Senyum yang Hilang_Laeli Nurwasilah 9G_SMPN 1 Cibogo

WhatsApp-Image-2021-04-04-at-20.55.46-10.jpeg

   Waktu terus berjalan,ku pandangi jendela kamarku sembari melihat langit yang mulai menjadi gelap,tetapi suasana itu sangat berbeda kumelihat sebuah titik aura suram di langit itu dan semua kesuraman itu menyebar didiriku ketika aku tahu bahwa orang tuaku sakit,mereka sakit karena sebuah virus,sebuah virus yang sedang melanda di negaraku tahun ini,pada waktu itu pula kehidupanku menjadi berbeda,tidak bisa melihat indahnya langit secara langsung,tidak bisa mendengar suara percikan air sungai yang mengalir di samping rumahku,serta tidak bisa melihat burung yang sedang terbang dan berkicauan,kini kehidupanku hanya terdiam seorang diri di ruang kamarku tanpa berbaur dengan siapapun,tapi ada satu lagi penyemangatku yaitu kakakku,dia selalu ada disisiku dan selalu menemani disetiap hidupku yang suram ini.

“Hei Fheza kamu lagi ngapain di jendela”ucap kakaku.

“Eh kakak kirain siapa ngagetin aja,ini biasa aku lagi liat langit,aku rindu dengan suasana luar kak”.balasku.

“Iya Fezha kakak juga rindu…banget,tapi gimana lagi gara-gara pandemi ini suasana sekarang menjadi beda semua pun di larang,tapi itu demi kebaikan kita juga sih Fezha”ucap kakak.

“Iya kak betul,kalau gak gitu nanti bisa-bisa kita tertular virus lagi kayak ayah dan ibu,ih gak mau takut,dan semoga aja ibu dan ayah cepat sembuh ya kak”balasku.

“Iya aamiin Fezha semoga mereka cepat sembuh ya kita doain aja,eh jangan lupa bersih-bersih kamar ya,yaudah sekarang kakak mau bersihin ruang tamu dulu”ucap kakak.

“Oke siap kak”balasku.

Setelah itu aku lanjut untuk membersihkan tempat tidurku,lalu dilanjutkan dengan mandi sore.

“Dek…Fezha,udah mandi jangan lupa ya sholat maghrib,nanti belajar udah ini ya”ucap kakakku.

“Iya siap kak”balasku.

Beberapa menit setelah aku mandi,suara adzanpun terdengar,lalu aku melanjutkan berwudhu setelahnya akupun melaksanakan sholat maghrib,ketika aku sedang belajar tiba-tiba terdengar suara telepon dibawah”kring…kring…”tapi setelah ku dengar suara itu mulai berhenti berdering,aku turun menuju ruang tengah untuk melihatnya,ternyata telpon itu sudah di jawab oleh kakakku,dan sedikit samar-samar suara suster rumah sakit yang memberitahu keadaan ayah dan ibuku sekarang,”assalamualaikum ini dengan keluarga bapak Rizan dan ibu Reifa?,ini kami dari pihak rumah sakit memberitahu bahwa keluarga anda sudah sedikit membaik tapi belum pulih”.ucap suster itu.Tapi ketika kakakku ingin mengobrol dengan ayah ibu lewat telpon tersebut,tiba-tiba telponnya terputus.Dan kami tak tahu kabar dan suara mereka lagi.

Waktu itu pula hatiku merasa tidak enak seakan-akan telah masuk kedalam pusaran kesuraman dalam titik terdalam,dan malam setelah itupun aku tidak bisa tidur memikirkan ayah ibuku yang sedang berada di rumah sakit,aku tak tahu keadaanya,aku tak tahu apa kabarnya,tapi ketika aku akan tidur entah itu halusinasiku atau hanya angan dan mimpiku tiba-tiba ada 2 orang pasangan datang mengahampiriku dengan mengelus keningku yang saat itu aku sedang berbaring di kasur sambil menyamping dengan meneteskan air mata.

“Nak apa kabar?ini ayah dan ibumu,ayah ibu datang katanya kamu rindu”.ucap mereka sambil tersenyum.

“Hah!…apa ini mimpi!,kamu bukan ayah dan ibuku kamu berbeda”balasku.

“Tidak nak kami ibu dan ayahmu,tapi ibu dan ayah hanya bisa melihatmu dari mimpi saja,ibu dan ayah hanya berpesan tolong jaga kakakmu ya,kami akan pergi jauh”ucap mereka.

Lalu seketika aku terbangun dari mimpiku,entah mimpi hanya bayang-bayangku yang rindu ayah ibu,atau sebuah pesan tersirat dari mereka yang entah siapa.

Keesokan harinya aku pun menceritakan semuanya pada kakakku tentang mimpi itu,mimpi sosok yang mengaku orang tua kami,tapi kakak pergi seperti tidak mempedulikanku,tapi kenapa ucapku dalam hati apakah kakak mengetahui sesuatu.Ketika aku akan turun kebawah aku melihat kakakku sedang menulis di atas kertas sambil bercucuran air mata,ketika aku akan bertanya padanya dari kejauhan,dia tiba-tiba pergi menuju kamarnya dengan membawa buku yang di catat ia tadi.

Aku berlanjut menuju ruang tengah tempat dimana kakakku menulis surat itu,aku melihat sebuah sobekan kecil di meja tadi,dan didalamnya tertulis”aku hanya seorang pendosa yang selalu berbohong pada dunia,seakan hal berharga pun aku sembunyikan darinya”itu isi dalam sebuah robekan kertas itu entah apa yang menjadi arti dari sebuah kata-kata itu,setelah aku ingin menyimpannya aku melihat lagi sebuah robekan kecil yang bertuliskan “maafkan aku Mahf”robekan itu tidak mengungkap nama yang ada di dalam robekan itu.

“Lah…kok Mahf aja sih?,hah!aku baru sadar kan namaku Mahfezha apa jangan-jangan surat itu untukku,apa kakak tahu sesuatu?”ucapku pada diriku sendiri.

“Tatapii…kalau ada sesuatu,sesuatu apa ya?,kok perasaanku jadi gak enak”ucapku pada diriku sendiri sambil terbata-bata.

Seketika aku pun mulai berderai air mata entah apa yang ada dipikiranku sampai-sampai diriku sendiri ingin berteriak dan ingin menangis sekeras-kerasnya,seperti terbawa dalam arus kesuraman dalam titik yang sangat dalam,entah kenapa titik suram itu selalu hadir dalam diriku sampai-sampai aku terlalu lelah dengan kehidupanku sendiri.

“Fezha!…ayo makan dulu”ucap kakakku yang tiba-tiba datang.

“Eh iya kak,kakak ngagetin aja sih”ucapku sambil menghapus air mataku.

“Kamu yang ngelamun apa kakak yang ngagetin nih”ucap kakakku sambil berbalik arah menuju ruang makan.

Dalam hatiku setelah mendengar kakak berbicara seperti itu,apa kakak tau apa yang aku rasakan?diriku pun tidak tahu jati dirinya sendiri termasuk apa yang dipikirkan oleh dirinya sendiri.Sejak saat itu aku menjadi anak pendiam sekali,menjadi pemurung,tak pernah berbicara,bahkan selalu mengatakan aku membenci kehidupanku sekarang,kehidupan dimana saat datangnya virus itu,aku benci…ucapku dalam diri sendiri.

Seminggu kemudian aku pun melaksanakan ulangan tanpa persiapan apapun,belajarpun aku jarang karena yang dipikiranku hanya teori-teori yang disembunyikan kakakku padaku,aku layaknya seorang bocah freak aneh yang selalu murung,berbicara sendiri saat ini,kehidupanku seperti tertekan tapi padahal tidakk pernah ada yang menekanku,dalam waktu itu aku masuk kembali kedalam titik kesuramanku,tapi keadaan sekarang berbeda aku melihat sebuah titik terang di dalam kesuramanku saat ini,dan entah mengapa seperti ada aura yang mendorong diriku untuk terlepas dan tersadar dalam kesuraman ini lalu aku berlari sekeras mungkin untuk menggapai sebuah titik terang itu tapi sekuat apapun aku melarikan diri dari kesuramanku itu hanya sia-sia.

“Fezha…katanya kamu ulangan Online kan sekarang!kakak tau ini dari ibu guru kamu”.ucap kakakku yang selalu datang ketika kesuramanku datang.

“Iya ka,aku ulangan sekarang”balasku dengan dingin.

“Oke untuk adik kakak yang cantik,semangat ya belajarnya”ucap kakakku.

Saat setelah ulangan aku kembali memberanikan diri membuka jendelaku kembali,aku melihat sebuah langit yang indah disana,seperti kehidupanku yang dahulu indah dan tak ada kata gelap di baliknya.

“Tok…tok…tok..”terdengar suara ketukan pintu di luar,aku berlari turun ke bawah untuk membuka pintu,tetapi kakakku sudah dahulu membukakan pintu,aku melihat ada sepasang orang datang ke rumah tapi wajahnya tak begitu kelihatan karena aku melihat dari atas tangga,ku coba untuk mendekati,wajah sepasang itu mulai terlihat,dan aku baru sadar ternyata itu ayah dan ibuku,kehidupanku yang suram kini telah menemukan lagi titik terang untuk kebahagiaan,akupun terharu dan bahagia karena ibu dan ayah ku sudah pulang.

“Ayah…ibu…alhamdulillah ayah dan ibu sudah pulang aku sangat rindu sekali”ucapku sambil menangis.

“iya nak ibu dan ayah pun sangat rindu kamu”balas mereka.

Ternyata ayah dan ibuku di antar oleh petugas rumah sakit,petugas itu berpesan”nanti ibu dan bapak harus dikarantina dirumah dulu ya selama 14 hari dan tidak boleh dekat dengan anak-anaknya dahulu untuk memastikan bahwa sudah pulih dengan sempurna”ucap petugas.”Iya baik nanti saya dan adik saya akan menjaga orang tua kami pak,terimakasih mah telah merawat orang tua kami sampai sembuh”balas kakakku.Lalu setelah itu para petugas rumah sakit pun kembali ke rumah sakit untuk menjalankan tugasnya masing-masing lagi.

“Ayah ibu ayok masuk istirahat”ucap kakakku.

“Iya ayah ibu ayok masuk,kami bahagia sekali ayah dan ibu sudah pulang,walaupun sekarang kita belum boleh berkomunikasi secara dekat”ucapku.

“Iya makasih ya nak kalian sangat perhatian sekali pada kami”ucap mereka.

“Iya sama-sama,kan kalian orang tua kami jadi kami juga harus merawat kalian”ucapku.

Setelah berbincang sedikit kami pun mengantar ayah dan ibu ke kamarnya meskipun dengan jarak,tapi di dalam hatiku sendiri masih ada perasaan tidak enak dengan semua ini,tentang  surat yang ditulis kakak dan tentang ucapan orang tuaku tadi yang menyebutkan”terimakasih”padahalkan itu sikap sewajarnya yang di lakukan anak kepada orang tuanya.Setelah kedatangan ibu dan ayah ke rumah semangatku mulai ada lagi setelah sekian lama hidupku yang selalu suram,aku begitu giat belajar,menyapa mereka setiap pagi memberi makan kepada mereka meskipun harus sambil menerakan protokol kesehatan.

Sebulan pun berlalu,akhirnya kami bersama lagi dengan keluarga tanpa ada yang kurang,tapi entah kenapa hati dan muka kakakku berkata lain dengan kebahagiaan yang selalu aku rasakan saat ini,pikiranku sekarang sangat lah berubah-ubah,terkadang flashback masa suram itu,terkadang bahagia.Waktu terus berlalu dan pada akhirnya ayah dan ibuku mulai bekerja kembali dan harus selalu menerapkan protokol kesehatan,memang diriku saat ini bahagia selalu saat orang tuaku sembuh,tapi kebahagiaan itu tidak mencapai titik sempurna karena keadaan lingkungan saat ini berbeda dengan sebelumnya karena virus ini.Lalu aku datang ke kamar kakakku setelah itu,dan ternyata kakakku sedang menulis surat lagi.

“Kak aku boleh gak?,kakak nyembunyiin apa sih dari aku,soalnya hati aku tuh ada rasa gimana gitu saat pertama ibu dan ayah sakit kakak kayak nyembunyiin sesuatu dari aku”ucapku.

“emm..sebenarnya itu,ayah dan ibu kita sudah meninggal Fezha,maafkan kakak,kakak berbohong padamu,ibu dan ayah yang tadi bukan orang tua kandung kita mereka orang tua angkat kita”ucap kakak sambil menangis.

“Hah!kakak bohong nih yakan dia orang tua kita”ucapku.

“Bukan Fezha!mereka bukan orang tua kita,maafkan kakak”.balas kakakku.

“Aku kecewa ke kakak kenapa kakak gak bilang dari awal kak kenapa”ucapku.

“Kakak hanya ingin kamu bahagia Fezha hanya itu,ini juga pesan dari ayah dan ibu sebelum mereka pergi untuk selamanya.balas kakakku

Kami berduapun saling berpelukan dan saling memaafkan,jadi bersyukurlah kalian yang masih mempunyai kedua orang tua yang masih lengkap dan jangan sia-sia kan mereka,karena mereka akan terlihat berharga bagi kalian ketika semuanya pergi dan kami yang tidak pernah merasakan orang tua merasa iri dengan kalian.Jadi tetaplah bersyukur dengan apa yang kalian punya saat ini.

 

(Visited 7 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan