Mimpi Altair_Nurul Fitriani9G_SMPN 1 Cibogo

WhatsApp-Image-2021-04-04-at-20.55.45-2.jpeg

                                                                   MIMPI ALTAIR

   Semilir angin berhembus kencang sampai menembus pori-pori kulit. Sapuan ombak yang terdengar begitu menenangkan bagi siapapun yang mendengarnya. Lengan yang lumayan kekar itu diangkat keatas dengan mata terpejam dan tarikan napas yang begitu panjang. Kedua mata indah itu menatap lurus kedepan melihat lautan luas dihadapannya yang sangat damai. Tangan kanannya meraih ponsel yang berada jauh disaku celana miliknya.

Lelaki muda dengan kemeja hitam polosnya itu berjalan lebih jauh sehingga kedua kakinya terkena air laut. Sebuah senyuman itu terbit begitu saja di wajah tegasnya. Altair Rakabuming, itu namanya.

Kaki Altair melangkah lebar menuju sebuah toilet umum sebelum ia memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya.

“Wah, ini pasti enak,” gumam Alta ketika melihat tukang jualan ikan bakar disekitaran tempat parkir.

Sebelum memutuskan untuk membelinya, Altair mengecek isi dompetnya terlebih dahulu. Matanya melihat kearah spanduk yang menunjukkan harga dan macam-macam ikan bakar yang dijual disana. Ia berucap dalam hatinya jika uangnya ini cukup untuk membeli satu porsi ikan bakar untuk Ibunya di rumah.

“Bu, ikan bakarnya satu,” ucap Alta kepada penjualnya dan kemudian ia duduk di bangku panjang yang tersedia disana. Hanya menunggu beberapa menit pesanannya sudah siap. Altair menyerahkan beberapa lembar uang kepada ibu penjual itu.

Ia melangkahkan kakinya menuju motor vespa tua kesayangannya. Lelaki itu menikmati jalanan yang sangat ramai disore hari. Perlahan matahari terbenam dari arah barat dan langit mulai menggelap. Dengan sisa waktunya, Altair sebentar lagi sampai di rumahnya.

Pintu itu terbuka dan menimbulkan decitan yang membuat Ibu Altair tersadar dari tidurnya. Alta melangkah masuk kedalam kamar sang Ibu dengan menenteng kantong plastik. Ia menarik kursi reyot dan duduk.

“Sudah pulang ternyata,” celetuk Ayu, Ibunya Altair.

“Bu, Al beliin ibu makanan, ayo bangun makan dulu,” ucap Altair sembari bangun dari duduknya dan membantu Ayu untuk turun dari ranjang menuju ruangan tamu.

Ayu duduk dikursi yang sudah sangat jelek dan penuh dengan tambalan. Sementara itu Altair pergi ke dapur dan kembali dengan membawa piring dan minum. Ayu tersenyum lembut kearah anaknya dan menerima piring serta gelasnya. Alta duduk tepat disamping sang Ibu dan membantunya untuk memisahkan duri dari ikan.

Perlahan suapan demi suapan masuk ke mulut Ayu dengan begitu lahap. Altair yang melihat itu hanya mampu tersenyum. Tak lupa ia membantu memberikan minum ketika Ayu memintanya.

“Udah cukup, ibu kenyang,” ujar Ayu menyeka ujung bibirnya.

Altair membereskan bekas makan Ibunya itu dan berjalan ke dapur untuk mencucinya. Ia kembali dengan beberapa bungkus obat digenggamannya. Belakangan ini Ibunya itu mengalami batuk berlebihan sampai mengeluarkan darah. Altair sendiri tidak tahu harus melakukan apa. Untuk pengobatan lebih lanjut itu tidak memungkinkan karena biaya yang tidak memadai. Hingga mereka hanya bisa membeli obat di apotik.

“Udah malem, ibu istirahat ya,” ucap Alta membantu Ibunya berjalan menuju kamar.

Saat sudah berada di kamar, Ayu menarik tangan anaknya itu. “Jangan begadang, Al. Akhir-akhir ini ibu perhatikan wajah kamu kusut sekali, ditambah mata kamu yang sedikit menghitam, nanti kalau sakit bagaimana?”

“Iya, aku juga gak terlalu sering begadang kok, Bu,” balas Altair yang langsung mengecup kening Ibunya.

Ia keluar dan menutup pintu kamar Ayu rapat-rapat. Altair duduk dikursi dengan beberapa tumpukan buku pelajaran. Besok adalah hari dimana ia akan menjalani Ujian Nasional dan itu penentuannya untuk lulus dari SMA. Alta mempelajari semua buku dari kelas sepuluh, ia mempelajari sesuai dengan kisi-kisi yang diberikan oleh guru.

“Hoam…”

Lelaki itu menengadah melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB. Sudah sangat larut malam dan Altair masih berkutat dengan buku-buku dihadapannya. Karena tidak tahan menahan kantuk, alhasil dirinya dikursi dengan buku yang masih dalam genggamannya.

“Pasti begadang lagi,” gumam Ayu ketika melihat anaknya yang tertidur lelap ditemani setumpuk buku. Alta terbangun dan mulai memperjelas pandangannya. Saat dirinya hendak berjalan ke kamar mandi Ayu datang dari arah belakang dengan wajah yang sedikit basah dan tersenyum manis pada anaknya.

“Sudah bangun ternyata, mandi terus wudhu abis itu shalat,” ujar Ayu yang langsung melenggang menuju kamarnya.

Altair segera mandi dan berwudhu untuk melaksanakan kewajibannya.Tak lama Alta kembali dari kamarnya dengan pakaian seragam yang sudah melekat. Ia menenteng tas dan berjalan menghampiri Ibunya yang tengah menyiapkan teh hangat. Alta tersenyum dan duduk dikursi sambil memakai dasi dan sepatu.

“Ini diminum dulu, di rumah gak ada makanan buat kamu sarapan jadi minum saja teh nya ya,” papar Ayu.

“Iya bu, makasih.”

Alta meneguk teh hangat itu sampai tersisa setengahnya. Altair tidak mau terlambat ia mulai berpamitan pada Ibunya meminta restu agar ujiannya ini berjalan lancar. Ia mulai menyalakan motor vespa nya dan segera berlalu menuju sekolah. Udara dipagi hari begitu menyegarkan.

Selang beberapa menit akhirnya ia sampai di gedung sekolah yang bisa dibilang sederhana. Altair turun dari motornya dan segera menuju ruangan tempat ia ujian. Ia segera menyiapkan alat tulisnya dan ujian akan segera dilaksanakan sebentar lagi dan tak lama bel berbunyi.

Sekolah Altair ini bukan sekolah yang cukup memadai. Mungkin di sekolah lain ujian akan dilakukan menggunakan komputer karena jaman sudah canggih. Namun dengan semua bahan apa adanya mereka masih bisa melakukan ujian tanpa memakai komputer. Kini Altair tengah berada di perpustakaan untuk menenangkan dirinya sebelum ia kembali ke rumah.

“Permisi, sudah waktunya pulang perpustakaan akan ditutup,” celetuk salah seorang siswi berkacamata memberitahu Altair.

“Ah iya, terimakasih sudah memberitahu,” ujar Altair ramah sambil membereskan buku dan menaruhnya kembali ke rak. Hari ini Altair pulang awal karena ujian hanya dilakukan sampai pukul sebelas. Beberapa menit lagi sudah masuk waktu Dzuhur.

Kini Altair sudah berada di rumah dan mencium punggung tangan Ibunya lalu ia masuk untuk berganti pakaian. Alta menyender pada pintu rumahnya sambil menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong. Ia memikirkan mimpinya terus menerus.

“Alta,” panggil Ibunya sembari memegang pundak anaknya yang lebih tinggi itu.

“iya bu?”

“Kejar cita-cita kamu, masalah biaya tidak usah khawatir ibu bisa bekerja buat kamu, nak,” tutur Ayu seolah-olah tahu apa yang tengah dipikirkan oleh Alta.

“Bu, ibu udah tua. Ibu juga lagi sakit kan, tidak perlu repot-repot bekerja buat Al, kalau pun nanti Al bakal kuliah, Al bakal cari kerja sampingan, Bu,” ujar Altair tak tega.

“Ibu masih ada simpanan emas dan jika dijual harganya lumayan buat daftar kuliah kamu.”

“Tapi, Bu,”

“Ibu ingin sekali melihat anak semata wayang ibu sukses, dan cita-citanya terwujud,” ucap Ayu menundukkan kepalanya. Sangat terlihat dari raut wajahnya jika dirinya tengah bersedih.

“Makasih Bu,” ucap Alta yang langsung memeluk erat Ibunya itu.

Ujian telah berlalu dan hari ini merupakan hari dimana semua siswa/siswi kelas dua belas dikumpulkan di lapangan untuk pengumuman peraihan nilai tertinggi di angkatan 2035 ini. Alih-alih menunggu guru naik ke podium, Alta sesekali menyeka keringat yang membasahi pelipisnya. Ketika seorang guru mulai menaiki podium dan membenarkan pengeras suara Alta segera berdiri

“Assalamualaikum anak-anak yang bapak cintai dan bapak sayangi. Sebagaimana jadwal kita hari ini, dimana bapak akan mengumumkan siswa dan siswi yang meraih nilai ujian tertinggi angkatan sekarang.”

“Tiga orang murid yang memperoleh nilai tertinggi, diurutan ketiga Kamila Ratnasari dengan nilai 87,35, Adnan dengan nilai 88,00 dan Altair Rakabuming dengan perolehan nilai paling tinggi dengan nilai 90,45! Berikan applause!!!”

“HUUUU!!” Sorak seluruh murid yang berada di lapangan pada murid yang mendapatkan nilai tertinggi. Altair merasa begitu shock ketika mendengar nilainya paling tinggi. Ia sangat tak menyangka. Setelah pengumuman tadi, Altair dipanggil ke ruangan kepala sekolah. Tanpa basa-basi beliau langsung menyampaikan jika Altair dapat memperoleh beasiswa untuk masuk ke perguruan tinggi. Sangat tidak diduga Altair mendapat beasiswa penuh sampai ia lulus wisuda. Dengan rasa syukurnya Alta langsung menjatuhkan dirinya dan bersujud atas bentuk rasa syukur yang ia dapatkan.

Altair bangkit dan langsung mencium punggung tangan kepala sekolah tersebut. “Terimakasih banyak pak.”

“Tidak perlu berterimakasih, ini murni dari prestasi yang kamu dapat dan nilai-nilai semasa kamu sekolah disini, kamu pantas mendapatkan beasiswa ini,” tutur beliau membuat hati Altair terenyuh mendengarnya.

Setelah semuanya selesai, Altair segera pulang untuk memberitahukan kabar gembira ini. Ketika sampai dirumah, ia langsung menghambur memeluk Ibunya dan memberitahu semuanya. Satu tetes air mata lolos begitu saja dari ujung mata Ayu karena anaknya mendapatkan beasiswa dan dapat meraih mimpinya sebagai dokter.

Beberapa hari setelah kelulusan, Altair menginjakkan kakinya disebuah Universitas terbaik didaerahnya. Empat semester yang ia tempuh sangat tidak mudah. Altair juga memiliki kerja sampingan untuk menghasilkan uang agar bisa melanjutkan kuliahnya dan menjadi dokter. Dengan bantuan doa dari Ibunya dan usaha keras yang dilakukan oleh seorang Altair, semuanya berjalan mulus.

“Al,” panggil seorang wanita paruh baya yang terduduk diatas kursi roda dengan memakai pakaian yang amat bagus sambil menatap anaknya penuh kasih sayang.

“Iya, Bu?”

“Mimpi kamu terwujud dan keinginan almarhum ayah kamu juga terpenuhi. Ayah kamu pasti bangga melihat anaknya yang sudah sukses seperti sekarang ini,” jelas sang Ibu matanya mulai berkaca-kaca karena tak kuasa menahan tangis.

“Makasih, makasih karena Ibu aku bisa jadi seperti ini,” balas Altair lantas memeluk erat Ibunya yang sudah berumur itu hingga tak sanggup lagi untuk berjalan.

Bertahun-tahun Altair sekolah kedokteran dengan biaya yang tak sedikit, namun ia yakin kalau dirinya akan sukses. Beberapa praktik ia lakukan, dari awal magang disebuah klinik sampai saat ini Altair sudah resmi menjadi seorang dokter spesialis bedah yang sukses dan pastinya tampan. Semua itu ia tempuh tidak mudah, banyak sekali rintangan yang didapatnya. Namun Alta yakin dengan kuasa Tuhan dan doa dari Ibunya.

 

(Visited 10 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan