We are Perfect_Nurul Fitriani 9G_SMPN 1 Cibogo

WhatsApp-Image-2021-04-04-at-20.55.45-2.jpeg

WE ARE PERFECT

        Tema: Pendidikan

Aku menginjakkan kaki diatas rerumputan luas dan banyak sekali pepohonan menjulang tinggi dengan dahan-dahannya yang sudah sangat menutupi area disana. Aku meletakkan ransel yang kubawa dan semua peralatan lukis diatas hamparan rumput. Ketika aku hendak melukis, seseorang memanggilku dengan suara yang sangat nyaring. Dengan terpaksa aku menengok dan melihat Azeela, kembaranku yang tengah berlari dengan paper bag yang dibawanya.

“Hai!” Sapanya sembari duduk menyelonjorkan kakinya dan meletakkan paper bag itu disampingnya.

“Bawa apaan nieh?”  tanyaku penasaran dan langsung saja kubuka paper bag tersebut. Ada banyak sekali makanan disana.

“Zea,” panggilnya dan aku hanya diam sambil terus mengunyah makanan.

“Gak jadi,” ucapnya membuatku ingin sekali menjitak kepala itu dengan keras, namun itu tidak mungkin.

Sehabis makan kami berdua bersender pada pohon yang sangat rindang. Sepoi-sepoi angin menerpa wajah kami begitu nyaman rasanya berada disini. Aku melihat kanvas ku masih sangat bersih, ingin sekali aku melanjutkan untuk melukis tetapi perut ini masih begitu kenyang yang membuatku sangat malas untuk bangkit.

Ditengah-tengah lamunanku tiba-tiba Azeela mengeluarkan suara yang membuatku langsung menengok kearahnya.

“Zea, orang-orang kok bisa ya cantik, badannya bagus, terus pinter juga, lah aku? Aku cuman-”

“Ingin terus melanjutkan omongan tidak penting itu?” tanyaku dengan tatapan datar dan membuat saudari kembarku ini langsung terdiam.

Azeela selalu seperti ini seakan-akan ia tidak pernah bersyukur atas apa yang Tuhan kasih kepada kami. Berkali-kali juga aku memberitahunya namun tetap saja. Esok harinya Azeela akan membahasnya kembali. Sangat menyusahkan mendengarkan orang yang terus mengeluh dan membandingkan dirinya dengan orang lain. Aku berdiri dan duduk diatas kursi mini, dengan rasa malas aku mulai melukis yang tidak jelas.

Aku membuat lukisan abstrak yang sama sekali tidak jelas. Kedua mataku memicing menatap Azeela yang memejamkan matanya. Aku berdiri dan duduk kembali disamping Azeela dengan lukisan yang masih aku genggam. Ku tepuk kedua bahunya dan sukses membuat Azeela menengok kearah ku.

“Lihat lukisan ini, bagus?” tanyaku meminta pendapat.

“Bagus, ya walaupun tidak jelas dan sepertinya kau melukis asal-asalan, tapi tetap bagus dan cantik,” ucapnya begitu terdengar jelas ditelingaku.

“Iya sama seperti hidup kamu, Azeela. Tidak jelas, namun tetap indah dan sempurna,” ujarku yang membuatnya kebingungan. Ia menautkan kedua alisnya seperti tengah berfikir.

“Dimuka bumi ini tidak ada yang sempurna, kau cantik dimata orang yang tepat,” ucapku memberikan sebuah box smile andalanku yang membuatnya langsung tersungging tersenyum.

“Ah, Zea, you are so cute,” ujarnya yang langsung menghambur memelukku erat. Tanpa basa-basi aku pun membalas pelukannya tak kalah erat. Hingga sore hari kami masih menikmati pemandangan langit yang begitu indah dan cantik. Secantik diriku, Azeela dan seluruh wanita di dunia. Perlahan mataku mulai terpejam karena sapuan angin yang begitu menyejukkan. Sampai akhirnya aku merasa hidung mancung ku ini tertarik oleh seseorang, dan saat itu aku langsung membuka mata menampilkan sosok Azeela yang menatapku horor.

“Sudah sore, ayo pulang nanti Mama pasti nyariin,” tutur Azeela. Namun bukannya bangun dan segera bergegas, aku malah menutup mata kembali.

“Anzea! Bangun atau kubuang semua alat lukismu!” geram Azeela melihat kelakuanku ini yang begitu menjengkelkan bagi dirinya.

Aku yang mendengar hal itu pun langsung bangun dengan kepalaku yang sedikit terasa pening. Dengan segera aku bereskan semua peralatan yang kubawa dan melihat Azeela meninggalkanku sendirian disini. “Zee! Tungguin dong!” teriakku begitu buru-buru menggendong ransel dan berlari kesusahan menyusul dirinya.

“Cepat aku tunggu dimobil.”

“Emangnya kau bawa mobil?”

“Angkutan umum maksudnya.”

“Dasar!”

Langkahku kini sudah berada tepat disampingnya. Ia melirikku yang nampak kesusahan dengan semua barang yang kubawa. Bukannya dibantu, Azeela malah semakin mempercepat langkah kakinya meninggalkan diriku yang malang ini. Dibawah langit yang sudah semakin gelap aku menyeret ranselku karena sudah sangat malas berjalan kaki. Aku melihat mobil sedan hitam berhenti tepat dihadapanku. Kacanya terbuka dan menampilkan sosok Azeela dengan senyum tanpa bersalahnya.

“Ayo masuk, cepat!” suruhnya dan hendak menutup kaca mobil kembali.

“Bukannya dibantu malah ninggalin,” sindirku sembari memutari mobil dan langsung duduk disamping Azeela. Azeela langsung menancap gas menuju rumah. Lima belas menit perjalanan pulang, saat ini kami sudah berada di rumah dengan keadaan yang sudah mandi. Aku berjalan menaiki tangga dan melihat pintu kamar Azeela terbuka yang menampakkan dirinya tengah duduk sambil menghadap cermin. Karena penasaran aku masuk, namun saat itu Azeela belum menyadari kehadiranku.

“Apa aku harus perawatan atau operasi plastik agar wajahku ini terlihat cantik? Bosan rasanya melihat orang-orang yang tampil anggun dengan wajah cantik mereka,” gumamnya yang sangat terdengar digendang telingaku. Hal tidak penting seperti ini selalu dipikirkan oleh Azeela.

“Sudah aku bilang, tidak ada yang sempurna. Begitupun kamu, aku dan semuanya yang hidup dibumi ini. Kamu cantik, Zee, cantik sekali. Tidak usah merasa jelek seperti itu sampai ingin menjalani operasi segala. Kalau nanti operasi itu malah membuat hidung kamu copot, bagaimana?” tuturku panjang lebar membuat Azeela menatapku dengan sangat datar.

“Aku bukannya merasa jelek, hanya insecure gak lebih,” balasnya tak mau kalah.

“Sama saja. Daripada memikirkan hal yang tidak penting, kamu banyakin bersyukur dikasih hidung mancung dan bentuk wajah yang bagus. Ada banyak orang diluar sana yang menginginkan bentuk muka seperti kamu, Zee. Sudah, ayo makan nanti sakit repotin semua orang,” ucapku meninggalkannya sendirian di kamar. Azeela menghela napas dan menyusulku untuk makan malam bersama.

Suasana saat itu sangat hening. Itu peraturan di rumah kami, tidak ada yang boleh berbicara ketika sedang makan. Namun tiba-tiba Papa mengeluarkan suara membuat aku dan seisi di ruang makan menengok kearahnya.

“Kenapa semuanya kayak tegang,” celetuk Papa membuatku terheran.

“Lha, kirain tadi Papa mau ngomong apa gitu,” ujar Azeela.

“Tidak, geer kalian ini. Sudah lanjutkan makan Papa mau ke ruang kerja.”

