Kotaku_Anggun Siti Fadilah 9G_SMPN 1 Cibogo

WhatsApp-Image-2021-04-20-at-19.27.35.jpeg

Kotaku

Cuaca lumayan terik hari ini. Aku hanya diam di rumah sekarang, menonton film, dan membuat cerita. Kalian bisa memanggilku Dea, aku tinggal di kota Subang Jawa barat. Di rumahku hanya terisi dengan keluarga kecilku saja, aku, kakakku, dan orang tuaku.

Hari ini aku sedang berkumpul bersama keluargaku, saling mengobrol ria sambil menonton televisi. Aku sedang asyik memakan kacang di dalam wadah kecil, tapi tiba-tiba kak Devan merebut wadah itu dari tanganku.

“Kakak!!” Kesalku.

“Apa hm? Kakak juga mau dong” Santai kak Devan seraya memakan kacang.

Aku berusaha merebut kacang itu dari kak Devan, tapi dia selalu menghindar, sudahlah aku menyerah.

“Mama!! Kak Devan nakal mah!” Teriakku.

“Eh eh jangan teriak. Enggak mah Devan enggak nakal kok!” Sergahnya

“Bohong mah! Kak Devan ganggu aku!” Kesalku.

“Hey hey berisik” Mama muncul dari dapur sambil membawa minuman.

“Tuh kak Devan ambil makanan kacang kesukaan Dea!” Aku mengadu pada mama.

“Kan Devan juga mau mah, ya kali Dea aja sendiri yang makan” Devan tak mau kalah.

“Dea jangan pelit ya, nanti kan bisa beli lagi-“ Mama belum selesai bicara tetapi kak Devan langsung bicara.

“Iya tuh jangan pelit sama kakak” Potong kak Devan.

“Ih kok gitu sih mah!” Kesalku.

Kulihat mama hanya menggelengkan kepala, ayah masih tetap sibuk menonton televisi, mungkin karena setiap saat aku sering bertengkar, jadi ayah sudah menganggap biasa dan tidak peduli karena memang akhirnya kami baikkan kembali.

“Kamu juga Devan, kalo mau bilang baik-baik, jangan asal ambil aja enggak sopan loh, mama sama ayah gak pernah ajarin kamu gitu” Ujar mama.

“Iya mah, maaf. Nih dek kacangnya, tapi kakak mau ya? Bedua boleh?” Tanya Kak Devan sambil mengembalikan kacang itu padaku.

Aku mengangguk. “Boleh kok” lalu aku tersenyum.

“Nah gitu kan adem liatnya” Ayah mulai bersuara.

Mama hanya tersenyum sambil menggeleng. Aku dan kak Devan terkekeh, lalu aku duduk di sofa dan kembali memakan kacang kesukaanku itu. Mulai lagi, kak Devan kembali merebut itu.

“Ihhh kakak!!” Kesalku.

Kak Devan hanya ketawa, entah apa yang lucu aku tidak tahu.

“Nih adikku tercinta, jangan marah ya” Kata kak Devan.

“Iya. Nih kalo mau jangan di ambil semua, berdua aja” Saranku

Akhirnya aku memakan kacang itu berdua bersama kak Devan. Aku lanjut menonton televisi bersama. Aku suka suasana seperti ini, sangat hangat, dimana mereka selalu membuatku bahagia kapan pun.

Musim hujan mulai datang. Hujan begitu sangat deras, genangan air di jalan terlihat tinggi. Semua orang sangat membutuhkan sinar matahari untuk berjemur, tetapi hujan tidak berhenti terus mengguyur kota Subang.

Sampai di mana saatnya matahari hanya muncul beberapa menit saja, padahal sinar matahari sangat dibutuhkan. Cucian tidak kering, karena terus terguyur air hujan, sedih sekali rasanya, ke mana pun pergi harus menggunakan payung, belum lagi udaranya dingin yang dihasilkan hujan.

Aku membaca buku di kamar, sambil mendengarkan musik dengan volume sedang, menikmati segelas teh hangat dan tidak lupa badanku kututupi dengan selimut bulu, sangat menyenangkan dan menenangkan. Aku sangat menyukai hal ini. Sesekali aku bernyanyi meskipun liriknya tidak hafal.

Aku melirik ke jendela, saking dinginnya udara di luar, kaca jendela kamarku berembun. Ketika kulihat air di jalan semakin meluap, seketika aku teringat suatu bendungan di kota. Apakah jika hujan terus menerus turun akan terjadi banjir? Ku harap tidak.

Ingatanku kembali mengingat dimana ada banyak sampah berserakan di jalan, aku sempat memungut sampah itu lalu  memasukkannya ke tempat sampah. Aku terus menatap derasnya hujan di luar. Tiba-tiba..

“AAAAAAA!!”

Suara petir menggelegar hingga membuatku terlonjak kaget lalu berlari ke kasur dan bersembunyi di balik selimut. Jujur aku sangat takut dan terkejut. Jantungku berdebar begitu cepat, tanganku pun gemetar karena saking takutnya.

Benar kata mamaku, jangan diam di depan jendela kaca jika hujan, tetapi entah mengapa aku tadi malah melakukannya, sungguh ceroboh sekali aku. Aku memberanikan diri untuk mengeluarkan kepalaku dari selimut. Aku melirik sana-sini.

Ceklek..

Suara pintu terbuka membuatku kembali memasukkan kepalaku ke selimut. Jantungku masih berdebar. Aku takut.

“Dek! Kamu enggak apa-apa kan?”

Itu adalah suara kak Devan, aku segera duduk di atas kasur sambil melilitkan selimut ke kakiku. Aku menggeleng pelan ke arah kak Devan.

“Tadi kamu teriak, kaget ya?” Tanya kak Devan.

Aku hanya mengangguk, kak Devan menghampiriku lalu duduk di sampingku. Dia mengusap pelan rambutku.

“Kasihan” katanya sambil terkekeh. Aku spontan memukul pelan pundak kak Devan.

“Aku kaget banget tau kak!” Kataku jujur.

Kak Devan hanya tersenyum. “Tenang, habiskan dulu tehnya ya? Habis itu langsung tidur” Suruhnya.

Aku mengangguk menurut. Setelah lumayan tenang, aku berusaha tidur, sekarang sudah malam dan kulihat jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Aku berdoa lalu mencari posisi nyaman tidur dan aku pun terlelap.

Dua minggu hujan terus mengguyur kota Subang. Aku sedih, seharusnya saat hari minggu aku pergi berlibur bareng keluarga, pergi ke alun-alun, kolam renang, air terjun, dan wisata indah lainnya yang ada di kota Subang. Beruntung sekali aku tinggal di kota ini.

Aku menuju ruang tengah untuk menemui ayah dan mama, benar sekali mereka sedang berkumpul disana begitu pula kak Devan, tetapi dia malah sibuk memainkan ponselnya. Aku ikut duduk di sana.

“Hujan terus, gak bisa main, aku padahal mau ke air terjun” keluhku.

“Istirahat dirumah saja sekarang ya” kata ayah.

Mama mengganti saluran televisi. Sebuah berita muncul, alangkah terkejutnya kami melihat itu. Terjadi banjir di Subang. Tetapi di wilayah tertentu saja, termasuk aku tidak terkena banjir itu. Banjir diakibatkan karena hujan deras yang terus mengguyur kota sehingga air dari sungai dan bendungan meluap ke pemukiman warga.

Banjir masih belum tinggi, tetap saja itu bencana. Aku sedih mendengar itu, temanku yang tinggal di wilayah terkena banjir itu pasti kesusahan, untung saja ada tempat pengungsian.

“Ya ampun gak menyangka bakalan terjadi banjir” kata mama.

“Sama, tapi semoga saja cepat surut kembali” Kata ayah.

“Masih sedikit tapi tetap saja merugikan” Kataku.

“Pasti ada penyumbatan sampah juga” Lanjut kak Devan.

“Kayaknya” Aku menduga.

“Hujannya deras banget sih, enggak berhenti juga, paling hanya sebentar, tetapi itu pun masih ada rincik rincik” jelas mama.

“Iya betul” Ayah setuju.

Wilayahku tidak terkena banjir, hanya saja genangan air di mana-mana. Aku berharap pemerintah mengirimkan bantuan kepada korban yang terkena banjir. Aku melanjutkan membahas itu dengan keluargaku.

Hari berikutnya, berita itu kembali muncul mengabarkan bahwa banjir meluap semakin tinggi. Wilayah baru terkena banjir, semua berduka atas banjir yang semakin meluap ke mana-mana. Aku membuka ponselku. Lalu mengetikan pesan ke temanku.

“Ri? Kamu kena banjir?” tanyaku.

“Iya Dea, aku mengungsi ke rumah tetanggaku yang tingkat” Jawabnya.

“Kalo kamu mau, boleh kamu di rumah aku saja untuk tinggal sementara” Tawarku.

“Tidak usah, aku disini saja, terimakasih” Katanya.

“Ya sudah, hati-hati ya” kataku.

“Iya”

Lalu ku buka pesan di grup kelas. Karena banjir semakin parah, sekolah mulai mengambil sumbangan dari murid untuk membantu warga yang terkena banjir. Aku memberikan baju dan uang saja ke sekolah. Lalu setelah semua bantuan terkumpul, sekolah mulai menyalurkan bantuan itu ke warga.

Banjir sudah lumayan surut, guru di sekolahku mulia membagikan bantuan dari murid. Aku senang bisa membantu mereka. Semoga saja musim kemarau kembali dan musim hujan pergi dahulu, agar banjir kembali surut secara total.

 

(Visited 3 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan