Meraih Tujuan_Giska Amelia_SMPN 1 Cibogo

WhatsApp-Image-2021-04-04-at-20.35.13.jpeg

Hari ini adalah hari Senin, dimana aku harus berangkat lebih awal untuk mengikuti upacara bendera. Jujur saja, aku tidak bisa tidur dengan tenang karena ibu sering bangun tengah malam. Tetapi itu adalah kewajiban ku untuk mengurus ibu, dan aku selalu diperingati oleh ayah sewaktu masih ada bahwa ‘Bagaimanapun kondisinya, kamu harus rajin belajar dan bisa membuktikan bahwa kamu bisa sukses dimasa depan’.

Aku segera mencari suster untuk menjaga ibu selagi aku masih berada disekolah. “Sus, seperti biasa tolong jagain ibu aku ya,” Kataku.

Suster tersebut mengusap lembut kepalaku, “Pasti akan suster jagain, kamu semangat ya belajar nya! Oh ya, sebelum kamu berangkat tadi pagi suster sengaja bawa sarapan buat kamu-“ ucapnya sambil memberikan kotak nasi,“semoga suka ya!” Seru suster tersebut.

Aku menerima kotak nasi tersebut,“Terimakasih suster, pasti aku akan suka. Kalau begitu aku pamit ya sus, assalamualaikum…” Ucapku sambil melambaikan tangan.

“Wa’alaikumussalam hati-hati.” Balasnya sambil melambaikan tangan.

☣☣☣

Makin siang makin ramai murid yang berdatangan. Sebab, jika telat beberapa menit kita akan berurusan dengan anak OSIS. Semua atribut pun harus lengkap, jika salah satu atribut tidak dipakai alhasil murid tersebut dipindahkan ke depan lapangan dan menghadap murid lainnya.

“Pagi Ca,” Sapa temanku.

“Pagi juga Na, tumben banget jam segini udah datang?” Tanyaku.

“Tuh kan serba salah, giliran datang siang dibilangin terus giliran datang pagi juga dibilangin,” Keluh Kirana.

“Cie baper, ya udah maaf ya,” Ucapku sambil mencubit pipinya.

“Ah sakit tahu Ca-“ Keluh Kirana,“Tapi bagaimana kondisi ibu kamu? Aku belum ketemu ibu kamu lagi nih, gimana kalo pulang sekolah aku ikut sama kamu ya, plisss…” Ucapnya memohon.

“Alhamdulillah ibuku perlahan semakin membaik, itu semua berkat do’a kamu juga. Sebelum ketemu ibuku, kamu udah izin belum sama kedua orang tua kamu?” Tanyaku.

“Udah kok,” Jawab Kirana berbohong.

“Oke kalo gitu.” Balasku.

☣☣☣

Sesudah pulang sekolah, aku dan Kirana segera menemui ibu. Sebelum menuju rumah sakit, Kirana meminta untuk berhenti ditoko buah. Ia memilih buah untuk ibuku, walaupun aku sudah menolak untuk tidak membelikan apapun.

Kirana memanglah anak yang bisa terbilang keturunan orang punya. Entah bagaimana aku bisa sedekat ini dengan Kirana, padahal aku hanyalah orang biasa. Dan setiap kali aku selalu bilang seperti itu, Kirana terus mencubit lengan ku dan berkata ‘Aku berteman denganmu karena kamu sudah ku anggap seperti saudaraku’.

“Assalamualaikum,” Ucapku dan Kirana.

“Wa’alaikumussalam, eh kamu bawa Kirana lagi Ca?” Tanya ibunya.

“Iya,” Balasku langsung menyalimi tangan ibu.

“Halo tante, Kirana kangen banget sama tante,” Ucapnya sambil memeluk ibuku.

Lalu Kirana pun memberikan buah yang tadi dibeli, “Kirana Cuma bisa bawa ini tante, dimakan ya,” Ucapnya dengan lembut.

“Aduh jadi ngerepotin nih,” Balas ibuku.

“Ngga ngerepotin sama sekali kok tan.” Jawabnya sambil terkekeh.

Begitulah suasana diruangan ini, aku bisa melihat ibuku tertawa kembali meski kenyataan ibu harus menahan rasa sakitnya. Aku harap kedua kakak ku bisa datang menemui ibu, aku tidak ingin mendengar ibu setiap malam selalu menangis merindukan kedua kakak ku. Wajar saja ibuku menangis, karena sudah beberapa tahun ditinggalkan oleh kedua anaknya yang telah bekerja.

☣☣☣

Waktu  menunjukan pukul 16:45 dimana matahari akan terbenam, dan disinilah aku mengantarkan Kirana untuk menunggu supirnya menjemput. Jujur saja dalam hatiku sangat merasa tidak nyaman, entah karena apa.

“Na, serius kan kamu udah izin sama kedua orangtua kamu?” Tanyaku memastikan.

“I-iya kok, S-serius. Kamu gak percaya Ca?” Tanyanya kembali.

“Bukannya begitu, cuma aku khawatir saja,” Balasku seadanya.

“Aku baik-baik aja Ca-“ Jawabnya, kemudian datanglah supir yang Kirana suruh tadi, “Supirku udah datang, jaga ibu kamu baik-baik ya, dadah!” Balasnya dengan melambaikan tangan.

“Hati-hati.” Teriakku kala mobil semakin menjauh.

☣☣☣

Hari terus berlalu, aku mendapatkan kebahagiaan yang istimewa. Kedua kakakku datang menemui ibu dan meminta maaf karena telah sibuk dengan pekerjaannya. Kedua kakakku pun memilih cuti untuk sebulan ke depan. Akhirnya aku bisa melihat ibu semakin senang dan kondisi yang semakin membaik.

Hingga pada akhirnya ibuku dinyatakan sembuh total, Tuhan memang sangat baik. Kita tidak akan pernah tahu kapan ibu bisa sembuh atau mungkin sebaliknya, tapi yang aku rasakan adalah sangat bersyukur.

Aku telah merindukan suasana rumah yang telah lama tidak terawat, alhasil aku serta kedua kakak ku membersihkan rumah dan membagi pekerjaan-pekerjaan supaya cepat terselesaikan.

“Ca, bantu kak Melody!” Teriak kak Melody anak pertama.

Aku pun segera menyusul ke arah sumber suara, “Kenapa kak?” Tanyaku.

“Angkat jemuran ke arah sana,” Tunjuknya dan akupun hanya mengangguk.

“Akhirnya selesai, terimakasih adik bungsu ku…” Ucapnya sambil mengelus pelan rambutku.

“Sama-sama kak.” Balasku sambil tersenyum.

Tak terasa sudah beberapa jam membersihkan rumah yang amat berantakan, kini telah menjadi bersih kinclong dan sangat nyaman ditempati. Hingga rasanya perut mulai berbunyi meminta untuk diisi.

Kak Raisa selaku anak kedua, ia sangat pintar memasak. Setelah beres-beres tadi, ia menuju dapur dan memasak. Sudah ku pastikan bahwa kak Raisa memasak nasi goreng untuk sarapannya. Memang sederhana, tetapi rasanya sangat membahana alias sangat enak.

“Waduh wanginya! Gak sabar pengen sarapan,” kataku sambil duduk di ruang makan.

“Tunggu sebentar, mendingan kamu mandi dulu terus bangunin ibu!” Perintahnya dengan lembut.

“Oke kak, tapi sisain nasi goreng nya! Jangan dihabisin, Caca kan udah lama gak makan nasi goreng buatan kak Raisa,” Kataku was-was.

“Tenang aja, kakak udah bikin porsi banyak, sana gih mandi dulu. Perawan kok jorok banget!” Ejeknya.

“Ihh! Kakak ngeselin!” Teriakku sambil menghentakkan kaki sepanjang perjalanan menuju kamar.

“Kamu gak pernah berubah dek.” Ucap sang kakak pelan.

☣☣☣

Hari ini aku telah melakukan aktivitas keseharianku, sekolah seperti biasa dan aku harus bersiap-siap menghadapi ujian nanti. Karena, waktuku berada di kelas 12 ini hanya beberapa minggu lagi.

Tetapi, entah kenapa hari ini Kirana dijaga ketat oleh penjaganya. Bahkan ketika Kirana akan mendekatiku ditahan oleh penjaga bertubuh besar itu. Aku pun bisa melihat bahwa Kirana sangat khawatir kepadaku dan aku hanya mengisyaratkan bahwa aku baik-baik saja.

Hingga dimana ada pelajaran olahraga, otomatis murid perempuan akan ke toilet bersama. Di situlah Kirana bisa berdekatan denganku, rasanya seperti tidak enak karena diam-diam takut ketahuan.

“Hiks Caca, aku kangen!” Isak Kirana setelah menggunakan baju olahraga.

“Kirana? Kamu baik-baik aja kan? Kenapa kali ini ada penjaga?” Tanyaku sangat penasaran.

“Aku dimarahi oleh kedua orang tua ku karena selalu telat pulang sekolah, dan supirku bilang bahwa aku akhir-akhir ini pergi denganmu kerumah sakit. Sungguh aku minta maaf padamu juga Ca, aku berbohong tentang izin kepada kedua orangtuaku. Aku terpaksa melakukan itu karena mungkin ini yang terbaik, saat aku ingin menjelaskan yang sebenarnya kepada kedua orangtuaku…” Jelas Kirana terpotong karena ia tak sanggup menahan air mata.

“Kenapa? Apa orangtua kamu main fisik? Dan kenapa kamu berbohong soal izin?”Ttanyaku dengan sangat  khawatir.

“Aku meminta maaf soal izin, orangtuaku tidak main fisik. Hanya, mereka melarang aku berteman denganmu lagi. Mereka fikir aku dan kamu hanya bermain-main saja di rumah sakit,” jelasnya lagi.

“Oke, aku juga minta maaf. Seharunya aku juga bilang sama kedua orangtua kamu dan izin kepada mereka. Kamu tenang ya, aku akan datang kerumah kamu nanti sore bersama kakak dan ibuku,” Ucapku berusaha menenangkan Kirana.

“Baiklah, aku tunggu dan sekali lagi aku minta maaf.” Balasnya dan aku hanya mengangguk.

☣☣☣

Sesuai janjiku, aku datang kerumah Kirana bersama ibu dan kedua kakak ku. Awalnya satpam tidak mengijinkan kami untuk masuk, akan tetapi kedua orangtuanya Kirana akan mencoba mendengarkan penjelasanku. Dan kami pun diarahkan untuk masuk kedalam rumah yang sangat mewah ini.

“Selamat sore om dan tante,” Salamku dan hanya dibalas senyuman.

“Maaf pak, bu, kami mengganggu. Saya disini hanya meluruskan kesalahpahaman. Saya telah mendengar cerita itu, dan jujur saja bahwa bapak dan ibu telah salah paham. Kirana adalah anak yang amat baik, ia selalu datang ke rumah sakit hanya untuk menjenguk saya dan memberikan buah-buahan meskipun saya pernah menolak, namun Kirana tetap memaksa,”Jelas ibuku.

Kedua orangtua Kirana pun kaget, ia telah salah paham kepadaku dan Kirana.

“Jadi selama ini kita salah paham, kalau begitu saya meminta maaf sebesar-besarnya kepada Caca karena sudah berfikiran buruk. Karena kami tidak pernah mengajarkan Kirana untuk berbohong, oleh karena itu saya marah dan kecewa. Sekali lagi kami selaku orang tua Kirana meminta maaf kepadamu ya Ca,” mohon kedua orangtuanya Kirana.

“Iya om, tante maafin Caca juga karena gak kefikiran lebih jauh untuk mengabari om dan tante. Kalau begitu Caca masih bisa berteman dengan Kirana kan?” Tanyaku.

“Iya boleh kok.” Jawab mereka.

Hari yang telah dinantikan olehku, dimana aku akan melakukan yg terbaik dihari terakhir ujian sekolah ku dan berharap mendapatkan beasiswa ke universitas kedokteran. Semua berjalan seperti biasa, kedua kakak ku telah bekerja kembali.

Ada banyak orang yang iri kepadaku, dan mereka bersumpah bahwa aku tidak akan bisa masuk universitas kedokteran dan tidak akan sukses. Bahkan diantara mereka diam-diam membicarakan tentang urusan keluargaku. Aku hanya bisa bersabar dan hanya menganggap angin lewat, yang terpenting aku akan selalu bekerja keras dan menunjukan bahwa aku juga bisa sukses.

Sebenarnya, selama ini aku dikelas hanya bisa berteman dengan Kirana. Karena setiap aku ingin bergabung dengan teman yang lain, mereka seperti menajuh dariku dengan tatapan sinis.

Tak terasa hari kelulusan pun tiba, aku sangat takut awalnya. Namun aku bahagia setelah tahu bahwa aku mendapatkan nilai tertinggi dan mendapatkan beasiswa, aku sangat bersyukur. Aku bisa masuk ke universitas kedokteran bersama Kirana yang selalu kasih suport satu sama lain.

MERAIH TUJUAN

Karya: Giska Amelia

Tema: Pendidikan

Hari ini adalah hari Senin, dimana aku harus berangkat lebih awal untuk mengikuti upacara bendera. Jujur saja, aku tidak bisa tidur dengan tenang karena ibu sering bangun tengah malam. Tetapi itu adalah kewajiban ku untuk mengurus ibu, dan aku selalu diperingati oleh ayah sewaktu masih ada bahwa ‘Bagaimanapun kondisinya, kamu harus rajin belajar dan bisa membuktikan bahwa kamu bisa sukses dimasa depan’.

Aku segera mencari suster untuk menjaga ibu selagi aku masih berada disekolah. “Sus, seperti biasa tolong jagain ibu aku ya,” Kataku.

Suster tersebut mengusap lembut kepalaku, “Pasti akan suster jagain, kamu semangat ya belajar nya! Oh ya, sebelum kamu berangkat tadi pagi suster sengaja bawa sarapan buat kamu-“ ucapnya sambil memberikan kotak nasi,“semoga suka ya!” Seru suster tersebut.

Aku menerima kotak nasi tersebut,“Terimakasih suster, pasti aku akan suka. Kalau begitu aku pamit ya sus, assalamualaikum…” Ucapku sambil melambaikan tangan.

“Wa’alaikumussalam hati-hati.” Balasnya sambil melambaikan tangan.

☣☣☣

Makin siang makin ramai murid yang berdatangan. Sebab, jika telat beberapa menit kita akan berurusan dengan anak OSIS. Semua atribut pun harus lengkap, jika salah satu atribut tidak dipakai alhasil murid tersebut dipindahkan ke depan lapangan dan menghadap murid lainnya.

“Pagi Ca,” Sapa temanku.

“Pagi juga Na, tumben banget jam segini udah datang?” Tanyaku.

“Tuh kan serba salah, giliran datang siang dibilangin terus giliran datang pagi juga dibilangin,” Keluh Kirana.

“Cie baper, ya udah maaf ya,” Ucapku sambil mencubit pipinya.

“Ah sakit tahu Ca-“ Keluh Kirana,“Tapi bagaimana kondisi ibu kamu? Aku belum ketemu ibu kamu lagi nih, gimana kalo pulang sekolah aku ikut sama kamu ya, plisss…” Ucapnya memohon.

“Alhamdulillah ibuku perlahan semakin membaik, itu semua berkat do’a kamu juga. Sebelum ketemu ibuku, kamu udah izin belum sama kedua orang tua kamu?” Tanyaku.

“Udah kok,” Jawab Kirana berbohong.

“Oke kalo gitu.” Balasku.

☣☣☣

Sesudah pulang sekolah, aku dan Kirana segera menemui ibu. Sebelum menuju rumah sakit, Kirana meminta untuk berhenti ditoko buah. Ia memilih buah untuk ibuku, walaupun aku sudah menolak untuk tidak membelikan apapun.

Kirana memanglah anak yang bisa terbilang keturunan orang punya. Entah bagaimana aku bisa sedekat ini dengan Kirana, padahal aku hanyalah orang biasa. Dan setiap kali aku selalu bilang seperti itu, Kirana terus mencubit lengan ku dan berkata ‘Aku berteman denganmu karena kamu sudah ku anggap seperti saudaraku’.

“Assalamualaikum,” Ucapku dan Kirana.

“Wa’alaikumussalam, eh kamu bawa Kirana lagi Ca?” Tanya ibunya.

“Iya,” Balasku langsung menyalimi tangan ibu.

“Halo tante, Kirana kangen banget sama tante,” Ucapnya sambil memeluk ibuku.

Lalu Kirana pun memberikan buah yang tadi dibeli, “Kirana Cuma bisa bawa ini tante, dimakan ya,” Ucapnya dengan lembut.

“Aduh jadi ngerepotin nih,” Balas ibuku.

“Ngga ngerepotin sama sekali kok tan.” Jawabnya sambil terkekeh.

Begitulah suasana diruangan ini, aku bisa melihat ibuku tertawa kembali meski kenyataan ibu harus menahan rasa sakitnya. Aku harap kedua kakak ku bisa datang menemui ibu, aku tidak ingin mendengar ibu setiap malam selalu menangis merindukan kedua kakak ku. Wajar saja ibuku menangis, karena sudah beberapa tahun ditinggalkan oleh kedua anaknya yang telah bekerja.

☣☣☣

Waktu  menunjukan pukul 16:45 dimana matahari akan terbenam, dan disinilah aku mengantarkan Kirana untuk menunggu supirnya menjemput. Jujur saja dalam hatiku sangat merasa tidak nyaman, entah karena apa.

“Na, serius kan kamu udah izin sama kedua orangtua kamu?” Tanyaku memastikan.

“I-iya kok, S-serius. Kamu gak percaya Ca?” Tanyanya kembali.

“Bukannya begitu, cuma aku khawatir saja,” Balasku seadanya.

“Aku baik-baik aja Ca-“ Jawabnya, kemudian datanglah supir yang Kirana suruh tadi, “Supirku udah datang, jaga ibu kamu baik-baik ya, dadah!” Balasnya dengan melambaikan tangan.

“Hati-hati.” Teriakku kala mobil semakin menjauh.

☣☣☣

Hari terus berlalu, aku mendapatkan kebahagiaan yang istimewa. Kedua kakakku datang menemui ibu dan meminta maaf karena telah sibuk dengan pekerjaannya. Kedua kakakku pun memilih cuti untuk sebulan ke depan. Akhirnya aku bisa melihat ibu semakin senang dan kondisi yang semakin membaik.

Hingga pada akhirnya ibuku dinyatakan sembuh total, Tuhan memang sangat baik. Kita tidak akan pernah tahu kapan ibu bisa sembuh atau mungkin sebaliknya, tapi yang aku rasakan adalah sangat bersyukur.

Aku telah merindukan suasana rumah yang telah lama tidak terawat, alhasil aku serta kedua kakak ku membersihkan rumah dan membagi pekerjaan-pekerjaan supaya cepat terselesaikan.

“Ca, bantu kak Melody!” Teriak kak Melody anak pertama.

Aku pun segera menyusul ke arah sumber suara, “Kenapa kak?” Tanyaku.

“Angkat jemuran ke arah sana,” Tunjuknya dan akupun hanya mengangguk.

“Akhirnya selesai, terimakasih adik bungsu ku…” Ucapnya sambil mengelus pelan rambutku.

“Sama-sama kak.” Balasku sambil tersenyum.

Tak terasa sudah beberapa jam membersihkan rumah yang amat berantakan, kini telah menjadi bersih kinclong dan sangat nyaman ditempati. Hingga rasanya perut mulai berbunyi meminta untuk diisi.

Kak Raisa selaku anak kedua, ia sangat pintar memasak. Setelah beres-beres tadi, ia menuju dapur dan memasak. Sudah ku pastikan bahwa kak Raisa memasak nasi goreng untuk sarapannya. Memang sederhana, tetapi rasanya sangat membahana alias sangat enak.

“Waduh wanginya! Gak sabar pengen sarapan,” kataku sambil duduk di ruang makan.

“Tunggu sebentar, mendingan kamu mandi dulu terus bangunin ibu!” Perintahnya dengan lembut.

“Oke kak, tapi sisain nasi goreng nya! Jangan dihabisin, Caca kan udah lama gak makan nasi goreng buatan kak Raisa,” Kataku was-was.

“Tenang aja, kakak udah bikin porsi banyak, sana gih mandi dulu. Perawan kok jorok banget!” Ejeknya.

“Ihh! Kakak ngeselin!” Teriakku sambil menghentakkan kaki sepanjang perjalanan menuju kamar.

“Kamu gak pernah berubah dek.” Ucap sang kakak pelan.

☣☣☣

Hari ini aku telah melakukan aktivitas keseharianku, sekolah seperti biasa dan aku harus bersiap-siap menghadapi ujian nanti. Karena, waktuku berada di kelas 12 ini hanya beberapa minggu lagi.

Tetapi, entah kenapa hari ini Kirana dijaga ketat oleh penjaganya. Bahkan ketika Kirana akan mendekatiku ditahan oleh penjaga bertubuh besar itu. Aku pun bisa melihat bahwa Kirana sangat khawatir kepadaku dan aku hanya mengisyaratkan bahwa aku baik-baik saja.

Hingga dimana ada pelajaran olahraga, otomatis murid perempuan akan ke toilet bersama. Di situlah Kirana bisa berdekatan denganku, rasanya seperti tidak enak karena diam-diam takut ketahuan.

“Hiks Caca, aku kangen!” Isak Kirana setelah menggunakan baju olahraga.

“Kirana? Kamu baik-baik aja kan? Kenapa kali ini ada penjaga?” Tanyaku sangat penasaran.

“Aku dimarahi oleh kedua orang tua ku karena selalu telat pulang sekolah, dan supirku bilang bahwa aku akhir-akhir ini pergi denganmu kerumah sakit. Sungguh aku minta maaf padamu juga Ca, aku berbohong tentang izin kepada kedua orangtuaku. Aku terpaksa melakukan itu karena mungkin ini yang terbaik, saat aku ingin menjelaskan yang sebenarnya kepada kedua orangtuaku…” Jelas Kirana terpotong karena ia tak sanggup menahan air mata.

“Kenapa? Apa orangtua kamu main fisik? Dan kenapa kamu berbohong soal izin?”Ttanyaku dengan sangat  khawatir.

“Aku meminta maaf soal izin, orangtuaku tidak main fisik. Hanya, mereka melarang aku berteman denganmu lagi. Mereka fikir aku dan kamu hanya bermain-main saja di rumah sakit,” jelasnya lagi.

“Oke, aku juga minta maaf. Seharunya aku juga bilang sama kedua orangtua kamu dan izin kepada mereka. Kamu tenang ya, aku akan datang kerumah kamu nanti sore bersama kakak dan ibuku,” Ucapku berusaha menenangkan Kirana.

“Baiklah, aku tunggu dan sekali lagi aku minta maaf.” Balasnya dan aku hanya mengangguk.

☣☣☣

Sesuai janjiku, aku datang kerumah Kirana bersama ibu dan kedua kakak ku. Awalnya satpam tidak mengijinkan kami untuk masuk, akan tetapi kedua orangtuanya Kirana akan mencoba mendengarkan penjelasanku. Dan kami pun diarahkan untuk masuk kedalam rumah yang sangat mewah ini.

“Selamat sore om dan tante,” Salamku dan hanya dibalas senyuman.

“Maaf pak, bu, kami mengganggu. Saya disini hanya meluruskan kesalahpahaman. Saya telah mendengar cerita itu, dan jujur saja bahwa bapak dan ibu telah salah paham. Kirana adalah anak yang amat baik, ia selalu datang ke rumah sakit hanya untuk menjenguk saya dan memberikan buah-buahan meskipun saya pernah menolak, namun Kirana tetap memaksa,”Jelas ibuku.

Kedua orangtua Kirana pun kaget, ia telah salah paham kepadaku dan Kirana.

“Jadi selama ini kita salah paham, kalau begitu saya meminta maaf sebesar-besarnya kepada Caca karena sudah berfikiran buruk. Karena kami tidak pernah mengajarkan Kirana untuk berbohong, oleh karena itu saya marah dan kecewa. Sekali lagi kami selaku orang tua Kirana meminta maaf kepadamu ya Ca,” mohon kedua orangtuanya Kirana.

“Iya om, tante maafin Caca juga karena gak kefikiran lebih jauh untuk mengabari om dan tante. Kalau begitu Caca masih bisa berteman dengan Kirana kan?” Tanyaku.

“Iya boleh kok.” Jawab mereka.

Hari yang telah dinantikan olehku, dimana aku akan melakukan yg terbaik dihari terakhir ujian sekolah ku dan berharap mendapatkan beasiswa ke universitas kedokteran. Semua berjalan seperti biasa, kedua kakak ku telah bekerja kembali.

Ada banyak orang yang iri kepadaku, dan mereka bersumpah bahwa aku tidak akan bisa masuk universitas kedokteran dan tidak akan sukses. Bahkan diantara mereka diam-diam membicarakan tentang urusan keluargaku. Aku hanya bisa bersabar dan hanya menganggap angin lewat, yang terpenting aku akan selalu bekerja keras dan menunjukan bahwa aku juga bisa sukses.

Sebenarnya, selama ini aku dikelas hanya bisa berteman dengan Kirana. Karena setiap aku ingin bergabung dengan teman yang lain, mereka seperti menajuh dariku dengan tatapan sinis.

Tak terasa hari kelulusan pun tiba, aku sangat takut awalnya. Namun aku bahagia setelah tahu bahwa aku mendapatkan nilai tertinggi dan mendapatkan beasiswa, aku sangat bersyukur. Aku bisa masuk ke universitas kedokteran bersama Kirana yang selalu kasih suport satu sama lain.

(Visited 36 times, 1 visits today)

One thought on “Meraih Tujuan_Giska Amelia_SMPN 1 Cibogo

Tinggalkan Balasan