Kania’s_Nurul Fitriani9G_SMPN 1 Cibogo

WhatsApp-Image-2021-04-20-at-19.42.41.jpeg

KANIA’S

    Tema: Kabupaten Subang

 

Jalanan dimalam hari selalu terlihat cantik sekali ditambah dengan lampu-lampu kendaraan yang menerangi membuat suasana menjadi sangat damai. Deru knalpot dari berbagai macam kendaraan terdengar dengan sangat jelas. Kania memeluk pinggang Papanya yang tengah menyetir ia menikmati semua objek yang dilihatnya. Ditengah ramainya jalanan tiba-tiba Kania merasakan tetesan air yang jatuh dari atas sana. Ia menengadah merasakan udara yang begitu sejuk.

Langit gelap itu menurunkan air hujan yang membuat Kania dan Papanya segera mencari tempat teduh. Mereka memberhentikan motornya disebuah warung lesehan. Kania melirik beberapa orang yang tengah makan bersama, entah itu bersama pasangannya atau bersama keluarganya. Mereka semua terlihat begitu menikmati makanan ditemani dengan suasana malam yang tengah turun hujan. Kania menatap Papanya memberi kode jika ia menginginkan makan lesehan seperti orang-orang.

Dengan senang hati, Papanya itu langsung mengajak Kania untuk duduk disebelah orang-orang yang tengah makan. Mereka memesan satu porsi etong untuk dinikmati bersama. Kania makan begitu lahap. Ia menikmati setiap suapan yang masuk ke mulutnya ditambah dengan sambal kecap yang sangat disukainya.

Papanya melirik jam tangan yang beliau pakai. Sudah pukul 20.30 WIB dan hujan malah bertambah deras. Kania tidak memperdulikan itu, ia hanya ingin perutnya kenyang saat ini juga. Niatnya untuk menikmati alun-alun di kotanya sirna karena cuaca yang tidak mendukung.

“Pa, udah ah Kania kenyang,” lontar Kania mengambil tissue dan mengelap sudut bibirnya. Ia meneguk teh hangat hingga tak tersisa. Papanya hanya diam sambil menatap kearah jalanan yang basah akibat air hujan. Banyak sekali orang yang memaksakan diri untuk berkendara saat cuaca seperti ini. Mungkin mereka tidak kedinginan.

“Ih, kok hujan nya gak berhenti-henti,” celetuk Kania lesu karena hari yang semakin malam dan tentu saja ia sangat ia segera pulang untuk menenggelamkan wajahnya ditumpukkan bantal ditemani dengan selimut tebal yang menutup badannya.

“Sabar, sebentar lagi juga reda,” ucap Papanya sambil melipat tangannya didada. Berkali-kali Kania dan Papanya menghela napas. Sesekali mereka berdua melirik orang-orang disekitarnya yang juga tengah menunggu hujan reda.

Kania mengintip dari balik spanduk dan melihat jika hujan mulai reda. “Pa, ayo pulang hujannya sudah berhenti,” ujar Kania sembari melangkahkan kakinya menuju motor. Sementara Papanya membayar makanan mereka tadi lantas menyusul anaknya. Mereka berdua menaiki motor dan segera berlalu dari sana karena takut hujan akan turun kembali.

Dengan kecepatan sedang Kania menghirup udara malam yang begitu sejuk. Semilir angin berhembus menerpa wajahnya. Ia lihat beberapa orang berjalan kaki di trotoar sambil memakai payung karena memang hujannya sudah berhenti hanya gerimis. Selama perjalanan pulang tak ada percakapan antara Kania dan Papanya, masing-masing dari mereka hanya menikmati jalanan dimalam hari dan membayangkan hal seru.

Mereka berdua sampai di rumah dengan baju yang sedikit basah sebab gerimis tadi. Kania masuk dan menyalami Mamanya lantas melenggang pergi ke kamar untuk berganti pakaian. Pakaian kotor yang basah tadi segera ditaruh ke mesin cuci di dapur. Kania melihat Mama dan Papanya tengah mengobrol dan kelihatan begitu asik. Tanpa ragu Kania menghampiri kedua orang tuanya dan duduk disamping Mamanya. Hingga tengah malam mereka bertiga mengobrol, merencanakan untuk pergi liburan ke kebun teh didaerah Tonggoh.

“Kania, tidur gih sudah larut malam,” celetuk Mamanya mengelus puncak kepala Kania dengan amat lembut penuh kasih sayang.

“Iya, Mama,” ujar Kania menyunggingkan senyum manisnya. Ia mencium punggung tangan kedua orang tuanya lalu masuk kedalam kamar untuk istirahat.

Tak ada percakapan lagi antara sepasang suami istri ini. Keduanya asik menonton televisi, padahal saat larut malam begini tidak ada saluran tv yang menarik untuk di tonton. Hingga akhirnya keduanya merasa mengantuk dan bergegas untuk tidur dan menyusul Kania ke alam mimpi. Mama Kania mematikan tv terlebih dahulu sebelum akhirnya mengikuti sang suami masuk kedalam kamar.

*******

Suara ayam berkokok saat shubuh menjelang membuat Kania terbangun. Ia mengedarkan pandangannya sebelum akhirnya ia keluar kamar untuk bersiap mandi dan berwudhu. Karena hari ini Kania dan Mama serta Papanya akan menikmati akhir pekan di kebun teh yang begitu menyejukkan hati dan pikiran. Ketika Kania sampai diambang pintu kamarnya ia melihat kedua orang tuanya sudah bangun.

“Ayo mandi dulu habis itu wudhu,” lontar Papanya dan Kania hanya mengangguk mengerti.

Tak butuh waktu lama, Kania sudah bersiap untuk shalat berjamaah bersama kedua orang tuanya. Ia melihat Mamanya keluar kamar sambil tersenyum. Mereka bertiga segera shalat setelah adzan berkumandang. Tak lama setelah itu, Kania membereskan mukena dan sajadahnya lantas pergi ke kamar untuk bersiap-siap. Sebelumnya ia membereskan tempat tidur lebih dulu lalu ia membuka lemari dengan ukuran sedang bermotif Mickey mouse. Ia mengambil dua pakaian untuk dipakai hari ini karena ternyata mereka tidak hanya akan pergi ke kebun teh, melainkan akan berendam air panas di kolam panas Ciater.

“Eum, baju ini pas kayaknya,” gumam Kania sembari menyocokkan baju yang akan ia pakai dihadapan cermin di kamarnya.

Kania duduk sebentar dikursi belajarnya kemudian membuka ponsel dan menyalakan data seluler. Beberapa notifikasi mulai masuk sampai-sampai menutupi layar ponsel miliknya. Ia membuka group WhatsApp nya, banyak sekali pesan yang diterima. Kania membukanya dan hanya menyimak saja. Ia menutup kembali layar ponselnya dan melihat cahaya dari balik gorden kamarnya. Ia membuka gorden tersebut dan rupanya matahari telah terbit ditemani kicauan burung dipagi hari. Kania membuka jendela kamarnya dan menghirup dalam-dalam udara dipagi hari ini.

“Hahhh! Sejuk sekali,” gumamnya sambil menyunggingkan senyum manis andalannya. Karena terlalu nyaman melihat sunrise dan menikmati semilir angin pagi hari, Kania baru menyadari jika hari mulai siang. Pintu kamarnya terbuka dan Mama Kania berada disana memerhatikan anaknya yang tengah menatap keluar jendela.

“kania,” panggilnya.

Refleks Kania langsung menengok dan menghampiri Mamanya. “Kenapa, Ma?” tanyanya dengan alis yang terangkat.

“Sarapan dulu, nanti keburu siang,” ujar Mamanya menarik lengan Kania menuju meja makan.

Sampainya diruang makan Kania langsung duduk dan mengambil nasi goreng meletakkannya pada piring putih itu. Kania mulai memasukkan nasi goreng itu ke mulutnya. Seperti biasa, rasanya tidak pernah gagal. Semua masakan yang dimasak Mamanya pasti enak. Ketika makan, Kania melihat Papanya yang berjalan dari arah dapur sambil membawa nampan yang diatasnya terdapat tiga buah gelas berisikan jus naga. Minuman kesukaan Kania.

“Ini, habis makan jangan lupa diminum ya,” ingat Papanya pada Kania dan Kania sendiri hanya mengangguk sambil terus mengunyah.

Suapan terakhir masuk ke mulutnya. Kania merasa cukup kenyang pagi hari ini, sebelum ia memutuskan untuk meminum jus buah naga tadi, Kania minum air putih terlebih dahulu dan menghela napasnya agar makanannya ini cepat sampai ke usus untuk dicerna. Kania bangkit dari duduknya untuk membereskan bekas makanannya. Sehabis itu ia langsung meraih gelas berisikan jus tadi dan membawanya ke ruang tengah untuk dinikmati sambil menonton serial kartun.

Ditengah diputarnya serial kartun Kania menyeruput jus itu.

“Ahhh, seger banget,” ucap  Kania terkekeh diakhir katanya. Ia kembali menonton sampai pukul sembilan pagi. Sangat lama sekali bukan. Ia bangkit dan melihat kedua orang tuanya yang berjalan sambil membawa tas ransel yang didalamnya isi pakaian kami semua.

Kania dan Mamanya segera menuju mobil untuk memasukkan tas ke bagasi. Kania berlari ke kamarnya untuk mengambil ponsel yang ketinggalan. Sebelum ia kembali ke mobil, Kania mengunci pintu rumahnya terlebih dahulu dan kunci itu ia bawa kemudian diserahkan pada Mamanya. Kania duduk dikursi belakang seorang diri. Ia menyetel lagu kesukaannya dan memasang earphone agar lebih enak lagi mendengarkannya. Setelah mobilnya dipanaskan mereka bertiga langsung menancap gas menuju tempat tujuan.

Sepanjang perjalanan keadaan didalam mobil begitu senyap. Kania sendiri sudah larut kedalam lagu yang ia dengar sampai rasanya ia merasakan kantuk. Namun sebentar lagi sampai di kebun teh.

“Kania,” panggil Papanya yang tetap fokus menyetir.

Kania memiringkan kepalanya untuk melihat Papanya. “Iya, Pa, kenapa?” tanyanya.

“Kita gak jadi ke Ciater ya,” ucap Papanya tiba-tiba.

“Lho, kenapa?” tanya Kania. Ia kebingungan padahal dirinya sangat ingin sekali menikmati rendaman air panas disana.

“Enggak apa-apa, bentar lagi sampai.”

Kania menghela napas beratnya dan menyenderkan punggungnya pada kursi mobil. Ia melepas earphone yang terpasang dikedua telinganya, lalu dimasukkan kedalam tas kecil yang selalu ia bawa kemana-mana. Kini mereka telah sampai, Kania turun dari mobil dan melirik ke sekelilingnya. Banyak sekali orang yang sedang bergaya untuk berfoto bersama. Tidak hanya keluarga saja yang mengunjungi kebun teh ini, kebanyakan dari mereka adalah pasangan kekasih. Anak-anak muda pun banyak yang berkunjung mengenakan pakaian couple ala-ala mereka.

“Ma, foto ayo!” ajak Kania menarik lengan Mamanya untuk naik lebih atas.

“Pa, fotoin ya, nanti gantian,” ucap Kania menyengir tanpa bersalah setelah menyuruh Papanya untuk memotret dirinya dengan sang Mama.

Satu, dua jepretan diambil oleh Papanya dengan begitu bagus. Kania dan Mamanya ini tidak kelihatan seperti ibu dan anak, melainkan seperti saudara kembar karena wajah keduanya yang amat mirip. Seorang datang menawari dirinya untuk memotret keluarga kecil itu. Kania menggandeng kedua orang tuanya dan tersenyum lebar ketika foto diambil.

“Makasih, mas,” ucap Papa Kania memberikan beberapa lembar uang sebagai bentuk ucapan terimakasih.

“Eh, terimakasih kembali pak,” ucapnya yang langsung melenggang pergi.

“Pa, liat hasil fotonya dong,” pinta Kania dan Papanya langsung memberikan ponsel menunjukkan hasil foto tadi.

Kania dan Mamanya tersenyum ketika melihat foto dengan gaya mengangkat tangan keatas. Mereka seperti adik kakak semuanya.

“Wih, aku cantik banget,” ujar Kania menunjukkan wajahnya yang si zoom. Kedua orang tuanya terkekeh melihat anaknya yang begitu percaya diri.

*******

Hingga sore Kania dan orang tuanya masih dalam perjalanan pulang. Mereka bernyanyi bersama menikmati suasana. Kania tertawa melihat tingkah Papanya yang aneh sambil terus menyetir. Lima belas menit kemudian mereka telah sampai di rumah dengan keadaan selamat.

“Aduh, lengket banget badan aku,” celetuk Kania yang langsung masuk kedalam rumah untuk membersihkan badannya disusul oleh Mama dan Papanya.

Setelah semuanya selesai mandi, mereka berniat untuk keluar malam ini. Mereka akan pergi ke alun-alun didaerahnya dan menikmati suasana malam hari ditemani oleh makanan khas yang sangat mereka sukai. Siomay. Kania dan orang tuanya begitu suka dengan makanan satu itu. Mereka bergegas menuju mobil dan segera menjalankan mobilnya. Kania membuka kaca mobilnya dengan kepala sedikit keluar untuk menghirup udara segar dimalam hari.

Mereka memarkirkan mobilnya dipinggir jalan dan segera menuju tukang gerobak yang menjual siomay. Kania duduk disamping Mamanya sementara Papanya sibuk mengantri dengan pembeli lain. Saat tiga piring berisikan siomay datang mata Kania berbinar dan langsung mengaduk agar bumbunya tercampur. Keluarga kecil itu nampak sangat menikmati makanan mereka. Kania menyeruput teh hangat yang disediakan disana. Ia melirik kebelakang, banyak sekali lampu menyinari yang begitu cantik. Ia meraih ponselnya yang berada jauh disaku celananya.

“Ma, Pa, foto dulu sini,” tutur Kania membuka kamera dan menyesuaikannya. Mereka bertiga selfie bersama. Sangat terlihat seperti keluarga yang begitu bahagia. Sehabis mereka menyelesaikan makannya, mereka berkeliling hanya sekedar melihat-lihat saja, sambil membeli makanan untuk dinikmati dimobil dan di rumah nanti.

Hingga tak terasa hari sudah larut malam, Kania dan orang tuanya berjalan menuju mobil dan segera pulang. Karena sudah sangat malam, Kania sampai ketiduran dimobil . Begitu sampai di rumah, dengan susah payah Papanya menggendong Kania karena tidak tega untuk membangunkannya. Setelah menidurkan, Papanya Kania keluar dan menutup pintu kamar anaknya rapat-rapat. Beliau melihat istrinya yang tengah sibuk membuka bungkus makanan sbil menikmati televisi. Karena melihat makanan perutnya itu jadi lapar lagi. Papanya Kania menghampiri istrinya dan duduk di sofa sambil diam-diam mengambil makanan milik istrinya.

Setelah merasakan keyang, mereka berdua memutuskan untuk pergi tidur. Meskipun tidur setelah makan itu memang tidak baik, namun mereka begitu mengantuk.

Hingga pagi menjelang, Kania keluar kamarnya dan melenggang pergi ke kamar mandi. Selang sepuluh menit ia telah kembali dengan rambutnya yang basah karena bekas keramas. Kania mengeringkan rambutnya memakai handuk dan segera bersiap. Sebelumnya ia telah membereskan pekerjaan rumah karena Namanya sibuk memasak di dapur. Kania memakai kemeja polos serta rok abu yang sangat cocok dibadannya. Tak lupa Kania menyemprotkan parfum agar ia terlihat segar.

“Mau kemana, Kan?” tanya Mamanya yang baru saja datang dari dapur.

“Mau main, hehe,” ucap Kania menghampiri Mamanya dan salim untuk berpamitan.

“Oh iya, Papa kemana?” tanya Kania karena sejak subuh tadi ia tidak melihat Papanya.

“Sudah berangkat, kamu bangun subuh nya terlalu siang jadi gak sempet liat Papa di rumah,” jawab Mamanya dan Kania hanya ber-oh ria saja.

“Yaudah, aku pamit ya, Assalamualaikum.”

“Waalaikumussalam, hati-hati!”

Kania melihat jika temannya sudah sampai didepan rumahnya. Ia langsung berlari menghampiri temannya dan mereka pergi keluar untuk menikmati libur akhir pekan bersama. Diperjalanan Kania melihat dedaunan yang jatuh dan terbang terhempas angin. Kania dan temannya berhenti disebuah museum yang paling familiar disebut dengan wisma karya. Kania melihat beberapa anak SD yang tengah berlatih menari ditemani guru-guru mereka. Kania dan temannya duduk dibangku yang ada disana dan memerhatikan anak SD dan memberikan applaus atas latihan mereka.

“Nad, lihat deh! Yang itu cantik banget ya,” ucap Kania menunjuk salah seorang anak yang berada dibarisan belakang.

Nadia, teman Kania lantas mengangguk setuju. “Heem, tapi semuanya juga cantik, gemes-gemes,” ucapnya yang langsung dibenarkan oleh Kania.

Kania mengambil kamera didalam tas nya. Ia berdiri dan berjalan kearah belakang dari anak SD itu. Sebelumnya ia telah meminta izin untuk memotret latihan nari mereka ini. Dengan keadaan hatinya yang begitu senang Kania memotret banyak sekali sampai tak terasa sudah puluhan gambar yang ia ambil.

“Kan, fotoin aku dong!” pinta Nadia yang langsung dituruti oleh Kania.

Sebelum mengambil fotonya, Nadia nampak sedang mengancang-ancang gaya yang pas untuk dirinya. Satu jepretan yang sangat bagus. Kini giliran Kania yang difoto. Ia berdiri sikutnya yang bertumpu pada tiang. Mereka berdua banyak sekali mengambil gambar. Kania berjalan menuju pinggir jalan dan menyiapkan kameranya. Ia mengambil gambar ketika kendaraan-kendaraan itu tengah melaju. Ia melihat beberapa tukang becak dan dengan cepat Kania mengabadikan momen itu. Mereka melihat tukang jualan cilok keliling dan memutuskan untuk membelinya.

Menikmati cilok disiang hari seperti ini memang sangat enak ditambah dengan sambal pedas. Lidah mereka seperti terbakar namun tetap dimakan karena rasanya yang enak. Kania berjalan menyusuri jalan dan berhenti pada satu warung yang menjual banyak sekali minuman. Ia membeli dua botol air mineral untuk dirinya dan Nadia.

Setelah merasakan kepuasan memutari area wisma karya untuk memotret, kini Kania dan Nadia memutuskan untuk mencari makan siang. Mereka berfikir sejenak akan makan apa. Namun Kania tiba-tiba ingin makan bakso langganan bersama Mamanya saat pulang belanja. Nadia menyetujui kemauan Kania untuk membeli bakso karena dirinya juga sudah tak lama memakan bakso.

Mereka berjalan untuk menuju warung bakso langganan Kania. Tak lama mereka telah sampai dan langsung duduk di bangku panjang yang disediakan disana. Seorang lelaki muda datang menanyakan menu apa yang akan dipesan oleh Kania dan Nadia.

“Aku pengen bakso nya aja, kamu gimana Kin?” Tanya Nadia sambil meraih kerupuk yang sudah ada disana.

“Aku pake mie kuning aja deh,” ucap Kania.

“Bakso nya aja satu, terus bakso sama mie kuning nya satu,” pesan Kania dan lelaki itu langsung pergi untuk menyiapkan pesanan mereka.

Tak membutuhkan waktu lama, pesanan mereka telah datang dan langsung saja Kania dan Nadia menikmatinya dengan lahap. Hingga akhirnya bakso itu hanya tersisa kuahnya saja. Kania dan Nadia sama-sama meminum minuman yang sama. Mereka memakan kerupuk sebelum akhirnya membayar dan berlalu dari warung bakso itu.

“Aduh, kok panas banget ya hari ini,” lesu Nadia mengelap keringat yang membasahi pelipisnya.

“Bener tuh, mau pulang aja apa gimana?” tanya Kania.

“Pulang aja deh ayo, ke rumah ku dulu ya,” tutur Nadia dan Kania hanya mengangguk.

Sebenarnya Kania ingin sekali pergi berlibur mengelilingi kota kelahirannya, namun berhubung ini adalah hari libur terakhirnya jadi ia tidak bisa melanjutkan kemauannya dan palingan ia hanya bisa keluar saat malam hari bersama orang tuanya. Kedua sahabat itu menaiki motor bersama dan segera menuju rumah Nadia. Mereka tetap menikmati jalanan walaupun hari ini begitu panas dan rasanya begitu menyengat kulit.

(Visited 2 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan