Insecure_Anggun Siti Fadilah 9G_SMPN 1 Cibogo

WhatsApp-Image-2020-11-24-at-13.48.59.jpeg

Panggil saja aku Kia, sekarang aku duduk di kelas sepuluh. Aku hanya memiliki ibu dihidupku. Ayah sudah tiada semenjak aku umur delapan tahun. Aku anak tunggal, dan ya, aku memiliki sebuah kekurangan yang sangat membuatku menghindar dari orang lain. Aku tidak bisa bicara. Beruntung aku memiliki ibu yang sangat hebat, ia merawatku dengan ikhlas dan penuh kasih sayang.

Aku terkadang merasa tidak nyaman jika bergaul dengan teman sekelasku, karena aku berbeda. Tetapi ibu selalu berkata ‘kamu anak yang istimewa, tidak perlu merasa beda karena setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing’.

Sekarang sudah malam, aku tidak bisa tidur karena insomnia. Sesekali aku melirik jam dinding, sekarang sudah hampir pukul sebelas malam, aku tetap berusaha tertidur meski susah. Kudengar suara langkah kaki menuju kamarku, aku tidak menutup rapat pintunya. Lalu kulihat bayangan kaki itu berhenti tepat di depan pintu.

Tok.. Tok.. Tok..

“Kia, nak kamu belum tidur? Boleh ibu masuk?”

Ternyata itu ibuku, hampir saja aku ketakutan. Ibu mengintipku dibalik pintu. Aku hanya mengangguk. Ibu pun masuk lalu duduk di sampingku.

“Insomnia?” tanya ibuku.

Aku menganggukkan kepalaku lagi. Ibu hanya tersenyum lalu mengusap kepalaku.

“Ibu temani ya? Kamu harus tidur, besok kan sekolah takutnya kamu malah mengantuk dikelas” ucap ibu seraya mengelus lembut rambutku.

Aku tersenyum lalu membaringkan badanku untuk bersiap tidur. Ibu tidur bersamaku sekarang, aku mulai memejamkan mataku sambil memeluk ibu.

Udara dingin mulai menembus kulitku. Aku terbangun dan sadar sekarang sudah pagi. Aku segera bersiap diri untuk ke sekolah. Di dapur kulihat ibu sedang memasak, wangi sekali aromanya hingga membuatku lapar.

Setelah selesai, aku berjalan menuju meja makan. Ibu sudah duduk disana. Aku tersenyum lalu ikut duduk di kursi depan ibu. Aku menggerakkan tanganku untuk bicara.

“Pagi bu!” itulah yang ku isyaratkan.

“Pagi juga cantik, sekarang kamu sarapan ya” Suruh ibu seraya tersenyum. Aku mengangguk. Kami pun sarapan bersama.

Aku berpamitan pada Ibu, setelah itu aku mulai berjalan menuju sekolah. Di tengah sedang berjalan aku diajak oleh temanku untuk berangkat bersama, dan aku menerima ajakan itu. Sampai disekolah aku langsung masuk kelas karena jam pelajaran sudah akan dimulai sebentar lagi.

Waktu menunjukkan pukul dua siang, ini saatnya aku pulang sekolah. Aku segera membereskan alat tulis dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah beres, aku pun mulai berjalan menuju gerbang utama sekolah. Aku tidak sendirian, aku bersama temanku namanya Nisa.

Sampai di luar sekolah, Nisa menawariku tumpangan untuk pulang.

“Eh Kia, kamu mau pulang bareng aku enggak?” tanya Nisa.

Aku tersenyum lalu menggelengkan kepalaku.

“Yaudah kalo kamu gak mau, aku pulang duluan ya, ayah aku sudah nungguin soalnya, kamu hati-hati di jalan. Dah Kia” Nisa pun pergi seraya melambaikan tangan, Aku balas lambaikan tangan sambil tersenyum.

Aku melanjutkan berjalan kaki untuk pulang. Rumahku memang lumayan jauh dari sekolah, ya sudah ku tempuh saja dengan jalan kaki, anggap saja sebagai olahraga sore meski sekadar untuk melatih otot kaki.

Sampai dirumah aku bersih-bersih lalu mengerjakan tugas. Ibu belum pulang kerja, aku memilih menunggu ibu untuk makan bersama. Pukul empat sore ibu pulang, aku menyambut ibu di pintu rumah, kami pun masuk lalu makan bersama.

“Kenapa kamu enggak makan duluan nak? Nanti kalo telat makan mag kamu bisa kambuh loh” Ujar ibu.

Aku menggerakkan tanganku. “Aku ingin makan bersama ibu, lagi pula kan aku sudah makan siang di sekolah, jadi cukup kenyang untuk tunggu ibu agar makan bersama” jelasku.

“Ya ampun nak, oh iya gimana sekolahnya?” tanya ibu.

“Baik kok bu, aku punya teman baik dikelas, mereka tidak memilih-milih teman. Seru kok!” Begitulah kata isyaratku.

“Bagus dong, kamu harus percaya diri saja, jangan merasa malu” Ibu mengingatkanku.

“Iya bu. Tapi aku harus menulis apa yang aku katakan di buku. Karena mereka kesulitan untuk mengerti bahasa isyarat yang aku peragakan” keluh ku.

“Ya sudah tidak apa, nanti ibu belikan buku khusus untuk kamu ya? Biar nanti kalo kamu ikut mengobrol  dengan yang lain, tinggal tulis saja dibuku yang kamu bawa” ibu memberi saran.

Aku mengangguk, lalu tanganku bergerak lagi “Boleh saja, nanti aku akan bawa buku itu ke mana-mana”

Ibu tersenyum. “Lanjut makan dulu, habiskan ya”

Aku melanjutkan makan kembali. Setelah itu aku mencuci piring dan gelas yang kotor. Aku membantu ibu membersihkan rumah dan menyiram tanaman.

Malamnya aku kembali mengerjakan tugas ku. Besok harus sudah selesai dan dikumpulkan. Aku terus menulis, tiba-tiba ibu datang dengan membawa segelas susu ditangannya.

“Hey istirahat dulu, minum dulu” ibu menyodorkan gelas itu kepadaku.

Aku tersenyum, lalu meminum susu itu seteguk lalu menyimpan gelasnya di atas nakas.

“Semangat nugasnya! Kalo capek istirahat ya, nanti habiskan susunya” kata ibu seraya mengusap kepalaku.

Aku mengangkat tangan hormat seakan aku mengatakan siap.

“Ibu mau keluar sebentar ya. Pintu akan ibu kunci, kamu lanjut saja jangan ke mana-mana”

Aku mengangguk. Aku teringat sesuatu. Segera aku menggerakkan tanganku.

“Bu, boleh aku titip belikan isi bolpoin?” tanyaku.

“boleh, nanti ibu belikan waktu mau pulang ya, sudah ibu pergi dulu ya” Ibu tersenyum lalu pergi dari kamarku.

Aku melanjutkan mengerjakan tugas. Hingga tak terasa aku lelah lalu tertidur diatas buku dengan bolpoin yang masih ditanganku.

Aku terbangun dan langsung duduk. Tidak ada buku dan bolpoin di kasurku, aku ingat bahwa semalam aku ketiduran. Sepertinya ibu yang membereskan semuanya, segera aku membuka buku dan mengecek tugas, ternyata hanya tinggal tiga nomor lagi yang belum di kerjakan.

Aku melangkah keluar menemui ibu. Ibu sedang menyiapkan sarapan diatas meja makan, ibu menyadari aku sedang memperhatikannya.

“Eh kia, kamu sudah bangun. Mandi dulu sana, siap-siap sekolah” Perintah ibuku.

Aku mengangguk, melirik sebentar jam dinding, sekarang pukul enam pagi. Segera aku menyiapkan alat tulis dan seragam, mengambil handuk lalu mandi. Urusan tugas biar ku selesaikan nanti saja di kelas.

Selesai sarapan aku berangkat sekolah seperti biasa. Sampai di sekolah, aku mengerjakan sisa tugas kemarin, setelah selesai aku menunggu bel masuk dengan mengobrol bersama teman sebangku, aku menuliskan apa yang ku katakan di buku. Tak lama, bel berbunyi menunjukkan jam pelajaran dimulai.

Waktu istirahat tiba. Aku berjalan menuju kantin bersama teman-temanku. Mereka sangat baik, aku senang mereka menerimaku dan mau menemaniku. Sampai di kantin kami mengobrol bersama.

“Ada tugas enggak pelajaran bahasa Indonesia?” Tanya Nia.

“Ada, yang merangkum bab lima buku paket” jawab Selvi.

“Loh iya? Aku belum kerjain! Lupa aku, aduh gimana dong?” Nia kebingungan.

“Tapi katanya itu cuman buat kita belajar doang kok, jadi mungkin enggak akan ditanya” ujar Selvi.

“Syukur deh kalo gitu. Oh iya, kan nanti ada tugas kelompok, gimana kalo kita bertiga sekelompok saja? Nanti kerjakan tugasnya di rumah aku” Nia memberi saran.

Aku malah terdiam, aku memikirkan bagaimana nanti jika satu kelompok bersama mereka. Aku berbeda, entah kenapa rasa percaya diriku hilang. Terkadang selalu datang rasa tidak nyaman dan ingin menghindar ketika berada diantara mereka yang sedang mengobrol. Aku hanya bisa diam. Aku perlu menulis dulu untuk bicara.

Rasa malu mulai datang. Aku merasa sendiri, aku bisa iri  dalam sekejap. Aku bingung, jauh dalam lubuk hati, aku merasa sedih dengan kekuranganku. Aku ingin bicara, aku ingin mengobrol ria secara langsung. Aku ingin sama seperti yang lain. Tetapi di sisi lain aku senang mereka mau menemaniku.

Aku tersadar dari lamunan ketika Nia menghempaskan tangannya di depan mukaku.

“Hey kenapa melamun?” Tanyanya.

Aku hanya menggelengkan kepalaku lalu tersenyum.

“Jadi? Udah ya kita sekelompok?” Tanya Selvi.

Aku menuliskan kata dibuku. “Aku pulang dulu, mau ijin ke mama” lalu kutunjukkan pada mereka.

“Boleh, nanti kita anter kok” Kata Selvi. Aku tersenyum.

“Eh iya, kalian mau pesan apa?” Tanya Nia.

“Aku mau Jus buah Naga aja” jawab Selvi.

“Kalo Kia? Mau apa?” Tanya dia padaku.

Aku menuliskan “Sama jus buah saja, Aku yang Alpukat”

“Oke aku yang pesanin ya” Nia beranjak pergi memesankan minuman yang kami pilih.

Aku hanya diam, memainkan buku dan mencurat-coret. Tak lama Nia datang membawa minuman yang kami pesan. Aku pun mulai meminum jus itu.

Pulang sekolah, kami bertiga kerja kelompok di rumah Nia. Aku juga sudah diantar untuk minta ijin ke ibu terlebih dahulu. Pukul lima sore, aku pulang diantar oleh Nia. Ibu sedang menyapu halaman saat itu. Nia segera pulang setelah mengantarku.

Malamnya, aku sedang memainkan ponsel dikamar. Ibu datang menghampiriku sambil membawa beberapa cemilan ditangannya.

“Nak, ini ibu belikan cemilan untuk kamu” Ibu duduk disampingku, lalu menyodorkan cemilan itu padaku.

Aku menulis di catatan “Terimakasih bu” aku membuka satu cemilan lalu memakannya.

“Iya, sama-sama, gimana sekolahnya?” tanya ibu.

Aku seketika teringat perasaanku tadi saat bersama Nia dan Selvi. Aku mulai menggerakkan tanganku dan menceritakan semua perasaanku hari ini ke ibu. Ibu pun hanya tersenyum lalu mengusap lembut rambutku.

“Kamu wajar seperti itu. Tetapi jangan biarkan perasaan itu. Kamu jangan malu, kamu jangan kehilangan rasa percaya diri. Kamu jangan merasa sendiri, dan kamu tidak usah iri, Semua anak tercipta dengan keistimewaan masing-masing. Kamu berbeda dan itu tidak masalah. Ingat! Kamu tidak perlu malu. Ibu saja bangga memiliki kamu. Jadi, jangan merasa sendiri ya, ibu selalu ada buat kamu” pesan ibu lalu kemudian memelukku.

Aku merasa sangat tenang mendengarnya. Aku balas memeluk ibu. Aku merasa baik sekarang. Benar kata ibu, tidak perlu merasa malu dan iri terhadap orang lain, karena setiap orang memiliki keistimewaannya masing-masing.

(Visited 9 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan