Indahnya Bersyukur_Anggun Siti Fadilah_SMPN 1 Cibogo

WhatsApp-Image-2020-11-24-at-13.48.59.jpeg

Hari ini adalah hari yang sangat cerah, langitnya berwarna biru muda dan tidak berawan, begitu indah dan sangat terlihat bersih. Di bawahnya terdapat seorang gadis yang sedang berjalan menyusuri trotoar, saat itu sangat banyak kendaraan yang berlalu lalang di sana, sehingga suara bisingnya sangat mengganggu pendengaran.

Namanya Resvita Nara, panggil saja Rere. Rere seorang gadis cantik yang berasal dari keluarga berada. Orang tuanya adalah pemilik perusahaan yang sangat sukses. Rere tinggal di sebuah rumah mewah yang berada di samping taman, dan Rere juga gadis yang paling manja diantara saudaranya yang lain.

Rere berjalan sambil memegang tali tas ranselnya, sesekali ia menendang batu yang ada di hadapannya. Ia sedang kesal, karena ayahnya tidak bisa menjemputnya ketika pulang sekolah, keluarganya sedang sibuk. Niatnya ia pulang dengan ojek, akan tetapi ponselnya mati karena baterainya habis. Temannya tidak ada yang searah jalan pulang dengannya.

“Ya kali aku pulang jalan sih, kan rumah masih jauh dari sini. Mana belum ada angkot lewat lagi” kesalnya.

Rere terus berjalan dengan sesekali melihat-lihat barangkali ada angkot, ojek, atau mungkin ada orang yang Rere kenal sehingga ia bisa meminta tumpangan untuk pulang. Tak terasa waktu sudah  menunjukkan pukul tiga sore.

Hari akan semakin gelap, tetapi Rere masih belum menemukan orang yang ia kenal untuk mengantarnya pulang, bus dan angkot selalu saja penuh di waktu itu. Karena lelah, Rere berhenti sejenak di halte bus dan meminum air yang ia bawa di tasnya.

“Wah parah sih. Oke oke Re harus sabar dan tawakal, tunggu mungkin bentar lagi ada bus datang” Katanya.

Beberapa menit kemudian, Rere melihat bus datang menuju ke halte yang ia diami. Segera Rere berdiri dan menunggu bus itu berhenti di depannya. Akhirnya bus itu berhenti, Rere segera masuk dan duduk di bangku bus yang dekat dengan jendela, alasannya agar bisa melihat jalanan dan pemandangan luar, dengan itu, Rere tidak akan merasa bosan ketika di perjalanan pulang.

Lima belas Menit kemudian, bus berhenti di depan rumah Rere, dan ia pun turun setelah membayar uang ongkos. Akhirnya ia bisa pulang meski perlu melewati masa menjengkelkan terlebih dahulu di jalanan.

“Pak Surto buka gembok pagarnya pakk!!” Teriak Rere. Tak lama pak Surto pun muncul sembari membawa kunci.

“Eh non Rere baru pulang toh? Bentar bapak buka dulu gemboknya” Pak Surto pun segera membuka gembok pagar.

“Iya pak tadi aku enggak dijemput ayah jadinya aku jalan dulu, tapi akhirnya tadi ada bus. Coba kalo enggak ada bus, pasti aku gak akan bisa pulang pak. Apalagi hp aku yang mati karena baterainya habis huh.” Jelasnya.

“Aduh aduh.. Ya sudah masuk sana, istirahat.” Suruh pak Surto seraya senyum.

“Siap pak Terimakasih” Rere pun langsung berjalan masuk menuju rumahnya.

“Assalamualaikum, halo Resvita Nara sudah pulang!” Seru Rere seraya membuka pintu.

“Waalaikumussalam” serempak orang rumah menjawab.

Rere melihat sedang ada tamu di rumahnya dan ada ayah di sana, pantas saja tidak menjemput pulang hari ini ternyata sedang melayani tamu di rumah, karena takut mengganggu, maka Rere memutuskan untuk langsung masuk saja ke kamarnya. Malamnya Rere keluar kamar untuk menemui ayah.