Aku, Zee dan Mama saling menatap satu sama lain. Papa ini benar-benar terkadang aneh. Aku dan Azeela membereskan semua sisa makanan dan mencuci piring sebelum kami memutuskan untuk pergi ke kamar masing-masing.  Aku menyeretnya masuk kedalam kamarku dan menyuruhnya untuk tidur bersama. Azeela ini benar-benar membuatku kesal saja. Aku melemparkan bantal ketika ia sedang melamun. “Udah malem, tidur!”

Azeela langsung merebahkan tubuhnya dan memeluk guling. Aku mematikan sakelar lampu dan tertidur. Sebelumnya aku membisikkan sesuatu pada kembaran ku ini agar ia tak selalu insecure dan tertidur dengan nyenyak malam ini. Hingga pagi menjelang kami sudah terbangun dan siap untuk pergi ke kampus. Aku menyiapkan semua buku yang akan diperlukan nantinya, saat itu aku melihat Azeelanyang masih bersolek memoles wajahnya dengan make-up. Aku bangkit dengan menggendong tas dan berdiri disampingnya. Azeela melirikku dan melanjutkan kembali kegiatannya. Aku meraih lipstik yang sedang ia genggam dan tentu saja itu membuatnya geram.

“Balikin!” suruhnya

“Bibir kamu sudah sangat merah, ngapain masih pakai lipstik?”

“Itu namanya bukan lipstik!” Kesal Azeela dan langsung merebutnya dariku. Aku memperhatikan benda itu. Jika bukan lipstik lantas namanya apa? Perasaan sama saja. Tak lama kami keluar kamar dan berpamitan. Perjalananku dan Azeela ke kampus pagi ini cukup lancar karena jalanan kota Jakarta belum macet pastinya. Sesampainya di kampus, aku melihat Azeela yang tengah memerhatikan seorang tuna netra yang tengah mengobrol dengan temannya menggunakan bahasa isyarat. Azeela memicingkan matanya. Langsung saja aku merangkul kembaranku ini.

“Lihat! Dia tidak bicara tapi masih semangat untuk hidup bahkan tidak malu untuk bersosialisasi seperti itu,” tuturku membuat Azeela menundukkan kepalanya. Aku melirik dirinya dan mengambil tissue disaku celanaku. Aku langsung menghapus lipstik dibibirnya yang begitu merah.

“Tidak baik insecure berlebihan, Zee,” ucapku pelan.

“Tapi lihat! Perempuan itu kulitnya putih banget, Zea. Lihat! Dia juga mempunyai badan ramping yang-”

“Terus ucapkan omong kosong ini. Azeela, kembaranku yang begitu cantik sekali. Diluar sana ada banyak orang yang pengen punya kulit eksotis kayak kamu, gak semuanya harus putih bersih. Yang penting apa?”

“Bersyukur,” jawab Azeela membuatku tersenyum lebar.

“Gitu dong, insecure terus gak akan ngebuat kamu bisa jalan-jalan ke luar negeri. Insecure itu hal yang wajar, wajar sekali, tapi tidak berlebihan seperti ini. Jadiin rasa insecure kamu ini peluang agar kamu bisa jadi orang yang lebih baik, Zee. Bukan lebih cantik, karena dasarnya semua wanita emang cantik, bukan?”

“Iya, Zea. Tapi sudah buat gak bandingin diri kita sama orang lain,” tutur Azeela menjauhkan tanganku dan langsung berjalan memasuki kelasnya. Aku mengikuti langkahnya dan menggandeng tangan Azeela. “Makannya jangan dilihat dari yang sempurnanya aja, contoh orang tadi. Dia tuna netra tapi tidak malu kan? Kamu yang sudah jelas-jelas sempurna seperti ini kenapa masih merasa minder sama orang lain yang kamu anggap lebih sempurna?”

“Tapi buktinya aku memang tidak sempurna kan? Bahkan ke kamu pun aku merasa insecure. Kamu lebih cantik dariku, nilai-nilai kamu pun jelas jauh lebih tinggi dari nilai yang aku dapatkan,” keluh Azeela menatap sendu diriku.

“Jadikan itu motivasi. Untuk kesekian kalinya aku bilang sama kamu, didunia ini tidak ada yang sempurna, begitupun aku dan kamu. Belajar bersyukur, jangan sampai kamu lesu seperti ini,” terang diriku namun sepertinya tidak ngaruh sama sekali terhadap Azeela.

Aku melangkahkan kaki menuju kelasku karena dosen sebentar lagi akan datang. Ketika kelas dimulai, aku memerhatikan dosen dengan sangat serius sampai akhirnya kelas kami selesai. Aku membereskan semua alat tulisku kedalam tas dan melirik satu mahasiswa yang tengah berdiam sambil menunduk. Dengan rasa penasaran aku menghampirinya. Ku duduk dihadapan mahasiswa itu dan ia menatapku, aku pun langsung tersenyum.

“Sedang ada masalah?” tanyaku basa-basi.

“Sedikit,” jawabnya membuatku semakin penasaran.

“Kalo mau, kamu boleh cerita padaku,” ucapku menegakkan badanku menghadap padanya.

Aku melihat dia menghela napas berkali-kali sebelum akhirnya ia mengeluarkan suara. “Aku tidak tahu, ini hanya masalah sepele tapi membuatku merasa terasingkan,” ujarnya sembari memundurkan kursinya dan menatapku lekat.

“Kenapa?” tanyaku dengan rasa penasaran yang semakin memuncak.

“Aku mahasiswa pindahan karena aku merasa begitu malu,” ia menjeda ucapannya untuk mengambil napas. Aku menggit bibir bawahku karena sangat tidak sabar mendengar ia berbicara.

“Malu atas dasar apa?”

“Semua mahasiswa disana memiliki kemampuan otak yang begitu pintar, mereka juga nampak sempurna dengan style yang mereka pakai. Aku yang melihat itu hanya bisa terdiam dan-“

“Jadi intinya kamu merasa insecure?”

“Kurang lebih seperti itu.”

Aku menghela napas berat. Kenapa semua orang harus memiliki rasa insecure berlebihan sampai-sampai harus pindah universitas karena minder dengan mahasiswa lain. Baru saja tadi pagi aku menasehati saudari kandungku untuk selalu bersyukur, sekarang di kelasku juga ada yang lebih insecure. Aku memajukkan wajahku untuk menatapnya.

“Tadi pagi aku berbicara dengan saudariku agar terus bersyukur dan tidak minder seperti ini. Mungkin aku akan mengatakan hal yang sama kepadamu, kalau manusia tidak ada yang sempurna. Kamu merasa minder dengan mahasiswa disana yang pintar? Sebenarnya kamu pun pintar jika mau berusaha dan rajin  belajar, bukan malah minder yang nantinya malah akan membuatmu malas. Satu lagi, kamu insecure dengan style yang mereka pakai? Kamu bisa mengumpulkan uang untuk membeli pakaian dan memperbaiki style yang menurut dirimu sendiri kurang bagus,” ucapku berhenti sejenak karena rasanya ucapanku ini begitu nyerocos.

“Aku tidak mengenal siapa nama dan siapa dirimu, tapi kamu harus yakin kalo kamu sempurna dimata orang yang tepat, dan bagi diriku sendiri kamu cukup tampan apa yang perlu kamu insecure kan? Ayo belajar agar terus bersyukur, anggap diri kamu sendiri itu sempurna, ok!”

“Ya Tuhan, selama ini aku hanya melihat kekuranganku saja, aku tidak menjadikan itu semua pelajaran. Terimakasih, siapa namamu?” tanya nya

“Anzea, panggil saja Zea,” jawabku yang diakhiri dengan senyuman.

“Ah, oke. Terimakasih Zea, setelah ini aku akan berusaha lebih bersyukur lagi,” ucapnya ramah.

Aku hanya tersenyum lalu keluar meninggalkan kelas untuk mencari udara segar. Memang tidak mudah untuk menghilangkan kebiasaan membandingkan diri kita dengan orang lain. Namun tidak harus dengan insecure yang berlebihan. Semua yang Tuhan berikan patut kita syukuri.

(Visited 4 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan