Perjuangan di Subang?

Mentari menyinari pagi, di temani semilir angin dan di manjakan hijaunya hamparan sawah bak permadani indah di bumi. Kicauan burung terdengar begitu indah, membuat yang mendengarnya merasakan nyaman.

Hal itu pun tak luput dari pengindraan seorang gadis remaja yang masih memakai pakaian tidurnya, berdiri di depan jendela tidak begitu membosankan. Apalagi di saat sedang libur sekolah, rasanya sangat nyaman dan tenang.

Klekkkk

“Rey, ternyata sudah bangun. Ayo kita kebawah, yang lain sudah menunggu” ajak ibunya yang di balas anggukan kepala dan senyuman oleh Reyna

Sesampainya di ruang makan, Reyna pun menduduki kursinya tidak lupa menyapa orang yang sudah berkumpul disana. Kali ini ibunya memasak ayam balado dengan telur gulung kesukaannya,

“Rey, kamu suka liburan disini? Atau lebih suka tinggal di jakarta?” Tanya kakeknya kepada cucu perempuan satu satunya itu

“Rey suka kek, apalagi disini udaranya sejuk. Tidak seperti di jakarta yang setiap hari harus menghirup polusi huh” jawabnya dilanjut dengan cebikan bibir yang mengundang tawa di sana.

Semalam Reyna sekeluarga baru saja tiba di rumah kakeknya yang berada di Subang. Reyna sangat senang bertemu dengan kakeknya walaupun sebenarnya ia cepat bosan di perjalanan, saat ia tahu bahwa buah kesukaannya banyak terdapat di subang. Rasa bosan pun hilang, digantikan dengan lamunanya merasakan buah segar yang menjadi maskot subang itu,Nanas.

“Rey, jangan bosan terus. Nanti sampai di Subang kita ajak kakek sama nenek beli nanas gimana?” Tanya ayahnya

“Woahhh Reyna mau yah, kita beli yang banyak biar ada persediaan di rumah” jawab Reyna dengan antusias, sedangkan sang ibu hanya terkekeh sembari geleng geleng kepala. Apalagi saat melihat binar di mata Reyna

“Ya sudah, kalau begitu Rey tidur aja dulu. Perjalan Jakarta ke Subang jauh, biar nanti sampai Subang Rey punya tenaga” ucap ayah, ya mau bagaimana lagi ucapan ayahnya memang benar. Perlahan tapi pasti, mata yang penuh binar itupun meredup dan sepenuhnya tertutup.

Begitulah, hingga akhirnya Reyna sampai di rumah sang Kakek yang di kelilingi hijaunya dedaunan dan segarnya udara.

“Kek, ayo kita beli Nanas yang banyak. Reyna mau nanas, soalnya udah lamaaaa banget Rey gak makan nanas” ajak Reyna dengan penuh harap pada sang kakek

“Rey, kenapa harus beli? Gimana kalau kita metik sendiri saja di kebun? Mau?” Tawar kakek dengan penuh sayang yang di balas anggukan semangat oleh Reyna, “ayo kek, Rey panggil ayah dulu buat manasin mobil” pamit Reyna

“Tak usah pakai mobil Rey, kita jalan saja. Cucu kakek kan kuat, ayo” pungkas kakek, “Rey mau mendengarkan kakek bercerita?” Tanya kakek di perjalanan kek kebun nanas

Reyna yang sedang asik melihat pemandangan pun menoleh lalu menganggukan kepala dan tersenyum pada sang kakek

“Pada masa penjajahan oleh Belanda, Subang juga masuk dalam perebutan kekuasaan antara rakyat indonesia dan penjajah Belanda. Nama daerahnya adalah ciater, Sagalaherang, Sari reja, waktu itu pemimpin Belanda yang akan mengusai daerah subang adalah komandan van khoff” kakek mulai bercerita, berhenti untuk melanjutkan ceritanya

“Tapi ada satu pemuda yang gagah, melawan pasukan Belanda untuk mundur supaya tida menguasai sari reja. Bisa kau sebut dia Lukman, pemuda yang tampan nan berani yang bisa memukul mundur penjajah Belanda, mengorbankan nyawanya hingga ia dan Van Khoff sama sama meregang nyawa” kakek tersenyum ke arah ku

“Lalu bagaimana kek? Apakah penjajah Belanda tetap ingin mengusai Subang?” Tanyaku yang penasaran atas cerita kakek, kakek pun berdehem lalu melanjutkan ceritanya

“Pertanyaan bagus Rey, saat itu penjajah Belanda memang mundur karena pemimpin mereka mati. Waktu pun berganti, dibawah kepemimpinan jendral van hotten pasukan Belanda pun kembali ingin menguasai daerah Subang lebih tepatnya Sari reja. Seperti yang cucu kakek ini tahu, mereka ingin mengusai hasil tani yang memang sangat berkualitas di daerah sini” kakek mengajakku berbelok untuk menuju kebun nanas dengan tangannya,

“Tapi, nasib baik tidak bisa di berikan kepada penjajah Belanda. Seorang pemuda lagi lagi menghalangi para penjajah untuk mengusai daerah mereka, namanya Arif, pemuda dengan tekadnya yang kuat dan tidak kenal takut. Mengajak para warga untuk membela daerah mereka, bukannya pasrah pada penjajah, ekhemm nah Rey tahu apa yang lebih mengejutkan dari sekedar niat Arif melawan penjajah?” Tanya kakek dengan pandangan kosong ke hamparan sawah,

“Memangnya apa kek? Apa karena Arif punya dendam?” Aku mencoba menerka apa yang bisa saja terjadi pada cerita kakek, kakek hanya terkekeh dan tersenyum simpul

“Pintar, lebih tepatnya Arif adalah adik dari Lukman yang gugur melawan van khoff. Dari situlah dendam arif dan kemarahannya makin kuat pada penjajah Belanda, ia mengumpulkan warga dan membuat taktik penyerangan…” kakek berhenti, tak terasa kini di hadapan kami telah ada kebun nanas yang lumayan luas. Kakek melanjutkan langkahnya menuju gubuk di samping lahan Nanas, aku mengikutinya lalu duduk di sampingnya, kakek menghela nafas,

“penyerangan pun dimulai, warga dan penjajah belanda saing melawan untuk memperebutkan kekuasaan. Nasib baik menimpa warga sari reja, di bawah kepemimpinan Arif jendral van hotten kalah. Tapi sayangnya, walaupun dapat mengalahkan penjajah Belanda. Warga tak sedikit yang berguguran uhuk,,, uhuk,,, atas kemerdekaan yang diraih oleh warga sarireja, mereka menanam pohon ketapang untuk menandakan peristiwa tersebut” kakek pun mengakhiri cerita singkatnya.

”tapi kek, bagaimana kakek tahu kalau pada masa itu adanya peperangan yang terjadi?” tanyaku heran, pasalnya jika itu sejarah seharusnya di bukukan atau paling tidak masyarakat yang lain pun tahu.

Kakek hanya tersenyum,”karena Arif adalah ayahku” jawaban kakek cukup mebuatku terkejut, kakek mengeluarkan sepucuk surat yang sudah usang dan memberikannya kepadaku, aksara tegak miring yang rapih lah yang pertama kali terlihat oleh indra pengelihatan ku.

 

Teroentoek anakkoe Agam

Koe harap perdjuangan ini tidak sia sia, sampaikanlah kepada anak tjoetjoe mu. Dendam tidak akan menjelesaikan apapoen, walaoe poen koe bisa mempertahankan daerah ini, di hatikoe jang sangat dalam tersimpan rasa menjesal jang teramat.

Perdjuangan ini adalah kenangan jang menjakitkan, tjeritakan kepada anak tjoetjoe ku bahwa koe sangat ingin bertemu dengan mereka, djagalah tanah ini dari mereka jang serakah akan pemberian tuhan.

Dia jang menjesal atas dendamnja

 

Ya, liburan kali itu adalah liburan yang sangat menyenangkan. Walaupun seminggu setelahnya kakekku telah tenang di alam yang berbeda, tetapi kenangannya akan selalu ku ingat. Seperti kenangan seorang Arif kepada dendam dan perjuangannya, dan aku berjanji akan menceritakan perjalanan seorang Arif, kakekku Agam, dan Ayahku kepada anak cucuku kelak. Semoga apa yang diharapkan oleh Arif tercapai.

(Visited 8 times, 1 visits today)

One thought on “Perjuangan di Subang?

Tinggalkan Balasan