“Ayah!!” Rere memanggil ayahnya.

“Iya Re? Ada apa?” Jawab ayahnya yang sedang duduk di sofa ruang tamu.

Rere pun mendekati ayahnya dan ikut duduk. Rere ingin membeli baju baru saat ini, maka Ia akan meminta ayahnya membelikan baju itu.

“Ayah liat deh, ini bajunya bagus kan?, Rere mau baju ini yah” Rere memperlihatkan foto baju di Handphonenya.

“Loh kan baju kamu sudah banyak di lemari, nanti kalo beli baru lagi takutnya enggak ke pakai, sayang kan?” Ayah mencoba menasihati Rere.

“Tapi kan aku mau ini. Aku gak punya baju ini di lemari, yang lain bajunya jelek” kata Rere.

“Engga boleh gitu. Baju kamu kan bagus semua, kamu enggak boleh serakah, pakai dulu saja baju yang ada. Nanti kapan-kapan beli lagi yang baru. Sudahlah ayah sibuk. Ayah mau selesaikan pekerjaan dulu.” Kata ayah dan langsung beranjak menuju ruangan kantor.

Rere kesal pada ayahnya, ia sangat menginginkan baju itu akan tetapi benar apa kata ayahnya, bajunya sangat banyak dan menumpuk di lemari, karena Rere selalu saja membeli baju di setiap minggunya, namun hanya dipakai sekali dan pada ujungnya hanya menjadi koleksi.

“Ah Sudahlah” Rere pun kembali naik dan masuk ke kamarnya.

Esoknya, keluarga Rere mengalami musibah. Ayahnya ditipu oleh investor yang datang ke rumah kemarin. Uang itu dibawa kabur, sehingga menimbulkan rugi besar terhadap perusahaan. Uang yang tersisa hanya cukup untuk membayar gaji karyawan di perusahaan. Keluarga Rere sangat kebingungan bagaimana cara mengatasi semua ini. Mereka menghemat pengeluaran agar uangnya cukup hingga semua kerugian terganti.

Hari terus berlalu, investor itu belum kunjung ditemukan oleh pihak kepolisian. Untung saja perusahaan ayah Rere terus berjalan hingga sedikit demi sedikit bisa mengganti kerugian itu, tetapi  masih belum kunjung bisa menambah uang untuk keseharian keluarganya.

“Ma aku mau makan!, sekarang makan sama apa?” Rere berjalan menuju meja makan lalu membuka tudung saji. Terlihat didalam-Nya hanya terdapat lauk tahu, tempe dan sayur asam

“Ma, kok ini terus sih menu lauknya! Aku bosan tahu mah! Tenggorokan aku sakit gara-gara makan gorengan terus!” Rere mulai kesal karena hanya untuk menghemat ibunya selalu membeli bahan makanan yang sama di setiap harinya. Keluarga Rere tidak pernah memperkerjakan pembantu di rumahnya.

“Loh Rere, bersyukur kita masih bisa makan. Kan enggak selalu mama kasih gorengan, itu sayur sengaja mama buat, ini juga makanan sehat kok. Makan saja dengan lauk yang ada” Kata mamanya.

Rere malah semakin kesal dan tak nafsu untuk makan. “Sudahlah Rere enggak jadi makan saja, Rere mau keluar” Rere pun segera pergi meninggalkan mamanya yang tengah berada di meja makan.

“Ya ampun Rere, mama tak sangka kamu seperti itu” Ujar mamanya.

Rere berjalan pergi entah ke mana tanpa tujuan, ia merasa kesal kembali ketika teringat kata ibunya. “Aaaaa aku kan mau makan kayak menu biasa! Bukan sama sayur asam lagi, tempe lagi, tahu lagi, sakit nih tenggorokan kalo makan gorengan terus! Aku mau makanan laut, aku mau makan ayam lagi!” Gerutunya sembari menendang batu kecil yang di hadapannya.

Tak sengaja, Rere melihat ke seberang jalan, tepat di depan sebuah ruko yang sudah tak dihuni, ia melihat seorang nenek tua dengan anak kecil laki-laki sekitar umur tujuh tahun, sepertinya itu cucunya sedang duduk lesehan dilantai. Rere mengernyitkan keningnya lalu menengok kanan kiri dan menyeberangi jalan. Rere menghampiri nenek dan anak laki-laki itu.

“Halo nek, nenek lagi apa disini?” tanya Rere pada nenek itu. Sepertinya nenek dan anak kecil itu sedang kelelahan.

“Nenek sama cucu nenek cuman meneduh dan istirahat saja, nenek capek nak dari tadi nenek sama cucu nenek habis cari rongsokan untuk dijual. Biar uangnya buat beli makan. Kasihan cucu nenek belum makan” Nenek itu menangis.

“Nenek enggak masalah kalo nenek belum makan, tapi cucu nenek harus makan. Nenek minum saja sudah cukup” lanjutnya.

Rere sangat tersentuh hatinya ketika mendengar itu. Ia merasa kasihan dan tersadar bahwa selama ini betapa kurang bersyukurnya ia terhadap apa yang ia punya. Ia selama ini hidup enak dan segala berkecukupan, sedangkan nenek ini untuk makan pun harus bersusah payah terlebih dahulu. Tak terasa Rere mengeluarkan air matanya, ia menangis, Rere segera mengusap air matanya yang jatuh.

“Nenek tunggu disini ya, sebentar ya, nenek dan adik ini jangan pergi dulu, aku mau pergi ke sana bentar ya nek”

Rere pun beranjak pergi dari situ, beruntung Rere membawa sedikit uang tabungannya. Kebetulan sekali tak jauh dari situ terdapat rumah makan, maka Rere mengunjungi rumah makan tersebut lalu memesan dua porsi nasi beserta lauknya, Rere meminta agar makanan itu dibungkus, tak lupa Rere membeli dua botol air minum.

Rere segera kembali ke ruko dan memberikan makanan itu kepada nenek dan anak kecil tadi. Rere duduk di lantai sambil mengembangkan senyumnya.

“Nenek, ini ada sedikit makanan dan minum buat nenek sama cucu nenek, dimakan ya nek. Aku tadi beli ini lauknya masih hangat kok” Katanya

“Aku banyak belajar dari nenek hari ini” Lanjut Rere.

“Alhamdulillah terimakasih banyak nak, nenek doakan semoga kamu dan keluarga dilancarkan rezekinya, sehat selalu, dan sukses ya nak.” Nenek itu terlihat senang dan tersenyum.

“Aamiin, terimakasih nek, nenek sama adik kecil makan ya, aku mau pamit pulang nek, assalamualaikum” pamit Rere.

“Iya wa’alaikumsalam” jawab nenek dan cucunya, lalu mereka menyantap makanan yang Rere berikan.

Sesampainya di rumah, Rere menemui mamanya, lalu menceritakan tentang kejadian hari ini bersama nenek dan anak tadi. Mamanya terlihat senang, akhirnya Rere bisa mengerti kewajiban untuk bersyukur dalam kondisi apa pun. Sekarang Rere menerima apa adanya dan mau untuk makan dengan lauk yang tersedia di meja.

Beberapa minggu kemudian, Investor itu ditemukan dan telah dipenjara oleh polisi. Keluarga Rere telah memaafkan dan merelakan semuanya. Mereka terus berdoa dengan diiringi usaha hingga suatu saat perusahaan kembali membaik dan membuat semua kerugian yang dialami tergantikan.

Ketika Rere mengingat momen bersama nenek itu. Betapa senangnya ia bisa bersedekah dan mendapatkan hidayah untuk bersyukur. Ia tersadar bahwa bersyukur itu penting. Bersyukur membuat hatinya teramat tenang dan senang. Rere merasa berdosa sekali, ia telah bersikap salah sebelumnya, ia sering mengeluh soal apa yang ia miliki dan selalu bersikap ingin lebih, tetapi sekarang Rere akan selalu bersyukur kepada Allah atas segala pemberiannya.

 

(Visited 16 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan