Pandemi Covid-19_Anggun Siti Fadilah_SMPN 1 Cibogo

WhatsApp-Image-2020-11-24-at-13.48.59.jpeg

Suatu hari, aku masih duduk di kelas delapan sekolah menengah, hari itu aku pergi sekolah seperti biasa. Sepulangnya sekolah aku menonton berita yang membahas tentang Virus jahat yang menyebar dan menggemparkan seluruh dunia. Tepat pada bulan Desember tahun 2019 Corona virus lahir di China. Penyebabnya masih belum pasti, akan tetapi virus itu menyerang saluran pernafasan dan membuat gejala sesak serta demam tinggi yang dapat berakhir dengan kematian.

Esoknya aku sedang memasuki kelas dan aku mendengar bahwa virus itu semakin menyebar ke berbagai negara, aku mulai takut virus itu menyebar ke Indonesia, aku hanya bisa berharap itu tidak terjadi. Kelas ku akan segera dimulai, maka aku segera masuk ke kelas dan duduk memulai pembelajaran hari ini.

“Sepertinya kalian juga sudah tau soal Virus yang tengah menyebar saat ini” kata pak Dodi.

“Iya pak, Corona virus” kata salah satu temanku.

“Berdoa saja semoga virus itu tidak menyebar ke Indonesia, kalian juga harus menjaga kebersihan dan juga jaga kesehatan agar virus tidak bisa masuk ke dalam tubuh kalian” Jelas pak Dodi

“Baik pak” Seru kami sekelas.

Lama kemudian, Bel pulang berbunyi. Aku segera pulang dan sampai di rumah aku membaca baca artikel soal virus itu. Sangat mengerikan, karena banyak korban yang terkena wabah virus itu dan meninggal, ada juga yang bisa sembuh akan tetapi itu perlu usaha yang sangat keras.

Tahun berlalu dengan cepat, dan wabah Covid-19 semakin menyebar luas. Aku mendengar sebuah berita lagi yang membuatku sangar sedih, Wabah Covid-19 itu mulai masuk ke Indonesia tepatnya pada bulan Maret 2020, Segala kegiatan mulai diliburkan dua minggu, segera diadakan kebiasaan kebiasaan baru untuk menghindari terkena paparan wabah Covid-19.

Semua orang sangat takut dengan virus ini, hingga mereka selalu melakukan protokol kesehatan yang dianjurkan dari pemerintah, yaitu menggunakan masker, berjaga jarak, selalu mencuci tangan dan lebih baik di rumah saja jangan ke mana mana selagi tak terlalu penting.

Sekolah diadakan secara Daring di rumah saja, orang-orang mulai menggunakan hastag di rumah saja dalam media sosial. Aku menghabiskan waktu kelas sembilan hanya dengan di rumah, belajar di rumah, olahraga di rumah, dan bersosialisasi melalui internet. Cukup sedih, akan tetapi aku Selalu semangat dan tidak akan menyerah untuk Belajar dan menggapai mimpi.

Sebelum wabahnya semakin menyebar ke wilayahku, setiap hari Senin aku selalu ke sekolah untuk sekedar mengumpulkan tugas yang selama ini aku kerjakan di rumah. Senang karena aku masih bisa berkesempatan bertemu teman-temanku  dan mengobrol secara langsung, aku juga selalu melakukan protokol kesehatannya.

“Anak-anakku kelas sembilan, kalian sekarang sudah menjadi kakak kelas paling tinggi, berikan contoh yang baik kepada adik kelas kalian, juga kalian jangan putus semangat untuk belajar hanya karena wabah covid-19 ini, sebentar lagi kalian akan melaksanakan kelulusan perbaiki semua nilai dan usahakan hadir disaat daring. Tetap dirumah saja dan jangan kemana mana jika tidak terlalu penting. Jaga kesehatan kalian untuk menghadapi ujian sekolah dan segera selesaikan tugas tugas semua mata pelajaran” jelas guruku.

Semua guru selalu menyemangati muridnya dengan baik. Setelah mengumpulkan tugas semua murid segera pulang ke rumahnya masing masing.

Aku memanfaatkan kegiatan di rumah saja ini hanya untuk belajar, membaca, membuat cerita di aplikasi cerita, berolahraga, beribadah, dan berkumpul bersama keluarga. Semuanya berjalan dengan kebiasaan yang sering disebut New Normal. Dengan Daring waktu lebih banyak yang luang dibanding sekolah biasa. Semuanya pasti akan ada sisi positif dan negatif nya. Hari sabtu dan minggu libur aku gunakan untuk membantu orang tua, beres-beres, beribadah, dan beristirahat.

Aku kembali mencari artikel ke layanan internet. Aku menemukan sebuah cerita yang cukup menginspirasi, dan aku membacanya.

“Namanya Audy Amariztha rapsolly, berumur 15 tahun dan saat ini tinggal di kabupaten Majalengka Jawa Barat. Selama pandemi ody melakukan pembelajaran secara Online atau daring. Ia mengisi waktu luangnya dengan menggambar dan mengambil foto. Ody bercita cita ingin menjadi desainer. ‘Hellow New Normal’ adalah judul yang ia berikan untuk karyanya. Melewati karyanya, ody ingin kita semua disiplin menjaga kesehatan dan kebersihan serta berada di rumah saja selama pandemi. Ia juga berpesan agar tidak bermalas malasan dan juga produktif. Salah satunya adalah dengan belajar hal baru yang postif.” Aku berhenti membaca sejenak.

“Ody berharap pandemi ini segera berakhir dan semua kembali normal. Pesannya kepada seluruh anak-anak Indonesia untuk tetap selalu semangat menjalani hari, dan gunakan waktu yang ada dan kembangkan potensi diri menjadi lebih baik lagi”

Aku sangat kagum kepada Audy! Dia sangat hebat! Di bawahnya ada sebuah foto hasil karya Audy yang dia kirim di Instagram.

“Waw bagus sekali gambarnya!” seru ku.

Memang, sebuah gambar yang Audy gambar itu sangatlah indah, dimana gambar itu menggambarkan suasana saat pandemi ini, ada Tiga orang anak yang seperti berdiri diatas bumi satu  mengenakan masker, satunya mencuci tangan dan satunya menggunakan baju bertanda cegah covid.

“Sangat hebat!” seruku lagi.

Wabah itu semakin menyebar, di wilayahku ada yang terpapar covid dam segera di alihkan ke rumah sakit Bandung, warga yang tinggal disekitarnya dirumahkan dan diberi beberapa makanan pokok agar tidak keluar rumah. Warga pun semakin resah dan takut. Namun akhirnya orang itu kembali sembuh dan pulang.

Banyak yang masih tidak melakukan protokol kesehatan, menganggap nya sepele padahal bisa saja jika terkena wabahnya akan menimbulkan dua kemungkinan diantaranya sembuh atau meninggal. Aku semakin tidak bisa bertemu teman teman, tetapi itu tidak masalah jika ini memang jalan yang baik untuk menghilangkan wabah Covid ini.

“Covid tidak akan mematahkan semangatku untuk terus belajar, dan berjuang demi masa depan yang lebih baik” Gumam ku.

Seluruh Dokter dan perawat serta pihak rumah sakit sedang berjuang menghadapi pasien pasien yang terjangkit virus ini. Terutama sang Dokter, mereka sangat bekerja keras menyembuhkan pasien dan juga menahan gerahnya serta letihnya menggunakan pakaian tebal dan berlapis untuk tidak terkena virus. Ada juga dokter yang terkena covid lalu meninggal. Dokter itu akan dikenang sebagai pahlawan yang berjuang melawan ganasnya covid ini.

Maka, kita sebagai masyarakat berhati hatilah serta lakukan semua protokol kesehatan. Lebih baik tidak usah kemana mana lalu covid menghilang daripada pergi keluar dan malah covid ini semakin mewabah. Tetap di rumah saja. Berdoalah agar Pandemi ini segera berakhir dan semuanya berjalan normal seperti awalnya. Semoga saja Allah angkat wabah ini secepat mungkin agar semuanya bisa tersenyum lagi. Lawan Covid untuk menuju masa depan yang baik.

(Visited 105 times, 1 visits today)

One thought on “Pandemi Covid-19_Anggun Siti Fadilah_SMPN 1 Cibogo

Tinggalkan Balasan