghela napasnya.

“Aku bukan anak-anak lagi,” sela Airys.

“Lalu apa?” tanya suster Ira.

“Wanita dewasa,” jawab Airys dengan singkat. Mendengar jawaban tersebut membuat tawa Suster Ira pecah dan menggema di ruangan ini.

“Yaa yaa yaa anak empat belas tahun memang sudah menjadi wanita dewasa.” suster Ira mendengus geli.

“Aku memang sudah dewasa,” ujar Airys.

“Terserah kamu saja,” balas suster Ira yang masih menetralkan tawanya.

Lalu keadaan hening beberapa saat.

“Eh Sus,” ujar Airys.

“Yaa aku akan pergi ke ruanganku setelah kamu memakan makananmu,” sahut suster Ira.

“Aku tidak peduli kapan dan kemana Suster pergi,” balas Airys dengan nada datarnya.

“Lalu ada apa kamu memanggilku?” tanya suster Ira pada Airys.

“Bolehkah aku mendapatkan sekotak pizza?” pinta Airys.

“Ini rumah sakit jika kamu lupa, Irys. Pizza tidak akan kamu dapatkan jika di rumah sakit,” ujar suster Ira yang seketika itu juga membayangkan nikmatnya satu potongan pizza yang dilumeri dengan lelehan keju mozarella.

Airys merotasikan bola matanya dengan malas. “Aku sudah tahu ini rumah sakit, tidak perlu diingatkan lagi. Maksudku tolong pesankan satu kotak pizza untukku.”

“Jadi kamu mau dipesankan satu kotak pizza kemari?” tanya suster Ira.

“Ya. Sudah lama sekali sejak aku tidak makan pizza,” jawab Airys. Padahal Airys baru memakannya tiga minggu yang lalu sebelum dia dirawat di rumah sakit. “Em, pembayarannya transfer lewat saldo dana milikku saja.”

“Kamu sudah punya aplikasi dana?” tanya suster Ira.

“Ya,” jawab Airys dengan malas karena menurutnya itu pertanyaan yang sia-sia. Tidak penting sama sekali.

“Tidak usah, pakai uangku saja. Nanti satu kotak pizza kita bagi dua. Karena kamu membahas pizza itu membuatku tiba-tiba menginginkannya juga,” ujar suster Ira pada Airys.

“Kalau begitu bayarnya bagi dua saja. Aku tidak enak jika makan makanan yang dibayar oleh orang lain,” balas Airys pada suster Ira.

“Ya sudah tidak apa-apa. Kita kan temen.”

“Aku tidak temenan dengan orang tua,” kata Airys pedas.

“Aku baru dua puluh lima tahun lho,” balas suster Ira. “Aku akan pesan pizza sekarang.”

Airys mengangguk lalu Suster Ira pergi dari ruangan ini.

Airys menatap sekeliling. Ruangan ini didominasi oleh warna putih. Sangat berbeda dengan kamarnya yang serba berwarna ungu. Lalu pandangan Airys jatuh pada nakas yang terletak di samping tempat tidurnya. Di sana tergeletak kalung berbandul yang di dalam bandulnya terdapat foto Airys dan sang Bunda.

Airys jadi teringat tentang Bunda. Ia menyesal. Sangat menyesal. Jika saja waktu itu ia patuh untuk tida keluar rumah, maka Airys mungkin tidak akan diisolasi di rumah sakit ini. Pikiran Airys berkelana pada kejadian dua minggu lalu. Di mana ia mulai dinyatakan positif covid-19.

Hari Sabtu, tepatnya dua minggu yang lalu.

Airys menatap dirinya lewat pantulan cermin. Penampilannya sudah sangat rapi. Airys memang berencana untuk pergi keluar hari ini. Ia sudah janjian dengan teman-temannya. Airys berjalan menuju ruang tamu. Di sana terlihat Bunda sedang duduk di sofa sembari membaca majalah fashion kesukaannya.

Derap langkah yang berasal dari ankle boots milik Airys membuat Bunda mengalihkan perhatiannya dari majalah lalu menatap Airys yang sudah siap-siap akan pergi keluar.

“Kamu mau kemana, sayang?” Bunda bertanya pada Airys yang kini duduk di hadapannya.

“Irys mau main sama teman Bun,” jawab Airys seraya mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.

“Kok main sih?” tanya Bunda heran. “Bahaya loh, sekarang ini kan lagi masa pandemi, Irys.”

“Irys tahu Bun, tapi Bunda tenang saja. Irys tidak akan terpapar kok, lagi pula Irys kan memakai masker,” ujar Airys pada Bunda.

“Ya tetap saja dong itu bahaya, Nak. Jangan pergi ya?” pinta Bunda pada Airys. “Bunda khawatir, sayang.”

“Gak mau Bunda, aku sudah janjian sama temenku. Udah ya, ojek online pesananku sudah datang!” Airys pamit meninggalkan Bunda yang diliputi rasa khawatir.

Sementara Bunda diliputi rasa khawatir tentang anaknya, di luaran sana Airys begitu bersenang-senang dengan teman-temannya sampai beberapa kali ia lupa dengan membuka maskernya saat berada di kerumunan.

Setelah bermain hari itu, keesokan harinya Airys merasa tidak nyaman pada dirinya. Dia merasa sesak beberapa kali. Bunda yang mengkhawatirkan Airys langsung membawanya menjalani swab test. Dan Airys dinyatakan positif covid-19.

Bunda yang mendengar putrinya terjangkit virus mematikan itu langsung sesak. Ulu hatinya seperti ditusuk ribuan belati paling tajam. Rasanya dunia yang dipijakinya tak lagi sama.

Sejak saat itu Airys harus menjalani isolasi di rumah sakit. Tinggal jauh dari Bunda yang biasanya selalu ada untuknya.

“Airys!”

Airys mengerjapkan matanya saat mendengar seruan dari suster Ira yang sudah berdiri di ambang pintu dengan satu kotak pizza yang ada di tangannya.

“Ya?” tanya Airys.

“Kamu ini kenapa ngelamun terus, gak baik tau,” ujar suster Ira.

“Ini pizza kamu. Jangan lupa dihabisin ya! Itu belinya pakai uang lho.” suster Ira meletakkan satu kotak pizza di atas nakas.

Kening Airys mengerut. “Kok belum dibuka sih, Sus?” tanya Airys.

“Ohh itu tadi kita dapat promo loh. Beli satu gratis satu. Jadi satu kotak yang lain itu untukku dan dibagikan dengan perawat yang lain,” jawab suster Ira.

“Oh. Makasih,” ujar Airys.

“Kamu juga bisa berbagi dengan pasien lain lho. Sekalian menambah teman di rumah sakit agar kamu tidak kebosanan diam di kamar terus. Sekali-kali kamu keluar gitu ngobrol sama mereka,” saran suster Ira.

“Hm ya,” singkat Airys agar cepat.

“Kecuali perut kamu kayak gentong, mungkin kamu sanggup menghabiskan satu kotak pizza besar itu,” ujar suster Ira dengan jenaka.

“Ish Suster! Udah sana deh, aku mau makan pizza ini.” Airys mulai kesal karena suster Ira sejak tadi tak henti-hentinya menggoda Airys.

“Yaa yaa yaa. Selamat makan pizza perut gentong.” suster Ira menahan tawanya lalu pergi keluar.

Airys merotasikan bola matanya dengan malas melihat tingkah suster Ira. Terkadang suster itu suka tertawa tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Membuat Airys ngeri sendiri.

Airys membuka kotak pizza di hadapannya. Aroma perpaduan lelehan mozarella dan berbagai saus itu langsung menyeruak ke indra penciumannya. Sejenak Airys menatap pizza di hadapannya dengan lekat. Lalu terdengar gurauan dari para pasien lain yang sepertinya sedang berbincang-bincang di luar.

Airys bimbang. Ia ingin berbaur ke sana juga dengan mereka.

Tapi…

Dan di sinilah Airys berada. Ia duduk dengan para pasien lain dengan posisi melingkar. Airys mencoba melawan gengsinya dan ikut berbaur dengan mereka dan menawarkan satu kotak pizza tadi. Ternyata pasien covid-19 di rumah sakit ini kebanyakan remaja seumuran dirinya. Dan itu lumayan membuat Airys betah untuk mengobrol.

“Hai teman-teman, namaku Airys.” Airys memperkenalkan dirinya pada mereka.

“Hai, Airys!” sahut mereka kompak.

“Hai, Airys! Ternyata kamu bisa berbaur dengan mereka juga ya.” Airya menoleh dan sudah ada suster Ira yang menatapnya jenaka. Seolah bersiap meledeknya.

“Aku hanya tidak ingin dikatai perutku gentong. Jadi aku berbagi dengan mereka.” Airys membuang mukanya ke arah lain.

Suster Ira tertawa lalu ia berkata, “Dasar gengsian.”

Setelah hari itu, Airys lebih sering berbaur dengan pasien lainnya. Seperti berjemur dan senam bersama. Sampai satu per satu dari mereka bisa pulang ke rumahnya masing-masing karena sudah dinyatakan sembuh dari covid-19.

Hari yang dinanti-nanti Airys akhirnya tiba. Setelah hampir satu bulan berada di rumah sakit, Airys akhirnya bisa pulang ke rumah.

Tadi malam dia sudah dinyatakan sembuh dari covid-19!

“Jangan lupakan aku ya, Airys!” seru suster Ira saat Airys sudah bersiap-siap akan pulang.

“Tentu saja! Nanti ku pesankan pizza untuk suster!” Airys memeluk suster Ira yang selama ini sudah merawatnya.

Setelah berpamitan, Airys berjalan ke arah parkiran. Di sana Bunda berdiri di samping mobilnya.

“Airys sayang!”

“Bundaaaa!” Airys menjatuhkan diri ke pelukan Bunda.

Rasanya bahagia bisa kembali bersama Bunda dan meninggalkan rumah sakit yang sudah memberinya berbagai pelajaran hidup.

(Visited 8 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan